Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
68. Bawa aku pergi


__ADS_3

"Terus kenapa kamu gak pernah baca pesan dari aku sejak waktu itu?" tanya Elisa, ketika mereka berdua berjalan berdampingan bersama dengan sebuah sepeda dituntun oleh Atlanta yang akhirnya menjadi penengah di antara keduanya.


Mereka baru saja pulang sekolah, dan saat ini mereka tengah berjalan kaki di jalanan komplek perumahan Elisa. Sebenarnya Atlanta bisa saja membonceng Elisa untuk sampai lebih cepat ke rumah gadis itu, namun saat di depan gerbang komplek, Elisa mengajaknya untuk jalan kaki.


Rasanya sudah lama mereka tidak seperti itu.


"Hp-ku jatuh waktu aku tertabrak mobil, makanya sedang diperbaiki dulu. Maaf, ya."


Elisa mengangguk paham, syukurlah, dia tidak perlu cemas lagi memikirkan pesannya yang tak terbalas.


"Atlanta."


Laki-laki itu kembali menoleh saat Elisa memanggilnya, ia menaikkan alis ke atas.


"Maaf, waktu itu aku gak bantu kamu, padahal aku belum tau soal musibah kamu. Jahat banget ya," ucapnya miris.


Atlanta menggelengkan kepala, menyangkal ucapan Elisa.


"Tak apa. Aku mengerti."


Gadis itu menghempaskan napas pelan, kembali berjalan menuju rumah kediamannya yang sudah nampak di depan mata.


Saat di depan pagar tinggi menjulang itu, iris mata Elisa sudah disuguhkan dengan sebuah mobil hitam milik sang Papa di depan garasi, itu tandanya Pratama sudah berada di rumah setelah dijemput Joni.


Keduanya sama-sama memasuki pekarangan. Atlanta yang menggiring sepeda dan memarkirkannya di samping bangku taman yang menghadap langsung ke arah kolam ikan.


"Nanti kalo kamu ketemu sama Papa, jangan kaget ya," ucap Elisa mewanti-wanti.


"Memangnya kenapa?"


"Soalnya Papa aku galak." Gadis itu nyengir, menggaruk tengkuknya beberapa kali.


Atlanta hanya melebarkan senyum.


"Ayo masuk."


Elisa kembali menggiring Atlanta untuk masuk ke dalam rumah. Ia menghela napas, mencari keberadaan anggota keluarganya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Gadis itu menarik lengan Atlanta yang ternyata sama-sama gugup. Entah, harusnya mereka tak perlu gugup 'kan? Mereka hanya bertemu dengan kepala keluarga itu saja. Elisa yang masih membayangkan mimik wajah dingin sang Papa, dan Atlanta yang diselimuti rasa malu karena akan bertemu dengan Papa Elisa, dan dia sendiri tidak tahu kenapa Papa dari gadis itu ingin sekali bertemu dengannya.


Di ruang keluarga, Elisa langsung menangkap sosok pria dewasa lengkap dengan kacamata bening yang selalu dipakainya tengah melebarkan senyum. Pratama langsung beranjak dari duduk, mengayunkan kaki beberapa langkah, lalu merentangkan kedua tangannya.


Elisa mengerutkan kening tatkala melihat itu. Tidak, bahkan Pratama sangat jauh berbeda, sebuah lengkungan di kedua sudut bibirnya nampak sangat asing di bola mata Elisa.


"Elisa ... kamu gak kangen sama Papa kamu sendiri, hm?" ucapnya.


Sebenarnya ia mengerti, hanya saja rasa terkejut masih membuatnya membeku ditempat.


Gadis itu sontak berlari, berhambur ke pelukan sang Papa yang jarang sekali ia dapatkan, sampai bisa dihitung dengan jari jika Elisa mencoba mengingat kapan terakhir kali Pratama memeluknya seperti sekarang.


Pria itu memeluk erat anak bungsunya yang ternyata sudah beranjak dewasa tanpa ia sadari. Padahal rasanya baru kemarin ia menggendong Elisa yang selalu merengek karena berebut mainan dengan Yunaka. Pratama mengelus puncak kepala Elisa, mengecupnya berulang kali.


"Maafin Papa ya, Elisa. Selama ini Papa terlalu egois, Papa selalu mementingkan keinginan Papa tanpa memikirkan kamu."


Dalam pelukan sang Papa, Elisa mengangguk pelan, lalu menjawab, "Elisa udah maafin Papa kok. Elisa juga gak marah sama Papa."


