
Bel istirahat sudah berbunyi sejak 2 menit yang lalu, kelas semakin sepi seiring dengan para siswa penghuni meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kantin, makan siang mengisi amunisi.
Seperti biasa, hanya ada dua orang siswa di dalam kelas, Atlanta dan Elisa. Laki-laki itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel hitamnya di saat Elisa mengemas semua buku-buku milik gadis itu. Selanjutnya, Atlanta memberikan lunch box berisi salad pada gadis di sampingnya, Elisa menoleh dengan cepat dan memandangi lunch box pemberian Atlanta yang sudah hinggap di atas meja.
"Ini apa?" tanyanya.
"Salad. Buat kamu. Aku sengaja bikin itu supaya kamu engga jajan makanan kantin."
Elisa membalas tatapan Atlanta dengan perasaan geli, laki-laki itu benar-benar sangat peduli dengan kesehatannya, padahal dia sendiri selalu lupa dengan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsinya saat ini.
"Makasih ya, kamu baik banget," ucapnya seraya tersenyum lebar. "Ya udah, ke kantin yu! Kita kan harus cari Theo buat kasih tau keputusan kita ikutan kompetisi itu."
Atlanta mengangguk mantap, ia beranjak dan di susul oleh Elisa. Keduanya sama-sama berjalan berdampingan menuju kantin.
Tepat di depan gerbang kantin, Elisa mengedarkan pandangan mencari keberadaan Theo yang ia harap ada di tempat itu. Suasana yang cukup penuh mengharuskan Elisa dengan jeli menelanjangi satu per satu bangku yang siapa tahu ditempati Theo.
"Kamu liat gak, Ta?" ucapnya pada Atlanta yang kala itu sama-sama mencari keberadaan Theo.
Tak lama saat iris matanya menangkap sosok Jay tengah membawa semangkuk bakso, barulah Elisa bisa melebarkan senyum, pasti laki-laki itu bersama dengan orang yang dicarinya. Dan benar saja, ketika Jay menghampiri bangku di ujung kantin, ia bisa melihat dengan jelas laki-laki pemilik rahang tegas itu berada di sana.
"Itu, Ta. Ayo kita ke sana." Elisa segera menarik tangan Atlanta, membawanya ke arah pojok kantin yang dipenuhi oleh makhluk berjenis laki-laki.
"Theo," ujar Elisa. Sontak pandangan orang-orang di sana tertuju pada si pemilik suara halus itu, menjadikan gadis di sana sebagai pusat perhatian kamu Adam.
Orang yang dipanggil langsung menoleh, pun Jay yang baru saja menyuapkan bulatan bakso ke dalam mulutnya tiba-tiba terbungkam dengan kedatangan Elisa bersama Atlanta.
"Widih ... Jay, pacar lo nyamperin nih." Theo berujar dengan kekehan di akhir kalimatnya, menepuk pundak Jay yang berada di sampingnya.
Ah, benar, Elisa belum sempat menyapa laki-laki itu. Ia mengangkat sebelah tangan, dan kembali melebarkan kedua sudut bibirnya. "Hai, Jay." Sapanya.
Alih-alih menjawab, Jay memilih mengalihkan pandangan, ia kembali menikmati bakso yang ada di hadapannya tanpa mempedulikan Elisa yang kebingungan dengan sikapnya. Terlihat ada raut wajah kecewa dari Jay, mungkin saja ia masih belum terima karena tempo hari Elisa menolak pernyataan cintanya.
Melihat Elisa yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, Theo beralih mengibaskan tangan di udara, mengisyaratkan teman-temannya yang lain untuk segera beranjak dari duduk. Mereka nurut, dan pindah duduk ke bangku kosong yang lain.
"Duduk." Theo menujuk kursi kosong di depan dengan dagu lancipnya.
Elisa beralih mendaratkan bokongnya di sana, bersama dengan Atlanta yang terlihat kaku menundukkan kepala, enggan menatap dua laki-laki di depannya.
