
"Atlanta! Tunggu dulu!" Teriak Elisa yang tak habis-habisnya memanggil nama laki-laki yang saat itu berjalan cepat demi menghindari kejarannya sejak bel istirahat berbunyi.
Dia seperti menulikan telinganya ketika suara menggelegar memenuhi gendang telinga, berdengung bersamaan dengan gema di lorong sekolah. Atlanta tetap tidak memedulikan Elisa yang sudah tersenggal karena mengejarnya.
Ah, apakah laki-laki itu terlalu berlebihan? Bahkan sejak kedatangannya ke sekolah, lalu iris matanya disuguhkan pemandangan tak biasa, di mana Elisa tengah dirangkul Jay, dan berhasil membuat perasaan berkecamuk.
Seharusnya dia sadar diri, Elisa memang serasi dengan adiknya itu. Laki-laki tampan dan berprestasi seperti Jay sangat layak mendapatkan semua yang dia inginkan. Dan gadis cantik seperti Elisa tidak pantas bersanding dengan dirinya, si bisu.
Bruk!
"Aw!"
Ia tercekat, pandangannya berbalik cepat ketika mendengar pekikkan suara dari arah belakang. Praktis dia membulatkan mata, segera berlari menghampiri Elisa yang tengah terduduk di lantai sembari meringis memegangi telapak tangannya.
Gadis itu mengulum bibir ketika Atlanta membersihkan telapak tangannya yang sedikit kotor, mengelapnya dengan raut wajah khawatir. Detik selanjutnya, Atlanta mengerutkan kening, menatap lamat-lamat bekas luka di telapak tangan Elisa. Sebuah goresan yang hampir mengering terpampang jelas di depan matanya.
"Ini luka apa?"
Elisa segera menarik tangannya ketika mengerti pertanyaan Atlanta, dia segera berdiri, yang disusul oleh Atlanta saat itu juga.
"Kenapa kamu hindarin aku terus sih? Kamu marah sama aku?"
Sorot mata laki-laki itu masih tertuju pada tangan Elisa yang sedikit terkepal. Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin dia katakan, sebelum akhirnya Elisa memilih menyembunyikan tangannya ke belakang, otomatis membuat laki-laki itu menghempaskan napas pelan.
"Jangan ikuti aku. Lebih baik kamu ke kantin saja."
Setelah itu, Atlanta membalikkan badan lagi, tungkainya kembali bergerak meninggalkan Elisa. Bukan Elisa namanya jika mudah menyerah. Gadis itu tetap mengikuti Atlanta ke mana laki-laki itu melangkah.
Taman sekolah adalah tujuan Atlanta. Sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan laki-laki itu untuk menghabiskan banyak waktu di sana. Sangat jarang orang-orang mengunjungi tempat itu, entah kenapa.
Atlanta segera duduk di kursi setelah melihat Elisa yang ternyata masih mengikutinya. Ia memilih menundukkan kepala, memainkan jari-jarinya.
Dengan langkah yang melambat, Elisa menghampiri Atlanta, duduk di sebelah laki-laki itu dengan perasaan bersalah. Ia tahu, kenapa Atlanta bersikap seperti saat itu.
Beberapa detik, keduanya sama-sama terdiam. Atlanta dengan batinnya yang masih bertanya-tanya tentang perasaan yang sulit diartikan, dan Elisa dengan pikiran bingungnya untuk memulai percakapan.
"Ehmm ... kamu marah, ya?"
Diam, Atlanta tak merespon apapun. Dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan. Marah? Tidak. Kecewa? Tidak juga. Cemburu? Ah, bolehkah dia memiliki perasaan seperti itu?
"Maaf."
Intuisinya bergerak cepat, Atlanta menoleh, menatap Elisa yang sejak itu membalas tatapan matanya.
"Harusnya aku bilang ini dari kemarin," ujarnya disertai nada bersalah di sana.
__ADS_1
"Kamu tau 'kan, aku udah kenal Jay lama banget."
Atlanta mengangguk, dia menarik napas pelan, kedua sudut bibirnya tertarik. Meski ada perasaan tak rela, Atlanta sadar, dia tidak boleh egois. Terlebih Elisa adalah teman satu-satunya, dia hanya ingin yang terbaik untuk gadis itu.
"Aku tau. Kamu gak perlu minta maaf. Jay itu baik, kamu gak salah pilih. Aku ikut senang,"
Elisa menautkan alisnya, menatap Atlanta bingung. Laki-laki di sampingnya itu memilih menundukkan kepala, masih dengan garis senyum di bibirnya.
"Maksud kamu apa sih? Gak salah pilih apa coba?"
Ia memilih mengedikkan bahu, menghempaskan napas seperti melepaskan sesuatu yang menyesakkan dada, sontak membuat kerutan di kening Elisa semakin kentara.
Detik selanjutnya gadis itu tertawa lepas, mendorong lengan Atlanta sampai laki-laki itu tersentak, dan mau tidak mau dia melihat bagaimana Elisa mengeluarkan tawa yang menggelitik, sampai terlihat air mata berkumpul di sudut matanya.
Elisa menyeka dengan punggung tangan setelah puas menertawakan hal yang cukup lucu baginya, lalu berkata, "Kamu beneran percaya sama berita itu? Kalo aku beneran pacaran sama Jay?"
Atlanta menganggukan kepala dua kali sangat pelan, membenarkan ucapan Elisa kala itu.
"Semua orang di sekolah ini sudah tau, kamu pacar Jay."
Mengerti gerakan tangan Atlanta, Elisa terkekeh kecil, tangan mungilnya bergerak menarik pelan sebelah pipi Atlanta.
