Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
65. The culprit


__ADS_3

Setelah kejadian di kantin, Elisa benar-benar mengabulkan ucapannya. Bahwa gadis itu kini sudah tak peduli dengan Atlanta, membiarkan orang-orang itu melakukan apapun terhadap Atlanta.


Bel pulang sebenarnya sudah berbunyi beberapa menit lalu, tapi Elisa masih sibuk membereskan banyak hadiah kecil pemberian dari penggemar dadakannya, memasukkannya ke dalam tas ransel hingga terlihat penuh. Entah, dia sendiri tidak tahu kenapa hadiah itu tiba-tiba menumpuk di atas mejanya selepas jam istirahat tadi.


"Elisa, gue harap lo mau ngerti alasan Atlanta. Jangan jauhin dia sebelum lo tau yang sebenarnya." Bisik Lucas yang secara otomatis menghentikan kegiatannya mengemas barang-barang.


Ia mendongak, dan menampakkan laki-laki itu yang sudah beranjak dari duduk.


"Mark, ayo balik."


Selanjutnya kedua laki-laki blasteran itu ke luar dari kelas, menyisakan dirinya dan Atlanta. Elisa menghela napas dan bergegas membereskan barang-barangnya yang sempat tertunda.


Atlanta masih duduk terdiam di bangkunya, memainkan kuku jari gelisah. Dia sebenarnya sangat merasa bersalah dengan gadis itu, tapi dia juga tidak ingin berdiam diri tanpa menjelaskan kejadian yang sesungguhnya.


Setelah meloloskan napas berat, laki-laki itu berdiri secara perlahan, pun tungkainya yang terasa berat ia coba paksakan untuk bergerak dan melangkah ke arah gadis di belakang.


Elisa yang baru saja selesai dan menggendong tas ranselnya hendak pergi dari kelas tercekat, di mana ia melihat Atlanta yang sudah berdiri di depannya, dengan pandangan tertunduk.


"Apa?"


Atlanta segera mengangkat kepalanya, saat itu juga Elisa mampu melihat dengan jelas luka memar yang sedikit samar di tulang pipi Atlanta. Ternyata benar apa yang dikatakan Lucas. Ribuan pertanyaan sontak menumpuk dalam otaknya. Ada apa dengan laki-laki itu? Apa yang sebenarnya terjadi?


"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu."


Melihat gerakan tangan Atlanta, lantas Elisa menaikkan kedua alis, bersiap dengan ungkapan yang akan Atlanta utarakan padanya.


"Apaan?"


"Kamu tidak akan pindah ke London kan?"


"Ya engga lah. A-- gue kan udah bilang kalo gue menang Papa gak akan paksa gue lagi buat jadi model," jawab Elisa dengan nada dingin. Bahkan Atlanta yang mendengarnya, dia seolah berbicara dengan orang asing, gadis itu seperti bukan Elisa.


Atlanta mengganggukkan kepala pelan.


"Terus?"


"Aku sangat senang ketika mendengar kamu memenangkan kompetisi itu."


Atlanta tersenyum lembut menatap Elisa yang sama sekali tak merubah ekspresi wajahnya yang tertekuk sedari tadi.


"Iya ... iya. Apa lagi?"


Elisa semakin menatap lamat obsidian bening milik Atlanta, berharap laki-laki itu segera mengungkapkan sesuatu yang ia harap akan menghilangkan rasa khawatir gadis itu selama ini.


Ayo Atlanta, kamu bilang dong apa yang sebenernya terjadi. Jangan bikin aku cemas.


Beberapa saat, keduanya hanya mampu saling tatap menatap satu sama lain. Atlanta masih menimbang ungkapannya mengenai kejadian tempo hari yang dialami, ia takut Elisa tidak akan percaya dan menganggapnya hanya sebuah alasan.


"Kamu dan Jay sangat serasi."


Elisa mengerjapkan matanya dua kali tatkala memahami gerakan tangan Atlanta. Ia mendengus, mengatupkan rahang yang semakin mengerat. Bukan itu yang ingin dia tahu!


Belum sempat Elisa menjawab, suara nada dering telpon mengalihkan perhatian gadis itu. Ia segera merogoh benda pipih dalam saku, dan melihat Joni yang melakukan panggilan padanya.

__ADS_1


"Iya, Bang?" Elisa sedikit melirik ke arah Atlanta, sebelum akhirnya gadis itu memilih melangkahkan kaki, meninggalkan Atlanta tanpa sepatah kata apapun, menutup percakapan sepihak di antara keduanya yang belum terselesaikan.