"Jadi, gue cuma mau bilang, kalo gue sama Atlanta udah siap ngikutin kompetisi itu."
Theo yang mendengarnya hanya mengangguk seraya melipat tangan di atas meja. Lain hal nya dengan Jay, laki-laki itu mengangkat pandangan, mengetatkan rahang dan menatap tajam Atlanta.
Sialan! Gue gak bakal biarin lo ikut kompetisi itu.
"Bagus lah, gue gak perlu pusing-pusing nyari perwakilan sekolah," ujar Theo menarik sebelah alis.
Elisa memilih menatap Jay yang sampai detik itu seolah tak melihatnya ada, lalu meloloskan napas pelan seraya mengintropeksi diri sendiri, apakah ia membuat kesalahan besar, pasalnya Jay tak pernah marah sampai mengacuhkannya seperti sekarang.
"Jay...."
Laki-laki itu hanya berdehem sebagai jawaban.
"Kamu marah, sama aku?" ucap Elisa kikuk, yang secara otomatis membuat Atlanta maupun Theo menoleh padanya.
"Gak."
Mengerti dengan keadaan, Theo tersenyum miring, merangkul bahu Jay lalu berkata. "Kayanya dia masih marah gara-gara lo nolak dia deh, El."
Laki-laki pemilik lesung pipit itu langsung mengangkat kepala, menatap tajam Theo yang masih menyunggingkan sebelah bibir dan menaik turunkan alis seolah mengoloknya. Sontak Jay beranjak dari duduk dengan pandangan jengah.
"Lo mau ke mana?" tanya Theo tatkala rangkulannya terlepas begitu saja di bahu Jay.
"Lapang, main basket. Di sini sumpek," ucapnya seraya menatap Elisa dan Atlanta bergantian, lalu merotasikan bola mata.
Jay melangkahkan kaki menjauhi bangku yang sempat ia duduki. Membuat atensi orang-orang di sana, khususnya para siswa yang sempat satu meja dengan Jay menolehkan pandangan dan tertuju pada laki-laki itu, mereka langsung ikut angkat kaki dan mengekori laki-laki paling dominan di antara mereka, seolah ada tarikan magnet yang mengharuskannya mengikuti Jay.
Theo yang masih berdiam diri di tempat kembali menoleh pada Elisa, ia menghempaskan napas pelan.
"Dia beneran kecewa sama lo. Bisa-bisanya lo nolak dia, padahal dia temen lo sedari kecil. Masa lo gak punya perasaan sedikit pun sama dia?" Sahut Theo yang malah semakin membuat isi kepala Elisa hampir pecah, pun Atlanta yang masih bertanya-tanya maksud dari ucapan laki-laki di depannya.
"Gue tau, gue salah. Tapi gue harus gimana? Gue sayang sama Jay cuma sebatas sahabat, engga lebih. Lo tau sendiri kan kalo perasaan gak bisa dipaksain," ujarnya sembari mengusap wajah kasar.
"Tapi gak ada yang gak mungkin kalo kalian sahabat sejak kecil tiba-tiba bisa pacaran kan?"
Elisa menggelengkan kepala, menyangkal ucapan Theo. "Engga, gue sama Jay gak mungkin pacaran. Gue gak mau ngerusak hubungan baik gue sama dia gara-gara pacaran."
Laki-laki itu semakin menarik sebelah bibir. Naasnya, Elisa sama sekali tak curiga dengan tatapan licik dari Theo.
__ADS_1
Bagus, itu makin mempermudah gue buat dapetin lo. Sekarang gue tinggal mikirin gimana caranya biar lo benci sama si bisu.
Theo beralih memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu beranjak.
"Lo tenang aja. Gue bakal kasih pengertian sama si Jay. Gue cabut dulu."
.......
.......
.......
Langit semakin menunjukkan warna orange keabu-abuan, menandakan malam akan segera datang dalam waktu sangat dekat. Atlanta masih terduduk di kursi, memainkan dentingan piano. Sementara Elisa sudah terlihat lelah, ia memilih duduk di sofa, memainkan ponselnya dan membiarkan Atlanta menyelesaikan permainannya.
