
Sinar matahari yang nampak semakin meninggi mencapai puncak ubun-ubun di siang itu nyatanya tak sama sekali meruntuhkan semangat para siswa yang tengah bertanding sepak bola di lapangan sekolah. Pun para siswi yang menyorakkan tim kebanggaan mereka di bibir lapang guna memberi pasokan semangat bagi kedua belah kubu.
Berbeda halnya dengan kebanyakan murid yang tampak senang dan menghabiskan jam kosong mereka untuk bermain di lapang, nongkrong di kantin, berleha-leha di koridor sembari bergosip ria, dan sebagainya, Atlanta maupun Elisa memilih berdiam diri di dalam kelas yang sangat sepi. Ya, hari ini pihak sekolah memberikan secercah kebahagiaan pada semua murid untuk lebih bersantai, karena semua guru diharuskan mengikuti rapat di aula menjelang UTS.
Tidak hanya berdua, masih ada segelintir siswa yang masih berdiam diri di kelas, namun mereka lebih memilih menyumbat telinganya dengan earphone, atau beralih tidur di belakang kelas sembari meringkuk, lumayan kan bisa tidur siang itu adalah anugerah yang paling indah bagi mereka yang setiap hari harus bergelut dengan banyak mata pelajaran.
Terlihat, Atlanta masih setia dengan acara tulis menulis yang dilakukannya sejak tadi, dengan Elisa yang berada di sampingnya tengah memainkan ponsel sembari menyangga dagu. Hanya suara dentingan jam yang berhasil terdengar oleh indra pendengaran.
"Ta, kalo aku pindah sekolah ke London gimana?" Elisa bersuara, praktis laki-laki pemilik senyum manis bak kelinci itu menoleh dan menampakkan Elisa sedang menatapnya.
"Memangnya kamu mau pindah ke sana?"
Elisa menggelengkan kepala, bibirnya tertarik ke bawah mengisyaratkan bahwa gadis itu tidak suka.
"Aku sih gak mau. Tapi Papa maksa aku buat pindah. Menurut kamu gimana?"
Atlanta menghentikan kegiatannya, ia tersenyum ke arah Elisa.
"Berarti Papa kamu mau yang terbaik buat kamu. Aku gapapa kok."
Gadis itu merotasikan bola mata. "Yang terbaik gimana sih, Ta. Orang Papa tuh gak pernah mau denger apa mau aku, Papa gak pernah ngerti perasaan aku. Lagian aku gak mau pindah ke London, soalnya aku gak mau ninggalin ka—"
Elisa segera menggigit bibir bawahnya. Hampir saja. Lantas Atlanta menarik alis ke atas, semakin menatap Elisa lamat tatkala menyadari gadis itu langsung gelisah setelah tak melanjutkan ucapannya.
"Meninggalkan siapa?"
Ninggalin kamu Ta.
"I—tu, maksudnya aku gak mau ninggalin Kakak-kakak aku di sini, sama Mama juga." Elisa tersenyum kikuk. Ia beralih memegangi dadanya yang berdebar.
Atlanta hanya ngangguk-ngangguk. Jika benar Papa Elisa memaksa anaknya untuk pindah, memangnya dia bisa apa? Jujur saja, laki-laki itu juga merasa sangat sedih ketika mendengar Elisa hendak dipindahkan ke London. Apa jadinya hidup laki-laki itu jika tanpa Elisa.
"Aku punya sesuatu buat kamu."
"Apa?"
Ia memberikan buku kecil miliknya, menyodorkannya pada Elisa dengan keadaan yang sudah terbuka dan menampilkan tulisan tangannya yang rapi di sana.
"Makanan dan minuman yang harus dihindari Elisa?" ucap gadis itu membaca sebuah kalimat yang biasa disebut judul tertulis capslock.
Meski sempat menautkan kedua alis menandakan rasa bingung setelah membacanya, Elisa tak langsung bertanya akan itu, ia kembali membaca deretan list tepat di bawah judul tadi.
"Kacang-kacangan. Susu dan semua produk olahan susu seperti yogurt, es krim, keju. Roti gandum, pasta, sereal, coklat dan segala olahan coklat. Sosis, patty, minuman bersoda."
Elisa langsung menoleh, dan menampilkan Atlanta tengah tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya.
"Maksudnya apa?"
"Kamu gak boleh makan semua yang sudah aku tulis."
"Ih kenapa? Jadi aku gak boleh makan sosis? Ga boleh makan coklat? Gitu?" ujarnya dengan nada yang sedikit tinggi. Astaga! Yang benar saja, bahkan semua yang ada di daftar list itu adalah makanan favorit Elisa.
"Kamu sedang sakit. Aku gak mau sakit kamu semakin buruk."
Detik selanjutnya gadis itu menundukkan kepala dalam, memberengut. "Kamu bener juga. Aku udah gak bisa cicipi makanan sama minuman enak lagi."
