
Di dalam bilik toilet yang masih sepi, Elisa terduduk di atas closet, mengeluarkan botol pet obat yang tempo hari Dokter berikan padanya. Ia menelan obat berukuran sedang itu mengalir bersama air bening yang ia bawa dalam Tupperware.
Setelah itu, ia kembali merogoh plastik clip berisi beberapa obat yang selalu ia bawa setiap hari. Elisa masih memperhatikan butiran obat di genggamannya, ia menghela napas pelan, apa ia harus minum obat itu juga?
Jawabannya adalah harus. Jika tidak, sudah dipastikan Pratama akan memarahinya dengan dalih alasan berat badan Elisa yang tidak bisa terkontrol jika tak mengkonsumsi obat diet dan sebagainya. Ia kembali meneguk empat butir obat lagi, sampai ia merasa kerongkongannya terasa penuh.
"Jangan konsumsi obat yang tidak perlu. Itu akan membuat ginjal kamu semakin memburuk."
"Papa gak mau kamu kehilangan karir di dunia model. Minum obat yang Papa kasih, dengan itu kamu bebas makan apapun tanpa takut bertambah berat badan."
Elisa masih termangu, ucapan sang Dokter dan Pratama saling bersahutan di dalam kepalanya. Perkataan siapa yang sebenarnya harus ia turuti? Di sisi lain, ia sungguh tidak ingin organ dalamnya itu semakin memburuk, dan ia juga tidak mau membuat Pratama kecewa padanya, lalu berujung pertengkaran di antara Mama dan Papanya seperti dulu.
Gadis itu menghempaskan napas berat, ia beranjak dari duduk.
"Eh, kalian udah tau gosip terbaru belum? Soal si Elisa, model kelas 2 itu."
Niatnya untuk membuka gagang pintu terhenti seketika, tatkala ia mendengar beberapa siswi masuk ke dalam toilet. Elisa beralih berdiri di balik pintu, mendengar obrolan mereka yang ternyata menyeret namanya ke dalam topik pembicaraan.
"Gue tau! Dia 'kan pacaran sama Jay, tapi katanya dia selingkuh sama sahabat pacarnya, Theo Wijaya."
"Serius lo?!"
"Gue serius. Gue juga liat mereka di kantin berduaan waktu si Jay pergi lomba olimpiade."
Elisa mendengus dalam diam, gosip macam apa itu? Dan apa katanya, selingkuh?
"Wah, gak nyangka sih gue. Bisa-bisanya dia main gila waktu pacarnya gak ada di sekolah. Sama sahabat pacarnya sendiri loh."
"Dia emang cantik sih. Tapi kurang bersyukur, udah untung dapet cowo ganteng, baik, pinter kaya si Jay, eh malah diselingkuhin. Kasian banget pangeran gue."
"Gak cuma itu. Ada yang liat juga mereka berdua pulang sekolah bareng, boncengan berdua. Itu namanya apa kalo bukan selingkuh."
Astaga, ternyata interaksi yang tak diinginkannya dengan Theo berhasil mengundang berita miring dari kebanyakan siswa. Elisa masih terdiam di tempat, menunggu sampai beberapa siswi itu keluar dari toilet, barulah ia membuka pintu bilik toilet, lalu pergi dari sana.
"Hai, Elisa!"
Gadis itu terkesiap. Bagaimana tidak, baru saja ia membuka pintu toilet, seorang laki-laki tinggi berdiri menjulang di depan tiba-tiba menyapanya dengan suara deep.
Ia masih mengelus dadanya yang berdebar. "Lo emang anak setan!" sahutnya.
Laki-laki di depan, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Theo hanya menyeringai, ia melipat tangan di depan, menyejajarkan tinggi badannya dengan Elisa.
"Apa kabar tuan putri."
Elisa merotasikan bola mata. "Kabar gue baik sebelum gue ketemu sama lo!" sungutnya yang berhasil membuat Theo menegakkan badan lagi. Namun laki-laki itu beralih menarik sebelah sudut bibir.
"Lo ngapain sih berdiri di depan toilet cewe, huh?! Ngintip lo! Ck, dasar mesum," ucap Elisa seraya memandang tajam laki-laki yang masih berdiri di depan.
"Engga kok. Gue cuma mengawasi tuan putri gue aja."
Gadis itu menutup matanya beberapa detik, menarik napas lalu menghempaskannya bulat-bulat bermaksud menetralkan rasa geram yang selalu melanda ketika bertemu dengan oknum menyebalkan bernama Theo Wijaya.
