Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
35. Dad, I'm your son


__ADS_3

Pagi itu, Atlanta masih berdiri mematung, memperhatikan pantulan dirinya sendiri di cermin, menatap wajah babak belurnya akibat serangan dari Jay tadi malam. Ia menghela napas rendah, mengambil tas ransel, dan segera keluar dari dalam kamar sembari memegangi perutnya yang masih terasa nyeri.


Sewaktu kakinya itu menuruni anak tangga, dia semakin memelankan langkahnya hanya demi melihat orang-orang yang tengah menyantap menu sarapan. Alih-alih memandang lebih lama keluarganya, Atlanta memilih menundukkan pandangan, segera pergi ke dapur, seolah dia tidak melihat siapapun. Lagipula, siapa yang peduli?


"Ata? Kamu mau sekolah?" Bi Mirna sedikit terkejut ketika melihat Atlanta sudah rapi dengan seragamnya. Laki-laki itu mengangguk pelan, mendudukkan diri di kursi.


"Tapi kamu keliatan kurang sehat, Ata," ujarnya terdengar khawatir. Wanita itu mendekati Atlanta, menempelkan punggung tangannya di kening laki-laki itu.


Ia kembali mengambil semangkuk bubur yang sengaja dibuat memang untuk Atlanta. Menyimpannya di meja marmer, lalu duduk bergabung dengan anak itu.


"Makan dulu."


Atlanta mengangguk, menatap semangkuk bubur di depannya. Tak ingin membuat Bi Mirna kecewa, meski rasanya sakit ketika mulutnya bergerak, Atlanta tetap menyendokkan satu suap.


"Terima kasih, Bi. Udah obati Ata."


Terdengar suara ******* napas dari Bi Mirna, wanita itu semakin menatap lamat-lamat wajah pucat Atlanta.


"Sebenarnya, kamu ada masalah apa sama Jay?" tanyanya penasaran. Wanita itu yakin ada sesuatu di antara Jay dan Atlanta, mengingat mereka hampir tidak pernah bertengkar, apalagi sampai saling menyakiti.


Atlanta tidak langsung menjawab, ia sendiri bingung dengan semuanya, ucapan Jay masih terngiang dengan jelas di gendang telinganya. Bukan itu saja, kata-kata kasar Jay tadi malam mampu membuat hatinya terluka, apa benar dia adalah benalu di keluarga ini?


"Bi, apa Ata emang gak pantas buat bahagia?"


Bi Mirna tertegun, tak perlu banyak waktu untuk ia mengerti apa yang dimaksud Atlanta. Wanita itu segera menggelengkan kepala, meraih tangan Atlanta yang menganggur di atas meja.


"Siapa yang bilang begitu, hm?" ujarnya disertai senyuman tipis, sembari mengelus permukaan punggung tangan Atlanta yang terasa sedikit dingin.


Laki-laki itu terdiam, enggan menjawab pertanyaan Bi Mirna, dia yakin wanita yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri mengerti apa yang dimaksudnya. Ia memilih menatap penuh harap Bi Mirna, seolah wanita itu adalah satu-satunya penopang hidupnya selama 18 tahun, seolah jika wanita itu tak ada dia tak akan pernah mampu bertahan sejauh ini.


"Ata, dengerin Bibi, ya. Ata berhak bahagia, sangat berhak. Setiap makhluk yang bernapas di muka bumi, berhak mendapatkan kebahagiaan, termasuk kamu. Mungkin banyak orang yang tertutup mata hatinya, tapi Tuhan selalu memberi kebahagiaan dengan berbagai cara, meski nantinya kamu harus jatuh bangun untuk mengambil kebahagiaan itu, jika memang kebahagiaan itu milik kamu, dia akan selalu jadi milik kamu, sampai kapanpun, Nak."


Atlanta mencerna ucapan Bi Mirna kala itu, menyaring hal positif yang mungkin akan menjadi pasokan energi untuknya menjalani kehidupan yang tak sesuai keinginan. Namun, sangat sulit rasanya menerima semua beban itu sendirian, kadang dia berfikir, kenapa Tuhan memberi cobaan seberat itu, apa Tuhan tidak sayang dengan manusia seperti dirinya?