Atlanta menepuk bahu Elisa sebanyak dua kali, sontak ia mendongak ke arah laki-laki di sana.
__ADS_1
"Kamu sudah kasih tau orang tua kamu soal ini?"
Elisa menggelengkan kepala. Sampai detik itu Elisa masih bermain rahasia pada keluarganya sendiri. Rasanya sangat berat untuk mengungkapkan semuanya. Pikiran liar selalu saja mengalahkan akal sehat Elisa, banyak ketakutan yang masih menjadi penghalang untuk gadis itu. Dia tidak tahu harus memulai dari mana, belum lagi saat ini dia sendiri pun masih belajar untuk menerima semua kondisi yang tak lagi sama.
"Lebih baik kamu kasih tau keluarga kamu. Dengan begitu kita semua bisa cari jalan keluar supaya kamu sembuh. Dan kamu bisa makan enak lagi."
Karena aku gak mau kehilangan kamu, Elisa.
Atlanta tersenyum lembut, berusaha mengembalikan senyum Elisa yang sejak lama berhasil menjadi sengatan semangat untuknya. Dia tidak mau gadis itu sedih, ia merasa seperti separuh jiwanya hilang ketika Elisa menampilkan raut wajah putus asa.
"Iya, nanti. Aku masih belum siap sama semuanya."
Atlanta merobek kertas yang bertuliskan list pantangan untuk Elisa, ia memberikannya pada gadis itu yang menerimanya dengan senang hati.
"Elisa."
Keduanya kompak menoleh, menampakkan laki-laki tinggi dengan tampilan baju seragam ke luar, bagian lengan dililit, dan kancing bagian atas terbuka satu menampilkan kalung rantai yang dipakainya, tengah menghampiri mereka.
"Apaan?" tanya Elisa datar.
Laki-laki itu—Theo—mendudukkan bokongnya di bangku Elisa, membuat gadis itu mendongak menatapnya.
"Ikut gue."
"Ke mana?"
"Lo lupa hari ini lo harus ikut tes masuk ekskul gue?"
Elisa mendengus, ia melihat tangan. "Ya gue inget. Tapi kenapa harus sekarang, pulang sekolah 'kan bisa."
"Gak usah buang waktu buat nyantai-nyantai di kelas. Pulang sekolah gue mau futsal."
Theo menarik sebelah bibirnya, laki-laki itu langsung beranjak dan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
"Ya udah kalo gak mau berarti lo gak akan masuk ekskul musik."
"Iya iya, gue mau. Ayo! Sama Atlanta 'kan?"
Sejenak Theo menoleh pada Atlanta yang masih diam di kursinya. Sebelum akhirnya laki-laki itu menghempaskan napas pendek, mendelik dan berbalik badan.
"Iya cepetan."
Elisa tersenyum lebar, meraih tangan Atlanta untuk pergi bersamanya. Meski pada awalnya ia enggan. Mereka mengekori Theo dari belakang menuju ruang musik.
Dan betapa terkejutnya gadis itu ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri di dalam sana sudah dihuni oleh banyak siswa yang ia rasa adalah bagian dari ekskul musik. Bagaimana tidak, Theo sebelumnya tidak bilang bahwa Elisa harus menyelesaikan tes di depan orang banyak. Ah, rasanya ia ingin ditelan bumi saja.
"Theo, sialan! Kenapa lo gak bilang kalo tes nya kaya gini!" Gertak gadis itu pelan. Namun laki-laki pemilik rahang tegas di sana ternyata mampu mendengar suara Elisa yang nyaris sangat pelan.
"Biar lo terbiasa," ucapnya yang langsung dibalas delikan mata dari Elisa.
"Oke. Semuanya udah kumpul 'kan? Jadi, alasan gue minta kalian kumpul di sini itu karena kita bakalan kedatangan anggota baru." Theo si ketua dari ekskul musik itu bersuara di depan para anggotanya. Pun Elisa dan Atlanta yang berdiri di samping Theo dengan pemikiran masing-masing.
"Gue gak mau buang-buang waktu lagi. Gue yakin kalian semua udah kenal sama dua orang di depan. Mereka berdua anggota baru di ekskul kita."
Alhasil semua orang di dalam ruangan itu saling berbisik satu sama lain, memandang tak suka pada anggota baru mereka. Lebih tepatnya hampir semua orang-orang di sana memilih memfokuskan diri pada Atlanta. Mungkin mereka pikir Atlanta memangnya bisa apa? Sampai ia berani masuk ekskul yang dipimpin oleh orang yang bisa dibilang pernah melakukan tindak bullying padanya. Sungguh besar nyali laki-laki itu untuk masuk ke dalam kandang singa.
"Dan hari ini Elisa, bakal nunjukin bakatnya sama kalian semua."
__ADS_1
"Kenapa cuma Elisa? Si bisu engga?" Timpal salah satu murid perempuan yang duduk di barisan paling depan.
"Gue sendiri yang udah tes dia jauh-jauh hari," jawab Theo seraya berjalan ke kursi tempat kediamannya.