Notifikasi dari grup kelas berhasil membuat Elisa membuka percakapan yang sedang berlangsung itu. Ia men-scroll obrolan, siapa tahu ada hal penting yang sempat tertinggal. Namun saat ia melihat salah seorang teman sekelasnya mengirim sebuah foto, Elisa langsung membukanya.
Sebuah foto banner mengenai acara pasar malam.
"Ta, kamu tau kalo di lapangan deket alun-alun kota ada pasar malam?" tanya Elisa. Atlanta yang mendengarnya langsung menghentikan permainan piano. Ia menoleh, lalu menggerakkan tangannya.
"Engga. Memangnya kenapa?"
"Ini, ada yang kirim banner. Katanya hari ini terakhir."
Atlanta hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Namun Elisa segera melebarkan sudut bibirnya, menghampiri Atlanta dan duduk di samping laki-laki itu.
"Kita ke sana yu!" Atlanta menautkan alis. "Aku belum pernah ke pasar malam. Kamu mau kan nemenin aku?"
Sejenak Atlanta hanya memandangi obsidian Elisa, ada guratan memohon tercipta dari wajah gadis di sampingnya.
"Please...."
"Tapi kamu izin dulu sama Mama kamu. Nanti aku temani."
Elisa mengangguk, gadis itu segera berlari mencari sang Mama, pun Atlanta yang memilih membereskan barang-barangnya ke dalam tas ransel. Tak berselang lama Elisa kembali dengan raut wajah gembira menghiasi bola matanya yang bersinar.
"Ayo! Mama udah kasih aku izin," ucapnya seraya meraih pergelangan tangan Atlanta, membawa laki-laki itu untuk segera pergi bersamanya ke pasar malam. Dia sangat tidak sabar. Atlanta sedikit kesusahan dengan tarikan tangan Elisa yang memaksanya untuk menyesuaikan langkah kaki gadis itu.
"Atlanta, jagain Elisa ya!" sahut Vina saat berpapasan dengan keduanya.
"Iya, Ma!" jawab Elisa. "Elisa berangkat dulu!" Atlanta hanya menundukkan kepala seraya tersenyum lembut pada Vina, sebelum akhirnya ia kembali dibawa pergi oleh Elisa yang terlihat sangat antusias.
Setelah sampai di mana banyak segerombolan orang-orang berlalu lalang di sepanjang pinggiran lapang besar, Atlanta memarkirkan sepedanya di bawah pohon rindang samping parkiran motor. Keduanya mengedarkan pandangan ke tempat yang sudah cukup ramai itu.
Elisa melebarkan senyum, ini adalah pertama kalinya gadis itu pergi ke tempat ramai, seperti pasar malam. Banyak yang berjualan berbagai jenis jajanan khas kota Bandung, maupun jajanan luar yang sedang trend waktu itu, pun banyak wahana yang mampu membangkitkan jiwa adrenalin setiap orang.
Tak jauh berbeda dengan ekspresi Elisa, raut wajah bahagia pun sama-sama tercipta di wajah laki-laki manis itu. Ia sendiri belum pernah mengunjungi pasar malam. Bagi keduanya, hari itu adalah hari paling berkesan, pergi berdua ke pasar malam dan menghabiskan waktu bersama.
Gadis itu mendongak melihat netra Atlanta yang masih berbinar, lalu ia menyentuh telapak tangan Atlanta, menautkan jemarinya dengan laki-laki itu. Atlanta segera menoleh pada gadis yang tingginya tidak lebih dari pundaknya tengah tersenyum lembut. Dadanya berdebar cepat, merasakan bagaimana permukaan tangan hangat Elisa yang bersentuhan dengan jemarinya. Ia membalas senyuman itu tak kalah manis.
"Kamu seneng?" tanyanya.
Atlanta mengangguk pelan, senyuman itu tak pernah luntur dari bibirnya.