Terdengar helaan napas dari Pratama ketika mendengar jawaban dari Elisa. Vina, Joni dan Yunaka yang kala itu menyaksikan, ikut tersenyum haru, merasakan kebahagiaan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya, Pratama—sang Papa—kini sudah berubah. Entah hal apa yang berhasil membuka pintu hati Pratama, yang jelas mereka sangat bersyukur.


"Pa, katanya Papa mau ketemu Atlanta."


Dalam keharuan yang cukup menguras perasaan, Pratama perlahan melepaskan pelukannya ketika mendengar satu nama yang menjadikan alasannya pulang ke Indonesia.


"Ah, iya."


Elisa menghampiri Atlanta, mengajak laki-laki itu untuk lebih mendekat. "Ini Atlanta, Pa," ujarnya, memperkenalkan Atlanta yang terlihat cukup kaku.


Dengan tangan yang sedikit bergetar, Atlanta mencoba meraih tangan Pratama, memberi salam pada pria itu.


"Kamu Atlanta yang selama ini ajarin Elisa belajar piano?"


Atlanta mengangguk pelan menjawab pertanyaan Pratama.


Pria itu menepuk pundak kokoh laki-laki di depannya berulang kali.


"Terima kasih, ya," katanya, tersenyum lembut. "Kalau boleh saya tau, kamu belajar piano diajarkan sama siapa? Orang tua kamu?"


Atlanta merogoh memo kecil yang ada di saku celananya, menuliskan sesuatu di sana. Pratama tidak terkejut dengan pemandangan yang kala itu tersuguh di depan matanya, dia sendiri sudah tahu mengenai kekurangan anak laki-laki itu dari Joni.


Tak berselang lama, Atlanta memberikan memo itu pada Pratama.


"Saya belajar sendiri . Tidak diajarkan oleh orang lain, Pak."


Sekali lagi sebuah senyuman tercipta di bibir Pratama. Ia menatap Atlanta beberapa saat, lalu pada Elisa.


"El ... Papa pengen liat kamu main piano, boleh?"


Gadis itu melirik sekilas pada Atlanta. "Tapi ... Elisa malu, Pa."


"Kok malu? Masa anak Papa yang juara ini malu? Ayo, Papa mau lihat kamu sama Atlanta main piano." Ajaknya yang langsung menggiring Elisa sekaligus Atlanta menuju ruang latihan di belakang rumah.


.......


.......


.......


"Lo serius gak mau ikut nongkrong dulu?" tanya Theo pada laki-laki di samping yang masih fokus dengan sebuah benda pipih di genggamannya.


"Iya, lain kali aja. Bokap gue nyuruh pulang cepet soalnya dia mau ngajak gue ke rumah Elisa malam ini. Katanya mau ketemu Papanya Elisa," jawab Jay, memasukkan ponselnya ke saku celana.


Mereka baru saja pulang bermain basket, masih terlihat dengan keringat menempel di kain tipis yang keduanya kenakan. Theo hanya mengangguk, meneguk botol cairan isotonik miliknya hingga tersisa setengah.


"Gue cabut dulu." Jay menepuk pundak Theo dua kali, lalu berlari menelusuri lorong sepi itu.


Laki-laki pemilik rahang tegas itu menatap punggung lebar Jay yang kian hilang dari pandangannya. Ia menghempaskan napas berat, mencengkeram botol plastik itu cukup kuat. Dengan langkah lebar, Theo kembali berjalan cepat menuju depan gedung sekolah.


Setelah meneguk isi botol itu hingga kandas, ia membuangnya ke tempat sampah. Jauh dalam benaknya, ucapan Jay masih terngiang jelas di otaknya, entahlah, dia merasa sangat kesal ketika mendengar bahwa laki-laki itu hendak mengunjungi tempat kediaman Elisa dibanding ikut nongkrong dengannya. Rupanya hubungan keluarga Jay dan Elisa cukup dekat, dia sempat berpikir bahwa ia akan kesulitan untuk mendapatkan hati gadis itu.


Tak lama, kepalanya mendongak, menatap spanduk yang masih terbentang di antara dua pilar di depan, ia menatapnya tajam.


Sampai kapanpun, Elisa bakal tetep jadi milik gue. Bukan lo.


Pandangan laki-laki itu celingukan, mencari keberadaan seseorang yang bisa membantunya untuk menghilangkan rasa sakit di matanya ketika melihat spanduk itu.


"Mang Mamat!"