"Kamu lucu banget sih." ucapnya yang berhasil membuat area dada laki-laki itu berdebar kencang, ia menggeser bokongnya untuk sedikit berjauhan tempat duduk dengan Elisa, takut jika gadis itu mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat meski rasanya tidak mungkin.
Beberapa saat, Atlanta hanya bisa menatap mata bulat Elisa, sebelum akhirnya sebuah garis indah di bibirnya tercipta kembali.
"Aku sudah bilang, Jay anak yang baik. Jay juga sangat pintar, kamu beruntung. Aku akan mendukung kalian."
Elisa mengulum bibir, ia semakin bergeser lebih merapat kembali dengan Atlanta setelah sebelumnya sengaja diberi jarak oleh laki-laki itu, lalu mendekatkan wajahnya dengan telinga Atlanta.
"Kamu cemburu, ya?" Bisiknya disertai senyum miring yang dia buat.
Atlanta membulatkan mata, tubuhnya tiba-tiba kaku. Ia segera menggelengkan kepalanya, disertai tangan yang bergerak cepat bermaksud mengatakan tidak. Sebuah kebohongan baru kali pertama yang dia lakukan.
"Tapi aku gak pacaran sama Jay."
Ia segera menarik sebelah alis, apa yang dimaksud gadis itu? Tatapan bingung tergambar jelas di wajahnya.
"Maksud kamu apa?"
"Iya ... maksud aku itu, sebenernya aku sama Jay cuma pacaran boongan."
Elisa mengalihkan pandangan ke arah depan, ketika mendapati perubahan di raut wajah Atlanta. Dia sama sekali tidak terkejut bahwa ternyata, jauh di depan sana, banyak murid-murid yang memperhatikan mereka berdua sembari berbisik satu sama lain.
Merasa belum memberikan jawaban yang utuh, Elisa beralih melipat tangan, masih tetap dengan pandangan yang lurus ke depan, lalu berkata, "Waktu itu, Jay minta aku buat jadi pacar pura-puranya biar bisa ngehindarin mantan pacarnya itu. Aku pikir gak ada salahnya juga kalo aku bantu Jay."
__ADS_1
Dalam diamnya, Atlanta hanya mampu mengulum senyum. Ada perasaan lega tiba-tiba menyembuhkan rasa sesak yang sejak tadi memenuhi rongga dadanya. Satu kalimat yang mampu membasahi relung hati layaknya hujan yang mengguyur tanah tandus.
"Makanya, aku minta maaf karena gak bilang dulu sama kamu," kata Elisa saat kembali menolehkan pandangan pada laki-laki di samping yang menjadi objeknya.
Di luar dugaan, beberapa saat ketika menoleh, hal tak biasa tercetak jelas di wajah Atlanta, praktis gadis itu terkekeh lagi. Elisa menangkup pipi gembil Atlanta, membuat si empu membeku tak bisa berbuat apa-apa, menatap obsidian Elisa tanpa berkedip.
"Kok pipi kamu merah sih." Elisa menjeda ucapannya, dia beralih menempelkan punggung tangan di kening Atlanta. "Padahal kamu gak sakit loh."
Laki-laki itu kalap, dia menangkis tangan Elisa pelan. Kembali dengan kekehan yang entah sudah berapa kali keluar dari mulutnya, Elisa melebarkan sudut bibir ketika memergoki Atlanta yang terlihat gelisah sendiri.
"Kalo cemburu bilang aja kali. Aku tau kok." Godanya.
"Tidak. Aku tidak cemburu,"
"Bohong."
"Tidak."
Meski laki-laki itu bersikukuh mengatakan tidak, tapi dia yakin, ada sesuatu yang membuat pipi Atlanta terlihat sedikit merona. Ah, laki-laki itu sangat menggemaskan, bahkan dia tidak terlalu pintar menyembunyikan rasa senangnya setelah mendengar penuturan Elisa beberapa saat lalu.
"Kamu tenang aja. Aku gak mungkin suka sama orang lain. Karena aku cuma suka sama kamu."
Atlanta sedikit membuka mulutnya tak percaya. Apakah dia tidak salah dengar?
Gadis itu segera menggigit bibir bawahnya, menutup mata kuat-kuat, tangan yang sejak tadi menganggur ia gunakan untuk meremas kain rok sebagai korban karena ia sangat merutuki kebodohannya.
"Eng ... maksud aku. Kamu jangan salah paham dulu."
"Lalu?"
Isi kepalanya tiba-tiba berputar, mencari sebuah kalimat yang mungkin akan mengurangi rasa gugup, atau mencari alasan atas perkataannya yang saat itu terucap secara spontan.
"Atlanta, Elisa."
Keduanya kompak menoleh ke sumber suara. Seorang guru wanita, lebih tepatnya wali kelas mereka tengah berjalan menghampiri. Mereka segera beranjak sebelum guru itu lebih dulu sampai di depan keduanya.
"Kebetulan ketemu di sini. Kalian punya waktu senggang?" tanyanya disertai senyuman ramah dari wanita itu.
"Memangnya ada apa ya, Bu?" kata Elisa.
"Saya ada perlu sama kalian berdua." Ia menjeda ucapannya beberapa detik. "Lebih baik kita ngobrol di ruang guru saja, bagaimana?"
Mereka sama-sama mengangguk. Tungkainya bergerak mengikuti ke mana guru di depan berjalan lebih dulu. Ada perasaan tidak mengenakkan bersarang dalam benak keduanya. Apakah mereka berbuat salah lagi? Apa guru itu akan menghukum mereka?
Setengah perjalan menuju ruang guru, Elisa berbisik, dia berucap, "Emang kita bikin masalah lagi ya?"
__ADS_1