Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
38. Machine


__ADS_3

Di depan pintu kamar Jay yang sedikit terbuka, Atlanta masih berdiri mematung sejak sepuluh menit yang lalu. Ia masih menimbang, apakah ia harus menemui Jay malam itu juga, atau ia harus mengulur waktu lagi untuk memberikan seragam milik Jay yang dipinjamkan padanya tadi siang.


Suara helaan napas terdengar dari mulutnya, masih dengan baju berkain putih dalam genggamannya, Atlanta memantapkan hati untuk menemui Jay saat itu juga. Tangannya terangkat, mengetuk pintu.


Tok ... tok


"Masuk aja!" Sahut orang di dalam. Rupanya Jay belum tidur, batinnya.


Perlahan, Atlanta memegang knop pintu, membuka lebar benda berbahan dasar kayu jati itu sampai menampakkan ruangan bernuansa abu putih terpampang jelas. Atlanta berjalan mendekati Jay yang masih berkutat dengan banyak tumpukan buku di atas meja belajar.


Ah, ia sampai lupa, laki-laki tampan itu harus mengikuti lomba olimpiade Matematika minggu depan. Tak heran adiknya begitu bekerja keras demi mendapatkan hasil yang terbaik.


Jay menoleh sekilas. "Mau ngapain ke kamar gue?" ucapnya datar. Ia kembali melanjutkan kegiatannya lagi.


Atlanta merogoh ponsel di dalam saku celana trainingnya, mengetikkan sesuatu di sana. Jay menghempaskan napas kasar, kembali menolehkan pandangannya untuk melihat apa yang ingin Atlanta katakan.


"Terima kasih sudah meminjamkan seragam ini untukku. Aku sudah mencucinya tadi."


Setelahnya Atlanta menyodorkan seragam itu, namun yang dia lihat adalah sunggingan bibir dari Jay, kemudian laki-laki itu berdecak.


"Jangan lo pikir gue kasih lo seragam itu, artinya gue peduli sama lo. Huh, engga sama sekali. Bahkan gue ogah minjemin baju gue sama lo." Jay beralih mengubah arah duduk, menyenderkan punggung menatap Atlanta yang berdiri di depannya.


"Gue gak mau aja liat Elisa nangis kaya tadi, jadi jangan pernah berpikir kalo gue bener-bener tulus bantu lo. Itu semua demi Elisa." Ia menjeda ucapannya, pandangannya tak terlepas dari seragam miliknya yang masih ada di tangan Atlanta. "Ah, dan soal baju itu, lo gak perlu balikin lagi ke gue. Gue gak mau pake baju bekas lo."


Mungkin ucapan Jay bisa terdengar sangat menyakitkan dan berartian kasar , namun kali ini Atlanta tak merasa hatinya terluka dengan semua perkataan Jay yang seolah-oleh dia tak mau bertulus hati membantunya. Atlanta tersenyum tipis, ia yakin, jauh di dalam lubuk hati Jay, laki-laki itu masih memiliki rasa peduli walau hanya sebutir pasir padanya. Tak apa, dia cukup mengerti dengan adiknya itu.


"Ngapain masih di sini? Sana pergi." Titahnya seperti mengusir Atlanta untuk segera menghilang dari pandangannya.


Atlanta kembali mengetikkan sesuatu lagi di ponselnya.


"Mau aku buatkan susu hangat?"


Jay sedikit tertegun dengan apa yang dibacanya. Sejenak, ia berpikir apakah Atlanta benar-benar ingin membuatkan susu hangat untuknya? Atau Atlanta ingin meracuninya karena tak terima dengan ucapannya?


Tunggu, terlepas dengan pikiran liarnya, dia yakin Atlanta bukan orang yang seperti itu.


"Ya udah sana. Bikinin gue susu coklat anget, jangan lupa pake madu satu sendok," ujarnya sebelum kembali berbalik untuk segera menyelesaikan tugasnya.


Atlanta segera pergi ke dapur, membuatkan susu hangat untuk Jay. Setidaknya untuk sedikit memberi pasokan semangat untuk adiknya. Tak berselang lama, ia kembali memasuki kamar Jay. Namun, kali ini yang ia lihat adalah, laki-laki yang sudah tertidur pulas dengan kedua lengan sebagai bantalan.


Ia menyimpan gelas bening berisi susu hangat di atas nakas, mengambil selimut yang terlipat rapi di atas ranjang, Atlanta melilitkan selimut itu untuk menutupi badan Jay. Dan yang dia lakukan selanjutnya, membereskan semua buku, alat tulis yang berceceran di meja belajar.


