
"Atlanta, tunggu dulu. Dengerin aku."
Sejak bel pulang berbunyi, Elisa masih berusaha mengejar Atlanta yang langsung pergi tanpa berpamitan dengannya. Ah, apakah laki-laki itu marah padanya karena masalah kompetisi musik tadi. Ia mencoba menyesuaikan langkah kaki lebar yang diciptakan Atlanta meski rasanya sangat sulit, Atlanta tetap tak menghiraukan Elisa yang kala itu tergopoh mengekorinya menuju parkiran.
"Ih! Tunggu dulu. Aku mau ngomong sama kamu, jangan marah, please."
Elisa berdecak, nampaknya gadis itu tak mau menyerah begitu saja. Langsung saja ia menarik lengan Atlanta ketika laki-laki itu hendak meraih sepedanya.
"Atlanta! Kamu denger aku gak sih?!"
Lantas laki-laki itu berbalik badan, membuat Elisa seketika puas dengan usahanya yang tak sia-sia mengejar Atlanta.
"Denger dulu penjelasan aku."
"Maaf Elisa, tapi aku gak bisa."
Elisa menghempaskan napas bulat-bulat, ia sangat frustasi bagaimana menjelaskannya pada Atlanta. Tapi dia juga tidak mau egois dengan niatnya sejak awal untuk mengikuti kompetisi itu.
"Aku yakin kamu bisa, Atlanta. Semua orang harus tau sisi kamu yang lain. Kamu jangan kubur mimpi kamu begitu aja."
"Elisa, tapi aku gak mau ikut kompetisi itu hanya karena ingin pengakuan dari orang lain, bagaimanapun semuanya gak akan berubah."
Gadis itu mengacak rambutnya, terlihat guratan wajah frustasi di sana. Pun Atlanta yang beralih menaiki sepedanya.
"Oke! Kalo gitu, lakuin itu hanya karena kamu mau bantu aku."
"Bantu?"
"Iya, bantu aku biar aku berhenti jadi model, dan gak pergi ke London. Aku mau Papa bangga sama pilihan aku yang sekarang. Aku mau buktiin kalo aku punya mimpi."
Terdengar helaan napas dari Atlanta, sepertinya Atlanta sama-sama bingung dengan permintaan Elisa. Ada perasaan takut yang selalu menggerayangi batinnya ketika harus berurusan dengan yang namanya panggung pergelaran. Sejak dulu ia selalu memamerkan bakatnya pada diri sendiri, menyemangati diri sendiri dan lebih berdiam meluapkannya sendirian.
"Kamu gak mau bantu aku?" Cicitnya. Elisa menatap Atlanta nanar tatkala menyadari laki-laki itu hanya diam. Entah apa yang sedang orang di depannya itu tengah pikirkan.
"Bukan begitu, tapi—"
"Kamu beneran mau aku pergi, ya?" Elisa menundukkan kepala dan tersenyum getir. Atlanta segera menggelengkan kepala pelan menyangkal kalimat yang ke luar dari mulut Elisa.
Tidak, Elisa, aku engga mau kamu pergi.
"Aku gak pernah tau tujuan hidup aku itu apa, dan aku gak tau masa depan yang bakal aku hadapi seperti apa nanti. Selama ini, aku cuma nurut sama kemauan Papa, aku cuma bisa wujudin cita-cita Papa tanpa rasa senang atau puas di dalam diri aku."
"10 tahun bukan waktu yang sedikit buat aku untuk berusaha tersenyum di depan orang banyak meski hati aku terluka, dan sekuat tenaga aku coba buat keliatan baik-baik aja walaupun kenyataannya aku rapuh. Aku gak pernah hidup sebagai diri aku sendiri, aku cape, aku gak mau pake topeng lagi, itu rasanya sesak Ta"
Elisa menetralkan napasnya, lalu kembali berkata, "Tapi setelah aku tau musik dari kamu, aku merasa punya tujuan hidup. Seperti yang kamu bilang, musik itu gak pernah bohong, dia akan ikut hanyut dalam keadaan hati seseorang."