"Aduh, udah deh, sekarang gue lagi males adu bacot sama lo. Gue takut kena darah tinggi gara-gara murka terus kalo deket-deket sama lo. Lo bisa gak sih kagak usah ganggu hidup gue. Mending lo—"
"Tuh 'kan bener. Dia selingkuh."
"Iya, ya. Kasian pacarnya, ditikung sama sahabat sendiri."
Baru saja ia hendak meluncurkan wejangan berupa kalimat sumpah serapah, harus terjeda, tatkala bisikan para siswa yang tak sengaja melihat dan melewati keduanya terdengar di gendang telinga Elisa.
Lagi-lagi gadis itu meloloskan hempasan napas berat, menatap tajam Theo yang sedang menautkan kedua alis.
"Ini semua gara-gara lo!" Gertaknya sembari mulai mengayunkan kaki meninggalkan Theo di tempat.
"Emang gue salah apa?" Kata Theo bermonolog. "Woy! Elisa!"
"ELISA!"
Elisa tak mendengar dan mengindahkan sahutan Theo yang terus memanggil namanya dari arah belakang. Gadis itu kian berjalan cepat menuju kelasnya, mencoba tak menghiraukan tatapan para siswa yang mungkin sudah mendengar berita miring tentangnya. Sial! Siapa yang menyebarkan berita bohong itu.
Tepat di depan kelasnya, gadis itu menghentikan langkah, melihat dua orang siswa laki-laki tengah menyudutkan seseorang di sudut tembok. Ia beralih berlari, menghampiri mereka yang secara langsung membangunkan nyalinya untuk menerjang siapapun yang berani melakukan tindakan bully.
Tanpa diberi aba-aba, tangannya bergerak menarik kerah seragam belakang kedua laki-laki itu, sampai mereka memundurkan kaki seiring tarikan dari Elisa.
"Lo berdua apain Atlanta lagi, huh?!"
__ADS_1
"Ampun! Lepasin dulu!"
Elisa melepaskan cengkeraman tangannya, menghempaskannya secara kasar.
"Jawab gue! Lo apain Atlanta!"
"Santai dong, kita gak apa-apain si bisu," ucap si jangkung—Lucas—sembari merapikan kerah seragamnya yang kusut karena ulah Elisa.
"Bohong."
"Elah, beneran. Kita gak ngapa-ngapain dia. Kita cuma minta bocoran PR Fisika doang." Lanjut yang satunya lagi. Benar, dia adalah Mark. Sahabat sejati sejiwa bak kembar siam seorang Lucas—si buaya darat terkenal seantero SMA Harapan yang hobinya kasih harapan palsu anak gadis orang.
Elisa beralih menatap Atlanta yang masih terdiam, meremat tali ransel yang menggantung bebas di samping badannya.
"Itu bener?"
Laki-laki itu mengangguk pelan. Selanjutnya ia membuka retsleting tas ransel, memberikan buku catatan Fisika pada Lucas, praktis membuat laki-laki tinggi tak terhingga itu tersenyum sangat lebar.
"Thanks, bro."
Setelahnya, Atlanta pergi melenggang masuk ke dalam kelas, ia sama sekali tak menghiraukan tatapan Elisa yang kebingungan dengan sikapnya yang masih acuh tak acuh. Gadis itu kembali menghempaskan napas, menyusul Atlanta yang sudah mendudukkan bokongnya di kursi. Mungkin laki-laki itu masih marah padanya, pikir Elisa.
Ia masih memperhatikan kegiatan Atlanta yang kala itu tengah membuka buku tebal berwarna hitam bergradasi merah yang sering laki-laki itu baca. Sampai Elisa duduk di sebelahnya pun Atlanta tak menyadarinya, atau bahkan lebih tak peduli.
Masih mengulum bibir, Elisa beralih mengambil lunch box dari dalam tas. Ya, gadis itu sengaja membuat nasi goreng buatannya, hasil kolaborasi bersama sang Mama untuk Atlanta, dengan harapan laki-laki itu mau memaafkannya. Tak hanya itu, ia pun menuliskan kalimat permintaan maaf di atas kertas kecil berwarna merah muda di atas tutup lunch box, lalu memberikannya pada Atlanta.
Beberapa saat laki-laki itu hanya menatap bingung lunch box yang digeser tepat di depannya. Atlanta membaca tulisan singkat namun padat yang Elisa tulis di sana, sebelum akhirnya ia mengambil lunch box dari Elisa, menyimpannya di kolong meja. Alhasil, gadis itu tersenyum tipis dengan balasan Atlanta akan niat baiknya.
