Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
53. Bullying


__ADS_3

Pagi itu, Elisa sudah siap dengan seragam sekolah melekat di tubuhnya. Ia menghela napas, menghempaskannya pelan, gadis itu melangkah keluar dari kamar, menghampiri keluarganya yang sudah duduk di ruang makan.


"El? Kamu mau masuk sekolah?" Tanya Vina tatkala anaknya mendaratkan bokong di kursi.


Elisa mengangguk mantap, tangannya beralih mengambil roti dan mengoleskan selai strawberry di atasnya.


"Iya Ma, Elisa mau sekolah. Masa mau absen lagi kaya kemaren." Jawabnya seraya tersenyum, menyuapkan roti ke dalam mulut.


"Mama masih khawatir, Nak. Kamu jangan masuk sekolah dulu, ya?"


Elisa menoleh ke arah Vina, masih dengan mulutnya yang penuh mengunyah roti.


"Elisa udah baik-baik aja. Mama jangan khawatir, Elisa juga udah minum obat dari Dokter kemarin kok."


"Iya, El. Jangan maksain masuk sekolah. Kamu baru pulang dari rumah sakit tadi malem. Dokter juga bilang kamu harus istirahat dulu di rumah beberapa hari." Itu Joni, laki-laki yang nampak sudah rapi dengan suit hitam itu menatap Elisa dengan mimik wajah cemas.


Elisa kembali menghempaskan napas, menatap satu per satu anggota keluarganya dengan senyum yang mengembang.


"Bang, Elisa udah sembuh kok. Ini ... Jangan pada khawatir gitu dong, seriusan Elisa beneran gapapa, suer!" ucapnya sambil mengacungkan jari membentuk huruf V.


"Lo sebenarnya sakit apa sih, El?" Sontak Elisa menoleh cepat ke arah Yunaka yang duduk di sampingnya.


"Bang, gue udah bilang berapa kali sih, gue gapapa. Gue gak sakit. Emang lo pernah liat gue sakit?"


"Kemaren?"


"Ih, itu karena gue kecapean aja." Elisa menatap sebal Yunaka. "Jadi manusia famous juga butuh banyak tenaga, Bang."


Tak!


Yunaka menjitak puncak kepala Elisa, sampai gadis itu meringis, bukan karena sakit, tapi memang kepalanya masih terasa sedikit pening kala itu.


"Sakit, Bang!"


"Makanya jangan bertingkah so terkenal."


"Emang gue terkenal! Lo liat aja di internet, search Elisa Hauratama, udah muncul muka gue di sana asal lo tau," ucapnya membanggakan diri.


Yunaka mengangguk terpaksa, sembari melahap habis roti di tangannya. "Iya, iya, mbak model terkenal seantero Indonesia."


Gadis itu beralih meneguk satu gelas susu, tapi ia tak menyadari bahwa Vina sejak tadi tengah memperhatikan gerak-geriknya. Dan baru saja gadis itu menyimpan kembali gelas, sebuah tangan lembut menyentuh permukaan punggung tangannya.


Elisa menoleh, memandang Vina yang tengah menatapnya sedemikian rupa, sehingga ia sadar akan kemungkinan hal yang akan diucapkan Vina padanya, Elisa menelan saliva bulat-bulat.


"Mama liat kamu kurusan, El. Ada apa? Kamu sembunyiin sesuatu dari Mama?"


Gadis di sana bungkam. Mulutnya terasa kelu, pun hatinya seperti tercabik dan menghasilkan rasa sakit. Tatapan Vina semakin membuat bola matanya memanas, ia berusaha menahan semua yang sebenarnya ingin dia katakan.


Elisa sakit, Ma.


"El? Jujur sama Mama. Ada apa, sayang?"


Hening, tak ada yang bersuara, hanya terdengar dentingan jam dinding yang terpasang di sana seolah menjadi satu-satunya sumber suara yang tertangkap oleh indra pendengar.


"Ma, Bang ... sebenarnya Elisa...."


Gadis itu menggantungkan ucapannya, Vina dan kedua anak laki-lakinya semakin menatap lamat si bungsu yang nampak berpikir dengan ucapannya.

__ADS_1


"Sebenarnya...."