Laki-laki itu segera mengisyaratkan Elisa untuk memulai permainan. Pun Atlanta yang dengan kakunya mendudukkan bokong di kursi yang masih tersisa di sana.
Kedua tangan gadis itu mendadak terasa dingin, perasaan gugup menyerangnya dengan sangat tak bersahabat. Dia takut membuat kesalahan. Meski begitu, Elisa tetap membulatkan tekadnya untuk tetap menghampiri sebuah piano. Ia mengatur napas, menetralkan gemuruh dalam dadanya yang berdebar tatkala semua orang memilih bungkam dan mulai fokus padanya.
Demi Atlanta.
Satu kali hempasan napas terakhir Elisa mengangkat tangan. Jemarinya bergerak di atas keyboard piano. Detik selanjutnya, indra pendengar orang-orang di sana mampu mendengar sebuah lagu klasik dari seorang komponis, musikus sekaligus pianis—Yiruma—berjudul dream. Elisa memainkan lagu itu penuh dengan penghayatan, sehingga mampu membuat orang-orang yang mendengar terbuai oleh melodi indah yang dimainkan Elisa.
Tak disangka, lengkungan indah tercipta di bibir Atlanta. Ia sangat bangga dengan gadis itu. Bahkan Elisa belajar sangat cepat, terbukti gadis itu mampu menghafal lagu tak lebih dari empat hari.
Suara tepuk tangan kian menyeruak memenuhi seisi ruangan. Tatapan kagum terpatri di wajah Theo maupun semua anggota ekskul musik.
"Elisa! Lo hebat! Gue fans lo!" sahut seorang murid laki-laki di ujung sana sembari mengangkat jari membentuk finger heart.
Elisa hanya tersenyum malu. Akhirnya dia sangat lega.
"Elisa ... lo sekarang anggota dari ekskul musik, dan gue harap lo bisa berkontribusi lebih di ekskul ini."
Gadis itu mengangguk, ia beranjak dan duduk di samping Atlanta ketika Theo mengisyaratkannya untuk duduk di sana.
"Ada satu lagi hal penting yang mau gue sampein sama kalian semua."
Theo mengambil lembaran brosur yang ada di atas meja, membagikannya secara merata pada anggota musik.
"Itu brosur dari kepala sekolah. Dia mau ekskul kita bisa hadir mewakili sekolah di ajang kompetisi musik minggu depan." Theo menjeda ucapannya, menatap satu per satu anggotanya yang masih membaca brosur. "Siapa yang mau turun."
Hening.
"Panji. Lo sama tim lo turun wakilin sekolah."
Laki-laki bernama Panji itu mendongak. "Gue gak bisa. Lo tau 'kan minggu depan gue bakal sibuk di OSIS, masih ada kerjaan menjelang acara festival."
Theo menghela napas. Benar juga. Anggotanya itu masih terikat dengan OSIS, pun dirinya yang ikut berkecimpung di festival karena ketua dari ekskul musik.
"Terus siapa yang mau turun. Cuma tim lo yang bisa diandalin kalo ada kompetensi."
Sekali lagi orang-orang di sana memilih bungkam. Di sisi lain, Elisa masih membaca dengan cermat brosur yang dipegangnya. Ia membulatkan mata ketika hadiah utama berupa uang tunai senilai Rp 5.000.000, bukan nilai yang kecil.
"Theo. Lo butuh berapa orang buat acara ini?" Elisa angkat bicara, praktis gadis itu menjadi pusat perhatian.
"Terserah. Solo atau tim gak masalah."
Elisa mengembangkan senyum. "Atlanta sama gue aja!"
Sontak semua orang membelakakan mata, pun Atlanta yang ikut terkejut dengan ucapan Elisa. Theo mendengus mendengarnya. "Elisa ... ini acara bukan buat main-main. Di sini lo bawa nama sekolah."
"Iya gue tau. Lo udah tau bakat Atlanta kaya gimana. Masa lo gak yakin sama dia. Lo yang bilang sendiri kalo Atlanta berbakat."
"Gue tau. Tapi lo baca lagi itu syaratnya apa aja. Di situ tertulis kalo setiap peserta wajib bawain lagu ciptaan mereka sendiri."
Jelas Elisa tak asal mengatakan bahwa Atlanta dan dirinya mau untuk mewakili sekolah. Ia ingat Atlanta sudah banyak menulis lagu di buku miliknya yang sempat ia baca, dan gadis itu yakin di salah satu lagu itu ada yang bisa mereka bawakan.
"Atlanta udah punya lagunya kok. Iya 'kan?" tanyanya pada Atlanta yang masih termangu. Ia sendiri tidak yakin untuk mengiyakan ucapan Elisa.
__ADS_1
"Oke. Gue tunggu dua hari lagi. Kalo kalian yakin, gue tunggu keputusan kalian. Dan gue harap kalian gak nyoreng nama baik ekskul musik."