Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
67. Scrape the ego


__ADS_3

Entah harus memulai percakapan dari mana, Elisa yang kala itu sudah duduk di bangkunya seperti semula, masih setia memainkan pulpen yang ada digenggamannya. Ya, gadis itu memilih kembali ke habitat asalnya setelah kemarin ia mengungsi ke bangku milik Mark yang ada di urutan paling belakang.


Rasa bersalah lebih mendominasi perasaannya, apalagi ketika Popi dan Adin menceritakan kejadian yang menimpa Atlanta tempo hari saat hendak pergi ke lokasi kompetisi. Semalaman penuh gadis itu pun tak berhenti menebak siapa kemungkinan besar yang melakukan hal keji pada Atlanta, meski pada akhirnya isi otak gadis itu buntu dengan pikirannya sendiri.


Sesekali Elisa melirik dengan ekor matanya pada Atlanta, seraya mencatat rumus-rumus Fisika yang ada di papan tulis. Dapat dilihat dengan jelas bagaimana laki-laki di sampingnya ikut kaku dengan hubungan keduanya yang belum membaik.


Kring...


Suara bel berdenting menandakan jam pelajaran itu sudah berakhir. Semua murid terdengar menghempaskan napas berat, merentangkan bahu yang terasa kebas.


"Pelajaran hari ini sudah cukup. Persiapkan diri kalian untuk menghadapi UTS minggu depan. Selamat siang."


"Siang, Bu ...."


Satu per satu murid keluar dari kelas, menyisakan segelintir orang yang masih menghuni ruangan itu, termasuk Elisa dan Atlanta.


Elisa yang kala itu tengah mengemas barang-barangnya, sembari berfikir untuk mengajak Atlanta ke kantin, sungguh, dia sangat bingung untuk memulai obrolan, bahkan rasanya sangat berat mengucapkan sepatah kata.


"Elisa."


Gadis itu menoleh, menampakkan Jay yang sudah berdiri di ambang pintu kelasnya seraya tersenyum lebar. Laki-laki itu menghampiri Elisa yang masih bertanya-tanya.


"Kamu ngapain ke sini?"


"Kita dipanggil ke ruang guru sama Pak Teguh," kata Jay yang secara otomatis membuat kerutan di kening Elisa.


"Mau ngapain?


Tak ada jawaban dari laki-laki itu, ia hanya tersenyum sekilas lalu meraih tangan Elisa, mengajak gadis itu pergi dari kelas, tak lupa seringaian tajam ia tujuan untuk Atlanta.


"J—jay ... tunggu dulu, kita mau ngapain ke ruang guru?" ucap gadis itu, masih dengan atensinya tertuju ke belakang, di mana Atlanta yang ingin mencegahnya namun nyatanya ia tak bisa, Elisa lebih dulu hilang dari pandangannya.


Jay masih menggenggam tangan Elisa, melangkah lebar untuk cepat-cepat menuju ruang guru yang sudah tak jauh dari jangkauan mata.


"Jay ... lepas. Akh."


Laki-laki itu tak mengindahkan ringisan Elisa yang merasa kesakitan akibat tarikan paksa yang dilakukan oleh tangannya. Karena tak mendapat jawaban yang masuk akal, Elisa memilih menghempaskan tangan Jay, hingga langkah keduanya terhenti, pun genggaman tangan Jay terlepas.


Elisa masih meringis memegangi pergelangan tangannya yang kemerahan, lalu mendongak. "Kamu apa-apaan sih Jay. Sakit tau."


Laki-laki itu menghempaskan napas berat, berkacak pinggang seperti tengah dilanda frustasi, lalu memijat pelipisnya pelan.


"Kenapa kamu masih deket sama si bisu itu?" ujarnya.


"M—maksud kamu?"


"Kamu gak mikir? Dia itu yang udah ingkar janji sama kamu. Dia gak bertanggung jawab buat ikut kompetisi. Huh, kamu masih mau deket sama dia. Kalo aku gak dateng ke kompetisi itu, mungkin kamu udah gagal, El."


Elisa menatap Jay nanar. Dia tahu, Atlanta sejak awal memang berhasil membuatnya kecewa, tapi itu sebelum dia tahu kejadian yang sebenarnya. Gadis itu yakin, ada alasan lain yang membuat Atlanta masih enggan mengungkapkan semuanya.


Baik, mungkin Jay adalah seseorang yang cukup andil di kompetisi kemarin. Jujur saja, dia sangat berterimakasih karena itu. Tapi bukankah menjauhi Atlanta adalah sebuah kesalahan?


"Jay, kamu gak tau yang—"


"Aku tau Elisa. Dia sengaja gak dateng ke kompetisi itu cuma mau malu-maluin kamu aja."


