
Entah sudah berapa lama gadis itu terdiam di samping kemudi, melipat kedua tangan sembari melengkungkan bibir ke bawah. Dia sama sekali tidak tertarik dengan kalimat-kalimat panjang yang sudah tak terhitung berapa kata keluar dari mulut Yunaka—laki-laki yang sedang menyetir mobil.
"Dicoba aja dulu. Siapa tau kalian cocok. Gue bakal seneng banget kalo kalian nanti bakal jodoh. Gue dukung lo sama Haikal," ucap Yunaka lagi. Sesekali laki-laki itu menoleh sekejap melirik Elisa.
"Dicoba, dicoba, lo kira seblak boleh dicoba dulu," sahutnya. "Dengerin gue, pokoknya gue gak mau sama si cowo tengil itu. Idih amit-amit jabang babu, Bang." Elisa mengetuk-ngetuk kepala beberapa kali, lalu atas dashboard mobil, kemudian bergidik.
"Tapi dia baik, El. Gue kenal Haikal sejak dulu. Dia gak bakal macem-macem deh, percaya sama gue."
"Gue bilang gak mau, ya gak mau, Bang. Jangan mentang-mentang Abangnya si anak tengil itu sahabat baik lo, lo seenaknya jodohin gue sama dia. Dia bukan tipe gue banget, astaga!"
"Daripada lo jomblo terus."
Elisa bercedih, merotasikan bola mata. "Kalo gue jomblo, terus lo apaan? Ngaca dulu kalo mau ngomong, Bang."
Yunaka menghela napas, dia tersenyum lebar, sebuah senyuman yang nampak dipaksakan.
"Yang penting lo bahagia dulu, El. Gue mah belakangan, gampang lah kalo soal nyari pacar, punya stock banyak gue. Lagian siapa sih yang gak mau sama cowo seganteng Yunaka Tama," katanya disertai kekehan kecil, menyisir rambut ke atas menggunakan jari tangan.
Mendengar itu, lantas membuat Elisa tiba-tiba merasa mual. Dia tidak habis pikir dengan ucapan Yunaka yang terlalu percaya diri.
"Na to the jis, jijik," ujar Elisa sembari pura-pura muntah.
Yunaka membulatkan mata, melirik Elisa. "Eh, lo gak percaya kalo gue ini pangeran kampus?"
"Kagak lah. Lagian siapa yang suka sama lo, Bang. Itu cewe katarak kali, harus diperiksa pake Autorefractor."
"Enak aja! Abang lo seganteng ini masa lo gak bisa liat."
Elisa menoleh, memelototkan mata dengan cara menarik kelopaknya, lalu beralih mengucek matanya dengan jari. "Burem."
"Awas aja kalo lo suka sama gue."
Hoek!
"Jadi gimana? Lo mau 'kan?"
"Gak."
"Mau?"
"Kagak!"
"Baik loh orangnya."
"Bodo."
"Pinter kok gak bodo."
"Serah." Elisa kembali melipat kedua tangan ketika Yunaka mengalihkan pandangannya menatap gadis itu.
"Jadi mau?"
"Engga ih. Budeg?!"
"Lo bilang terserah."
Elisa menarik napas, menatap tajam ke arah Yunaka yang sesekali melirik setelah melihat jalanan di depan.
"Cape gue ngomong sama lo, Bang. Gue bilang engga, ya engga. Gak usah lirik-lirik gue, noh liat jalan, awas aja kalo terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Elisa memperingati.
Bukannya mendengar ucapan Elisa, Yunaka tersenyum miring, menggerakkan kepala memandang Elisa dengan jenaka.
"Bilang iya dulu makanya,"
"Bang, liat ke depan, sialan!"
Yunaka menggelengkan kepala. "Bilang dulu."
Elisa melebarkan mata ketika Yunaka menjalankan mobil tanpa memperhatikan situasi di depan. Dia mengguncangkan lengan Yunaka agar laki-laki itu kembali ke mode warasnya, dalam hati Elisa memperbanyak do'a supaya dia tidak mati konyol di hari itu karena kebodohan Yunaka.
"Bang, gue gak mau mati sekarang! Gila lo?!" sahutnya, tak bisa dipungkiri jantungnya mendadak berpacu sangat cepat.
"Ya udah makanya nurut sama gue."
__ADS_1
"BANG! AWAS!"
Bruk!