Semoga kamu maafin aku, Ta. Aku pengen kita kaya dulu lagi.
.......
.......
.......
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, namun nampaknya laki-laki berparas tampan itu enggan pergi dari perpustakaan yang dikenal sebagai ruangan terhening dan ternyaman baginya. Setelah mengambil beberapa buku, dan mencatatnya di daftar peminjaman buku, laki-laki itu masih belum puas menghabiskan waktunya di perpustakaan. Ia beralih mendaratkan bokongnya di kursi lipat, mengeluarkan laptop dan mulai mengetik banyak referensi dari buku yang dipinjamnya.
"Hai, Jay."
Laki-laki itu menghentikan kegiatannya. Kedua bola mata yang tadinya tertuju ke layar laptop, kini menatap lurus ke depan, tanpa menolehkan pandangan ke sumber suara di sampingnya.
"Hmm ... selamat ya, buat kemenangan kamu di lomba olimpiade kemarin." Ia mengulurkan tangan, bermaksud mengajak Jay bersalaman.
"Makasih." Jawab laki-laki itu singkat, tanpa ada niatan membalas uluran tangan seorang gadis yang masih berdiri di sampingnya.
Seperti tak kehilangan akal, ia memilih menggeser kursi lipat yang menganggur, merapatkannya dengan kursi milik Jay. Lalu ia duduk di sana tanpa di perintah si laki-laki yang langsung terkejut akibat ulahnya.
"Ngapain sih deket-deket gue! Sana!" Tekannya tanpa mengeluarkan suara yang cukup tinggi.
"Aku kangen kamu Jay." Gadis itu memeluk lengan Jay tiba-tiba. Sampai laki-laki di sana kewalahan melepaskan pelukan erat yang diciptakan gadis itu, yang tidak lain adalah mantannya sendiri.
"Nadin! Lo gila!"
"Engga, aku gak gila. Aku cuma kangen kamu, Jay."
"Lo gak inget gue udah punya pacar, huh!" Sahutnya sembari mencoba menjauhkan diri dari gadis tak tahu diri seperti Nadin.
"Aku inget kok, Jay." Ia kembali menyenderkan kepalanya di ceruk leher Jay. Tak ayal membuat laki-laki itu semakin terusik dengan Nadin.
"Kalo lo inget, jangan pernah coba deket-deket sama gue lagi. Dan jangan harap gue mau sama cewe kaya lo, apalagi balikan sama lo."
"Tapi aku masih sayang sama kamu Jay," ujarnya disertai nada halus yang dibuat-buat.
Ya Tuhan, kuatkan hati Jay agar ia tak segera melempar Nadin.
"Ck. Dengan lo kaya gini, gue makin ogah sama lo. Selain tukang selingkuh, ternyata lo gak tau diri juga ya, murahan," ucap Jay sarkas.
Nadin segera menyunggingkan sebelah bibir, melepaskan pelukannya di lengan Jay. Ia beralih merogoh ponsel miliknya, mencari sesuatu di gallery ponsel itu.
"Kamu pikir pacar kamu itu setia juga?"
Jay mendengus mendengarnya. "Ya iyalah! Elisa itu beda sama lo. Gue udah kenal sama dia dari kecil. Gak mungkin dia punya hati busuk kaya lo."
"Tapi kamu salah, Jay. Pacar kamu gak sebaik apa yang kamu kira."
__ADS_1
"Gak usah banyak bacot. Lo ke sini mau apa, huh?!"
"Aku cuma mau kasih liat kamu foto ini." Nadin menyodorkan ponselnya pada Jay. Mau tak mau, meski dia sangat malas dengan bumbu basa-basi Nadin, laki-laki itu tetap mengambil ponsel milik Nadin.
Detik selanjutnya, Jay membelalakan bola mata. Apakah dia salah lihat? Sebuah fenomena tak biasa tersaji di layar benda pipih yang di genggamannya.
Di sana, dia melihat, Elisa bersama Theo tengah mengobrol berdua di kantin. Di mana Theo mengulurkan sebotol minum pada Elisa. Mereka kelihatan begitu dekat. Bukan hanya itu saja, foto selanjutnya yang tak kalah membuatnya menggeram adalah, ketika keduanya berboncengan, pulang sekolah bersama.
"Kamu masih mau bilang kalo pacar kamu jauh lebih baik dari pada aku?" Nadin tersenyum puas setelah melihat raut wajah kesal Jay.
