
"Ini mau ke mana sih, Bang?" tanya Elisa yang kala itu duduk di samping kemudi seraya menatap Joni malas.
Jika bukan karena Joni yang memaksanya untuk pulang lebih cepat, tentunya dengan dalih alasan yang mendesak, mungkin gadis itu sudah menyelesaikan masalahnya dengan Atlanta. Namun sekarang lihatlah, kakaknya itu bahkan hanya mengitari jalanan kota seraya celingukan mencari sesuatu yang mampu menarik perhatiannya.
"Kita beli snack dulu buat syukuran," jawab laki-laki itu tersenyum penuh arti.
Elisa mendengus, merotasikan bola mata. "Syukuran apaan sih, Bang. Ada-ada aja."
"Loh, emangnya Mama belum cerita kalo nanti malam mau ada acara pengajian?"
Gadis itu beralih menggelengkan kepala. "Engga, emang siapa yang mau nikahan pake acara pengajian segala."
"Emang yang ngadain acara pengajian harus yang mau nikahan aja gitu? Engga kan."
"Ya terus apa?"
"Ya apalagi? Mama pengen adain acara pengajian itu itung-itung syukuran karena kamu berhasil menangin kompetisi kemarin. Gak ada salahnya kan? Yang dateng paling temen-temen Mama sama Papa, karyawan Abang di kantor juga katanya mau dateng, terus orang-orang komplek, paling segitu."
Gadis itu meloloskan napas berat, lalu memilih menolehkan pandangan ke samping kaca.
"Kenapa gak sekalian hajatan aja sih, Bang? Terus undang biduan. Lagian ngundang orang udah se-RT, kaya mau ngapain."
"Elisa, kalo ngundang biduan itu namanya bukan syukuran, tapi saweran."
Elisa tak menanggapi ucapan laki-laki di sampingnya yang kini tengah terkekeh. Dia merasa sebal dengan kakaknya. Tepat setelah itu mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di depan toko yang menjual banyak kue kering.
"Mau ikut gak? Atau mau nunggu di sini?" tanya Joni ketika melepas sealtbeath.
"Ikut atuh. Kalo Elisa diculik gimana? Yang repot nanti kan Abang," ucapnya, dan disambut suara tawa Joni yang cukup menggelitik.
Gadis itu mengekori Joni dari belakang, melihat keseluruhan toko yang dipenuhi kue-kue beraneka ragam. Sementara kakaknya yang menelusuri setiap rak sampai ke ujung ruangan, Elisa memilih berdiri di depan kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya lenggang.
Kembali dengan lamunan, pun pandangannya menengadah melihat langit yang sedikit keabu-abuan, menandakan hujan akan segera turun, Elisa menghela napas, isi pikirannya hanya dipenuhi oleh Atlanta.
"Atlanta udah pulang dari sekolah belum ya?" Monolognya.
Ah, dia benar-benar sangat penasaran dengan luka memar di tulang pipi Atlanta yang sempat ia lihat. Siapa yang berani melakukan itu pada Atlanta. Elisa merogoh ponselnya, dan melihat deretan chat yang tempo hari ia kirim pada Atlanta. Ia mendengus, bahkan sejak hari itu pun Atlanta tak pernah membalas pesannya, atau sekedar membacanya.
Ketika pandangan itu kembali terangkat menoleh ke arah jalan raya, Elisa mengerutkan kening sembari menyipitkan bola mata, memperjelas penglihatannya pada sosok anak perempuan di seberang jalan sana.
"Popi?"
Benar, itu Popi. Terlihat anak itu masih berjualan di trotoar. Elisa segera keluar dari dalam toko, tak lupa ia pun mencoba menghubungi Joni yang masih setia memilih beberapa kue di dalam toko.
"Apa sih, El. Pake telpon segala."
"Bang, Elisa mau ketemu sama temen dulu ya. Nanti Abang nyusul ke rumah singgah seberang jembatan yang di samping kedai Mie ayam Pak Junarto, tau kan?"
"Iya Abang tau. Tapi kamu mau ngapain ke sana?"
"Abang kan bilang mau beli snack, temen Elisa ada yang jualan keripik pisang. Elisa mau beli."
"Ya udah, nanti Abang nyusul ke sana."