Pria paruh baya yang kala itu sedang menyapu halaman sekolah menoleh, dan langsung berlari kecil menghampiri Theo saat laki-laki itu melambaikan tangan.


"Iya, ada apa?"


"Itu, saya minta tolong, Mang Mamat cabut aja spanduknya, gak guna, ngalangin pemandangan aja," ucap Theo.


"T—tapi, harus ada izin dulu dari wakasek sarana, nanti saya yang disalahkan."


Theo mengibaskan tangan. "Halah, nanti Mang Mamat bilang aja kalo saya yang nyuruh."


"Tapi—"


"Gak usah tapi-tapian. Kalo besok spanduk itu masih ada, saya pastiin ini hari terakhir Mang Mamat kerja di sini. Paham?" Ancamnya.


Pria itu melotot terkejut, menggelengkan kepala. "Jangan. I–iya, saya cabut spanduknya sekarang."


Laki-laki itu berbalik badan, hendak pergi ke parkiran. Namun, iris matanya sontak menangkap sosok Jay yang baru saja keluar dari gerbang sekolah dengan motor sport merah. Melihat itu, tiba-tiba terlintas niat buruk dari dalam kepalanya, ia menyunggingkan sebelah bibir, lalu merogoh ponselnya, menelpon seseorang.


"Gue punya kerjaan buat lo."

__ADS_1


"...."


"Oke, gue transfer sekarang."


Setelah menutup panggilan itu, Theo bergegas mengambil mobilnya yang ada di parkiran, lalu tancap gas menyusul Jay. Dia pastikan, kali ini rencananya akan berjalan mulus.


"Lo harus tau akibatnya, Jay."


Theo semakin mempercepat laju mobil yang dikendarainya, menatap sengit sebuah motor sport yang ada di depan matanya.


Tepat di jalanan komplek perumahan Jay yang sudah sangat sepi karena waktu sore menjelang malam itu, Theo menepikan mobilnya tatkala ia melihat 3 orang pria dengan perawakan tinggi besar menghadang jalan yang hendak dilalui Jay.


Tak perlu berpikir lama, 3 orang itu adalah preman-preman suruhan Theo. Dia hanya diam sembari menyunggingkan sebelah bibir, bersiap menonton pertunjukan yang ia harap akan membuatnya puas.


"Mampus lo, haha ...."


Jay turun dari motor, menghampiri ketiga orang tak dikenalnya itu dengan pandangan bertanya.


"Kalian siapa? Minggir," ucapnya.


Mereka hanya saling tukar pandang, salah satu di antara ketiganya berjalan mendekat, meraih kerah jaket yang dipakai Jay.


"Lo, jangan macem-macem sama gue!" Sungut laki-laki itu melawan.


Bruk!


Pria itu menghempaskan cengkeraman dan mendorongnya sampai Jay terhunyung ke belakang.


"Akh!" Laki-laki itu meringis, ketika merasakan sikunya terbentur aspal jalan.


Ia mendongak seketika, dan bola matanya langsung menangkap ketiga orang-orang itu sudah mengelilinginya. Mereka semakin mengatupkan rahang.


Dengan sekali gerakan, 2 orang itu berhasil menarik kedua tangan Jay, membuat anak laki-laki yang masih meringis itu berdiri kembali namun tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya yang terkunci kuat oleh genggaman tangan-tangan besar itu.


"S—siapa yang nyuruh kalian, hah?!" sahutnya sudah payah.


Ketiganya kembali tutup mulut, enggan menjawab pertanyaan Jay.


"JAWAB, ANJING!"


Bugh!


"Akh!"


Laki-laki itu kembali tersentak dengan sebuah bogeman mentah di tulang pipinya tanpa aba-aba. Ia hanya bisa meringis, merasakan perih yang tiba-tiba menyerang wajahnya.


Bugh!


Bugh!


Kembali terdengar suara ringisan dari mulut Jay. Berulang kali wajahnya diserang dengan pukulan keras. Ia ingin sekali memberontak, tapi apalah dayanya yang tak bisa berbuat apa-apa karena dua orang itu masih melilit kedua tangannya.


"Argh, s—stop."


Mereka tak mengindahkan ucapan Jay. Bahkan luka lebam yang semakin kentara itu sama sekali tak membuat mereka merasa iba, yang ada mereka semakin bersemangat untuk menghabisi anak laki-laki itu.


"Jay ... Jay, gak usah sok jagoan dan punya segalanya. Karena lo, cuma sampah yang bisa dengan mudah gue singkirin."