Tidak, laki-laki itu jelas tak tahu menahu tentang kejadian yang menimpa Atlanta.


"Jadi aku mohon. Jauhin dia, Elisa."


Jay meraih kedua tangan Elisa, menatap obsidian bening milik gadis di depannya dengan tatapan memohon.


"Kamu gak tau apa-apa, Jay."


"Aku tau, Elisa."


"Gak, Jay! Kamu gak tau!" sahutnya seraya menghempaskan genggaman tangan Jay. "Kamu gak tau kan kalo waktu itu Atlanta sengaja ditabrak sama seseorang?! Kamu gak tau waktu itu juga Atlanta dikeroyok, hah?! Kamu gak tau yang sebenarnya Jay! Dan aku mohon sama kamu, jangan pernah larang aku buat deket sama Atlanta! Sekali lagi kamu jelek-jelekin Atlanta di depan aku, kamu sendiri yang bakal aku jauhin, Jay."


Laki-laki itu jelas tercekat. Bahkan sekarang Elisa berani membela saudara tirinya itu. Jay mendengus sebal.


"Elisa, itu cuma akal-akalan dia aja."


"Gak! Kamu yang akal-akalan, Jay!"


Elisa segera berbalik badan, meninggalkan Jay yang masih berdiri mematung setelah sebelumnya ia mengacungkan jari telunjuk di depan laki-laki itu. Suara teriakan Jay yang memanggil namanya pun tak ia hiraukan sama sekali. Ia sibuk menetralkan gemuruh di dalam dadanya sendiri, dia tak habis pikir kenapa Jay dengan entengnya mengatakan hal itu. Apakah dia sangat membenci Atlanta?


Gadis itu beralih berlari kecil ketika ada di depan kelas. Ia masuk ke ruangan itu, dengan napas yang memburu pun pandangannya menelanjangi seisi kelas dan tak menemukan sosok Atlanta di sana.


Kedua alisnya sontak bertaut. Ke mana laki-laki itu?


Elisa berjalan mendekati sang KM—Juan—yang kala itu tengah asyik membaca novel sembari makan coklat batangan di bangkunya.


"Juan! Lo liat, Atlanta ke mana, gak?" tanyanya tersenggal.

__ADS_1


Laki-laki itu mendongak. "Oh, tadi gue liat dia dibawa sama anak kelas sebelah. Baru aja pergi."


"HAH?!"


Juan sontak menutup telinganya setelah mendengar teriakan Elisa. "Apaan dah. Berisik."


"Kenapa lo ga cegah, sialan!"


"Ya mana gue tau. Emang kenapa sih."


Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Jangan-jangan mereka hendak melakukan sesuatu lagi pada Atlanta.


"T—terus, mereka bawa Atlanta ke mana, huh?"


Juan hanya mengedikkan bahu.


"Sial."


Tak ingin membuang waktu, Elisa bergegas berlari ke luar ruangan, mencari keberadaan Atlanta. Setiap lorong, koridor, ia telusuri dengan sangat cemas, sesekali gadis itu bertanya pada murid-murid yang ditemuinya, namun dari banyaknya orang yang ia temui, tak satupun dari mereka yang melihat Atlanta.


"Atlanta ... Kamu di mana sih." Monolognya, masih berjalan cepat menuju lapangan sekolah. Peluh yang menetes segera diseka oleh gadis itu.


Di bibir lapang basket, Elisa menghampiri beberapa orang siswi yang tengah menonton permainan basket.


"Permisi ... kalian liat Atlanta gak?" tanyanya.


"Eh, kak Elisa. Tadi sih kita liat dia ke sana sama anak-anak cowok yang lain," jawab siswi yang berstatus adik kelas gadis itu, menunjuk arah parkiran belakang sekolah.


Sontak isi dadanya berdebar sangat cepat saat itu. Apa yang akan mereka lakukan pada Atlanta. Astaga, ia sudah tidak bisa berpikir jernih.


"M—makasih, ya."


Elisa segera berlari cepat ke arah parkiran belakang sekolah. Dengan sekuat tenaga, gadis itu tetap mengayunkan kakinya ke tempat tujuan yang tidak bisa dibilang dekat.


Maafin aku, Ta ... maaf.


Ia semakin berlari secepat yang dia bisa. Dia tak ingin terlambat. Peluh yang semakin menetes membanjiri keningnya ia seka dengan lengan.


Di depan gerbang parkiran belakang sekolah, langkahnya terhenti. Elisa mengatur napas yang menggebu, di depan sana, di bawah pohon besar, ia melihat dengan jelas Atlanta yang dikelilingi oleh 4 orang siswa yang kemarin sempat mem-bully laki-laki itu.


