Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
60. Symptom


__ADS_3

Hari Minggu yang bisa dibilang sangat cerah tak meruntuhkan semangat Atlanta untuk membersihkan kamarnya, mengubah tata letak barang-barang seadanya yang ada di dalam kamar. Laki-laki itu sangat suka bersih-bersih, terbukti dengan semua benda di kamar sederhananya yang bebas akan debu maupun kotoran barang secuil.


Sebelumnya Atlanta sempat membantu Bi Mirna membersihkan rumah besar milik Rudi. Ia tak tega melihat wanita paruh baya itu bekerja sendirian. Apalagi hari itu Rudi, Hana, maupun Jay tengah pergi ke Bogor untuk menghabiskan akhir pekan. Ah, mereka pasti sedang bersenang-senang.


Sudah setengah jam berlalu Atlanta masih berkutat di dalam kamar, mengelap semua benda agar terlihat mengkilap. Selanjutnya laki-laki itu membereskan buku yang berceceran di atas meja belajar, dan menyusunnya sebaik mungkin. Pun buku yang ada di dalam tas ransel ia keluarkan untuk diganti dengan mata pelajaran hari Senin besok.


Namun, ketika tumpukan buku itu hinggap di atas meja, sontak bola matanya terbelalak tiba-tiba. Atlanta mencari lembaran kertas berisi kunci not yang ia yakini ada di antara tumpukan buku. Tapi kenapa lembaran kertas itu kini tidak ada? Padahal ia masih sangat ingat setelah berlatih piano bersama Elisa kemarin, ia langsung membereskan lembaran kertas itu ke dalam tasnya.


Jangan-jangan ketinggalan di rumah Elisa.


Atlanta segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur, mengetik pesan singkat pada Elisa.


...ELISA 🌈...


^^^Elisa maaf, kamu lihat kertas kunci not kemarin gak?^^^


^^^09.10^^^


Laki-laki itu masih menatap layar ponselnya, menunggu Elisa membalas pesan yang ia kirim. Tapi sampai 10 menit lamanya ternyata gadis itu masih tak menunjukkan tanda-tanda hendak membalas pesan.


Atlanta menghempaskan napas, mungkin benar kertas itu tertinggal di rumah Elisa, pikirnya. Ia segera membereskan semua buku itu, dan menggantinya dengan mata pelajaran besok.


Setelah semuanya beres, pandangan laki-laki itu melirik ke arah jam dinding. Waktu kian beranjak siang, ia harus cepat-cepat pergi ke rumah singgah untuk membantu Adin berjualan. Sudah menjadi rutinitas hari Minggu Atlanta yang tak pernah laki-laki itu lewatkan.


"Ata? Mau ke mana?" tanya Bi Mirna ketika laki-laki itu baru saja menuruni anak tangga.


"Ata mau ke rumah singgah, Bi. Ini kan hari Minggu, Ata mau bantu Adin jualan."


Bi Mirna hanya mengangguk.


"Oh iya, Bibi hampir lupa. Ata, sini ikut Bibi dulu coba." Atlanta beralih mengekori Bi Mirna ke dapur.


Wanita itu langsung menyiapkan sebuah makanan ke dalam rantang susun. Atlanta hanya berdiam diri memperhatikan kegiatan Bi Mirna.


"Ini, kamu kasih sama anak-anak di rumah singgah. Kebetulan Bibi bikin makanannya banyak, sayang kalo gak di makan. Ibu kan biasanya gak mau makan masakan pagi-pagi," ucap Bi Mirna seraya memberikan rantang itu pada Atlanta.


Atlanta tersenyum lembut menerimanya.


"Terima kasih, Bi. Mereka pasti senang dapat makanan enak."


Bi Mirna mengangguk dan membalas senyuman Atlanta, menepuk pundak kokoh laki-laki di depannya.


"Kalau begitu, Ata berangkat dulu."


Atlanta meraih tangan kanan Bi Mirna, mencium punggung tangan wanita itu penuh rasa hormat. Ia segera beranjak menuju garasi rumah, dan berangkat ke rumah singgah sebelum Adin lebih dulu pergi berjualan.


Disepanjang perjalanan laki-laki itu tak henti-hentinya menelanjangi pemandangan yang selalu nampak dalam indra penglihatannya, di mana banyak orang-orang maupun kendaraan berlalu lalang di sepanjang jalan dan trotoar.


