
"Kamu beneran mau ikut ekskul musik?"
Elisa mengangguk mantap, kembali menyeruput es jeruk yang sengaja dia beli di kantin sebelum pulang. Mereka masih berjalan menuju tempat parkir belakang sekolah, di mana Atlanta memarkirkan sepedanya di sana.
"Yakin dong. Kamu janji ya, mau ajarin aku?"
"Aku janji."
Laki-laki itu tersenyum tipis setelahnya. Namun, Elisa tiba-tiba mengerucutkan bibir ke bawah, praktis membuat Atlanta mengerutkan kening.
"Tapi aku gak yakin bisa belajar musik cuma dua minggu," ujarnya, terdengar ada nada putus asa di sana. "Lagian kenapa sih, si anak dakjal itu cuma kasih waktu dua minggu aja buat aku belajar."
"Gapapa, masih untung Theo kasih kamu kesempatan. Jangan kamu sia-siakan, kamu harus yakin, kamu pasti bisa. Aku 'kan udah janji mau ajari kamu."
Elisa menghela napas, menghempaskannya kasar, tepat saat mereka sampai di tempat parkir sepeda Atlanta.
"Ayo, berangkat." Elisa menepuk pundak Atlanta dua kali, menyuruh laki-laki itu untuk segera menaiki sepeda miliknya yang sudah ada di samping badannya.
"Kamu gapapa naik sepeda sama aku ke rumah sakit?"
"Emangnya kenapa?"
Atlanta menengadahkan kepala ke atas, melihat langit yang masih menampakkan matahari, sinarnya pun masih terasa hangat meski hari mulai sore.
"Di jalan banyak debu. Apalagi jaraknya jauh."
Itulah yang dapat Elisa tangkap dari gerakan tangan laki-laki itu, ia terkekeh sebentar, lalu tersenyum manis.
"Gapapa, gak setiap hari juga 'kan? Jam segini Bang Joni masih di kantor, aku males nunggu. Lagian, aku seneng kok, bisa jalan sama kamu." Elisa berjalan menjauh menuju tempat sampah untuk membuang kantong plastik, tanpa memperhatikan raut wajah Atlanta yang terpaku kala itu.
Tangannya memegang stang sekuat tenaga, berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dada. Bagaimana bisa gadis itu selalu berhasil membuat hatinya berdebar kencang meski dengan sebuah kata-kata manis.
"Ayo, keburu kesorean." Ajaknya.
Laki-laki itu mengangguk kaku, menaiki sepeda dengan perasaan yang masih berdegup. Sementara Elisa, menaiki besi panjang yang tertancap di antara ban. Atlanta mulai menjalankan sepedanya, saat itu juga pegangan tangan Elisa di pundaknya sedikit mengerat, sudut bibirnya terangkat membentuk bulan sabit yang sangat indah.
.......
.......
.......
Sesampainya di gerbang rumah sakit, Atlanta mencari tempat parkir kendaraan beroda dua, memarkirkan sepedanya di sana.
Elisa mulai menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya yang terasa seperti es batu setelah turun dari sepeda, meniup tangan dengan udara hangat dari mulutnya. Atlanta yang menyadari kegiatan gadis itu tergerak, tanpa diperintah tangannya terulur memegang kendali tangan mungil Elisa yang dirasa dingin akibat terpaan angin sore.
Atlanta meniupkan udara hangat, mencoba memberi sedikit kehangatan di kulit tangan Elisa. Gadis itu hanya terdiam, membiarkan laki-laki di depannya melakukan sesuatu dengan tangannya yang dingin. Tangan besar yang saat itu menyentuh jemarinya ternyata sangat hangat, sapuan lembut ibu jari Atlanta mampu menghalau rasa dingin di area telapak tangan, praktis membuat gadis itu tersenyum meski mungkin Atlanta tak menyadarinya.
Laki-laki itu melepaskan genggamannya setelah selesai dengan tugasnya.
"Kenapa tadi kamu nolak ajakan Jay untuk pulang bareng?"
__ADS_1
Elisa mendengus, ia melangkahkan kaki lebih dulu memasuki gedung rumah sakit, dan laki-laki itu mengikutinya, berjalan di samping gadis yang tingginya setara dengan bahunya.
"Kita 'kan mau ke rumah sakit. Jay juga gak bakal mau di ajak ke rumah sakit. Dia gak suka bau obat," ucap Elisa memberi jawaban atas pertanyaan Atlanta tadi.
Atlanta tersadar, adiknya itu memang sangat tidak suka dengan bau obat. Jangankan datang ke rumah sakit yang biasanya tercium aroma obat-obatan menguar di mana-mana, saat laki-laki berdimple itu sakit pun, kedua orang tuanya harus susah payah memberi obat dengan segala cara, mengingat Jay akan langsung memberontak ketika bau khas itu masuk ke dalam rongga hidungnya.
Mereka masih mencari ruang inap yang ditempati Adin. Menaiki lift yang langsung tertuju dengan lantai khusus ruang inap VIP. Tidak terlalu jauh, hingga ruangan dengan nomor 508 menangkap iris mata keduanya, mereka segera menuju pintu itu, sedikit mengintip lewat kaca kecil di pertengahan pintu.
Cklek...
Dua orang di dalam yang mendengar pintu di buka, menolehkan pandangan. Yunaka yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponsel, segera beranjak dari duduk setelah melihat Elisa masuk ke dalam ruangan dengan senyum lebar seolah menyapa orang-orang di dalam.
"Seneng lo, El. Ninggalin gue di sini," sahut Yunaka yang sudah berkacak pinggang.