Yunaka mengerem mobil secara mendadak sampai mengeluarkan bunyi di ban yang bergesekan dengan aspal jalan. Dia sendiri sangat terkejut dengan apa yang ada di depannya kala itu, setelah menoleh dan semuanya terjadi secara tiba-tiba.
Elisa membuka lebar mulutnya, dengan kedua mata yang masih melotot dia mengatur napas yang memburu.
"El, t—tadi gue nabrak apaan?"
Elisa menoleh dengan tatapan kesal. "Ya orang lah, bego! Lo pikir apaan? Kambing?!"
"Terus gue harus gimana?" ujar laki-laki itu. Keringat dingin mulai kentara di dahinya, dia gemetar, mencengkram erat kemudi.
"Kayang." Elisa menjeda sejenak ucapnya, semakin lama dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Kakaknya sendiri. "Tolongin atuh, Bang. Lo mau jadi tersangka tabrak lari, huh?!"
Sedikit tersentak akibat sahutan Elisa, tapi laki-laki itu tetap memantapkan hati untuk membantu orang yang sudah dia tabrak. Meski batinnya begitu berkecamuk menebak kemungkinan lain yang akan terjadi setelah itu, tapi raganya menuntun Yunaka untuk tetap bertanggung jawab.
Dia melepas sealtbelth, membuka pintu mobil dan keluar, yang diikuti oleh Elisa setelah itu. Dia sedikit berlari menghampiri anak laki-laki yang sudah terkapar dan seorang remaja berada di sana.
"Astaga! Maaf, s—saya gak sengaja. Kita bawa ke rumah sakit, ya? Biar saya bantu," ucap Yunaka ketika berjongkok hendak mengambil alih anak laki-laki yang sudah tak sadarkan diri di pangkuan seseorang.
Elisa yang sudah berdiri di belakang Yunaka sembari mengatur napas, dia mengerutkan kening ketika sorot matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya. Tak perlu waktu lama untuk menebak siapa laki-laki itu.
"Atlanta?"
Dia menoleh cepat ketika mendengar suara yang memanggil namanya. Menengadah memandang seorang gadis.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Elisa to the point.
"Dia teman aku."
"Nanti aja ngobrolnya bisa gak? Bantuin gue dulu," sahut Yunaka yang entah sejak kapan sudah menggendong anak itu.
Elisa mengangguk cepat, sedikit berlari untuk membuka pintu mobil yang diikuti oleh Atlanta di belakangnya.
.......
.......
.......
Elisa dan Atlanta terduduk di kursi besi panjang, terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Atlanta," Elisa membuka suara dengan menyebut nama laki-laki itu, membuat orang di sampingnya menoleh seketika.
"Kamu bilang anak itu temen kamu?" Elisa memelankan suaranya.
Atlanta mengangguk sebagai jawaban.
"Berarti kamu tau orang tuanya dong. Punya nomor hp nya 'kan? Nanti biar aku yang hubungi orang tuanya."
Beberapa detik, laki-laki itu hanya diam, memandangi mata yang saat itu menatapnya.
"Dia udah gak punya orang tua."
Suara langkah kaki yang bertabrakan dengan ubin bernuansa putih semakin terdengar nyaring, menandakan ada seseorang yang sedang berlari menelusuri lorong rumah sakit dengan terburu-buru. Praktis membuat ketiganya menoleh ketika seorang pria dewasa datang menghampiri mereka dengan napas yang ngos-ngosan.
"G—gimana? K—kalian baik-baik aja 'kan?" ucapnya terbata-bata. Elisa berdiri menghampiri Joni yang sedang menyeka keringat di dahi.
"Kita baik-baik aja kok, Bang," jawab Elisa.
Joni menghela napas sembari mengangguk, merasa salah satu beban hilang saat itu juga.
"Kalian ini sebenernya nabrak siapa sih?"
"Bukan Elisa, Bang. Tapi itu tuh." Dagu lancip Elisa bergerak ke arah Yunaka yang saat itu masih tertunduk.
Joni menoleh, sekali lagi laki-laki itu menghela napas panjang, berkacak pinggang, menatap Yunaka dengan tajam.
"Jelasin." Suara berat Joni mampu membuat nyali Yunaka ciut seketika.
"G—gue gak sengaja, Bang."