Tut
Elisa menutup panggilan, ia memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku seragam.
"POPI!" Teriaknya seraya melambaikan tangan.
Anak perempuan di sana sontak menoleh ke arah depan, di mana iris matanya menangkap sosok Elisa di sana. Anak itu membalas lambaian tangan dari gadis di seberang jalan ditambah senyum manis miliknya ia patrikan.
Elisa menoleh ke samping kanan dan kiri jalan raya, memastikan tak ada kendaraan yang lewat sebelum ia menyeberang, untungnya kala itu jalanan tengah jarang dilalui mobil maupun motor.
"Kak Elisa, kakak lagi ngapain di sini? Kakak baru pulang sekolah ya?" ucap anak itu tatkala Elisa sampai di depannya.
"Iya, kakak baru pulang sekolah. Itu, tadi kakak abis dari toko kue di sana, kebetulan liat kamu, jadi kakak susulin deh," kata Elisa tersenyum lebar.
Popi hanya mengangguk paham.
"Oh ya, kok kamu belum pulang. Udah sore loh."
"Jualan Popi belum abis kak, tanggung tinggal 3 bungkus lagi."
"Ya udah kakak beli semuanya," ujar Elisa yang langsung disambut belalakkan mata dari Popi.
"Serius kak?!"
Elisa mengangguk, mengusak rambut anak perempuan itu. "Iya, tapi kayanya kurang deh kalo cuma 3 bungkus. Masih ada lagi gak ya?"
"Ada kok kak, di rumah masih ada sisa. Rencananya mau dijual buat besok."
__ADS_1
"Kalo kakak yang beli gimana?"
"Boleh kok kak. Ayo kak, ke rumah, biar Popi yang bungkusin."
Kembali dengan anggukan kepala, Elisa dan anak perempuan itu kini berjalan berdampingan menuju rumah singgah yang jaraknya bisa ditempuh selama 5 menit dengan jalan kaki.
Tepat saat keduanya sampai di depan rumah singgah, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan dengan cara bergerombol.
"Ayo kak, masuk."
Elisa segera melepas sepatunya, lalu masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana itu, bahkan bisa dibilang cukup kecil untuk disebut sebagai rumah, apalagi untuk menampung anak-anak yang lebih dari 10 orang.
Gadis itu terduduk di lantai yang beralaskan tikar, lalu pandangannya mulai bergerak menelanjangi setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh anak-anak kecil, sebagian anak berusia 3 tahunan tengah tertidur di atas tikar, tanpa alas yang menurutnya lebih cocok seperti kasur. Tiba-tiba hatinya merasa teriris, melihat anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dan pengawasan orang dewasa, harus menjalani kehidupan pahit sesama orang yang memiliki takdir sama, berbagi pundak dan berjuang mandiri untuk bertahan hidup.
"Kak Elisa?"
Ia mendongak, menampakkan anak laki-laki—Adin—yang baru saja pulang berjualan. Terlihat kaos yang dikenakan anak itu sedikit basah, yang ia yakini akibat gemericik hujan di luar sana.
"Adin? Baru pulang?" tanyanya.
Anak itu ikut duduk bergabung dengan Elisa.
"Iya kak. Kakak sendirian ke sini?"
Ia mengangguk, tepat saat itu Popi datang menghampiri membawa 2 kresek hitam berukuran sedang berisi keripik pisang pesanan Elisa.
"Kak, segini cukup kan?" tanya anak itu.
Elisa mengambil alih kresek hitam itu, melihat pesanannya.
"Cukup kok. Semuanya berapa?"
"170 ribu aja kak."
Gadis itu beralih mengambil dompetnya di dalam tas ransel, memberikan 2 lembar uang bernilai 100 ribu rupiah pada Popi.
"Ambil aja kembaliannya," katanya.
"Kak Elisa serius?" ujar anak itu dan diberi anggukan oleh Elisa. "Makasih ya kak."
"Popi, kok kak Elisa nya gak dikasih minum?" ucap Adin. Lantas anak perempuan itu menepuk dahinya sendiri.
"Padahal gapapa, Din. Bentar lagi Abang kakak kayanya dateng jemput deh," ucap gadis itu sedikit kaku.