__ADS_1


"Tapi Ata aib keluarga, Bi. Kenapa Bunda gak gugurin Ata aja waktu itu."


Wanita itu kembali menghela napas sebelum menjawab, "Bukan, Ata bukan aib. Ata itu anugerah buat keluarga ini, sifat baik dan ketulusan hati kamu, adalah hal yang sangat istimewa di sini. Kalo kamu berfikir kenapa dulu Bunda gak gugurin kamu, itu berarti Bunda sayang sama kamu, Bunda mau kamu melihat betapa indahnya dunia jika dijalani dengan penuh rasa syukur." Ia menjeda ucapannya, menatap manik mata Atlanta yang sudah berkaca-kaca.


"Ata, satu hal yang perlu kamu tau. Hidup itu pasti ada kalanya gak sesuai sama harapan. Ada fase di mana manusia ada di atas, dan di bawah. Seperti air laut, ada fase pasang, dan surut. Kamu ngerti maksud Bibi?" Anak itu mengangguk.


"Walaupun sekarang kamu sedang di masa-masa sulit, tapi kamu harus yakin, suatu saat rasa sakit, perih, kecewa yang kamu rasakan akan berbuah manis. Tuhan tidak tidur, Atlanta. Tuhan akan memberi sesuatu yang jauh lebih indah di depan sana, asalkan kamu mau bersabar, menunggu sampai waktu yang sudah Tuhan siapkan. Percaya sama Bibi, kamu sudah sejauh ini pun berkat Tuhan yang kasih kamu kekuatan."


Kali ini Atlanta menelan bulat-bulat ucapan Bi Mirna, sebelum akhirnya menyuapkan kembali bubur yang hampir tak mengeluarkan uap seperti tadi. Di sisi lain, Bi Mirna masih memperhatikan laki-laki yang sedang kesusahan membuka mulutnya karena sudut bibir yang kebiru-biruan, pikirannya masih berpetualang, mencoba menelaah lebih jauh anak di sampingnya.


Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia katakan, seperti, bagaimana hari-harinya di sekolah, bagaimana pekerjaannya di restoran, dan lain sebagainya, hanya demi memuaskan rasa khawatir yang selalu membelenggu batinnya sendiri. Namun, pada akhirnya wanita itu hanya mampu terdiam. Dengan hanya melihat raut wajah lelah Atlanta, sudah berhasil meyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu jelas tidak baik-baik saja.


Bi Mirna beranjak, ia mengambil lunch box dari lemari tempat penyimpanan makanan, dan kembali mendekati Atlanta, lalu berkata, "Ini, Bibi sengaja buatkan makan siang buat kamu. Jangan lupa dimakan."


Atlanta tersenyum lembut. Setelah menghabiskan sarapan, ia mengambil lunch box  itu, menyimpannya ke dalam tas.


"Terima kasih, Bi. Ata berangkat dulu, ya."


"Hati-hati, Nak," ucap Bi Mirna ketika Atlanta berbalik badan, pergi menjauh dari dapur.


Belum sempat ia mengambil sepeda yang tersandar di pojok tembok, telinganya mendengar suara mobil yang terus menerus dinyalakan, namun lagi lagi kendaraan itu mati untuk kesekian kalinya. Ia berjalan mendekati Ayahnya yang sedang berusaha memperbaiki mesin mobil.


"Jay! Bantu Ayah benerin mobil dulu sini," sahut pria itu ketika melihat Jay sedikit berlari ke luar rumah.


"Gak dulu, Yah. Jay lagi buru-buru." Laki-laki itu memilih menaiki motor sport miliknya yang sudah terparkir di depan pagar, memakai helm kemudian tancap gas.


Alhasil, Rudi hanya mampu menghela napas pendek, menggulung lengan kemeja biru tuanya, kembali berkutat dengan mesin mobil yang dia sendiri tidak tahu harus diapakan.


Dengan penuh keberanian, Atlanta mencoba menghampiri Ayahnya, berniat membantu memperbaiki mesin mobil. Ia semakin mendekat, dan pria itu tersadar, sekilas melirik Atlanta. Laki-laki itu segera mengeluarkan memo kecil, menulis sesuatu di sana.