Theo masih asyik menonton adegan kekerasan yang terjadi di depan pandangannya. Sesekali ia tertawa ringan ketika melihat Jay yang kesakitan.


Bruk!


Mereka beralih menjatuhkan Jay ke jalanan aspal. Laki-laki yang sudah lemas akibat serangan bertubi-tubi itu kini terkapar tak berdaya.


Bugh!


"Akh!"


Jay meringkuk, memegangi area perutnya yang baru saja ditendang bebas oleh pria yang berdiri menjulang di depan.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Ketiganya terus memberi tendangan di seluruh tubuh Jay tanpa ampun, dan tenaga laki-laki itu semakin melemah akibat menahan semua rasa sakit sekaligus perih yang kian menyiksa tubuhnya. Astaga, bahkan pandangannya sudah sangat kabur.


Krek!


"ARGH!"


Jay kembali meraung tatkala merasakan kakinya yang diinjak cukup kuat, telinganya pun sampai bisa mendengar tulangnya yang patah.


"Argh! Ngh! Stop ... sakit. T—tolong ...."


Tak henti-hentinya ia merintih. Meminta pertolongan dengan suaranya yang nyaris pelan.


Ketiga pria itu hanya tersenyum lebar, menatap penuh rasa bangga dengan hasil kerja mereka. Sebentar lagi, mereka akan segera menikmati sejumlah rupiah dengan nominal cukup besar yang sudah dijanjikan sang bos.


Dari arah timur, seorang laki-laki yang baru saja pulang dari konter depan komplek untuk mengambil ponselnya yang kemarin diperbaiki, sontak menyipitkan bola mata, ia mengerutkan kening ketika melihat seseorang yang terkapar tengah dikelilingi oleh 3 orang preman.


Jay?


Ia membulatkan bola mata sempurna, dan memilih berlari kencang menghampiri saudara tirinya yang diduga habis dikeroyok orang-orang itu.


Bugh!


Atlanta menendang punggung salah satu orang di sana sampai jatuh terjerembab. Laki-laki itu langsung mendekati Jay, dan melihat dengan jelas luka lebam merah keunguan yang tercetak jelas dibeberapa bagian tubuh Jay, terlebih di area wajah.


Theo yang juga sama-sama terkejut akan kehadiran sosok Atlanta ikut membelalakkan mata. Otaknya masih bekerja memikirkan bagaimana bisa Atlanta tiba-tiba datang dan menyelamatkan Jay?


"Si bisu ngapain di sini anjir!"


Merasa terganggu karena ulah Atlanta yang mengacaukan momen menyenangkannya, Theo menyalakan klakson mobil, mengisyaratkan untuk orang-orang suruhannya agar cepat pergi dari sana. Dengan perasaan kesal karena rencananya yang belum selesai, Theo beralih tancap gas meninggalkan jalanan komplek perumahan Jay.


"Akh! Sakit!"


Jay masih meringis di pangkuan Atlanta. Jujur saja, dia sudah sangat lemas, bahkan untuk sekedar meringis saja rasanya butuh banyak tenaga.


"Pergi lo! Gak usah sok peduli sama gue!" Sentak Jay, mengusir Atlanta. Lebih tepatnya dia cukup gengsi dengan pertolongan Atlanta.


Atlanta tak peduli dengan ucapan Jay, yang ada ia semakin panik melihat kondisi Jay yang sudah babak belur. Dia tidak tahu apa penyebab saudaranya itu hingga dihabisi preman tadi.


Tak ada cara lain, Atlanta mencoba membopong Jay, untungnya rumah mereka tak jauh dari lokasi.


"AKH! PELAN-PELAN, ANJING! SAKIT!"


Jay kembali meraung.


"Kaki gue patah, sialan! Argh!"


Mendengar itu, Atlanta inisiatif untuk menggendong Jay. Ia sudah bersiap berjongkok, lalu menarik lengan Jay untuk bersandar di punggungnya.


"AKH! GUE BILANG PELAN-PELAN, BANGSAT!"


Setelah memastikan Jay bersandar dengan nyaman di punggungnya, Atlanta mencoba berdiri, lalu mengayunkan kakinya untuk membawa Jay ke rumah agar segera diobati.


Saat di depan rumah, betapa terkejutnya Bi Mirna yang kala itu tengah memberi makan ikan di kolam ketika kehadiran Atlanta menggendong Jay yang sudah babak belur.