Theo anjing! Lo sebenernya punya rencana apa, sialan!
Jay mengepalkan tangan, rahangnya mengatup. Saat itu juga Jay memilih membereskan semua buku dan laptop yang sempat ia gunakan. Bergegas pergi dari perpustakaan.
"Huh, perang besar akan segera dimulai." Monolog gadis itu, sunggingan masih tercetak di bibirnya.
Dengan langkah cepat dan lebar, Jay berjalan menuju parkiran belakang sekolah. Berharap Theo belum meninggalkan area sekolah. Dengan napas yang menggebu-gebu, tak pernah sedetikpun ia lengah mencari keberadaan sosok laki-laki berwajah tegas itu.
"Gotcha! Gue gak bakal biarin lo lolos." Ia berjalan sedikit berlari ketika iris matanya menangkap sosok Theo yang hendak memakai helm.
"Woy!"
Theo menoleh, menghentikan kegiatannya. Ia tersenyum seperti biasa namun tak menyadari raut wajah marah Jay.
"Eh, Jay. Lo belum—"
Bugh
Jay menerjang tubuh Theo secara tiba-tiba. Laki-laki itu menindih Theo yang masih bertanya-tanya dengan tindakannya.
"Maksud lo apa deketin Elisa, huh?! Lo sengaja jebak dia biar masuk kesepatakan kita?!"
"Lo ngomong apa sih, Jay," ucap Theo pelan. Jay segera merangsek seragam Theo.
"Gak usah pura-pura bego, anjing! Gue tau lo pulang bareng sama Elisa 'kan?!"
Theo tersenyum miring. Ah, mungkin yang dimaksud Jay adalah tentang dia yang pergi mengantar Elisa ke rumah sakit waktu itu.
"Kalo iya emang kenapa?"
Mendengar penuturan Theo, Jay semakin mencengkeramnya kuat-kuat. Rahangnya semakin mengeras, menatap tajam orang di bawah.
"SIALAN! UDAH GUE BILANG JANGAN DEKETIN ELISA!"
Bugh
Theo hanya menarik bibir, pasrah terkapar saat Jay memberi bogeman di pipinya.
Bugh
"JAY! STOP!" Entah sejak kapan Elisa sudah berdiri di tengah-tengah keduanya. Gadis itu segera menahan tangan Jay yang hendak memukul Theo lagi.
"Lepas, El! Dia harus dikasih pelajaran!"
"Jay! Kamu jangan kaya gini." Elisa berupaya sekuat tenaga menyingkirkan Jay yang masih menindih Theo.
"Jay! Plis, jangan kaya gini! Aku gak suka! Jangan bikin aku takut, Jay."
Kepalan tangan Jay meluluh tatkala mendengar ucapan Elisa yang cukup lirih. Ingatannya tentang gadis kecil yang ketakutan ketika melihat perkelahian tergambar jelas dalam pikirannya.
Jay beralih beranjak, menangkup pipi Elisa, melihat obsidian bening yang sudah berkaca-kaca milik gadis di depannya. Laki-laki itu menetralkan napasnya yang sempat memburu.
"Maafin aku, ya. Aku gak bermaksud bikin kamu takut."
Tentu hal itu menjadi kesempatan emas bagi Theo untuk segera bangkit. Ia memegangi tulang pipinya yang terasa nyeri.
"Elisa. Mending lo jelasin deh sama pacar lo, kenapa kita pulang bareng waktu itu," ujarnya sesekali meringis.
Elisa kembali menengadahkan kepala menatap Jay. "Iya Jay. Kamu cuma salah paham gara-gara gosip mereka. Waktu itu Theo cuma bantu aku buat pergi ke rumah sakit."
"Kamu sakit?"
Gadis itu menggelengkan kepala. "Engga, Jay. Aku cuma kecapean aja. Makanya kamu jangan marah-marah dulu sebelum tau faktanya."
"Puas lo?!" Sahut Theo yang sudah melipat tangan di depan. "Harusnya lo berterimakasih sama gue. Kalo bukan karena gue, gimana nasib pacar lo waktu itu."
__ADS_1
Entah, laki-laki itu merasa ucapan Theo tidak sepenuhnya benar. Memangnya dia sudah berapa lama mengenal Theo? Jelas Jay sangat paham dengan gelagat temannya itu meski dia menutupi semuanya dengan sangat baik.
Tapi gue gak bakal percaya sepenuhnya sama lo. Gue tau, di balik ini semua, lo punya rencana.