"Anjing! Lo cuma punya duit segini doang, hah!" Sentak seorang siswa yang berdiri di depan Atlanta, seraya melemparkan uang receh ke atas tanah. Atlanta hanya menunduk takut, pun jemari yang saling bertautan itu gemetar.


Duk!


"Mana lagi," ujarnya mengulurkan telapak tangan. Atlanta hanya menatap uluran tangan di depannya.


"Ck. Mana lagi duitnya sialan!"


Melihat Atlanta yang hanya menggelengkan kepala kaku, laki-laki itu merangsek kerah seragam Atlanta, mendorongnya sampai punggung Atlanta terbentur ke pohon cukup keras.


"Cepet! Ambil di sakunya!" ucapnya seolah mengisyaratkan ketiga temannya yang lain mencari keberadaan uang yang dimaksud.


Mereka segera menggeledah seluruh saku seragam Atlanta. Sampai segenggam uang koin didapatkan salah satu orang, mereka menghentikan kegiatan.


"Cuma ada ini bos," ujarnya, memberikan uang koin pada laki-laki yang dia sebut bos itu.


Ia menyunggingkan sebelah bibir tatkala menerima uang receh itu, semakin menatap tajam Atlanta yang sudah bergetar takut.


"Gak usah sok pura-pura miskin! Lo dapet bagian juga kan dari si Elisa, huh?! Sekarang mana duitnya!" Gertaknya seraya mengguncangkan cengkeraman di leher Atlanta.


Atlanta kembali menggelengkan kepala. Sumpah, dia tidak tahu apa yang dimaksud laki-laki itu. Atlanta mencoba melepaskan cengkeraman tangan siswa itu di lehernya yang semakin membuat pasokan oksigen ke dalam paru-parunya menipis.


Bruk!


Laki-laki itu menghempaskan cengkeraman tangannya sampai Atlanta jatuh tersungkur di tanah.


Bugh!


Sebuah tendangan keras berhasil laki-laki yang kala itu meringkuk di bawah meringis kesakitan di area perut. Atlanta mencoba mendongak perlahan sambil menahan sakit.


Bugh!


Elisa membekap mulutnya ketika anak berandalan itu kembali menendang perut Atlanta. Seketika, air matanya keluar dari pelupuk menyaksikan adegan yang mampu membuat hatinya teriris sakit. Bahkan detak jantung gadis itu semakin berpacu sangat cepat.


"Kalo lo mau selamat, kasih duitnya ke gue, sialan!"


Elisa beralih mengepalkan kedua tangan, rahang yang semakin mengatup menandakan bahwa gadis itu tengah menahan amarah yang sudah berasa di puncak ubun-ubun. Ia kembali melangkah lebar, menghampiri para pembully di sana.


"WOY, BANGSAT!"


Atensi keempat siswa itu sontak menoleh ke belakang, dan menampakkan seorang gadis tengah berjalan lebar menghampiri mereka.


"Cih. Mau apa lo ke—"

__ADS_1


Bugh!


Elisa menendang siswa dominan dengan jurus dollyo chagi andalannya, sampai laki-laki itu tersungkur setelah mendapat tendangan di daerah perut. Ia merintih sakit, pun ketiga temannya ikut membantu sang bos yang semakin meraung.


"Bangsat kaya kalian masa lemah?! Baru ditendang doang udah lemes. Ck."


Gadis itu melipat tangan seperti menantang, menatap seorang laki-laki yang berada di bawah kini tengah memberikan tatapan tajam padanya.


"Anjing lo, Elisa!"


"Iya! Gue emang anjing! Dan tugas anjing itu buat nangkap bangsat kaya kalian!" sahutnya disertai seringaian.


Gadis itu segera merogoh lembaran uang yang ada di saku seragamnya, melemparkan lembaran kertas berharga itu pada mereka.


"Makan tuh duit! Dasar rakyat jelata. Kerjaannya cuma bisa malak doang. Kerja sono, jangan keliatan miskin banget sampe malak orang!" ucapnya sarkas.


Tak terima mendapat cacian dari seorang perempuan, laki-laki itu menggertakkan gigi, dia sontak beranjak cepat, meraih lengan Elisa dengan kekuatan tenaganya.


"Akh! Sakit, sialan! Lepas!" sahutnya meringis tatkala tangan besar laki-laki itu mencengkeram lengannya dengan penuh kekuatan ekstra.


"Lo udah berani sama gue. Asal lo tau, gue gak takut sama lo. Sekalipun lo pacar si Jay," katanya. Kilatan amarah kini terpancar di bola mata kemerahan laki-laki itu.


Disisi lain, Atlanta mencoba berdiri walaupun rasanya sangat ngilu ketika tubuhnya mencoba tegak, apalagi di area perut yang seketika terasa nyeri ketika diluruskan.