"Astaga! Jay! Ata, ini Jay kenapa? Kok babak belur gini?" ujar Bi Mirna panik, mengekori Atlanta yang lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Sama halnya dengan Bi Mirna, Rudi dan Hana yang sedang berkumpul di ruang keluarga ikut membelalakkan bola mata tatkala melihat Jay digendong oleh Atlanta dengan keadaan yang cukup mengenaskan.


"Jay! Kamu kenapa?!"


Atlanta membaringkan Jay di atas sofa. Kedua orang tua yang panik itu memilih menghampiri Jay dan duduk di bibir sofa.


"Kamu kenapa sayang? Kok bisa babak belur gini? Siapa yang pukulin kamu?" ucap Vina cemas.

__ADS_1


Lagi-lagi Jay hanya meringis, merasakan semua rasa sakit yang cukup perih, apalagi sebelah kakinya yang sempat diinjak sangat kuat oleh pria tadi.


"Jay ... siapa yang bikin kamu kaya gini, hm? Biar Ayah yang kasih pelajaran orang itu," kata Rudi menimpali. Terlihat pria itu nampak tak terima anaknya yang dibuat babak belur.


Jay terdiam, dia sendiri tidak tahu siapa orang yang menjadi dalang itu semua. Ia mendongak, menatap Atlanta dengan tatapan sengit.


Lo harus rasain apa yang gue rasain.


Tangan kanan laki-laki itu terangkat pelan, menunjuk Atlanta.


"Dia yang udah gebukin Jay."


Sontak Atlanta membulatkan bola mata, menggelengkan kepala mengisyaratkan bahwa bukan dialah yang melakukan semua itu.


"J—jay, gak mungkin Ata yang nyerang kamu. Bibi gak percaya." Bi Mirna pun ikut terkejut dengan tuduhan Jay. Tidak mungkin Atlanta yang melakukan hal itu pada Jay.


"Bibi gak tau apa-apa. Emang Bibi liat Jay waktu digebukin?"


Rudi semakin mengatupkan rahang, memberikan tatapan tajam pada anak laki-laki yang sudah berdiri tegang di depannya.


Plak!


Satu tamparan keras berhasil laki-laki itu dapatkan. Perih? Tentu saja. Tapi tamparan Rudi tak seberapa dibanding dengan rasa sakit di dalam hatinya tatkala Ayah kandungnya sendiri pun tak mempercayainya.


"ANAK KURANG AJAR!" sentaknya.


Atlanta memegangi pipinya yang terasa panas.


"SINI KAMU! BERANINYA KAMU SAKITI ANAK SAYA!"


Rudi menyeret kerah kaos yang dipakai Atlanta, sampai anak itu kewalahan menyesuaikan langkah akibat tarikan mencekik yang berasal dari sang Ayah. Rudi semakin melebarkan kaki, menaiki anak tangga untuk sampai ke kamar Atlanta.


Bi Mirna yang takut majikannya hendak melakukan sesuatu beralih mengekori keduanya dengan tergopoh. Tak lupa kalimat memohon terlontar dari mulutnya, berusaha meredakan amarah yang menyelimuti Rudi kala itu. Karena dia yakin, bukan Atlanta pelakunya.


"Pak ... saya yakin bukan Atlanta yang serang Jay. Ini pasti salah paham."


"Bi! Bibi lebih baik diam! Ini bukan urusan Bibi! Ini urusan saya sama anak gak tau diuntung ini. Paham!"


"T—tapi, Pak ...."


Brak!


Rudi membanting pintu kamar Atlanta cukup keras, menguncinya dari dalam.


Dengan napas yang memburu, Rudi kembali menarik baju Atlanta untuk memasuki kamar mandi, setelah itu ia langsung mendorongnya hingga anak itu jatuh di ubin dingin kamar mandi.


"BELUM PUAS KAMU SUDAH BUAT HANI MENINGGAL, HAH?! SEKARANG KAMU JUGA MAU COBA SAKITI JAY!"


Atlanta menggelengkan kepalanya pelan, menyangkal ucapan Rudi.


"PEMBUNUH!"


Air mata anak laki-laki itu kini berlinang ketika mendengar sebuah kata yang berhasil membuat hatinya begitu nyeri.


Engga, Ata bukan pembunuh.


Rudi menarik gesper yang dipakainya, tatapan yang sudah tersulut api amarah tergambar jelas di bola matanya yang sudah memerah.


"Kamu harus dikasih pelajaran!"


Ctar!


Ctar!


