Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
48. Guru privat


__ADS_3

Sepulang sekolah, dengan setelan seragam masih melekat, Elisa sudah duduk di depan piano miliknya yang dibelikan Joni. Terdengar suara dentingan berantakan dari balik ruangan yang dikelilingi kaca besar sepenuhnya tempat di mana gadis itu bermain piano. Jemarinya menekan tuts-tuts cukup kaku, belum terbiasa dengan benda yang masih asing.


Tok ... tok


"Assalamualaikum ya ahli kubur," ucap laki-laki berambut mullet, membuka pintu kaca melenggang masuk.


"Waalaikumsalam wahai penghuni neraka," jawabnya, tanpa mengalihkan pandangan ke sumber suara, Elisa masih terfokus ke deretan keyboard piano di depan.


Yunaka mendaratkan bokongnya di sofa, menyimpan gelas berisi kopi es americano di atas meja bundar. Laki-laki itu menyenderkan punggungnya ke kepala sofa.


"Kurang kerjaan lo, ya. Tinggal ngomong doang apa susahnya, gak usah pake Whatsapp gue segala. Lo gak tau tadi gue lagi main ML?!" Sulut laki-laki itu panjang lebar.


"Astaghfirullah ... Abang gue udah belajar making love."


"Mobile lagend, ogeb! Ngeres mulu isi otak lo."


"Ya maap atuh, Bang. Gue lagi mager manggil-manggil lo, jadi gue Whatsapp aja deh. Memanfaatkan fasilitas yang ada." Elisa terkekeh setelahnya. Gadis itu kembali menekan tuts piano sampai menghasilkan nada yang cukup membuat telinga berdengung.


"Berisik jingan! Jadi intinya apa nih lo nyuruh gue ke sini. Gue masih ada tugas."


Elisa mengalihkan pandangan. "Ajarin gue, ya."


"Ajarin apaan dah."


"Main piano atuh, Bang," ujarnya disertai tatapan puppy eyes andalan.


Yunaka tak langsung menggubris ucapan Elisa. Ia ber-smirk, mulai menyeruput es americano buatan Bi Asih yang menurutnya paling mantap.


"Sebagai imbalannya apa?" ucapnya.


"Ah, gak asik lo, Bang. Minta jatah mulu." Gadis itu mencebik, menatap Yunaka kesal.


"Ya udah sih kalo gak mau mah." Laki-laki itu beranjak dari duduk, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, dengan tangan yang satunya sudah menggenggam gelas untuk dibawanya pergi.


"I—iya, elah. Entar gue kasih permen yupi sebungkus."


"Gak mau sebungkus. Kalo sekarton baru gue mau bantu ajarin lo."


Elisa membulatkan bola mata tak percaya. "Lo meres gue, Bang?!"


"Kagak. Ngapain meres lo pake sekarton permen yupi. Gue juga masih mampu beli, sekalian sama pabriknya."


Elisa berdecak, harusnya ia tahu akhirnya akan seperti ini. Tapi ia tidak punya pilihan lain, setidaknya Yunaka lebih paham bagaimana cara belajar dasar-dasar bermain piano. Konon katanya Abangnya yang satu itu pernah menjadi pianis di grup band SMP dulu.


"Iya iya, gue bakal beliin sekarton permen yupi. Asal lo serius mau ajarin gue. Beberapa hari lagi gue mau tes seleksi anggota ekskul musik."


Yunaka mengangguk, laki-laki itu kembali menyimpan gelas berisi es americano yang nampak tersisa setengah di tempatnya semula. Ia beralih duduk di samping Elisa.


"Gue makin yakin kenapa lo sampe sekarang ngejomblo, Bang."


Laki-laki yang duduk di sampingnya meregangkan otot-otot jari tangan, sembari berkata, "Gak usah so tau lo anak kambing. Itu artinya gue berhasil menjaga kehormatan gue."


"Ck. Kehormatan apanya, yakali ada yang mau *****-***** lo, Bang." Elisa menjeda ucapannya, ia menghela napas. "Ini teori gue aja sih, kenapa cewe-cewe pada gak mau pacaran sama lo. Soalnya lo hobi ngemilin permen yupi. Kali-kali yang agak keren kek, kaya kopiko, atau kiss, atau apa kek, lembek banget permen yupi."