Kini Elisa mengangkat kepala, menampakkan bola matanya yang berkaca-kaca.
"Aku cuma mau seperti itu, menjadi diri aku sendiri seutuhnya."
Butuh waktu beberapa saat untuk Atlanta mencerna ucapan Elisa. Dalam pikirannya ia benar-benar berpikir keras untuk menentukan langkah apa yang seharusnya dia ambil, dan ia harap keputusannya adalah sesuatu yang baik.
Tangan kanan laki-laki itu bergerak, menyentuh pundak Elisa, ia tersenyum lembut.
"Aku mau bantu kamu, ikut kompetisi itu."
Detik selanjutnya Elisa membulatkan mata sempurna, dengan gerakan cepat ia menggenggam sebelah tangan Atlanta dengan tatapan senang.
"Serius?! Kamu mau?"
Atlanta mengangguk mantap. Ia bertekad untuk melakukan yang terbaik untuk Elisa. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu.
"Aku akan berusaha semampu aku, untuk kamu."
Elisa mengulum senyum, namun nampaknya pipi merona Elisa tak mampu berbohong akan isi hati berdebar yang tengah gadis itu rasakan.
"Kapan Kakak kamu datang menjemput?"
Diam. Gadis itu hanya menatap penuh arti pada Atlanta, ia hanya memandangi obsidian bening milik laki-laki di depannya, bahkan gadis itu tampak tak merespon gerakan tangan Atlanta, lebih tepatnya Elisa melamun.
Melihatnya, Atlanta menepuk pundak Elisa sampai gadis itu terkesiap. Mengerjapkan matanya dua kali.
"T—tadi kamu ngomong apa?"
Atlanta kembali menggerakkan tangannya setelah merespon Elisa dengan sebuah senyuman tipis.
"Kapan Kakak kamu datang menjemput?"
"Maksud kamu Bang Joni?"
Laki-laki itu mengangguk. Tepat setelahnya sebuah panggilan telpon berdering di ponsel Elisa. Ia segera merogoh benda pipih itu, merotasikan bola mata ketika ia tahu bahwa Joni yang menelponnya. Dengan sekali hempasan napas, Elisa menggeser tombol merah, ia mematikan panggilan telpon sepihak.
__ADS_1
Ia menoleh pada Atlanta. "Kamu mau kerja, ya?"
"Tidak. Aku mau ke suatu tempat dulu, baru pergi bekerja."
"Ke mana?"
Atlanta sedikit berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari Elisa sampai gadis itu menarik alis ke atas menunggu jawaban darinya.
"Ke mana, Ta?"
"Aku mau bertemu Bunda dulu."
"Bunda kamu?"
Laki-laki kembali mengangguk, pun Elisa yang langsung melebarkan irisnya semangat.
"Aku ikut! Kamu 'kan udah janji mau bawa aku ketemu sama Bunda kamu," ucapnya.
"Tapi kamu harus izin dulu sama Kakak kamu."
Elisa mengibaskan tangan di udara, lalu berkata, "Gampang itu mah. Ayo!"
Persekian detik kini gadis itu sudah berada di belakang Atlanta, menaiki pijakan di antara ban sepeda Atlanta sembari memegangi pundak laki-laki di depannya.
Atlanta mulai mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang, ke luar dari gerbang sekolah menuju tempat tujuannya yang tak jauh dari sekolah. Seorang gadis yang tengah menghirup udara dalam-dalam, menikmati angin sore yang menurutnya sangat sejuk hari itu, semakin tak sabar untuk bertemu Bunda dari Atlanta.
Tepat setelah di depan makam, Atlanta menepikan sepedanya, menyenderkannya di tembok pembatas. Sontak Elisa yang turun dari sepeda Atlanta mengerutkan kening ketika melihat laki-laki itu tersenyum ke arah makam dengan banyak arti. Ia semakin bingung kenapa Atlanta membawanya ke sebuah makam, bukannya tadi laki-laki itu bilang akan mengajaknya bertemu sang Bunda?
