Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
52. Ignored


__ADS_3

Langkah kaki laki-laki itu semakin melebar tatkala menginjakkan kaki di sekolah. Tangannya beralih terkepal sangat kuat di samping badan, dan tatapan tajam masih menghiasi bola mata mirip boba miliknya. Setelahnya, sunggingan bibir tercipta di saat ia berada di lorong menuju gudang belakang sekolah.


Suasana sekolah yang nampak sepi menjadi kesempatan emasnya untuk memberi sedikit pelajaran pada mangsanya hari ini. Laki-laki itu mendorong pintu yang hampir rapuh di sana sampai terdengar gebrakan hasil benturan pintu dan tembok.


"Theo sialan! Lepasin gue!"


Seorang gadis yang tengah duduk di atas kursi dengan kedua tangan terikat di belakang menjadi fokus pertama laki-laki itu. Theo semakin mendekat ke arah gadis di sana yang tidak lain adalah Nadin.


"Lo berdua ke luar. Jaga di sana. Jangan sampe ada orang yang tau kita di sini," ujar Theo pada dua orang laki-laki suruhannya yang sejak tadi mengawasi Nadin di gudang, mereka mengangguk dengan ucapan Theo.


Ia beralih duduk di kursi, berhadapan langsung dengan gadis itu.


"Lepasin gue, anjing!"


"Ck. Enak banget lo ngomong kaya gitu setelah apa yang udah lo lakuin sama Elisa!"


Nadin membalas tatapan tajam yang Theo berikan padanya, bahkan napas gadis itu terlihat naik turun.


"Peduli apa lo sama cewe sialan itu, huh?!"


Theo menarik sebelah alis. "Lo bilang Elisa sialan?!"


Nadin mengangkat dagunya seperti menantang, di tambah seringaian tercipta di bibir gadis itu praktis membuat Theo berdecih.


"LO YANG SIALAN, ANJING! LO GAK PUNYA OTAK CEKOKKIN ELISA PAKE ALKOHOL LO ITU!" Jari telunjuk Theo mengacung tepat di depan wajah Nadin.


Meski gadis itu tahu Theo tengah disulut api amarah, nampaknya hal itu tak membuat nyalinya menciut begitu saja.


"Ya terserah gue lah! Mau gue cekokkin dia kek, mau gue hajar dia sekalipun, itu bukan urusan lo."


"Oh ... jadi lo udah berani sama gue!"


Nadin merotasikan bola mata, tatapan menusuk masih tergambar di sana.


"GUE GAK MAU DIA REBUT JAY DARI GUE, SIALAN! JAY CUMA PUNYA GUE! BUKAN ELISA!" Lantangnya dengan napas yang menggebu. "Kalo perlu, gue bisa bunuh cewe itu, anjing!"


PLAK!


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Nadin sampai gadis itu menoleh ke arah samping akibat gesekan telapak tangan besar Theo di pipinya dengan sangat kuat, dan bekas kemerahan kentara di sana.


"Jaga ucapan lo! Sebelum lo bunuh Elisa, gue yang bakal habisin lo lebih dulu!" Ia menggertakkan gigi, membiarkan dadanya yang berpacu cepat semakin memuncak.


Nadin menoleh seketika, dengan raut wajah yang sudah kacau, rambut berantakan, bekas tamparan di pipi, rupanya ia masih bisa menyunggingkan sebelah bibir.


"Asal lo tau. Gue gak takut sama ancaman lo!"


Laki-laki itu beranjak dari duduk, menarik dagu Nadin untuk menengadah menatap bola mata memerah miliknya. "Gue harap lo sadar sama omong kosong lo itu, cewe ******. Gue yakin, lo tau gue gak bakal main-main sama orang yang berani nyari masalah."


"Gue gak terima lo giniin gue, sialan! Gue bakal bongkar kelakuan busuk lo!" Gertak gadis itu.


Theo menghempaskan dagu Nadin sampai gadis itu kembali tertoleh. Ia beralih menjambak rambut Nadin secara paksa, suara rintihan kini terdengar dari mulut gadis itu, Theo mendekatkan mulutnya di sebelah telinga Nadin, kemudian berbisik, "Sebelum lo bongkar aib gue, gue bakal bikin lo menderita lebih dulu," ujarnya disertai seringaian.


"Ah ... Dan gue yakin, Bokap tajir lo itu, pasti bakal usir lo dari rumah kalo tau anaknya suka main gila sama om-om." Theo semakin mendekatkan wajahnya dengan Nadin, sampai kedua napas yang saling berderu itu saling menerpa satu sama lain.


Mendengar itu, Nadin semakin mengatupkan rahang.