"Kurang ajar lo jadi adek. Asal lo tau ya, gini-gini gue pangeran kampus, lo gak tau aja banyak cewe-cewe yang ngantri pengen jadi pacar gue." Bela laki-laki itu.

__ADS_1


"Ye gue emang kagak tau. Udah cepet, jadi gimana caranya bwambwang!"


"Sabar atuh Neng, gue lagi mikir dulu. Udah agak lupa, 6 tahun lalu soalnya."


Yunaka masih mencoba menekan deretan tuts piano, mengingat kembali kunci not yang nampak hampir memudar dalam ingatannya. Tak perlu banyak waktu, jemarinya menari indah menekan hitam dan putih keyboard sampai menghasilkan nada yang cukup baik.


"Tuh, gitu doang 'kan."


Elisa membulatkan bola mata. "Bang, pelan-pelan atuh ajarin adeknya. Kasih pengarahan dulu."


"Gampang El. Kalo pengen cepet bisa tandain aja pake spidol keyboard-nya, atau stiker, beli aja di Shopee juga banyak. Sambil liat tanda, sambil hafalin, gue juga dulu kaya gitu."


Tanpa banyak basa basi Elisa meraih tas ransel miliknya yang tergeletak di atas ubin marmer, mengambil spidol berwarna hitam. Gadis itu menuruti ucapan Yunaka, tangannya sudah bekerja memberi tanda setiap tuts.


"Nih, coba dulu pelan-pelan." Yunaka memberikan benda pipih miliknya, yang menampilkan deretan kunci not.


Sekali lagi, Elisa mengiyakan perkataan sang Kakak. Gadis itu menyimpan ponsel Yunaka di depan, jemarinya mulai menekan not seperti yang tertera di layar sampai menghasilkan nada lagu potong bebek angsa, lagu anak-anak.


"Nah! Itu bisa. Gue bilang juga gampang. Asal lo tau kuncinya aja." Laki-laki itu beralih duduk di sofa lagi. Sembari menikmati segelas kopi es americano serta dentingan piano dari Elisa.


Namun, iris matanya tiba-tiba saja tertuju pada lipatan kertas yang terpampang jelas di dalam tas ransel Elisa yang terbuka lebar. Meski tak bermaksud untuk mengetahui lebih jauh, tapi jiwa kepo seorang Yunaka nampaknya jauh lebih besar.


Ia beranjak, mengambil kertas yang ada di dalam tas Elisa.


"Surat cinta dari siapa nih."


Intuisinya bergerak cepat, Elisa menoleh, melihat Yunaka yang hendak membuka lipatan kertas yang amat sakral untuknya saat ini.


"Apaan sih, Bang! Kepo banget jadi orang," sahut gadis itu merampas kembali surat diagnosanya dari tangan Yunaka.


Laki-laki itu mendengus, memandang kegiatan Elisa yang membereskan tas nya, beserta isinya.


"Emang kenapa sih. Cuma pengen tau doang."


"Bukan apa-apa. Gak usah kepo. Ini cuma surat pengumuman besok libur dari sekolah."


Yunaka mengangguk-anggukan kepala. Tak ada rasa curiga sedikitpun dari laki-laki itu.


"Btw,  lo udah tau belum, lusa Papa mau pulang."


Gadis yang diajak bicara hanya berdehem. Dia tahu, Pratama akan pulang dua hari lagi. Tapi baginya itu sangatlah tidak penting. Bahkan Elisa sepertinya harus menyiapkan mental baja lagi, karena Pratama akan terus mengawasinya selama berada di rumah.


"Tapi kata Mama, Papa mau langsung otw ke Prancis lagi."


"Ya biarin atuh, Bang. Mau ke Prancis, Jepang, Belanda, atau ke ujung dunia, gue gak peduli."


Yunaka menghela napas, tangan laki-laki itu beralih mengusap pundak Elisa.


"Gue tau, lo benci sama Papa. Tapi lo harus tau juga, dia masih orang tua lo, Papa lo sendiri."


Seketika, Elisa berdecak mendengar ucapan Yunaka yang mulai menasehatinya.


"Emang Papa peduli sama gue?"


.......

__ADS_1


.......


.......


Seperti biasa, meski langit sudah menghitam, dan bulan sudah menampakkan cahaya terang, pun bintang-bintang di langit bertaburan, laki-laki bersetelan kemeja hitam itu masih dengan kegiatannya, mencuci piring di wastafel.