"Kenapa?" Joni semakin melebarkan bola mata karena penasaran dengan sebuah ungkapan yang hendak keluar dari mulut sang adik.


Elisa menyenderkan punggungnya di kepala kursi, seketika raut wajahnya berubah sebal. "Sebenarnya Papa nyuruh Elisa buat pindah sekolah modelling ke London. Tapi Elisa gak mau, Ma ... Elisa harus gimana? Elisa udah betah tinggal di sini." ucapnya tanpa jeda.


Ketiganya beralih menghempaskan napas berat, pun Yunaka dengan entengnya menoyor kepala Elisa.


"Bego lu El! Gue kira apaan."


"Mama udah tau, sayang. Kemarin Papa kamu bilang sama Mama supaya bujuk kamu biar mau pindah ke London."


"Terus Mama iyain?"


Vina menggelengkan kepala. "Elisa ... Kamu tau 'kan Mama gak akan paksa kamu. Mama cuma mau kamu jalani hidup kamu dengan nyaman. Kalau kamu suka, Mama akan dukung. Tapi kalau kamu gak suka, Mama gak bisa apa-apa, karena itu pilihan kamu."


Elisa hanya mengulum bibir, gadis itu menegakkan punggungnya kembali. Tangannya memilih mengambil satu buah apel, mengupas kulit kemerahan itu dengan sangat hati-hati.


"Kalo kamu gak mau, nanti Abang yang bicara sama Papa," ujar Joni yang langsung diberi anggukan dari Elisa.


"Lagian kenapa sih Papa terobsesi banget bikin lo jadi model terkenal, pake acara pindah sekolah ke London. Gue aja yang pengen kuliah di Jepang dengan segenap jiwa dan raga malah gak dikasih ijin." Laki-laki berambut mullet itu nampaknya tengah menggerutu, praktis membuat Elisa mendengus.


Gadis itu kembali terdiam, dalam hatinya dia benar-benar sangat merasa bersalah, terutama pada Vina. Tapi di sisi lain, ia juga tak ingin membuat wanita itu sedih dengan keadaannya.


Maafin Elisa, Ma. Elisa belum bisa jujur untuk saat ini. Elisa gak mau Mama sedih, Elisa gak mau nambah beban Mama.


.......


.......


.......


Tidak hanya berdua, kali ini Elisa dan Atlanta ditemani dua manusia yang mereka sendiri tak menyangka akan mau bergabung dengan keduanya. Ya, Lucas dan Mark.


Atlanta masih terdiam memandangi lunch box miliknya yang berisi nasi, tahu, tempe dan telur dadar. Pun Elisa yang sejak tadi menyeruput es kelapa. Jangan tanyakan Lucas dan Mark, mereka berdua tak henti-hentinya menanyakan hal tidak penting pada Atlanta.


"Jadi lo masuk ekskul musik?" Tanya Lucas yang kesekian kalinya.


Atlanta mengangguk mengiyakan.


"Lo bisa main gitar? Piano?"


Laki-laki itu menggerakkan tangannya.


"Aku bisa keduanya."


"Dia bilang dia bisa dua-duanya." Itu Elisa. Ah, dan jangan lupakan posisi Elisa yang sejak saat itu resmi menjadi guru penerjemah bahasa isyarat untuk Lucas dan Mark.


"Wih, lain kali bisa dong lo ajarin gue main gitar," sahut Mark. Laki-laki itu tersenyum senang.


Atlanta kembali menganggukkan kepala. Di sisi lain, Elisa sebenarnya sudah malas dengan dua manusia yang saat itu duduk di depannya dan Atlanta. Ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka ngotot ingin duduk bergabung dengannya. Apalagi Atlanta terlihat enggan untuk sekedar menyuapkan bekalnya, alhasil makanan itu masih utuh sejak setengah jam yang lalu.


"Oh! Lo bisa main basket gak?" Lagi-lagi Lucas melontarkan sebuah pertanyaan yang berhasil mengundang hempasan napas dari gadis yang sudah menatapnya jengah.


"Heh! Lo berdua sebenernya kenapa sih pengen ikut gabung sama kita? Tuh liat, gara-gara lo berdua yang bawel nanya-nanya mulu Atlanta sampe nganggurin makan siangnya."


Mark menggaruk tengkuknya. "Ya sorry. Kita gak ada niat buruk kok. Serius!"