Laki-laki itu tersenyum memperhatikan wajah tenang Jay dalam tidurnya. Tangannya terulur mengusap surai hitam Jay, mengelusnya beberapa kali.


Semoga berhasil, adikku.


.......


.......


.......


"Elisa ... Elisa."


Tok ... tok


"El?"


Gadis itu menggeram dalam tidurnya tatkala mendengar suara ketukan pintu, ia semakin menarik ke atas selimut berbulu berwarna merah muda sampai menutupi seluruh wajahnya.


Tok ... tok

__ADS_1


"Elisa?"


Kali ini Elisa membuka matanya, membuka kasar selimut yang melilit badannya, lalu menegakkan badan. Mata kantuk itu menoleh ke arah jam weker di atas nakas. Masih pukul lima pagi, astaga.


Tok ... tok


"Apaan sih. Masih subuh juga." Ia beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu kamarnya yang terkunci.


Cklek


Pratama sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Elisa menghempaskan napas pelan ketika mengetahui siapa yang berani mengganggu tidur nyenyaknya, bahkan ia sedikit tidak rela ketika mimpi indahnya tiba-tiba buyar bersamaan dengan jiwanya yang kembali ke dalam raga. Jika saja Yunaka yang membangunkannya, mungkin Elisa akan segera mengumpat akan hal itu.


"Kenapa, Pah?" ujarnya seraya mengucek kedua bola mata yang masih terasa lengket.


"Anak perempuan gak boleh bangun siang." Praktis membuat Elisa mendengus, lagi-lagi kata-kata mutiara itu yang meluncur dari mulut Papanya.


"Tapi Elisa cape banget, Pah," katanya lemah.


"Jangan banyak alasan." Pria itu menjeda ucapannya, dan beralih merogoh sesuatu di dalam saku celananya. "Ini."


Elisa mengerutkan kening ketika menerima satu botol pet yang baru saja Papanya sodorkan.


"Ini obat apa?"


"Itu vitamin. Kamu minum aja setengah jam sebelum makan."


Elisa menatap obat itu beberapa detik, lalu berkata lagi, "Tapi aku udah minum banyak vitamin, Pah. Kenapa harus ditambah lagi? Belum lagi obat-obat yang lain."


Pratama menyentuh puncak kepala Elisa, ia tersenyum tipis, memperhatikan buka bantal anaknya dengan kantung mata yang sedikit tercetak di bawah mata Elisa.


"Biar kamu gak gampang cape," ucapnya. Elisa sedikit bergidik tatkala melihat senyuman Pratama yang menurutnya menakutkan. Gadis itu menelan ludah, entah bermaksud apa Papanya tiba-tiba memberi obat yang katanya vitamin itu.


Ia hanya mampu mengangguk, Pratama berbalik badan meninggalkan Elisa yang masih berpikir tentang niatnya yang sama sekali tak mampu ia ditebak.


Elisa melangkahkan kaki gontai, sejujurnya ia sangat malas untuk segera bergulat dengan air. Dan disaat ranjangnya mencoba mengajak gadis itu untuk kembali ke dalam kehangatan selimut, namun nyatanya godaan itu terlalu lemah melawan rasa takut akan kemurkaan Pratama.


Dengan raga yang masih sangat lesu, Elisa menuruti semua yang dikatakan Pratama setengah jam lalu. Ia berjalan menuju dapur, bergabung dengan sang Mama dan Bi Asih—asisten rumah tangga keluarga mereka— menyiapkan menu sarapan.


"Mah, Elisa masih ngantuk," ucapnya lemas sembari menyenderkan kepala di pintu kulkas.


Wanita dengan setelan piyama itu menoleh sekilas. "Terus kenapa udah bangun?"


"Elisa disuruh Papa buat bantuin Mama."


Vina terkekeh, ia menuangkan opor ayam ke dalam mangkuk bening berukuran besar, lalu wanita itu berkata, "Masakannya udah jadi, sayang. Paling tinggal bikin bekal buat Abang kamu."


"Bikin apa?" Elisa melangkah mendekati Vina ke dekat kompor.


"Bikin telur dadar aja, sama sosis goreng."


"Ya udah, sini, sama Elisa aja kalo gitu."


Wanita yang berstatus Ibu itu kembali mengambil dua butir telur dan beberapa sosis di dalam kulkas, menyimpannya di depan Elisa.


"Emang kamu bisa?"


Elisa nyengir, menggelengkan kepalanya. "Engga."


"Kamu ini. Goreng telor sama sosis aja gak bisa."


"Bukan gak bisa, Mah. Elisa cuma takut sama minyaknya. Nanti kalo nyiprat gimana?"