"Kak Elisa kan tamu, masa kami gak nyambut dengan baik sih. Kata kak Ata, kita harus baik sama tamu," ujar Adin menampilkan senyum manisnya.
Elisa tertegun, lagi-lagi nama Atlanta terucap dari mulut anak-anak itu. Sepertinya sosok Atlanta memang cukup berpengaruh bagi mereka.
"Maaf ya kak, cuma ada air putih." Popi baru saja datang membawa secangkir air bening.
Elisa hanya tersenyum seraya menerima cangkir itu lalu meneguk airnya.
"Oh ya kak, kalo Adin boleh tau, kenapa kakak beli keripik pisang banyak banget?"
"Ini, nanti malem rumah kakak mau adain acara pengajian, syukuran kecil-kecilan sih."
Adin mengangguk. "Syukuran dalam rangka apa kak?"
Elisa berdehem, dan mengulum bibirnya sebelum menjawab. "Alhamdulillah, kemarin kakak berhasil menang kompetisi musik. Jadi Mama kakak inisiatif buat gelar syukuran."
"Alhamdulillah, kak Elisa menang? Kak Ata sempat cerita juga loh kalo kakak mau ikut kompetisi musik itu."
"Syukurlah. Oh ya kak, Adin baru inget, kak Elisa udah sempet nengok kak Ata belum?"
"Nengok? Emang Atlanta kenapa? Perasaan dia baik-baik aja waktu di sekolah."
Popi dan Adin saling tukar pandang, pun kening keduanya berkerut secara tiba-tiba, praktis membuat gadis itu semakin dibuat penasaran, ada apa dengan Atlanta?
"Emang kak Elisa belum tau?"
Elisa menggeleng kaku, pandangannya semakin menatap Adin maupun Popi lamat meminta penjelasan.
Adin menghela napas sebelum menjawab. "Hari Sabtu, waktu kak Ata mau berangkat ke lokasi kompetisi, dipertigaan jalan sana kak Ata ditabrak mobil. Adin liat sendiri kak, soalnya waktu itu Adin baru pulang dari pasar. Terus orang yang nabrak tiba-tiba ngeroyok kak Ata tanpa sebab."
Sontak gadis itu membulatkan bola mata, pun dadanya yang berubah berdetak cukup cepat mendengar penjelasan Adin. Ditabrak, lalu dikeroyok? Astaga, siapa mereka? Jadi itu alasan Atlanta tidak menghadiri acara kompetisi?
"K—kamu gak bohong kan?" sahut gadis itu sedikit tak percaya.
Adin hanya mengangguk pelan, raut wajahnya berubah, seperti merasa bersalah. "Maaf ya kak, waktu itu kak Ata beneran mau pergi lagi kok, tapi Adin yang larang kak Ata buat dateng ke sana. Soalnya Adin khawatir."
Elisa masih mencerna ucapan Adin. Kenapa Atlanta tak mengatakan hal itu? Lalu kenapa Atlanta tak pernah menghubunginya lagi? Apakah laki-laki itu sengaja menutupi semuanya?
__ADS_1
.......
.......
.......
Seusai acara pengajian yang diselenggarakan di rumah kediamannya, Elisa kini tengah berjalan menuju kamarnya untuk segera beristirahat. Rasanya cukup melelahkan, dengan sengaja gadis itu membanting diri ke atas kasur empuk miliknya, memejamkan mata dan menarik napas cukup panjang.
Baru saja ia hendak terlelap, suara dering telpon membuat gadis itu kembali terkesiap. Elisa memegangi dadanya yang berdebar, pasalnya selain nada dering, getaran ponsel yang bergesekan dengan nakas membuat suara itu semakin nyaring.
Mau tak mau ia beranjak, meraih benda pipih itu.
"Papa?"
Elisa kembali menghela napas, mengangkat video call dari sang Papa.
"Hallo, Elisa. Ini Papa, sayang." Sapa pria di depan layar itu, menampilkan wajah yang berseri-seri. Dan apa tadi? Sayang? Ah, sejak kapan Pratama memanggilnya sayang?
"Iya, Pa. Elisa tau ini Papa."
Terdengar suara kekehan dari pria itu. Lantas ia membuka kacamata hitam yang tengah dipakainya, masih menampilkan senyuman ramah yang jarang sekali Elisa lihat. Bukannya merasa senang, justru gadis itu merasa takut dengan perubahan sikap Pratama, takut jika Papanya itu habis terbentur sesuatu hingga merubah sikap dingin dan angkuhnya.
