
Waktu sore menjelang malam mereka habiskan untuk berlatih piano di rumah Elisa. Suara dentingan masih terdengar di ruangan itu sejak tadi. Di mana Atlanta tengah memainkan sebuah lagu untuk kompetisi keduanya nanti. Elisa masih setia mendengarkan alunan melodi yang beberapa saat lalu mampu membangkitkan rasa kantuk tatkala suara itu menari indah dalam pendengarannya.
Ia masih tak percaya laki-laki itu mampu menyusun rangkaian nada yang ia yakin akan membuat orang-orang mendengarnya ikut merasakan haru yang luar biasa. Sesekali gadis itu memperhatikan gerakan tangan Atlanta yang sangat lihai di atas keyboard piano.
Sampai dentingan itu terhenti di not terakhir, Elisa memberikan tepuk tangan ringan untuk Atlanta.
"Aku suka lagunya, dan aku yakin kita bakalan menang!" sahut gadis itu percaya diri.
Atlanta tersenyum lembut menanggapinya, ia mengusak rambut panjang Elisa gemas, lalu menggerakkan tangannya.
"Sekarang kamu coba."
Elisa mengerjapkan matanya dua kali, menggaruk tengkuk karena gugup. Dengan sekali tarikan napas jemarinya terangkat dan bergerak di atas keyboard piano. Ia memperhatikan secara detail not yang tertulis di atas kertas dengan jari-jarinya yang menekan benda berwarna hitam dan putih itu bergantian.
Perlahan, Elisa mulai menikmati setiap nada yang ia hasilkan dari permainan jarinya. Senyumnya mengembang bagaimana ia sangat menyukai bagian reff dari lagu klasik itu. Pun Atlanta yang beralih menemani Elisa bermain di bagian sudut keyboard yang terdengar sedikit lebih berat. Keduanya sama-sama hanyut dalam permainan masing-masing.
"Ye! Kita berhasil!" sahut gadis itu seraya bertepuk tangan riang. Laki-laki di sana kembali melebarkan senyum dan menampilkan deretan gigi rapinya.
"Tapi aku mau nanya," ucapnya dengan pandangan yang berubah penuh rasa penasaran.
"Tanya apa?"
"Kamu buat lagu ini buat siapa sih? Aku yakin kamu bikinnya ga asal-asalan kan?" Tanyanya.
"Untuk orang yang aku sayang."
Lantas Elisa melebarkan irisnya antusias. "Bunda kamu kan? Wah, pasti Bunda kamu bahagia banget di sana, karena anaknya selalu inget sama dia, apalagi sampe dibikinin lagu seindah ini," ujarnya seraya menatap obsidian Atlanta lamat.
Iya, untuk Bunda, dan kamu.
"Ta, aku mau liat foto Bunda kamu dong. Boleh kan?"
Atlanta mengangkat alisnya. Foto Bunda? Ah, pasti Elisa akan terkejut jika tahu kalau Bundanya sangat mirip dengan gadis itu, hampir tak ada bedanya. Bahkan sampai detik ini, setiap laki-laki itu memandang Elisa, ia seperti melihat sang Bunda dalam diri Elisa.
"Kok diem?"
Laki-laki itu menganggukan kepala, ia merogoh ponsel dalam saku celana, hendak memamerkan foto sang Bunda.
"Atlanta, Elisa, udahan dulu latihannya, makan dulu yu."
Keduanya sama-sama menoleh ke belakang, di mana Vina sudah berdiri di ambang pintu seraya menampilkan senyum ramahnya. Selanjutnya wanita itu mendekat ke arah putrinya.
"Jangan terlalu serius latihan sampe lupa makan. Dari pulang sekolah kalian masih aja di sini. Tuh, sampe cemilannya aja masih utuh." Vina sedikit melirik ke arah meja di mana banyak cemilan tersedia masih utuh seperti tak tersentuh.
Elisa hanya nyengir, mendongak menatap sang Mama. "Kita terlalu semangat latihannya, Ma. Jangan aneh, ya, hehe...."
Wanita itu menghela napas, mengusap puncak kepala Elisa. "Iya Mama tau, tapi jangan sampe perut kalian kosong. Sekarang istirahat dulu, kita makan malam sama-sama."
Elisa mengangguk sembari beranjak dari duduk. Namun pergerakkannya terhenti ketika melihat Atlanta yang masih terdiam.
"Atlanta, ayo, kita makan dulu. Mama udah masak loh."
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Sepertinya aku pulang saja, sudah hampir malam."
"Loh, kok pulang. Makan dulu abis itu pulang. Kalo kamu pingsan di jalan gimana ayo?" ujar Elisa sembari berkacak pinggang.
"Iya, Atlanta. Lebih baik kamu makan dulu di sini. Gak usah malu-malu, kamu kan temen Elisa."
Laki-laki itu kembali mengulum bibir seraya beranjak, lalu menggerakkan tangannya lagi.