Elisa mencekal lengan Atlanta tatkala laki-laki itu hendak memasuki pintu masuk makam.
"Atlanta? Kenapa ke sini? Bukannya kita mau ketemu Bunda kamu?" ujarnya dengan pandangan masih menelanjangi area pemakaman.
"Kamu ikut saja. Nanti kamu tau sendiri."
Meski banyak pertanyaan yang menghantui isi kepala Elisa, gadis itu tetap mengekori Atlanta dari belakang, sesekali ia melirik takut ke deretan makam yang berjajar, apalagi suara kicau burung dan suasana sepi mampu membuat bulu kuduknya berdiri tegak.
Setelah beberapa saat berjalan kaki, Atlanta menghentikan langkahnya, praktis Elisa yang berdiri di belakangnya ikut terhenti. Mendongak ke arah Atlanta yang sudah melebarkan senyum. Detik selanjutnya Atlanta berjongkok di depan sebuah makam, mengeluarkan sebuah bunga mawar putih dari dalam tas, menyimpannya di depan pusara.
Elisa yang melihat kegiatan laki-laki itu melangkahkan kaki, dan ikut berjongkok di samping Atlanta.
"Ini siapa, Ta?" tanyanya dengan sangat hati-hati.
Atlanta menoleh, menatap obsidian Elisa.
Raut wajah terkejut tercipta begitu saja, Elisa benar-benar tak tahu harus berkata apa. Jadi Bunda Atlanta sudah meninggal? Entah kenapa hatinya sangat sakit mengetahui hal itu.
"Apa ada yang mau kamu sampaikan sama Bunda?"
Elisa termangu, beberapa saat ia hanya diam memandangi Atlanta sebelum akhirnya mengangguk seraya memberikan tatapan teduh.
Gadis itu menolehkan pandangan ke makam di depannya.
"Assalamualaikum, Bunda, aku Elisa temen anak Bunda. Elisa gak tau harus bilang apa sama Bunda, tapi Elisa cuma mau bilang terima kasih sudah melahirkan anak sebaik Atlanta. Dia sumber kebahagiaan Elisa, Bunda. Elisa gak tau kalo gak ketemu sama Atlanta, apakah Elisa masih bisa tersenyum dan tertawa?" Ada jeda, Elisa menarik napasnya, menatap nisan.
"Bunda jangan khawatir, Elisa bakal jagain Atlanta, Elisa bakal jadi orang nomor satu yang siap bantu Atlanta. Karena Elisa sayang sama anak Bunda."
Lantas Atlanta menoleh cepat ke arah Elisa, hatinya langsung berdebar mendengar ucapan gadis itu. Sebuah lengkungan indah kembali tergambar di bibir Atlanta.
Gadis itu mengangkat tangan, memejamkan matanya, berdo'a. Pun Atlanta yang beralih mendo'akan sang Bunda. Tak lama keduanya kembali mengangkat kepala, saling menatap satu sama lain dengan senyuman tipis.
"Aku yakin, Bunda kamu di surga pasti bangga punya anak seperti kamu."
Atlanta mengangguk, laki-laki itu meraih tangan Elisa, mengajak gadis itu untuk pergi dengannya lagi. Tidak, mereka tak langsung pulang, melainkan Atlanta yang membawa Elisa ke sebuah sungai yang jaraknya bisa di bilang sangat dekat dengan makam.
Di sinilah sekarang, di bibir sungai mereka duduk selonjoran, aliran air yang tenang yang di bawa angin lantas tak urung membuat keduanya ingin lebih berlama-lama di sana.
Melihat Atlanta yang masih fokus menulis di sebuah kertas warna berhasil mengalihkan atensi Elisa.
"Kamu nulis apa?"
