
Seperti biasa, keluarga Rudi akan mengawali hari dengan sarapan bersama. Di sinilah mereka berada, bersama banyak masakan enak yang dibuat Bi Mirna, mereka makan dengan sangat khidmat.
"Makan yang banyak, sayang. Anak Ibu harus tetep sehat, biar nanti lomba olimpiadenya lancar." Hana menuangkan sayur sup ke dalam piring Jay.
"Makasih, Bu. Jay janji, Jay bakal bikin Ayah sama Ibu bangga," kata laki-laki itu tersenyum penuh semangat.
"Jay, kalo kamu berhasil bawa pialanya, Ayah bakal ajak kamu liburan ke luar negeri akhir semester ini." Rudi menimpali percakapan mereka.
Jay melebarkan matanya. Ia semakin berambisi untuk memenangkan penghargaan itu. "Ayah serius?!"
Rudi mengangguk sebagai jawaban, bahwa dia benar-benar dengan ucapannya.
"Iya, kamu mau ke mana? Prancis? Jepang?"
"Tahun kemaren kita 'kan udah ke Prancis. Gimana kalo tahun ini kita ke Jepang aja, Yah."
Pria dewasa itu kembali mengangguk, mengusak rambut hitam Jay.
"Ya udah sekarang makan, ya. Nanti keburu dingin."
Di tengah-tengah sarapan pagi yang begitu hangat, Jay tiba-tiba saya teringat foto perempuan yang ia lihat di kamar Atlanta tadi malam. Haruskah ia menanyakan hal itu pada orang tuanya? Ia yakin Rudi dan Hana jelas tahu siapa perempuan yang terlihat sangat mirip dengan Elisa.
"Yah, Bu, Jay boleh nanya gak?" Ia melirik Rudi dan Hana bergantian.
Orang tua itu menghentikan kegiatan mereka sejenak, hanya untuk mendengar apa yang ingin Jay katakan.
Hana meneguk air di dalam gelas bening, lalu berkata, "Nanya apa sayang, hm?"
Jay masih mengulum bibir, sampai atensi kedua orang tua itu terfokus padanya, barulah ia angkat suara.
"Hani itu siapa?"
Secara alamiah, Rudi maupun Hana saling bertatapan tatkala mendengar satu nama terucap dari mulut Jay. Detik selanjutnya, Hana mengubah raut wajah menjadi tak bersahabat, senyuman yang selalu ia tampilkan di depan Jay runtuh seketika, berubah menjadi tatapan datar yang menunjukkan bahwa wanita itu tak suka dengan pertanyaan yang Jay lontarkan.
"Bukan siapa-siapa," jawab wanita itu singkat.
Ia tetap melanjutkan sarapannya kala itu, meski rasanya selera makannya turun drastis.
"Tapi Jay pengen tau. Siapa Hani? Kenapa-"
Prang!
Hana melempar sendok yang dipegangnya ke atas piring kaca, dan berhasil membuat dentingan yang cukup keras. Jay tersentak, ia tidak tahu menahu kenapa Ibunya sampai sangat marah hanya karena menanyakan hal yang menurutnya sepele.
"Jangan pernah kamu sebut nama itu lagi di depan Ibu, paham?!"
"Ya tapi Jay cuma mau tau aja, Bu. Kenapa perempuan itu mirip banget sama Elisa. Emangnya dia siapa? Dan kenapa foto itu ada di kamar Atlanta, Jay juga liat foto perempuan itu di laci nakas kamar Ibu."
"Kamu gak perlu tau, Jay. Dia bukan orang penting. Jadi jangan pernah tanyakan dia lagi. Ibu gak suka." Hana menunjuk Jay untuk pertama kalinya, ia beranjak, kakinya melangkah lebar meninggalkan meja makan yang awalnya dipenuhi ketentraman.
Laki-laki itu semakin tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut sang Ibu. Harapannya kala itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Rudi, namun ia hanya diam tutup mulut, seolah enggan menjawab rasa penasaran yang semakin membuncah dalam benak Jay.