"Gapapa, aku gak mau merepotkan kalian."
"Ihh, ngerepotin apa sih. Engga kok." Elisa segera meraih lengan Atlanta, dan menyeret laki-laki itu ke ruang makan. "Kamu tau kan aku gak suka ditolak."
Mau bagaimana lagi, Atlanta hanya pasrah diseret gadis itu untuk makan malam bersama. Meski dia benar-benar merasa tidak sopan ikut bergabung dengan keluarga Elisa. Dari belakang sesekali Vina terkekeh dengan anak perempuannya yang tengah memaksa Atlanta menyesuaikan langkah kaki ke ruang makan, bahkan ini pertama kalinya Elisa terlihat sangat bahagia ketika berada di dalam rumah.
"Sini, kamu duduk di sini." Elisa menepuk kursi yang ada di sampingnya, mengisyaratkan Atlanta untuk duduk di sana.
"Eh, eh, lo apaan sih, El. Itu tempat duduk gue." Baru saja Atlanta hendak mendaratkan bokongnya, suara Yunaka yang menyahut membuat niatnya terurungkan begitu saja.
"Lo duduk di sebelah Bang Joni aja, apa susahnya sih. Hari ini singgahsana lo punya Atlanta, awas lo!" Elisa menyenggol lengan Yunaka cukup keras, dan segera menuntun Atlanta untuk duduk di sana.
Yunaka hanya mendengus, beralih duduk di samping Joni yang nampak tengah menahan tawa akan dirinya.
"Apa lo?!" Sungutnya mendelik ke arah Joni.
"Udah, udah, kalian ini kebiasaan ribut mulu. Gak malu sama Atlanta?" ucap Vina ikut menimpali, seraya duduk di kursinya.
"Tau tuh, Bang Atuy nyari gara-gara terus kerjaannya. Lagian kan Atlanta tamu di sini, tamu harus diperlakukan layaknya raja. Iya kan Ma?" kata gadis itu sembari menjulurkan lidah pada Yunaka.
"Utay, Atuy, udah gue bilang Yunaka Tama!" Yunaka berdecak setelahnya, ia mengambil nasi ke dalam piring serta lauk pauk yang tersedia di atas meja.
Atlanta yang melihat pertengkaran kecil antara Yunaka dan Elisa hanya mampu tersenyum. Betapa bahagianya jika ia juga merasakan kehangatan keluarga seperti gadis itu. Meski rasanya semuanya hanya angan-angan semata, tapi ia tak pernah lelah berdoa pada Tuhan agar kelak laki-laki itu bisa menikmati suasana hangat seperti saat ini di rumahnya.
"Atlanta, maaf ya, karena kamu harus ngajar Elisa, jadi hari ini kamu gak bisa kerja di restoran." Joni bersuara. Terdengar ada nada penyesalan dari kalimat yang diucapkan laki-laki itu.
Atlanta menggelengkan kepala, sambil tersenyum ia menggerakkan tangannya.
"Gapapa. Karena memang jadwalnya hari ini saya mengajar Elisa."
"Kata Atlanta gapapa, soalnya Elisa jauh lebih penting dari segalanya," ucap gadis itu nyengir tanpa dosa setelah melebih-lebihkan bahasa isyarat Atlanta.
"Ngaco kamu. Abang juga ngerti Atlanta bilang apa," ujar Joni tertawa ringan, praktis membuat adiknya itu memberengut. "Ayo Atlanta, makan, jangan sungkan." Imbuhnya.
Elisa menghempaskan napas pelan, melihat Atlanta yang hanya mengulum bibir tanpa melakukan apapun, gadis itu berinisiatif mengisi piring Atlanta yang masih kosong dengan nasi dan segala hidangan.
"Anggap aja kaya rumah sendiri," ucap Elisa.
"Elisa, kenapa kamu cuma makan sama sayur bayam aja, sayang? Kamu gak makan sosisnya? Biasanya kamu suka. Mama sengaja bikin banyak loh," ujar Vina tatkala menyadari isi piring Elisa yang nampak tak seperti biasanya.
Sontak Elisa maupun Atlanta saling tukar pandang. Keduanya mendadak membeku, terlebih Elisa yang kala itu tengah memutar otak untuk menjawab pertanyaan sang Mama.
"Mmm ... i—itu, Elisa lagi diet, Ma. Jadi cuma makan sayur doang." Jawabnya kaku.
"Diet mulu yang ada di otak lo. Mau sekurus apa sih? Lo gak nyadar sama badan lo yang sekarang udah tinggal kerangka doang, huh?" Itu Yunaka. Tak heran jika Elisa kembali menarik urat leher ketika kakaknya itu berbicara asal.
__ADS_1
"Enak aja! Gue gak kurus-kurus amat kok." Bantahnya.