"Kamu apa kabar? Gimana acara pengajiannya? Lancar?"
"Alhamdulillah lancar, Pa."
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, besok Papa pulang. Sekarang Papa lagi diperjalanan mau ke bandara."
Elisa membulatkan mata. "Kok dadakan? Emang kerjaan Papa di sana udah beres?"
"Lebih baik bilangnya dadakan, daripada Papa tiba-tiba ada di rumah kan? Papa juga gak bakal lama-lama di Indonesia, paling seminggu. Papa cuma mau ketemu sama Mama, kamu, dan Abang-abang kamu. Papa kangen."
Gadis itu mendengus, menarik sebelah bibir.
"Pa? Papa gapapa kan? Papa gak kebentur sesuatu kan?"
"Kamu ini, Papa baik-baik aja kok. Kenapa kamu nanya gitu?"
"Abisnya Papa aneh, berubah. Elisa takut Papa abis kena pelet, kebentur, atau yang lain-lain," ucapnya ringan.
Pratama kembali terkekeh dengan ucapan anaknya. Apakah dulu dia sekaku itu, sampai anaknya sendiri merasa aneh dengan sikapnya yang sekarang?
Terdengar helaan napas dari pria itu.
"Elisa, kamu benar. Selagi kamu bahagia, Papa juga ikut bahagia, Nak."
"Selamat ya, kamu berhasil buktikan sama Papa kalo kamu mampu menang di kompetisi itu. Papa bangga sama kamu. Papa yakin, kamu pasti kerja keras buat itu, iya kan?"
Elisa masih mendengarkan ucapan sang Papa yang menurutnya sangat langka. Namun, air wajahnya tak bisa menutupi rasa haru yang kala itu menambah bumbu baru di tengah-tengah interaksi keduanya.
"Sekarang Papa gak akan egois lagi, Papa yakin kamu bisa mencapai cita-cita dan keinginan kamu. Maaf, dulu Papa selalu nuntut hal yang sebenarnya kamu gak suka. Papa sadar, tugas orang tua itu hanya mendukung setiap langkah anak-anaknya, selagi itu positif, Papa akan dukung kamu, Nak."
Gadis itu menarik kedua sudut bibir, sampai lengkungan indah itu terpatri jelas di sana, pun tetes air mata yang berjatuhan seolah menjelaskan isi hati Elisa kala itu.
"Elisa? Kenapa kamu nangis, sayang? Papa salah ngomong ya?" ucap Pratama panik.
Elisa menggelengkan kepala, mengusap air matanya dengan punggung tangan sembarang.
"Engga, Pa. Papa gak salah kok. Elisa juga minta maaf, soalnya Elisa gak pernah bahagiain Papa."
"Elisa, kamu udah cukup buat Papa bahagia sayang. Dengan kamu lahir ke dunia aja itu udah lebih dari kata bahagia. Sekarang Papa cuma minta, kamu tetap sehat, Papa gak akan minta apa-apa lagi selain itu."
Gadis itu terdiam beberapa saat.
Tapi Elisa sakit, Pa.
Apa yang akan ia katakan bahwa ia tengah menderita sakit keras. Mampukah dia mengungkapkan kebenaran setelah Pratama menuntutnya untuk tetap sehat, meski nyatanya ia tidak bisa mengabulkan permintaan sang Papa.
"Kamu janji sama Papa, ya. Jangan sakit."
Elisa mengangguk. "Iya, Pa."
Pratama beralih memandang anaknya dengan tatapan sejuk, lalu tersenyum lembut.
"Elisa, nanti Papa mau bertemu sama temen kamu yang katanya ajarin kamu main piano, ya?"
Kesekian kalinya, Elisa dibuat tertegun dengan ucapan Pratama. Ia kembali menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu pandangan gadis itu menoleh ke arah boneka kelinci yang tersimpan di atas meja belajar, menatap boneka itu dengan intens.
Semua ini karena kamu, Atlanta. Makasih, karena kamu Papa berubah.
"Iya, Pa. Nanti aku ajak Papa ketemu sama Atlanta."
__ADS_1