"Ayah, jawab pertanyaan Jay. Siapa Hani?" Ia menatap Rudi dengan penuh harap.
Rudi hanya memandang wajah penasaran Jay, ia sendiri tidak yakin harus menjawab apa pada anaknya.
"Udah, jangan bahas itu lagi."
__ADS_1
"Yah...."
"Jay, Ayah mau berangkat ke kantor sekarang. Kamu abisin sarapan kamu, ya."
Tak ada jawaban yang jelas dari kedua orang tuanya. Laki-laki itu semakin yakin, ada sesuatu dengan perempuan bernama Hani, dan orang tuanya mencoba menutupi itu dari Jay. Ia menatap Ayahnya yang sudah beranjak, pergi meninggalkannya sendirian di meja makan, padahal ia masih lihat piring Ayahnya masih terisi nasi dan lauk pauk yang masih banyak, mungkin Rudi ingin menghindari pertanyaan Jay pikirnya.
"Bi Mirna?"
Entah mendapat pencerahan dari mana, Jay tiba-tiba saja teringat Bi Mirna. Katanya, Bi Mirna sudah bekerja di rumah itu bahkan sejak Rudi masih melajang, ia yakin Bi Mirna tahu sesuatu tentang Hani.
Ia segera pergi mendatangi dapur, yang ia harap Bi Mirna ada di sana. Tepat saat laki-laki itu masuk ke dalam dapur, ia bertatapan dengan Atlanta yang hendak berangkat ke sekolah. Seperti biasa, ia akan membalas tatapan Atlanta dengan sangat datar, seperti tak peduli dengan senyum sapaan dari Atlanta.
Nampak sudah terbiasa dengan sikap Jay yang akan acuh tak acuh padanya, Atlanta segera pergi dari dapur untuk berangkat sekolah.
"Bibi."
Bi Mirna berdehem, ia sudah hafal dengan suara Jay. Wanita setengah abad itu sedikit melirik tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang mencuci sayuran di wastafel.
"Kenapa, Jay? Sarapannya udah beres?"
Laki-laki itu memilih mendudukkan bokongnya di kursi tinggi, menumpu dagu pada meja marmer.
"Udah, Bi. Hmm ... Bi, Jay boleh nanya gak?"
"Boleh, sebentar."
Bi Mirna segera menyelesaikan pekerjaannya, menyimpan sayuran bersih itu ke dalam kulkas, lalu menghampiri Jay.
"Nanya apa, Jay?"
"Bibi ... tau gak, siapa Hani?"
"K-kamu, tau dari mana?"
"Itu gak penting, Bi. Sekarang Bibi jawab pertanyaan Jay, siapa Hani," ucapnya seraya memberi sedikit penekanan, dia tak peduli, ia terlanjur penasaran dengan perempuan itu.
Bi Mirna menghempaskan napas berat, ia masih menimbang, haruskah ia menceritakan semuanya tentang perempuan bernama Hani pada Jay?
"Kamu yakin mau tau?"
Jay mengangguk mantap, ia benar-benar sangat yakin akan hal itu, dan menurutnya Bi Mirna adalah harapan terakhirnya, ia tak mau dirundung rasa penasaran setiap waktu.
"Jay yakin, Bi."
"Hani ... Dia adik kandung dari Ibu kamu, Hana." Bi Mirna menjeda ucapannya, ia kembali berfikir untuk mengungkapkan identitas Hani.
"Dan Hani, dia adalah ... Bundanya Atlanta."
Jay geming. Adik kandung Ibunya? Dan, Bundanya Atlanta? Ia bingung dengan jawaban singkat Bi Mirna.
"Bentar, Bi. Maksud Bibi?"
Bi Mirna menghela napas. "Jadi gini. Dulu, waktu Pak Rudi masih kuliah, beliau sempat menjalin hubungan sama perempuan yang kamu maksud, Hani. Tapi, kedua orang tua Pak Rudi sudah menjodohkan Pak Rudi bersama Hana sejak mereka masih kecil, jadi Pak Rudi sama Hani harus berpisah, dan mengubah status mereka menjadi adik dan kakak ipar."