Atlanta hanya menatap punggung Elisa yang kian menjauh dari pandangannya, lalu menghempaskan napas.


Maafkan aku, Elisa.


Tepat di depan pintu kelas, seorang laki-laki pemilik rahang tegas—Theo—yang baru saja melahap sebuah permen karet itu kini menolehkan pandangan pada sosok gadis yang baru saja ke luar dari kelas samping, sontak ia menyipitkan penglihatan. Melihat lebih jelas siapa gadis itu.


Selanjutnya Theo langsung melebarkan senyum, Elisa pulang sendirian, ini adalah kesempatannya, karena Jay sudah pulang lebih dulu dan ia yakin laki-laki itu kini telah meninggalkan area sekolah.


Dengan senyum yang masih terpatri di wajah tampannya, Theo sedikit berlari menghampiri Elisa. Namun, hal itu tak berlangsung lama, karena gadis di depannya kini beralih berlari cepat dengan sebuah ponsel menempel di sebelah telinga. Dia nampak terburu-buru.


"Nadin! Gue bilang tunggu dulu!"


Terdengar dari lantai bawah, ada siswi yang saling sahut menyahut menyebutkan nama yang berhasil menyita perhatian laki-laki itu. Theo segera melihat 3 orang perempuan tengah berlari melewati lapangan sekolah, mengejar perempuan yang terlihat melangkah lebar dengan raut wajah kesal.


Tak perlu banyak waktu untuk menebak tempat tujuan ketiganya. Ke mana lagi jika bukan gudang belakang sekolah. Meski Theo tak mau ambil pusing dengan ketiga siswi di sana, tapi isi hatinya seolah mengajak laki-laki itu untuk segera menyusul mereka, melihat hal apa yang akan ketiganya lakukan.


Theo segera menyusul ketiganya. Melupakan Elisa yang ia pikir gadis itu sudah pergi meninggalkan area sekolah.


Dengan langkah yang mengendap, kini laki-laki itu sudah berdiri di balik tembok samping pintu gudang yang sedikit terbuka. Ia semakin menajamkan pendengaran, sedikit mengintip dari celah pintu itu.


Bruk!


Bruk!


"AKH! SIALAN!"


Bruk!


"Nad! Gue bilang stop!"


"AKH!"


Bruk!


"NADIN!"


Theo yang masih setia mengintip kegiatan ketiganya, melihat Nadin beralih menjambak rambutnya sendiri, napas yang semakin menggebu menandakan bahwa gadis itu tengah dilanda amarah yang cukup besar.


"TERUS GUE HARUS GIMANA, ANJING! SEKARANG JAY SAMA SI CEWEK BAR-BAR ITU MAKIN DEKET!"


Cewek bar-bar? Maksudnya Elisa?


"Makanya lo tenang dulu. Yang harus kita pikirin sekarang itu gimana caranya supaya Elisa sama Jay bisa jauhan." Itu suara Linda. Terlihat gadis itu mengelus pundak sahabatnya yang masih naik turun.


"Gimana caranya, hah?! Niat gue nyuruh orang suruhan gue buat nabrak si bisu dan gagalin kompetisi itu biar si Elisa benci sama si bisu, terus si Theo bisa hilang kepercayaan sama mereka berdua, dengan gitu kita gampang hilangin bukti itu. Bukan malah bikin dia makin deket sama Jay!"


Theo membulatkan bola mata mendengar pengakuan Nadin. Jadi, alasan Atlanta tidak menghadiri acara kompetisi itu karena Nadin yang katanya mencelakakan Atlanta. Laki-laki itu mendengus dan tersenyum miring, masih setia mendengarkan hal apa lagi yang akan ketiganya ucapkan.


"Lo berdua tau?! Telinga gue panas denger mereka semua yang selalu nyebut si Elisa sama Jay best couple! Gue benci! Jay cuma punya gue!"


"Nad, sekarang lo tarik napas, tenangin diri lo, dengan gitu kita bikin rencana lagi, oke?"

__ADS_1


Suara tepuk tangan membuat atensi mereka teralihkan, ketiganya terkejut bukan main ketika Theo menampakkan diri di ambang pintu dan menghampiri mereka dengan senyum miring andalannya.


"Bagus ... bagus ... kalian udah kerja keras buat gagalin kompetisi itu. Gue salut," ucapnya yang terdengar seperti omong kosong.


"L—lo ngapain ke sini?!" sahut Nina gelagapan.


"Gue? Oh, gue cuma sengaja ngikutin lo bertiga, terus denger obrolan kalian. Gak masalah kan kalo gue nguping?" Seringaian di bibir tipis laki-laki itu tak ayal membuat ketiga siswi di sana mengepalkan tangan. Karena Theo sangat menyebalkan!