Elisa mengedikkan bahu, lalu berkata, "Ya itu salah lo sendiri. Jadi lo harus bertanggung jawab," katanya, ia berjalan mendekati ranjang yang ditempati anak laki-laki.
"Hai, apa kabar?" tanya Elisa ramah. Adin tersenyum, menganggukan kepala semangat.
"Baik, Kak. Adin udah sehat kok. Kakak siapa? Pacarnya Kak Ata, ya?" Celetuknya.
Elisa maupun Atlanta saling bertukar pandang. Entah kenapa atmosfer tiba-tiba berubah canggung.
"B-bukan, aku temen sekolah Atlanta," jawabnya kikuk disertai kekehan kecil.
Anak itu kembali mengangguk, menolehkan kepala ke arah Atlanta yang berdiri di sampingnya, meraih tangan Atlanta.
"Kak, Adin pengen pulang. Adin takut anak-anak yang lain nyariin Adin. Adin takut mereka belum makan." Rengeknya sembari mengguncangkan tangan Atlanta beberapa kali.
Yunaka menyenggol lengan Elisa, entah sejak kapan laki-laki itu sudah ada di samping Elisa.
"Dia bilang apa sih, El?" Bisiknya.
Elisa menengadahkan kepala menatap Yunaka dengan tatapan sinis. "Kepo."
Ia merotasikan bola mata setelahnya, dan melipat tangan di depan. "Dokter bilang, Adin udah boleh pulang hari ini. Kalian gak perlu mikirin biaya rumah sakit, semuanya udah beres."
"Makasih ya, Bang." Kini giliran Elisa yang memeluk lengan Yunaka, laki-laki itu sedikit tersentak sebelum akhirnya menghempaskan pelukan itu dengan mimik wajah yang terlihat kesal.
"Diem lo. Bener-bener lo, El. Tega banget sama Abang sendiri."
"Abang 'kan tau sendiri, kemarin Bang Joni yang paksa gue buat pulang. Ya gue nurut aja," ucapnya apa adanya. Meski tak bisa disangkal gadis itu amat senang karena Yunaka mendapat pelajaran dari keteledorannya sendiri.
Yunaka hanya terdiam, masih menampakkan raut wajah sebalnya. Dia sama sekali tidak merespon ucapan Elisa, dan memilih menatap adiknya itu datar.
"Iya deh iya. Gue minta maaf, Bang. Gue bakal lebih setia kawan lagi. Janji," sahutnya sembari mengacungkan jari kelingking tepat di depan Yunaka.
Laki-laki jangkung itu hanya mengibaskan tangan, lalu berkata, "Udah ayo, kita pulang. Dari kemaren gue belom mandi."
.......
.......
__ADS_1
.......
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, laki-laki itu baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya di restoran. Setelah mengantar Adin pulang, lalu bekerja, dan saat ini ia tengah menuntun sepedanya memasuki pekarangan rumah, membuka pintu garasi yang tertutup rapat dengan sangat hati-hati.
Bugh!
Laki-laki itu terjatuh, terjerembab, ketika Jay tiba-tiba memberi bogeman mentah di rahang sebelah kirinya.
Atlanta memegangi rahangnya yang terasa ngilu, menengadahkan kepala menatap Jay yang sudah berjongkok di depan, dengan raut wajah marah tergambar jelas di sana.
"ANJING! UDAH GUE BILANG JAUHIN ELISA!" Lantangnya dengan napas yang menggebu-gebu, Atlanta masih bisa melihat bagaimana sorot mata Jay yang sudah berubah memerah.
"LO GAK NGERTI BAHASA MANUSIA, HUH!"
Jay beralih menindih laki-laki yang sudah terkapar. Atlanta hanya pasrah ketika adiknya itu merangsek kerah bajunya kasar.
Bugh!
"SIALAN!"
Bugh!
"ANAK HARAM! BISU!"
Bugh!
Bugh!
Atlanta hanya terdiam, membiarkan Jay melampiaskan amarah padanya, membiarkan Jay berulang kali memberi tinjuan di sudut bibirnya, bahkan laki-laki itu sudah bisa merasakan cairan kental berbau amis masuk ke celah bibirnya yang dia yakin sudah membiru.
Bugh!
"MATI LO, ANJING! LO EMANG BENALU DI KELUARGA INI! LO AIB KELUARGA, SIALAN!"
Jay masih belum puas, dia seolah tidak peduli dengan sudut bibir Atlanta yang robek, mengeluarkan darah di sana. Sebaliknya, laki-laki itu semakin bersemangat meluapkan rasa kesal yang sudah membuncah.
Bugh!
Laki-laki pemilik lesung pipit di kedua pipi itu beranjak, melihat secara langsung keadaan Atlanta yang sudah melemas, meringkuk di bawahnya. Dia memberi smirk ketika melihat wajah Atlanta yang babak belur, seolah melihat sebuah mahakarya buatannya yang sangat menakjubkan.
"Gue ingetin lagi, lo harus sadar diri. Lo gak sempurna, SIALAN! Awas aja, gue bisa bertindak lebih jauh lagi kalo lo masih gak tau diri."
"ATA! JAY!"
Jay membalikkan pandangan ke belakang, melihat Bi Mirna sudah berdiri kaku, terkejut dengan apa yang ditangkap oleh mata kepalanya sendiri.
Ia kembali menoleh ke arah Atlanta.
Bugh!
Dengan ringannya, kaki jenjang itu menendang perut Atlanta sangat keras sebelum pergi dari sana, sampai laki-laki di bawah terbatuk, ia memegangi perutnya yang amat sangat nyeri sekaligus perih. Dia merintih, menahan semua rasa sakit yang menjalar seluruh tubuhnya yang kian lemas.
__ADS_1
Bunda, sakit. Ata gak kuat.