Ah, untung saja besok sekolahnya libur, karena ada rapat penting yang harus para guru hadiri. Setidaknya besok dia akan beristirahat sebentar, dia berniat untuk pergi ke rumah singgah, membantu Adin berjualan.


"Atlanta. Sudah selesai cuci piringnya?"


Atlanta menoleh, memamerkan senyum manis yang dimiliki. Kuntara—pemilik restoran—tiba-tiba saja menghampirinya, tidak seperti biasa.


"Kalau begitu, saya boleh minta tolong?" ujar pria dewasa itu.


Ia mengangguk, menyanggupi ucapan Kuntara.


"Tadi saya habis ngobrol sama kenalan saya. Beliau sedang memesan menu, dan katanya beliau mau kamu yang antar pesanan dia. Kamu mau?"


Sekali lagi, laki-laki itu hanya mengangguk. Tapi ia sedikit penasaran, siapa orang itu. Apa orang itu mengenalnya?


"Nanti chef Ajun yang kasih pesanannya sama kamu, ya." Finalnya seraya tersenyum lembut. Pria itu menepuk pundak Atlanta dua kali sebelum pergi ke ruangan kerjanya kembali.


Tak butuh waktu lama, chef Ajun memberikan menu yang di pesan seseorang yang katanya kenalan Kuntara. Atlanta menghampiri meja di mana sang pemesan berada. Rasa penasaran masih menggerayangi benaknya sampai saat itu.


Tepat lima meter di tempatnya berdiri, ia menghentikan langkah beberapa detik. Melihat pria dewasa tengah melebarkan senyum tatkala bola matanya menangkap sosok Atlanta. Ia menghela napas setelah mengetahui siapa orang yang dimaksud Kuntara tadi.


"Apa kabar, Atlanta?" Sapa pria itu ketika Atlanta sudah ada di depannya, menyimpan semua pesanan di atas meja dengan begitu hati-hati.


Atlanta mengangguk, lalu tersenyum, memberitahu pria itu bahwa dia baik-baik saja.


"Syukurlah. Kamu gak keberatan duduk dulu di sini, ngobrol dulu sama saya. Ada yang perlu saya bicarakan sama kamu," ucapnya yang langsung mengundang kerutan kening dari Atlanta.


"Gapapa. Saya sudah bicara sama bos kamu. Jangan khawatir, gaji kamu gak akan dipotong. Tenang aja."


Meski ada rasa keragu-raguan, Atlanta hanya menuruti apa yang diucapkan pria itu. Perlahan, dengan gestur canggungnya, Atlanta mendaratkan bokongnya di kursi empuk tepat di depan pria yang masih tersenyum ramah padanya.


"Ah, sudah berapa lama ya kita gak ketemu. Hmmm ... terakhir kali waktu kita di rumah sakit karena adik saya Yunaka nabrak orang 'kan?"


Ya, dia adalah Joni. Kakak pertama Elisa. Awalnya Atlanta cukup terkejut dengan kehadiran Joni. Dari mana dia tau kalau laki-laki itu bekerja di sana?


"Maaf ... Saya terlalu basa basi. Jadi gini, kamu sudah tau 'kan semua biaya sekolah kamu sepenuhnya lunas sampai kamu lulus sekolah?"


Astaga, Atlanta bahkan tak enak hati mengingat itu. Apa yang harus laki-laki itu lakukan? Ia hanya mengangguk kaku.


"Jangan salahkan adik saya, Elisa, untuk hal ini. Elisa gak ada sangkut pautnya sama kehendak saya untuk membantu kamu di sekolah."


Kembali dengan keheningan, pikiran laki-laki itu seolah menampilkan film pendek atas sikapnya yang acuh tak acuh pada Elisa beberapa hari ini.


"Saya gak serta merta bantu kamu, Atlanta. Saya sudah liat prestasi kamu di kelas. Kamu juga dapat beasiswa 'kan? Makanya saya inisiatif buat kasih kamu hadiah buat kerja keras kamu, Atlanta."


Laki-laki itu hanya mengulum bibir, mencerna ucapan Joni yang menurutnya sangat penting untuk didengarkan dengan cermat.


"Tapi saya kasih kamu hadiah itu gak gratis."


Atlanta beralih menautkan alis, menatap bingung Kakak dari Elisa itu penuh dengan pandangan tanda tanya.

__ADS_1


"Kamu mau 'kan jadi guru privat piano Elisa?"


__ADS_2