"Gue bersyukur banget, Jay akhirnya ninggalin lo. Dan asal lo tau, gak ada cowo yang bakal mau sama cewe murahan, ******, kaya lo, kecuali om-om club yang cuma manfaatin kemurahan badan lo."


Seringaian kembali tercipta di bibir tipis seorang Theo Wijaya. Ia melepas jambakannya di rambut Nadin.

__ADS_1


"Lo gak punya bukti apa-apa, anjing!"


"Oh! Lo perlu bukti?" Theo segera merogoh ponsel miliknya di dalam saku celana, mencari sesuatu di gallery yang mungkin akan membuat Nadin tercengang.


"Lo liat!" Laki-laki itu memamerkan hasil jepretan di mana seorang gadis tengah bersama dua pria yang jauh lebih dewasa dengannya di sebuah club malam. Ya, siapa lagi jika bukan Nadin.


Melihat keterkejutan yang kini menghiasi wajah gadis di depannya, Theo terkikik beberapa saat. Memangnya siapa yang berani melawan laki-laki itu. Bahkan Nadin yang terkenal anak konglomerat kelas atas yang bisa menghalalkan segala cara tak mampu berkutik dengan semua bukti yang Theo dapatkan secara diam-diam.


"Haha ... lo kaget? Tegang banget mukanya. Santai ... Santai. Ini belum seberapa."


Jari telunjuk laki-laki itu kini mengarah ke arah sudut ruangan yang nampak tak terurus di sana.


"Lo liat itu." Dengan gerakan dada yang naik turun akibat rasa marah yang menyelimuti hatinya, Nadin mengikuti arah tunjuk tangan Theo.


"Lo liat CCTV itu, huh? Itu satu lagi bukti kalo lo sering ngerokok, bahkan sampe mabuk di gudang belakang sekolah sama temen-temen lo yang lain. Dan gue bisa sebar bukti itu di media sosial biar nama baik lo hancur."


Suara tawa kemenangan menghiasi gudang itu, Theo tak peduli dengan Nadin yang semakin murka dengan perlakukannya. Ia sangat puas melihat raut wajah menahan kesal itu.


"Sejak kapan lo pasang CCTV di sini, huh! SEJAK KAPAN!" Sentaknya.


Theo nampak sedikit berpikir. "Hmm ... Sejak pertama kali lo jadiin gudang ini markas lo."


"THEO ANJING!" Gadis itu memberontak, suara decitan kursi terdengar tatkala ia berusaha untuk bangkit namun hasilnya nihil.


"Lo pikir gue bego, huh?! Lo lupa gue siapa? Gue, Theo Wijaya."


Laki-laki itu kini mencondongkan badan, menyejajarkan dirinya dengan Nadin, lalu tangannya beralih menggapai pipi Nadin yang sempat ia tampar. Ia menepuknya berulang kali.


Masih dengan sunggingan sebelah bibirnya yang menyeramkan, ia berkata, "Lo paham maksud gue, huh? Sekali lagi lo bertingkah, kelar hidup lo."


Theo kembali menegakkan badan, tungkainya bergerak hendak meninggalkan Nadin di sana.


"Gue tau, lo sebenarnya suka sama Elisa." Mendengarnya, Theo menghentikan langkah kaki, kedua tangannya sontak mengepal.


"Gue punya penawaran khusus buat lo. Kita kerja sama buat pisahin Elisa sama Jay. Dengan begitu, kita berdua bisa sama-sama untung, lo dapet Elisa, gue dapetin Jay lagi."


Theo merotasikan bola mata, tanpa membalikkan badannya untuk melihat Nadin.


"Gue gak butuh siapapun buat dapetin apa yang gue mau."


Laki-laki itu kembali berjalan dengan langkah lebar, meninggalkan Nadin yang masih menatap punggungnya hilang ditelan pintu.


"Liat aja, nanti lo sendiri yang bakal bertekuk lutut di depan gue."


.......


.......


.......


Hari sudah beranjak malam, tapi laki-laki itu baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian penuh menjaga Elisa di rumah sakit. Ya, Atlanta benar-benar tak masuk sekolah, ia tidak peduli jika nanti di dalam rapor akan tercetak satu alfa, dan mungkin satu kali dalam sejarah hidupnya ia mendapat nilai minus dalam absen sekolah.


Masih dengan banyak pikiran berat menumpuk di dalam kepalanya, Atlanta tak berhenti memikirkan kondisi Elisa yang katanya semakin memburuk. Berulang kali ia membujuk Elisa untuk memberi tahu keluarganya, namun nampaknya gadis keras kepala itu tetap akan pendiriannya.