__ADS_1


Lucas melirik arlojinya yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri, lantas ia menoleh ke arah Mark dan Atlanta.


"Masih ada waktu setengah jam lagi. Lo mau ikut kita ke lapangan gak? Main basket." Tanyanya pada Atlanta.


"Astaga! Gue gak ngerti lagi sama lo berdua. Udah tau Atlanta belum makan, malah diajak main!" Elisa menjeda ucapannya, melirik bergantian laki-laki yang sedang menelan saliva. "Sana... sana... ganggu orang aja."


"Iya, iya, galak amat jadi cewe," ucap Lucas. Keduanya beranjak, hendak meninggalkan kantin.


"Eh, bisu!" Elisa memberi tatapan melotot tatkala mendengarnya. "M—maksud gue Atlanta. Kalo lo butuh temen main, jangan sungkan ajak gue, oke." Laki-laki jangkung itu berbalik badan, merangkul Mark dan keduanya benar-benar menghilang di balik pagar kantin menuju lapangan.


Elisa menghempaskan napas pelan. Akhirnya laki-laki yang ada di sampingnya itu sudah bisa bernapas lega.


"Kamu makan gih, kasian nasinya nanti nangis."


Atlanta tersenyum, lantas dengan leluasa ia menyantap makan siangnya dengan khidmat.


Namun, baru saja satu suapan masuk ke dalam kerongkongannya, laki-laki itu kembali menggerakkan tangannya.


"Kenapa kamu gak makan?"


"Tadi 'kan udah. Makan batagor."


"Tapi itu gak bikin kenyang. Kamu mau bekal punyaku?"


Belum sempat mendapat jawaban dari Elisa, laki-laki itu sudah mengangkat satu sendok nasi untuk menyuapi Elisa. Praktis gadis di sana tersentak, lalu menggelengkan kepala bermaksud menolak.


"Engga, Ta. Aku gak mau. Aku udah kenyang."


Sial! Kenapa deg-degan.


Elisa memegang dadanya yang berdebar akibat tindakan polos Atlanta. Gadis itu segera beranjak, pun pandangan Atlanta yang terangkat melihat Elisa yang sudah berdiri menjulang di sampingnya.


"A—aku ke toilet dulu, ya. Kebelet pipis."


Atlanta mengangguk pelan. Namun bukan karena Elisa sedang ingin menghindari Atlanta akibat dadanya yang berdebar itu, melainkan dirinya memang benar-benar harus pergi ke toilet.


"Kamu jangan ke mana-mana, oke!" Peringatnya.


Laki-laki itu tersenyum tipis, sebelum akhirnya kembali menyantap makan siangnya.


Tidak sampai lima menit ia pergi ke toilet. Keadaan kantin tiba-tiba berubah 180° tatkala ia kembali. Di mana semua murid memilih memfokuskan diri ke kerumunan yang berada di tengah-tengah, seolah mereka mengelilingi sesuatu di dalam sana.


Suara gelak tawa yang terdengar di gendang telinganya berhasil membuat dada gadis itu kembali berpacu. Elisa melangkahkan kaki lebar, menghadang siapapun yang menghalangi jalannya kala itu.


"Dimakan dong. Kasian tuh kuahnya sampe item gitu," ujar seorang gadis yang sudah duduk di atas meja sembari melipat tangan angkuh.


Setelah puas menumpahkan satu botol cola ke dalam makan siang Atlanta, rupanya gadis itu ingin Atlanta memakan bekalnya yang sudah terlihat sangat menjijikan akibat air hitam cola.


"Cepet makan!" Titahnya dengan nada tinggi.


Atlanta tersentak, tangannya bergetar memegang sendok. Murid-murid yang melihat kembali tergelak, seolah apa yang ada di depan mata mereka adalah sebuah tontonan yang mengasyikan.


Elisa membulatkan mata sempurna, tangannya mengepal sangat kuat. Ia mendekat dan mengambil lunch box milik Atlanta.


Byur!


Elisa menumpahkan semua isi yang ada di dalam lunch box ke atas kepala seorang gadis yang selalu berhasil menarik urat lehernya—Nadin.

__ADS_1


"Gimana? Enak gak?"


__ADS_2