__ADS_1
"Gak sengaja lo bilang?! Lo—"
Ucapan Joni terpotong ketika mendengar pintu ruang IGD terbuka, menampakkan sosok pria berumur setengah abad di sana. Mereka kompak menghampiri dokter itu, menunda ocehan Joni yang hampir meluncur dari mulutnya dengan bebas.
"Apa kalian wali pasien?" ucap dokter itu, menatap satu per satu orang-orang di depannya.
"Bukan. Kami yang bawa pasien ke sini. J—jadi gimana keadaannya, Dok?" kata Elisa dengan raut wajah meminta penjelasan.
"Pasien hanya syok. Tapi pasien harus dirawat inap, besok baru boleh pulang, karena pasien masih butuh perawatan yang cukup."
Keempatnya bernapas lega, setidaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kami akan pindahkan pasien ke ruang inap setelah siuman." Dokter itu menjeda ucapannya. "Baik, saya pamit ya."
"Terima kasih, Dok."
Setelah kepergian dokter itu, Yunaka terduduk di kursi besi yang sempat diduduki Elisa, mendadak lututnya melemas.
Di sisi lain, sorot mata Joni tertuju pada Atlanta yang masih terdiam sejak kedatangannya. Elisa yang menyadari tatapan Joni langsung angkat bicara.
"Ah, ini Atlanta. Temen Elisa di sekolah."
Joni hanya mengangguk, memperhatikan penampilan Atlanta yang nampak sangat sederhana.
"Rumah kamu di mana?"
Bukan mendapat jawaban, Joni mengerutkan kening ketika Atlanta beralih merogoh ponsel di saku celananya, dan mengetikkan sesuatu di sana.
Atlanta memperlihatkan sebuah ketikan di layar ponselnya.
"Komplek Cemara."
Tidak butuh waktu lama untuk mencerna apa yang terjadi kala itu. Joni hanya tersenyum lembut.
"Komplek Cemara? Dulu kita tinggal di sana juga."
"Wah, kamu tinggal di sana? Kenapa gak kasih tau aku?" sahut Elisa tak terima ketika Joni lebih dulu tahu di mana rumah temannya sendiri.
"Karena kamu gak nanya."
Elisa melipat tangan, mengerucutkan bibirnya sebal, lalu berkata, "Harusnya kamu kasih tau aja. Kok nunggu aku nanya sih?!"
Joni terkekeh kecil melihat interaksi keduanya. Elisa tampak paham dengan gerakan tangan Atlanta yang sama sekali tidak dia ketahui. Dia sudah menduga ada sebuah alasan kenapa Elisa bersikeras ingin belajar bahasa isyarat.
"Jadi ini alasan kamu pengen belajar bahasa isyarat, hm?" ujar Joni yang mampu membuat bola mata Elisa membulat sempurna.
Plak!
Elisa memukul lengan Joni cukup keras. Merapatkan jari telunjuk di bibirnya. "Ssttt!"
"Ya udah sekarang kita pulang aja. Kamu pulang sama kita aja Atlanta."
"Terus yang di sini siapa, Bang?"
"Ya Yunaka lah. Siapa lagi."
Yunaka yang mendengar namanya disebut oleh Joni menengadahkan kepala, kemudian berdiri dengan cepat.
"Kok gue? Terus gue sama siapa di sini?"
"Sendiri. Lo harus bertanggung jawab sama apa yang udah lo lakuin, Ka. Sekalian bayar administrasinya pake uang lo."
Yunaka berdecak, kenapa Joni sangat kejam pikirnya. "T—tapi duit gue—"
"Udah, nanti tinggal minta lagi sama Papa. Oke." Joni menepuk pundak Yunaka bermaksud memberi semangat pada adiknya itu.
Joni beralih menggiring Elisa dan Atlanta untuk segera pergi dari sana, meninggalkan Yunaka yang terlihat frustasi dengan keadaan, dan tidak tahu harus berbuat apa setelah itu.
"By the way, rumah kamu blok apa?" tanya Elisa ketika mereka berjalan di lobi rumah sakit menuju tempat parkir.
"Blok D."
"Blok D? Jay juga rumahnya di blok D. Kamu inget 'kan temen aku yang waktu itu?"
__ADS_1
Atlanta mengangguk kaku, memainkan jari-jari tangannya yang saling bertautan. Tidak mungkin dia memberi tahu bahwa sebenarnya Jay adalah saudara tirinya sendiri, dan mereka tinggal satu atap.
"Rumah kamu nomor berapa?"