Atlanta menuntun sepeda memasuki garasi, lalu ia berjalan melewati lorong menuju dapur.


"Ata?" Suara perempuan berhasil membuat pandangan menunduk laki-laki itu terangkat.


Bi Mirna segera meraih tangan Atlanta, dan sedikit menyeretnya.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja, hm?"


"Ata baru pulang sekolah, Bi."


Bi Mirna menghempaskan napas. "Jangan bohong. Hari ini kamu gak masuk sekolah 'kan?"


Atlanta terdiam, bagaimana bisa Bi Mirna tahu? Laki-laki itu memilih memandang wanita di depan sembari memikirkan sebuah alasan.


"Tadi Bibi dapet telpon dari guru kamu, katanya kamu gak masuk sekolah. Bibi khawatir kamu kenapa-napa. Terus kenapa tadi Bibi SMS kamu gak balas?"


"Ata habis antar teman ke rumah sakit. Teman Ata lagi sakit, Bi. Tapi Ata udah bicara sama guru Ata kok, Bi."


Bi Mirna menepuk pundak Atlanta dua kali. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Nanti Bibi buatkan makan malam, ya."


"Oh! Jadi kamu bolos sekolah, iya?!"


Keduanya kompak menoleh ke sumber suara. Di sana, Hana sudah berkacak pinggang ditambah tatapan tak suka terpatri di wajahnya.


"Buat apa sekolah kalo kerjaannya bolos, bolos, bolos. Gak guna!" Sahutnya lantang.


"Bu, tapi Ata gak masuk sekolah bukan tanpa alasan. Dia bantu temannya."


Hana mengibaskan tangan di udara, menyangkal ucapan Bi Mirna yang membela Atlanta.


"Halah! Anak gak tau diuntung memang begitu kelakuannya. Sama aja kaya si Hani dulu, gak tau diri!"


Atlanta meremat celana abu-abunya ketika nama sang Bunda disebut dalam kalimat sarkas dari Hana.


"Sudah, Bu. Jangan bilang begitu sama Atlanta."


"Bi! Saya sudah bilang berapa kali, Bibi gak usah belain anak haram ini! Dia gak ada gunanya juga. Palingan itu cuma akal-akalan dia aja, nyari alesan bantu temen padahal aslinya keluyuran gak jelas!"


"Ini ada apa sih ribut-ribut." Sontak Hana menoleh, menampakkan Rudi yang ternyata menghampirinya ke dapur. "Kamu juga, Hana. Ini udah malem, berisik. Gak cape marah-marah terus?"


Wanita itu merotasikan bola mata, lalu melipat tangan. "Tuh! Anak kamu. Udah mulai berani bolos sekolah. Gak tau diri banget!"


Rudi beralih menolehkan pandangan ke arah Atlanta, lantas pria itu menghempaskan napas.


"Biarin aja. Lagian siapa yang peduli dia mau sekolah atau engga. Itu bukan urusan kita." Pria itu segera berbalik badan setelah mengatakan kalimat yang mampu membuat hati Atlanta perih. Pun Hana yang ikut menyusul suaminya seolah setuju dengan ucapan Rudi.


Ya, memang benar apa yang dikatakan Rudi. Memangnya siapa yang peduli? Dan jika dipikir-pikir, pria itu memang seharusnya tidak peduli, karena selama Atlanta hidup ia bahkan tak pernah sekalipun peduli dengan Atlanta. Jadi Atlanta tak seharusnya berharap kalau Rudi akan peduli dengan hidupnya yang akan seperti apa.


"Sudah, jangan dipikirkan."


Atlanta tersenyum ke arah Bi Mirna. Seolah berkata dia baik-baik saja. Meski dalam hatinya ia tengah mati-matian menahan rasa sakit.


"Ata ke kamar dulu, Bi."


Bi Mirna hanya mengangguk, menatap Atlanta yang kian menjauh dari pandangannya.


"Heh, bisu!"


Baru saja ia memegang knop pintu, tiba-tiba Jay datang dan menyeret lengannya, menyudutkan Atlanta di tembok.


"Gimana keadaan Elisa, huh?"


Atlanta mengganggukkan kepala pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Jay.


"Gue ingetin sama lo, ya. Lo gak usah so jadi pahlawan kesiangan! Gue tau, lo cuma mau nyari muka doang di depan Elisa, 'kan?!"

__ADS_1


Laki-laki itu hanya menautkan kedua alis, menatap Jay yang sudah mengacungkan jari telunjuk di depannya.


"Gak usah cari perhatian sama Elisa. Karena sampe kapanpun, Elisa cuma punya gue. Ngerti lo!"


__ADS_2