Setelah itu Elisa kembali melangkahkan kaki, praktis membuat laki-laki itu ikut menggerakkan tungkai ke mana sang kapten berjalan, mengelilingi pasar malam, melihat berbagai jenis boneka, pernak-pernik, jajanan yang dijual bebas dan pastinya menggiurkan.
"Atlanta, ayo ke sana!" sahutnya ke arah permainan tembak-tembakan. Atlanta hanya nurut, mau bagaimana lagi? Toh tangannya tengah bertautan dengan gadis itu.
"Hallo, dek. Mau coba? Kalo adek berhasil tembak bolanya sampai terjatuh, adek bisa bawa pulang boneka itu," ucap si petugas seraya menunjuk boneka kelinci berwarna putih berukuran sedang yang terpajang di rak.
"Ta ... Aku mau boneka itu," ujar Elisa sembari mengguncangkan lengan laki-laki itu, menatap Atlanta dengan puppy eyes menggemaskannya.
Laki-laki itu tersenyum menampilkan deretan gigi rapinya, lalu mengangguk, mengusak rambut Elisa sebelum akhirnya ia menerima uluran sebuah pistol mainan yang sudah diisi peluru di dalamnya.
Elisa bertepuk tangan antusias, berdiri di samping Atlanta sambil menyemangati laki-laki itu agar memenangkan boneka kelinci impiannya.
"Ayo! Kamu pasti bisa!" sahut gadis itu.
Atlanta mulai mengambil posisi, mengarahkan pistol itu di depan, memejamkan sebelah mata guna menyidik bola yang menjadi targetnya. Jarak yang cukup jauh membuat laki-laki itu harus ekstra teliti. Apalagi dia harus menembak setidaknya 10 bola.
Dor!
Satu tembakan berhasil Atlanta luncurkan, sampai bola yang awalnya berada di atas gelas bening itu terjatuh.
"Hore! Ayo Atlanta, semangat!" sahut gadis itu kegirangan.
Dor!
__ADS_1
2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 bola berhasil dilumpuhkan oleh laki-laki itu. Tinggal bola terkahir yang akan menjadi penentu nasibnya, apakah ia akan menjadi pemenang dan membawa hadiah itu, atau ia harus kalah. Atlanta semakin bersiap untuk segera mengalahkan target terakhir.
Dor!
"Yeay! Kamu berhasil!" Teriaknya seraya melompat kecil sangat senang. Atlanta kembali melebarkan senyum, rasa senang kian menyelimuti hatinya, apalagi saat Elisa memeluknya penuh kesenangan.
Pria dewasa di sana menghampiri kedua anak muda yang berhasil menjalankan sebuah misi sembari membawa boneka yang sudah dijanjikannya.
"Selamat ya. Kalian berhasil," ucapnya memberikan boneka itu pada Elisa. Raut wajah bahagia tak bisa membohongi perasaan Elisa saat itu.
"Makasih, Pak."
"Saya juga punya hadiah lain." Pria itu memberikan sepasang gelang liontin yang ada di saku celananya, lalu meraih tangan Elisa, mengaitkan gelang itu di sana. Tak lupa ia juga mengaitkan gelang yang sama di pergelangan tangan Atlanta.
"Dengan gelang itu, saya harap kalian akan menjadi pasangan abadi, pasangan yang tak akan terpisahkan sampai selamanya," ucap pria itu yang secara otomatis membuat kedua anak muda di depannya beralih berdiri dengan kaku, suasana canggung kian menyelimuti keduanya.
"Baik, selamat malam dan selamat bersenang-senang." Imbuhnya.
Mereka mengangguk pelan, Elisa mulai melangkahkan kaki, memeluk boneka kelinci itu, menahan rona di pipinya yang terasa semakin memanas. Atlanta hanya berdiam diri di samping gadis itu dengan perasaan berdebar.
Pasangan? Apakah mereka terlihat seperti sepasang kekasih? Ah, lucu sekali.
"Hmm ... Kamu, mau ke mana lagi?" tanya Elisa memecah keheningan.
"Terserah kamu."