"Tapi Abang kamu bener, sayang. Kamu akhir-akhir ini makin kurus. Kenapa? Kamu sakit?" ujar Vina disertai mimik wajah khawatir.
Gadis itu hanya menatap Vina dengan perasaan berkecamuk. "Ih Mama, Elisa gapapa kok," katanya mengibaskan tangan di udara.
Tak!
"Aw!"
Yunaka melempar buah anggur tepat di kening Elisa, ditambah tawa ringan Yunaka yang membuat adiknya segera melotot, melempar anggur yang sempat kakaknya itu lempar padanya.
"Abang! Sini lo! Kurang ajar sama adek sendiri!" Elisa segera beranjak dari duduk, menghampiri Yunaka dan mencekik leher laki-laki itu dengan lengannya.
"Uhuk ... uhuk! El—lepas!"
Suara tawa kian memenuhi ruang makan itu. Di mana Joni yang sudah terpingkal-pingkal melihat wajah Yunaka yang berubah kemerahan, pun Vina yang ikut tergelak dengan tingkah anak-anaknya.
Di sisi lain Atlanta ikut melebarkan senyum, hatinya tiba-tiba tersentuh melihat kehangatan keluarga Elisa. Canda tawa yang mereka lakukan tak urung membuat hatinya merasa cemburu. Namun di sini, untuk pertama kalinya laki-laki itu merasakan bagaimana rasanya melakukan kegiatan yang tak pernah sekalipun ia lakukan, yaitu makan bersama.
Ah, ternyata seperti ini rasanya. Sebuah kebahagian yang tak ada duanya.
Ia memandang satu per satu anggota keluarga Elisa, mereka semua sangat baik padanya. Mereka mau menerima Atlanta tanpa memandang kekurangan dari laki-laki itu, dan sebuah cita-cita sederhana yang ia impikan sejak dulu sudah terlaksana hari itu.
.......
.......
.......
Kepulan uap masih menguar dari dalam cangkir berisi cairan coklat itu. Laki-laki pemilik lesung pipit di sana masih duduk di balkon kamarnya, memandangi jalanan komplek yang nampak sangat sepi. Sesekali ia menghirup aroma coklat dari cangkir yang di genggamnya.
Suara decitan dari pagar rumah yang di buka lantas mengalihkan atensinya, Jay beranjak dari duduk, melihat seseorang yang kini memasuki halaman rumah sembari menuntun sebuah sepeda tua. Tiba-tiba senyum miring tercipta begitu saja di bibirnya.
"Jangan harap lo bisa ambil apapun yang seharusnya milik gue. Termasuk Elisa." Gumamnya mengepalkan tangan kuat-kuat.
Jay beralih masuk ke dalam kamar, mengambil sebuah benda yang tergeletak di atas meja belajar, dan mengantonginya ke dalam celana training yang dipakainya. Laki-laki itu kini berdiri di balik pintu, memastikan Atlanta sudah masuk ke dalam kamar, barulah ia ke luar dari sana.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar Atlanta. Sudah dipastikan laki-laki itu tengah membersihkan diri. Perlahan, Jay membuka pintu kamar Atlanta yang beruntungnya tak terkunci. Langsung saja laki-laki itu mencari sesuatu yang mungkin akan memuaskan keinginannya untuk menghalangi jalan Atlanta.
Jay menggeledah isi meja belajar saudaranya, pun semua laci di sana ia geledah tanpa satupun tersisa. Barulah setelah ia membuka tas ransel Atlanta, iris matanya menangkap lembaran kertas berisi kunci not yang ia yakin untuk kompetisi nanti.
Dengan seringaian yang tercetak di wajahnya, Jay mengambil kertas itu, dan segera ke luar dari kamar Atlanta. Ia langsung pergi ke halaman depan, sejenak Jay memperhatikan barisan kunci not yang di tulis Atlanta, merogoh ponselnya, lalu memotret kunci not itu, siapa tau nanti ia akan membutuhkannya, pikirnya.
"Ini baru permulaan." Monolognya seraya mengambil benda kecil yang sempat ia bawa dalam saku celana.
Sebuah korek api, tak perlu banyak waktu untuk menebak apa yang akan laki-laki itu lakukan.
Detik selanjutnya, nyala api ke luar dari lubang benda kecil itu. Jay mendekatkan api ke lembaran kertas yang di genggamnya. Ia semakin tersenyum puas ketika kertas itu terbakar, dilahap oleh si jago merah, pun bola matanya ikut menyala-nyala ketika melihat pantulan cahaya kemerahan yang berasal dari sana.
Jay memilih berjongkok, menyaksikan sendiri bagaimana lembaran kertas berisi kunci not milik Atlanta habis terbakar tanpa sisa sampai berubah menjadi abu tak berdaya di depannya yang perlahan di bawa terbang oleh angin malam.
"Sekali lo masuk ke kandang singa, jangan harap lo ke luar dengan selamat."
__ADS_1