Tepat setelah pertigaan jalan, iris mata laki-laki itu menangkap sosok perempuan yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia menyipitkan mata dan melihat Elisa tengah memilih buku-buku yang dijajakan oleh pedagang kaki lima depan trotoar gedung tua.


Sontak Atlanta melebarkan senyum, ia memacu sepeda dan segera menepikannya di pinggiran jalan, menghampiri Elisa yang masih mengobrol dengan Bapak pedagang buku itu.


Nampaknya gadis di sana tak menyadari akan kehadiran seseorang yang kini sudah berdiri menjulang di sampingnya. Ia masih membuka lembaran demi lembaran halaman buku dengan pandangan serius, sesekali ia bergumam dan mengangguk-anggukkan kepala, sebelum akhirnya tepukan tangan di pundaknya mengalihkan segalanya, lantas ia mendongak.


"Atlanta? Kok kamu di sini?" ucapnya seraya membulatkan bola mata sempurna.


"Aku mau ke rumah singgah, di seberang sana."


Atlanta menunjuk rumah kecil yang ada di ujung jalan, seberang jembatan penyeberangan, pun Elisa yang mengikuti arah jari telunjuk laki-laki itu.


"Tadi aku gak sengaja lihat kamu. Makanya aku ke sini dulu. Kamu sedang apa di sini?"


"O—oh aku, tadi aku ke sini sama Bang Yunaka. Kebetulan dia lagi ketemuan sama temen kuliahnya, di sana." Elisa menunjuk sebuah cafe di seberang jalan, di mana kakaknya itu kini berada.


"Aku bosen, makanya jalan-jalan di sini." Imbuhnya.


Atlanta hanya mengangguk, lantas laki-laki itu menghembuskan napas pelan.


"Kalau begitu aku pergi sekarang, ya?"

__ADS_1


"Loh kok pergi?" ujarnya memberengut. "Aku ikut!"


Laki-laki itu menarik alis.


"Aku mau bantu Adin jualan."


"Iya aku ikut. Aku mau bantu juga." Elisa menatap Atlanta penuh dengan permohonan. Puppy eyes yang Elisa tampilkan berhasil membuat Atlanta takluk. Laki-laki itu mengangguk, dan meraih pergelangan tangan Elisa untuk ikut bersamanya naik sepeda.


Tak sampai 2 menit, keduanya sudah sampai di depan rumah kecil depan jembatan penyeberangan jalan. Elisa masih memperhatikan keadaan rumah yang terlihat ala kadarnya. Cat putih yang mulai mengelupas di beberapa titik, pun pintu kayu yang terlihat rapuh di makan umur semakin menunjukkan rentan waktu yang cukup lama rumah itu berdiri.


"Ini beneran rumah singgah?" tanya Elisa seraya mendongak menatap Atlanta.


Laki-laki itu tersenyum simpul dan mengangguk, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Elisa beralih mengekori Atlanta.


Di dalam sana, hal pertama yang ia lihat adalah beberapa anak berumur 5 sampai 15 tahunan tengah mengemas keripik pisang ke dalam plastik bening. Atensi anak-anak itu sontak teralihkan ketika Atlanta dan Elisa menampakkan diri.


Semua anak-anak di sana beralih menghampiri keduanya, berlari senang dan memeluk Atlanta antusias tanpa terkecuali. Laki-laki itu semakin melebarkan senyum, mengusak satu per satu kepala anak-anak yang tingginya tak lebih dari perutnya.


"Kak Ata! Kak Elisa!" sahut anak laki-laki yang baru saja datang dari arah dapur—Adin.


Anak laki-laki yang terlihat jauh lebih dewasa dari anak-anak yang lain itu menghampiri Atlanta dan Elisa. Ia mempercepat langkah kaki dengan tongkat kruk di kedua tangannya.


"Eh, Adin? Apa kabar?" Tanya Elisa.


Adin mengangguk. "Adin baik kok kak. Kak Elisa apa kabar?"


"Kakak juga baik." Pandangan gadis itu beralih ke arah kaki Adin, ia ingat dulu Yunaka pernah tak sengaja membuat anak itu masuk rumah sakit. "Kaki kamu masih sakit gak?" Imbuhnya disertai raut wajah khawatir.


"Gapapa kak, udah baikan kok." Adin melebarkan senyum sampai kedua matanya membentuk bulan sabit, seolah mengisyaratkan Elisa bahwa ia sudah teramat baik.


Detik selanjutnya Atlanta menyodorkan rantang yang sejak tadi ia genggam pada Adin.


"Tadi Bibi masak banyak. Katanya ini buat anak-anak, sayang kalo gak di makan."