Atlanta hanya meresponnya dengan sebuah senyuman manis, selanjutnya laki-laki itu melipat kertas warna tadi menjadi origami berbentuk perahu, dan melayarkannya di air sungai. Tentu Elisa sempat bertanya-tanya dengan kegiatan Atlanta yang selalu membuatnya terkejut.
"Kamu ngapain bikin perahu kertas?"
Atlanta menoleh ke belakang.
"Perahu itu isinya semua harapan aku."
Elisa menautkan kening. "Kenapa kamu lakuin itu?" tanyanya ketika Atlanta kembali duduk di sampingnya.
"Katanya kalau kita tulis harapan di perahu kertas, semua harapan kita bakal jadi nyata. Semuanya akan mengalir seperti air yang membawa perahu itu."
__ADS_1
Elisa sedikit terkekeh. "Tapi itu 'kan cuma mitos."
Atlanta mengedikkan bahu, menghempaskan napasnya pelan.
"Entahlah. Aku juga tidak yakin, tapi aku selalu senang melakukan ini sejak dulu ketika aku merindukan Bunda. Berharap Bunda baca surat dari aku di sana."
Gadis itu mengerjapkan matanya, ia mulai mengerti sekarang, ia beralih mengambil kertas warna yang tergeletak di atas rumput bersama pulpen bekas Atlanta tadi, Elisa menulis sesuatu di sana. Setelah itu ia melipat kertas sama seperti apa yang dilakukan Atlanta, membuat perahu dan mengalirkannya ke sungai.
Atlanta dan Elisa sama-sama terhanyut dalam sapuan angin yang membawa perahu kertas keduanya menjauh ke tengah-tengah sungai, membawa harapan dan isi hati mereka bersamanya. Elisa memejamkan matanya, merasakan atmosfer, lalu tersenyum, entah, tiba-tiba hatinya merasakan sesuatu yang berbeda.
.......
.......
.......
Langit yang sudah berubah warna menjadi hitam pekat itu seolah mengisyaratkan Elisa untuk segera pulang ke rumah. Setelah menghabiskan waktu di toko buku sejak sore setelah mengunjungi makam Bunda Atlanta.
Lantas seorang siswi yang masih lengkap bersetelan seragam sekolah itu memasuki rumahnya dengan mimik wajah yang nampak biasa saja, tak ada rasa penyesalan sama sekali dalam dirinya setelah membuat semua anggota keluarganya khawatir dengan si anak bungsu itu yang tak kunjung memberi kabar.
"Elisa pulang," ucapnya begitu sampai di dalam rumah.
Joni dan Vina yang kala itu ada di ruang keluarga sontak menoleh ke sumber suara, menjadikan Elisa sebagai sosok yang tampak enak di pandang oleh sorot mata gelisah keduanya.
"Dari mana aja kamu? Masih inget rumah, hm? Ini jam berapa?" Kata Joni dengan nada dingin. Laki-laki itu menatap datar adiknya yang masih berdiri tak jauh dari jangkauannya.
"Elisa abis dari toko buku."
"Dari toko buku sampe keluyuran? Kamu lupa hari ini kamu ada jadwal pemotretan? Jangan-jangan kamu sengaja matiin HP biar Abang gak bisa hubungi kamu, huh?"
Elisa mendengus, merotasikan bola mata malas. Syukurlah Joni sangat peka, jadi ia tak harus susah payah menjelaskan alasannya.
"Kamu mau Abang kena marah Papa, huh?!"
"Bang, udah, nanti biar Elisa yang jelasin," ucap Vina ketika telinganya mendengar nada bicara Joni yang meninggi. "Elisa, sini duduk sayang." Imbuhnya.
Mau tak mau Elisa kembali melangkahkan kaki, mendudukkan bokongnya di sofa seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tak berkontak mata dengan Joni maupun Vina.
"Elisa, kenapa kamu gak mau pemotretan sayang, hm? Kamu gak lupa 'kan?"
"Elisa gak lupa kok, Ma, Elisa inget, dan Elisa udah males pemotretan lagi." Jawabnya dan langsung mengundang urat leher Joni yang semakin menegang.