Elisa kembali mengedarkan pandangan, melihat beberapa wahana yang sudah nampak di depan matanya.
"Mau naik kincir gak?"
Sejenak Atlanta menolehkan atensi ke arah bianglala besar yang dimaksud Elisa.
"Memangnya kamu tidak takut ketinggian?"
Elisa menggeleng. "Engga. Kamu takut?"
Kali ini Atlanta yang menggelengkan kepala.
"Ayo naik itu," kata Elisa sembari mengaitkan tangannya di lengan Atlanta.
Mereka sudah berdiri di barisan orang-orang yang menunggu giliran. Untungnya barisan itu tidak terlalu panjang, dan mereka bisa dengan cepat masuk ke dalam sebuah kotak berukuran besar yang akan membawa mereka naik ke atas.
Setelah si petugas mengunci pintu besi itu, kincir yang ditumpangi keduanya mulai menunjukkan pergerakan, perlahan tapi pasti, wahana itu membawa keduanya menjauhi tanah pijakan. Mereka bisa lihat di mana orang-orang terlihat sangat kecil.
Elisa memandangi pemandangan malam yang sangat indah, lampu gemerlap menerangi seisi kota. Udara dingin membuat gadis itu semakin memeluk erat boneka yang ada di genggamannya.
"Cantik banget kan pemandangannya?" ucapnya menoleh pada Atlanta yang tengah memperhatikannya lamat.
Ia mengangguk, lalu menggerakkan tangannya.
"Aku mau tanya."
"Tanya apa?"
"Tentang pesan yang kemarin kamu kirim. Perihal janji."
Elisa mengulum bibir, namun netranya masih menatap Atlanta penuh arti tersirat.
"A—ah soal itu? Gak usah dipikirin. Lupain aja," katanya gugup.
"Tapi aku akan tetap menjawabnya."
Gadis itu mengerutkan kening, menunggu gerakan tangan Atlanta yang akan menghilangkan kerutan kentara di sana.
"Aku janji, aku akan tetap berada di samping kamu, apapun keadaan kamu. Aku janji gak akan tinggalkan kamu."
Isi hatinya tiba-tiba berdebar cepat, bola mata itu seakan menjadi jawaban akan perasaannya saat itu. Ia segera beranjak, mengubah tempat duduk di samping Atlanta, praktis membuat laki-laki itu terkejut dengan tindakan Elisa yang secara tak terduga memeluk lengannya erat, menyenderkan kepalanya di bahu Atlanta.
"Aku gak mau kehilangan kamu, Atlanta," ucap Elisa seraya menautkan kembali jemarinya dengan tangan besar Atlanta.
"Aku sayang sama kamu."
Aku juga sayang sama kamu, Elisa.
Entah, dadanya mendadak terasa sakit dengan ucapan Elisa, seperti ada rasa sesak yang gadis itu tengah rasakan, seolah pelukan erat itu menjelaskan akan beban berat yang dialaminya. Dia tidak tahu, masalah apa yang sedang gadis itu hadapi, namun ia tak bisa berdiam diri, Atlanta memilih memutar badan hingga keduanya berhadapan, menangkup pipi Elisa yang terasa memanas, lalu memeluk gadis kecil itu penuh perasaan, membiarkan Elisa menyalurkan kesakitan itu padanya.
Elisa membalas pelukan Atlanta, dan ajaibnya tetesan air mata berjatuhan dari sarangnya yang sudah terasa berat. Gadis itu semakin membenamkan kepala di bahu Atlanta, menggigit bibir bawah menahan lirihan.
__ADS_1
Atlanta, aku sakit, sangat sakit. Aku butuh kamu. Kamu adalah hal pertama yang membuat aku bertahan sampai detik ini. Tapi, jika Tuhan tidak menakdirkan kita bersama, aku sudah ikhlas, karena aku sudah berhasil mengukir kenangan indah bersama kamu. Aku harap setelah aku tiada, kamu akan tersenyum mengenang semua yang sudah kita lewati, seperti saat ini.