Duk!


"ANJ—  AKH!"


Laki-laki itu kembali terjatuh tatkala Elisa menendang aset berharganya cukup kuat. Ia merintih ngilu.


"Gue juga gak takut sama lo. Lo 'kan ban-ci."


Elisa beralih menoleh pada Atlanta. Ia segera memapah laki-laki itu saat melihatnya kesusahan  untuk berdiri.


"SIALAN LO, ELISA! TANGGUNG JAWAB LO!" Lantang salah seorang anak berandal itu, nampak tak terima temannya terkena serangan yang cukup mematikan.


"Iya gue bakal tanggung jawab. Kalo dia hamil gue bakal tanggung jawab kok, kalian tenang aja," ujarnya yang semakin menarik urat leher para siswa itu. Tak henti-hentinya mereka juga mengucapkan sumpah serapah pada gadis yang saat itu pergi dari hadapan mereka.


Elisa tak lagi mempedulikan teriakan mereka yang terus memanggil namanya disertai kalimat umpatan yang secara tak langsung membuat perasaannya merasa puas.


Gadis itu membawa Atlanta ke ruang UKS berniat mengobati bekas tendangan di perut Atlanta  yang ia yakini sudah meninggalkan luka memar. Atlanta hanya nurut, mengikuti ke mana gadis itu membawanya. Sebuah lengkungan manis di bibirnya tercetak sempurna, dia sangat senang, ternyata Elisa masih peduli padanya, bahkan gadis itu sangat hati-hati ketika memapahnya menuju UKS.


Elisa beralih membantu Atlanta berbaring di atas bangsal. Saat mereka sampai di sana, tidak ada satupun petugas PMR, hal itu jelas membuat gadis itu harus turun tangan menangani Atlanta. Tanpa sepatah kata, ia segera mengambil air dingin di dalam lemari es kecil.


Ia kembali menghampiri bangsal yang ditempati Atlanta. Gadis itu lantas membuka kancing seragam Atlanta tanpa persetujuan darinya. Sontak Atlanta membulatkan bola mata, ia hendak mencegah pergerakan tangan Elisa, namun gadis itu menepis cepat tangannya.


Elisa menghela napas tatkala melihat memar yang keungu-unguan di perut Atlanta, lalu menyimpan botol berisi air dingin itu di atasnya. "Kenapa kamu gak lawan mereka aja sih?" ujarnya.


Atlanta hanya tersenyum, memperhatikan kegiatan Elisa yang terlihat sangat serius dalam mengobatinya. Saking senangnya, ia sampai tak meringis ketika air dingin itu menyentuh luka memarnya yang cukup kentara.


"Kalo aku gak ada, mungkin kamu udah babak belur, lebih dari ini."


Kembali dengan keheningan, Atlanta semakin menatap Elisa cukup lamat.


"Maaf. Aku udah salah paham sama kamu," ucapnya.


Elisa mendongak, menghentikan kegiatannya yang memang sudah selesai, pun Atlanta yang bergegas merapikan baju seragamnya kembali.


"Maaf, karena sempet kecewa sama kamu. Maaf, karena udah biarin mereka nyakitin kamu."


Atlanta kembali tersenyum lebar.


"Tidak. Harusnya aku yang minta maaf."


"Tapi kamu gak salah. Aku gak tau kalo kamu kena musibah waktu berangkat ke kompetisi kemarin."


Laki-laki itu menggelengkan kepala, bermaksud mengisyaratkan Elisa untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Seperti kata gadis itu, semuanya hanya musibah, tidak ada yang salah di sini.


"Maafkan aku, ya."


"Maaf apa lagi Atlanta? Kamu beneran gak salah. Aku aja yang terlalu kebawa emosi."


"Maaf karena belum bisa jagain kamu."


Elisa mengerjapkan matanya dua kali. Mencerna gerakan tangan Atlanta kala itu.


"Maaf, karena kamu selalu jaga aku. Sedangkan aku, belum bisa jaga kamu. Kamu selalu bela aku disaat orang-orang itu ganggu aku. Aku laki-laki yang tidak berguna, 'kan?"


Gadis itu segera menggelengkan kepala, meraih kedua tangan Atlanta dan menggenggamnya lembut.


"Engga, Atlanta. Dengan kamu hadir di hidup aku aja itu udah bikin aku bahagia. Jadi jangan bilang kalo kamu gak ada gunanya."


Mendengar ucapan tulus dari gadis itu, Atlanta tak mampu menahan air mata yang semakin menumpuk sampai terlihat pantulan bening di sana.

__ADS_1


"Kalo kamu gak keberatan, Papa mau ketemu sama kamu. Kamu mau kan ketemu sama Papa?"


__ADS_2