"Elisa! Kamu tau Abang juga udah cape ngurus masalah jadwal pemotretan kamu, belum lagi jadwal les piano kamu, jadwal kelas les kamu, jadwal sekolah kamu yang kadang-kadang bentrok, huh? Kamu ngerti gak posisi Abang?! Selain ngurus kamu, Abang juga pusing ngurus perusahaan. Dan sekarang kamu bersikap seenaknya, gitu?!"
Sontak Elisa menoleh ke arah Joni, menatap Kakaknya itu dengan sangat tajam.
"Ya udah kalo gitu Abang gak usah ngurusin Elisa lagi! Elisa juga gak mau terus-terusan diatur. Abang gak usah jadi sosok Papa waktu Papa gak di sini. Abang juga tau sendiri 'kan, gimana tertekannya Elisa waktu Papa maksa Elisa buat nurutin semua keinginan Papa?"
"Tapi Abang bisa apa Elisa? Papa udah kasih amanat sama Abang supaya jaga kamu."
Gadis itu berdecak, dan melipat tangannya. "Ngejaga bukan berarti sama-sama ikut ngatur kaya Papa. Sebenarnya Abang lebih suka liat Elisa depresi, kan!"
Joni semakin mengetatkan tulang rahang. "Kamu pikir segampang itu nentang Papa, huh?!"
"Oke! Kalo Abang gak bisa lawan Papa, biar Elisa sendiri yang lawan! Elisa udah gak peduli sekalipun Papa usir Elisa dari rumah!"
Vina yang semakin jengah dengan adu mulut kedua anaknya beralih duduk di samping Elisa, merangkul anak perempuannya.
"Sudah, kalian jangan bertengkar. Elisa, kamu jangan bicara seperti itu. Maksud Abang kamu itu baik, sayang. Abang juga udah berusaha supaya kamu gak kena marah Papa."
"Sekarang Mama lebih belain Abang sama Papa, iya? Emang selama ini Elisa pernah minta Abang buat jagain Elisa? Engga, 'kan? Ya jangan salahin Elisa dong kalo Abang sendiri yang bakal jadi tameng buat Elisa."
Vina menghela napas, memijat pelipisnya yang mulai berkedut. "Mama gak belain siapa-siapa, sayang. Tapi itu yang terbaik untuk saat ini."
"Huh, kayanya mati lebih baik."
"ELISA!"
"APA!" Gadis itu mendongak seperti menantang Joni yang kala itu mengepalkan tangan kuat-kuat. "Gini aja deh, Bang. Gimana kalo kita taruhan."
"Jangan bercanda, Elisa. Maksud kamu taruhan apa?" Tanya Joni yang sudah mengerutkan kening.
"Minggu depan Elisa mau ikut kompetisi musik. Dan hadiahnya 5 juta. Kalo Elisa menang dan bawa uang itu, Elisa bakal berhenti jadi model, dan Elisa gak mau diatur-atur lagi. Tapi kalo Elisa kalah, Elisa siap pindah ke London."
Sejenak Joni nampak berpikir. "Kamu aja baru belajar gak lebih dari dua minggu, Elisa. Tapi kamu berani ikut kompetisi musik?"
"Jadi Abang masih gak percaya sama Elisa? Abang gak yakin Elisa bisa ngelakuin itu?"
"Bang, gapapa, biarin Elisa ikutan kompetisi itu. Mama yakin adik kamu bakal berusaha keras."
Laki-laki itu memijat tengkuknya yang terasa kebas, apa yang akan ia katakan pada Pratama dengan taruhan yang Elisa inginkan. Lalu ia berkata, "Oke, tapi kamu harus tepatin janji kamu. Nanti Abang yang bicara sama Papa soal ini."
__ADS_1
Elisa tersenyum puas. Seolah seperti ada pecutan semangat yang tiba-tiba menyengat.
Ini demi kamu, Atlanta.