Atlanta meringis merasakan sensasi perih dari pecutan gesper kulit milik Rudi di kakinya. Ingin ia melawan, tapi seluruh tubuhnya mendadak kaku. Berulang kali pria itu kembali memberi pecutan sampai kulit kaki anaknya menampakkan bekas kemerahan kentara di depan matanya.


Ctar!


"ANAK PEMBAWA SIAL!"


Melihat Atlanta yang nampak menahan rasa sakit, Rudi menghentikan kegiatannya, ia segera menyalakan shower untuk mengisi air di bathtub. Setelahnya, ia kembali menghampiri Atlanta, menindih anak laki-laki itu yang nampak tak melawan.


Bugh!


Bugh!


Bogeman mentah kini melayang di tulang pipi Atlanta. Ia hanya mampu menangis dengan tindak kekerasan yang dilakukan Ayahnya sendiri.


Bugh!


"HARUSNYA KAMU YANG MATI!"


Bugh!


"SEKARANG KAMU MAU COBA BUNUH ADIK TIRI KAMU SENDIRI?! IYA?! DASAR BIADAB!"


Bugh!


Pria itu beranjak, berkacak pinggang, mengatur napasnya yang sudah berderu cepat, memandangi wajah Atlanta yang sudah kebiru-biruan akibat tinjuan darinya.


Bugh!


Ayah ... bukan Ata yang pukulin Jay. Ata cuma bantu Jay.


Tak puas, Rudi kembali menendang perut Atlanta cukup keras, sampai Atlanta meringkuk memegangi ulu hatinya yang nyeri, urat leher yang semakin menegang menandakan bahwa ia tengah menahan rasa sakit yang kian menjalar.


Bugh!


Bugh!


Rudi menendang Atlanta dengan membabi buta, ia bahkan tak peduli dengan luka lebam di sekujur tubuh putranya itu.


Srrkk!


Ia menarik rambut hitam legam milik Atlanta sampai anak itu mendongak secara terpaksa. Sekarang, Rudi bisa melihat jelas wajah lusuh babak belur Atlanta.


Atlanta meringis menatap bola mata sang Ayah, seolah dari tatapan itu ia berusaha mengatakan bahwa bukan dialah pelaku pengeroyokan Jay.


"Sakit, hah?! Rasa sakit kamu ini gak sebanding dengan rasa sakit hati saya saat Hani meninggal karena melahirkan kamu!"


Atlanta menggelengkan kepala susah payah, air mata anak itu sudah tak bisa terbendung lagi, mengalir seperti air keran yang dibiarkan tumpah ruah.


Duk!


Duk!


Pria itu membenturkan kepala Atlanta ke tembok kamar mandi berulang kali.


"Kalo kamu gak lahir, semuanya gak akan seperti ini! Hidup saya hancur itu gara-gara kamu!"


Duk!


Ayah ... udah ... sakit ... kepala Ata pusing.


Duk!


Atlanta memegangi kepalanya yang sudah berkunang-kunang, pun dengan pandangannya yang kini sedikit kabur. Demi Tuhan, rasanya sangat sakit.


Duk!


Tembok yang sedari tadi menjadi samsak benturan kepala Atlanta kini mulai menampakkan bercak kemerahan kental di sana yang berasal dari kepala anak itu. Namun hal itu tak menyulutkan api amarah Rudi, ia memilih menarik lengan Atlanta, memaksa laki-laki itu untuk berdiri.


Byur!


Ia menceburkan Atlanta ke dalam bathtub. Seketika seluruh tubuh anak itu menggigil hebat karena air dingin yang secara otomatis merenggut suhu tubuhnya.


Tanpa rasa iba, Rudi kembali menenggelamkan kepala Atlanta ke dalam air beberapa saat. Hal itu dilakukannya berulang kali, hingga air di dalam bathtub perlahan berubah menjadi genangan kemerahan yang diketahui berasal dari luka di kepala Atlanta.


Anak laki-laki itu terbatuk-batuk dan sudah kehabisan tenaga, memegangi pinggiran bathtub dengan tangan yang bergetar. Rasa perih, nyeri, pusing diseluruh area tubuhnya semakin tak tertahankan, apalagi suhu dingin membuatnya tersiksa.

__ADS_1


Merasa puas, Rudi beranjak, meninggalkan Atlanta tanpa sepatah kata apapun.


Bunda ... sakit ... Ata gak tahan ... tolong jemput Ata, Bun ... Ata mau pergi sama Bunda.


__ADS_2