Ia menyodorkan kertas putih yang sudah dihiasi tulisan tangan rapi Atlanta. Mau tidak mau Rudi menghempaskan napas kasar, membaca satu kalimat di sana.


"Ata mau bantu Ayah perbaiki mobil."

__ADS_1


Pria itu menatap Atlanta datar sebelum menjawab, "Gak usah. Nanti mobil saya tambah rusak kalo kamu yang otak-atik."


Rudi kembali memfokuskan diri dengan kabel itu, berfikir keras dengan benda-benda yang sangat asing baginya. Puluhan kali pun ia memutar otak, tetap saja tidak menemukan titik terang untuk menyelamatkan waktunya yang semakin menipis.


Melihat kegelisahan sang Ayah yang sepertinya ingin segera pergi ke kantor, Atlanta mengambil inisiatif mengambil alih pekerjaan Rudi kala itu. Kedua tangannya terulur memegang kendali mesin itu.


"Eh, kamu mau ngapain?" sahut Rudi yang sedikit terkejut dengan kehadiran Atlanta. Anak itu hanya tersenyum melirik ke arahnya. Praktis membuat pria di sana terpaku, terdiam mematung hanya karena melihat lengkungan manis Atlanta.


Kali ini yang dia lakukan hanya memperhatikan kegiatan Atlanta yang tengah memperbaiki mobilnya. Sejak melihat senyuman anak itu, Rudi merasa hatinya seperti diremat, ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang batinnya. Bayangan seseorang selalu berputar kala melihat senyuman anak itu, sesosok wanita yang selalu dia rindukan kehadirannya meski nyatanya tidak mungkin.


Tak sengaja, iris matanya menangkap luka memar di sudut bibir Atlanta. Ia mengerutkan kening untuk melihat lebih jelas luka itu. Apa yang membuatnya terluka? Ingin rasanya ia menanyakan hal sepele yang terlintas dalam pikirannya, namun keegoisan hatinya selalu berhasil mengubur semua hal yang ingin ia ungkapkan.


Atlanta menegakkan badannya, kembali menuliskan sesuatu di memo kecilnya.


"Ayah, coba nyalakan mobilnya."


Rudi berjalan ke arah kemudi, menyalahkan mobil itu. Tak berselang lama ketika dia menekan tombol start, ia tersenyum tipis, mobilnya kembali menyala.


"Sini kamu." Panggilnya. Laki-laki itu nurut, ia tersenyum lebar ketika berdiri di samping Rudi. Ah, dia bahkan amat sangat senang ketika Ayahnya ikut tersenyum padanya.


Rudi merogoh dompet di saku celana belakangnya, mengeluarkan beberapa lembar uang di dalam, lalu menyodorkannya pada Atlanta.


"Ini buat kamu," ucapnya mengundang kerutan kening anak laki-laki di depan.


"Ya ini, upah kamu. Karena kamu sudah perbaiki mobil saya."


Hatinya mencelos, Atlanta tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bukan, bukan keinginannya untuk mendapatkan sepeser uang dari sang Ayah. Dengan tulus hati Atlanta benar-benar hanya ingin membantu Ayahnya.


Melihat keterdiaman Atlanta yang hanya menatap uang yang dia sodorkan, lantas Rudi meraih tangan anak itu, memberikan lembaran uang berwarna merah yang mungkin tak seberapa baginya.


"Ini, terima aja. Kamu lagi butuh uang, 'kan? Makanya bantu saya."


Atlanta hanya memandang Rudi dengan tatapan yang sulit diartikan, tubuhnya mendadak kaku. Jika boleh memilih, lebih baik dia dipukul Jay puluhan kali. Karena jujur saja, ketika Rudi menganggapnya seperti orang lain, dan memilih memberi upah karena telah membantunya, itu jauh lebih menyakitkan bagi Atlanta. Laki-laki itu juga anaknya, ia tidak berharap lebih dari sang Ayah, terkecuali sebuah pengakuan, sebuah pengakuan bahwa dirinya juga darah daging pria itu. Tidak dibeda-bedakan. Apalagi dianggap seperti orang asing.

__ADS_1


__ADS_2