"Ternyata lo masih takut gue bongkar aib lo, huh? Tenang, semuanya masih aman terkendali kok. Belum saatnya gue bongkar itu semua, jangan panik gitu dong." Theo menaik turunkan alis mengolok ketiganya yang terlihat tegang dengan ucapannya.


"Anj—"


"Ah, kayanya lo salah sasaran ya?" ucapnya disertai kekehan. "Lain kali, sebelum lo ngelakuin sesuatu, dipikir dulu pake otak. Jangan sampe rencana yang udah lo susun jadi boomerang buat diri lo sendiri."


Nadin berdecak mendengar ucapan Theo. "Ck, tapi gue yakin tuh, lo sendiri kesel kan liat spanduk di depan sekolah? Apalagi udah jelas di sana ada Elisa sama seseorang yang sebenernya lo benci." Gadis itu maju beberapa langkah ke depan. "Jay Valendra," ucapnya yang nyaris pelan.


Theo memilih mengepalkan tangan, pun rahangnya yang tegas itu semakin mengatup sempurna. Dia akui, ucapan Nadin memang benar adanya, bahkan dia sangat muak dengan spanduk di depan sekolah seolah seperti sebuah benda yang menghalangi pemandangan indah.


Laki-laki itu kembali menyunggingkan sebelah bibir, lalu melipat tangan. "Tapi gue gak peduli lagi soal itu."


Gadis di depan menautkan alis. "Gue gak percaya. Lo gak bisa bohongin gue."


"Huh, terserah lo."


"Gue tau, lo suka sama Elisa, dan lo sebenarnya benci sama Jay yang seolah rebut cewek itu kan? Udah kebaca kok. Makanya gak usah sok berlagak lo tutup mata sama telinga."


"Gue bilang jangan pernah urusin masalah gue," ujar laki-laki itu penuh penekanan.


Nadin hanya mengangguk pelan seolah meremehkan, gadis itu beralih duduk di kursi dengan pandangan yang tak pernah terlepas dari Theo.


"Gue gak pernah urusin masalah lo. Tapi asal lo tau, sebenarnya kita berdua punya tujuan yang sama. Lo gak ada niatan kerja sama bareng gue, hm?"


Theo menghempaskan napas pelan, merotasikan bola mata jengah. "Sekali lagi gue ingetin, gue gak butuh siapapun buat dapetin apa yang gue mau. Ngerti lo!"


"Ya udah, gue gak bakal maksa. Tapi satu hal yang perlu lo tau, kalo sampe terjadi sesuatu sama si cewek bar-bar itu karena gue pengen dapetin Jay, jangan pernah salahin gue. Karena gue anggap lo gak pernah andil sama masalah ini."


Jari telunjuk laki-laki itu mengacung tepat di depan wajah Nadin yang masih terlihat santai. "Jangan pernah sentuh Elisa, sialan! Lo bakal tau akibatnya."


Suara kekehan kini terdengar di gendang telinga Theo, seolah meremehkan ucapannya yang terdengar seperti sebuah ancaman.


"Ck, lo bilang gak peduli, tapi kenapa lo gak mau liat cewek itu kenapa-napa?"


Theo hanya terdiam, memandangi wajah Nadin dengan tatapan tajam. Gadis itu beralih beranjak dari duduk, mendekatkan diri dengan Theo seperti tak takut dengan mimik wajah penuh amarah dan bola mata memerah laki-laki itu.


"Gue gak bakal sentuh cewek lo itu. Asal lo mau bantu gue dapetin Jay lagi. Setuju?"


Nadin mengulurkan tangan bermaksud mengajak Theo berjabatan tanda persetujuan kerja sama. Namun, laki-laki itu hanya menatap tak minat uluran tangan Nadin. Ia mendengus.


"Jangan mimpi!"


Setelah mengatakan sebuah penolakan, Theo berbalik badan, meninggalkan mereka dengan napas yang memburu, berlama-lama berbicara dengan Nadin adalah hal yang sangat tidak berguna. Kedua tangan yang menggantung bebas di samping badan semakin terkepal sangat kuat. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh, atau bahkan melukai Elisa. Dia bersumpah akan membunuh siapapun yang berani melakukan itu pada gadisnya.


Gue tau kita punya tujuan yang sama. Tapi gue gak sudi kerja sama bareng lo cewek ******! Karena gue gak pernah percaya sama siapapun, dan gue bakal dapetin Elisa pake cara gue sendiri.

__ADS_1


__ADS_2