__ADS_1


Vina menghela napas, mengambil talenan untuk memotong sosis. Tanpa mengalihkan pandangan dari dua bahan makanan di depannya, ia berucap, "Ya udah, bantuin Bi Asih bawa sarapan di meja makan."


"Siap Ibu negara!" sahutnya antusias.


Ia segera mengambil beberapa piring yang sudah tersedia, dibantu Bi Asih menata semua di meja makan sampai tampak rapi. Satu per satu keluarga itu berdatangan untuk memulai hari yang bisa dibilang masih terlalu pagi.


"Ada alasan kenapa kita sarapan pagi-pagi sekali, ada hal yang mau Papa sampaikan," ujar Pratama, sang kepala keluarga.


Semua orang yang di sana menatap pria itu seksama, siap mendengarkan sesuatu yang mungkin akan menjawab banyak pertanyaan sekaligus alasan Pratama membangunkan anak-anaknya pagi-pagi sekali, termasuk Elisa yang masih tak rela dengan tindakannya.


"Pagi ini, Papa mau berangkat ke Kalimantan. Papa harus urus bisnis kita di sana beberapa minggu ke depan." Ia menatap istri dan anak-anaknya bergantian.


"Selagi Papa di sana, Papa harap kalian tetap patuhi aturan keluarga. Papa gak mau anak-anak Papa melakukan sesuatu seenaknya. Terutama kamu, Elisa." Gadis itu mengangguk pelan ketika namanya disebut sang Papa.


"Joni, Papa titip Elisa sama Kamu. Kalau terjadi sesuatu sama adik kamu, Papa yang akan langsung tegur kamu. Semua kegiatan Elisa, di sekolah, termasuk jadwal pemotretan, Papa serahkan sama kamu. Kamu paham?"


Anak sulung itu mengangguk paham, sedangkan Elisa mendengus pelan, apakah dia seorang tahanan yang ke mana-mana, atau melakukan sesuatu harus tetap dalam pengawasan? Apalagi Pratama mempercayakan Joni untuk tetap mengawasinya, Kakaknya yang satu itu terkenal sangat teguh pendirian. Jika saja Yunaka, mungkin ia akan sedikit memberi uang pelicin agar bisa lebih leluasa.


"Ya sudah, kita makan sekarang."


Vina segera mengaduk opor ayam yang ada di depannya, bau khas menu itu seketika menguar, mengelus rongga hidung orang-orang di sekitarnya. Tapi, Elisa segera menutup hidungnya, tak mempersilahkan bau opor itu masuk lebih dalam lagi. Kaki jenjangnya tiba-tiba bergerak meninggalkan meja makan, ia berlari ke dalam kamar mandi.


"Hoek!"


Wanita itu pun pergi menyusul Elisa tatkala mendengar anaknya memuntahkan sesuatu di dalam sana, ia panik.


"Bang?" Yunaka menyenggol lengan Joni yang duduk di sampingnya. "Lo punya pikiran yang sama gak sama gue?" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari pintu kamar mandi di mana ada Elisa dan Mamanya di dalam.


"Emang lo mikir apa?" jawab Joni ala kadarnya, ia kembali mengambil lauk pauk ke dalam piring miliknya yang masih bersih tak ternodai.


"Jangan-jangan, Elisa ... hamil."


Tak!


Joni menjitak kepala Yunaka ketika perkataan tak masuk akal keluar dari mulutnya sampai laki-laki itu mengaduh kesakitan.


"Ngaco. Jangan asal ngomong."


"Tapi lo liat, Bang. Dia muntah pagi-pagi."


Laki-laki itu kembali menatap wajah Yunaka, tak lupa sorot mata tajam dia persembahkan untuk adiknya yang selalu berhasil membuatnya geleng-geleng kepala.


"Kalo beneran Elisa hamil, lo yang tanggung jawab, Ka."


"Kok gue? Gue 'kan gak apa-apain adik gue sendiri, Bang!" sahutnya tak terima.


Obat itu bekerja.


Elisa menyeka mulutnya, rasanya perutnya tiba-tiba sakit dan mual. Cairan yang keluar melalui tenggorokannya itu semakin membuatnya tersiksa.


"Kamu kenapa, El? Sakit?"


Elisa menggeleng, menegakkan badannya lagi. "Engga, Mah. Cuma tiba-tiba aja aku ngerasa mual."


"Kamu habis makan apa?"


Sekali lagi Elisa hanya menggelengkan kepala, sebelum akhirnya ucapan Papanya terlintas begitu saja.


"Itu vitamin. Kamu minum aja setengah jam sebelum makan."


"Tapi tadi Papa suruh aku minum vitamin."

__ADS_1


__ADS_2