Adin tersenyum lembut menerima rantang yang diberikan Atlanta, lalu ia menyimpannya di atas meja. "Makasih kak. Sampein makasih juga buat Bibi."


"Kakak mau bantu kamu jualan, boleh ya?" kata Elisa to the point.


Sontak Adin melebarkan bola mata, menggaruk tengkuknya kaku. "Tapi ... di luar panas kak. Nanti kak Elisa kecapean."


Gadis itu beralih mengusak rambut hitam Adin, menyejajarkan tinggi badannya dengan anak itu. "Gapapa, kak Elisa kuat kok. Tahan panas dan tahan banting," ujarnya sembari terkekeh.


"Iya 'kan?" kata Elisa menoleh ke arah Atlanta. Laki-laki itu mengangguk mantap menanggapinya.


Adin menghela napas. Ia mengiyakan keinginan Elisa yang ingin membantunya berjualan. Tak berselang lama seorang anak perempuan yang umurnya terpaut satu tahun lebih muda dari Adin menghampiri mereka dengan membawa kantong kresek besar berisi keripik pisang. Pun Adin yang menerimanya, mengaitkan kantong kresek itu di bahunya.


"Kak, Popi boleh ikut juga gak?" ucap anak perempuan bernama Popi itu.


Atlanta menggelengkan kepalanya, lalu menggerakkan tangan.


"Kalau kamu ikut, anak-anak sama siapa di sini?"


"Sekali aja kak. Ya?" ucapnya memohon.


Suara ******* napas pendek terdengar dari mulut Atlanta, sebelum akhirnya laki-laki itu mengangguk. Lantas anak perempuan di depannya tersenyum lebar, segera mengambil kantong kresek lain yang sudah terisi banyak keripik pisang sebelum ikut ke luar rumah.


"Bentar." Langkah Atlanta, Adin, sekaligus Popi terhenti seketika, tatkala Elisa bersuara dan menjadikan dirinya pusat perhatian ketiga orang itu.


"Gimana kalo kita bagi tim aja. Aku sama Popi di sebelah sini. Atlanta sama Adin di seberang sana. Biar dagangannya cepet abis," ujar gadis itu semangat. Namun tak ayal membuat mereka mengangguk setuju akan ide cemerlang dari Elisa.


"Setuju!" Sahut Adin dan Popi serentak.


Saat itu juga Adin dan Atlanta kembali melangkahkan kaki, menyebrang jalan untuk sampai di trotoar seberang sana. Pun Elisa dan Popi yang beralih menawarkan keripik pisang pada orang-orang yang berlalu lalang.


"Kak Elisa." Gadis itu menoleh ketika Popi yang berada di sampingnya memanggil. "Kak Elisa yang model itu kan? Anak Bapak Pratama pengusaha properti itu?"


Elisa tersenyum kikuk, lalu ia menjawab, "Iya, kok kamu tau?"


"Wah, serius! Aku fans kakak loh! Aku suka liat kakak di TV. Kak Elisa cantik banget. Aku suka sama kakak," ucap Popi antusias. Elisa hanya memberikan seulas senyum pada anak perempuan itu.

__ADS_1


"Oh ya, kakak udah kenal lama sama kak Atlanta?"


Kali ini Elisa mengangguk. "Baru beberapa bulan ini sih. Waktu aku pindah ke sekolahnya Atlanta. Dia temen sebangku aku di kelas." Jawabnya sembari masih berjalan menelusuri trotoar depan gedung tua dan menawarkan keripik pisang pada orang yang dilihatnya.


Pandangan keduanya lantas menoleh ke arah dua laki-laki di seberang jalan, Atlanta tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada Elisa. Gadis itu membalas lambaian tangan Atlanta, dan menggerakkan tangannya, seperti memberi isyarat.


"Semangat!"


Laki-laki di sana mengangguk, mengepalkan tangan di udara.


"Kak Atlanta itu baik banget ya kak," ucap Popi yang langsung mengalihkan atensi Elisa padanya.


"Hm?"


"Iya, dulu kami gak punya tempat tinggal. Hidup kami luntang lantung di jalan. Setiap hari kami tidur di emperan." Popi menjeda ucapannya, memori otak gadis kecil itu bernostalgia akan jalan hidup pahit yang dulu dia dan teman-temannya alami.


"Tapi setelah kak Ata datang, kami semua sangat bahagia dan bersyukur. Kak Ata mau bantu kami, bahkan dia mau sewa rumah itu untuk kami, menampung anak-anak jalanan. Aku denger dari kak Adin, kalo kak Ata pake tabungannya buat sewa rumah itu."