"Jadi, Atlanta?"
"Iya, setelah menikah selama tiga tahun, Hana masih belum memberikan keturunan untuk Rudi. Bahkan mereka hampir bercerai karena hal itu. Di sisi lain, Rudi pun masih mencintai Hani, yang saat itu berstatus adik iparnya, begitu juga sebaliknya."
__ADS_1
Jay semakin menatap Bi Mirna lamat, mendengar dengan cermat setiap kata yang diucapkan Bi Mirna.
"Mereka menjalin hubungan terlarang. Sampai Hani hamil, lalu melahirkan."
Jay tercekat dengan jawaban Bi Mirna yang menurutnya sangat mengejutkan. Bahkan beberapa detik, laki-laki itu tak tahu caranya menarik napas.
"Terus, sekarang dia di mana, Bi?"
"Sayangnya, setelah melahirkan Atlanta, Hani meninggal dunia karena pendarahan hebat."
.......
.......
.......
"Ini semua kamu yang bikin?" ucap Elisa tatkala membulak-balik kertas bertuliskan banyak chord piano yang dia sendiri tidak tahu cara kerjanya.
Atlanta mengangguk, kemudian tersenyum, mengiyakan ucapan Elisa.
Elisa menutup buku tebal bersampul coklat itu di atas meja. "Sejak kapan kamu mulai suka musik?"
"Sejak aku kecil."
"Terus, kenapa kamu suka musik?"
"Karena Bunda suka musik."
Tatapan itu, adalah tatapan terindah yang pernah Elisa lihat. Sorot mata sejuk yang kala itu terpancar di obsidian bening Atlanta, berhasil membuatnya penasaran dengan sosok Bunda yang laki-laki itu sebut. Dia ingin tahu, wanita mana yang mampu melahirkan manusia berhati malaikat seperti Atlanta.
"Kamu tulis lagu juga gak buat Bunda kamu?"
Atlanta mengangguk, ia kembali membuka buku itu, mencari halaman yang dicarinya.
"Ini."
Elisa menatap lamat barisan lirik dan chord yang tertulis rapi di atas kertas berwarna putih. Senyumnya mengembang ketika ia melihat banyak stiker berbentuk hati berwarna-warni di sana. Ah, ia semakin yakin, pasti laki-laki itu sangat menyayangi Bundanya.
"Kapan-kapan, boleh gak, aku ketemu sama Bunda kamu?"
Laki-laki itu memandang Elisa beberapa saat.
"Iya, nanti aku ajak kamu ketemu sama Bunda."
Di dalam kelas yang begitu ramai dengan ocehan para murid, Atlanta dan Elisa kembali membuka lembaran demi lembaran buku milik laki-laki itu. Atlanta sudah berjanji akan mengajarkan Elisa bermain piano sepulang sekolah.
"Atlanta. Disuruh menghadap Bu Rina TU." Laki-laki yang baru saja datang—Juan—menyimpan tas ranselnya di atas meja.
Atlanta beranjak, setelahnya ia menghempaskan napas berat. Entah, Elisa rasa ada sesuatu pada laki-laki itu, bagaimana gestur tubuh yang mendadak melemas tatkala Juan menyuruhnya untuk segera menemui guru TU.
"Emang ada apa sih?" tanya Elisa pada Juan yang kebetulan duduk di seberangnya tepat setelah Atlanta menghilang di balik pintu.
"Gak tau. Paling disuruh bayar SPP lagi," jawab laki-laki itu sembari mengeluarkan buku tebal dari dalam tas ranselnya.
"Bukannya SPP dibayar pas tanggal satu sampai lima awal bulan? Ini 'kan baru pertengahan bulan?"
Juan menyumbat telinganya dengan earphone, menolehkan pandangan ke arah Elisa.
__ADS_1
"Ya itu karena Atlanta nunggak bayar, jadi Bu Rina nagihnya sekarang, Elisa."