Elisa masih setia mendengarkan cerita dari Popi tentang malaikat tanpa sayap itu. Dia tak salah memilih orang, Atlanta benar-benar sosok manusia yang peduli dengan sekitar, meski laki-laki itu harus banting tulang guna mencukupi biaya hidupnya sendiri, tapi ia tak pernah lupa, bahwa apapun dan sekecil apapun rezeki yang kita punya, ada hak untuk mereka pula.


"Kak Atlanta juga mau kasih kita modal buat usaha ini. Sejak saat itu, kami gak pernah sedikitpun mengeluh dengan keadaan, karena kak Ata gak pernah mengajarkan kami untuk menyalahkan takdir. Katanya, Tuhan selalu baik memberi hadiah terindah untuk semua umatnya yang mau bersabar."


Gadis itu mencerna ucapan Popi dengan sangat baik, relung hatinya tiba-tiba menghangat mendengarnya.


"Ke sana yu, kak." Ajak Popi menunjuk ke segerombolan orang yang baru saja menyeberang jalan.


Elisa mengangguk dan mengekori Popi.


"Akh!" Sontak gadis itu langsung memegangi kepalanya yang mendadak pening, pandangannya berkunang-kunang.


Popi yang mendengar ringisan Elisa menoleh cepat, menampakkan Elisa tengah menahan badan yang hampir limbung, memegangi pagar pembatas jalan dengan sangat kuat.


"Kak Elisa!" Dengan cekatan, gadis kecil itu beralih membantu Elisa berdiri. "Kakak kenapa? Kakak sakit?"


Elisa menggelengkan kepala pelan, mengusap keringat dingin di keningnya dengan punggung tangan, lalu berkata, "Kakak gapapa."


"Tapi kakak pucet. Kita istirahat dulu, ya." Ia mencoba membopong Elisa untuk duduk di kursi depan warung bakso.


"Aduh neng, itu temennya kenapa atuh?" ujar Bapak pemilik warung itu cemas tatkala Elisa baru saja mendaratkan bokongnya di kursi.


Belum sempat mendapat jawaban dari Popi, Bapak itu memilih mengambilkan segelas air. "Ini minum dulu neng."


Popi tersenyum canggung, menerima gelas berisi air hangat yang disodorkan si Bapak. "Makasih, Pak."


"Ini kak, minum dulu." Popi kini membantu Elisa untuk meneguk air yang ia harap akan membuat gadis itu membaik.


"Kakak mau pulang aja? Kayanya kakak kecapean."


Elisa kembali menggelengkan kepala lemah. "Tapi dagangannya belum abis."


Popi menghempaskan napas pelan mendengarnya. "Gapapa kok kak, jangan dipikirin. Lebih baik sekarang kakak istirahat."


Elisa tetaplah Elisa, gadis keras kepala itu tak pernah mendengar nasehat orang yang khawatir dengan dirinya. Ia menatap Popi dengan pandangan sayu. "Istirahat sebentar nanti kita lanjut jualan lagi."


Gadis kecil di sana semakin menatap cemas Elisa, namun bola matanya membulat sempurna tiba-tiba. "Kak! Kakak mimisan!" sahutnya.


Elisa segera menyentuh hidungnya yang ia rasa mengeluarkan cairan kental dengan ibu jari. Benar saja, cairan berwarna merah ke luar dari dalam hidungnya. Ia merogoh saputangan yang selalu ia bawa dalam tas selempang miliknya, membersihkan darah yang masih mengalir.


Popi semakin gelagapan melihat Elisa yang mimisan. Ia beranjak dari duduk. "Sebentar kak, aku mau susul kak Atlanta."


"Jangan." Elisa mencekal tangan Popi yang hendak pergi meninggalkannya. "Jangan bilang soal ini sama Atlanta."


"Kenapa kak? Kak Atlanta harus tau, nanti dia khawatir."


"Justru kalo kamu bilang dia bakal lebih khawatir lagi. Popi, kakak mohon, jangan sampe Atlanta tau, ya?" ujarnya terdengar memohon.


Sejenak Popi hanya terdiam, menatap obsidian Elisa dengan perasaan campur aduk, sebelum akhirnya ia mengangguk pasrah dan beralih duduk di samping Elisa.


Tuhan, kenapa ini? Apa umurku tidak akan lama lagi?

__ADS_1


__ADS_2