Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
43. Not bitch


__ADS_3

Seperti janjinya, sepulang sekolah keduanya berniat untuk mulai latihan piano di ruang musik. Karena kala itu bukan hari untuk ekskul musik, Elisa maupun Atlanta harus di dampingi Theo selaku ketua untuk bisa mulai berlatih di ruangan itu.


"Waktunya cuma satu jam. Gue masih ada kerjaan lain di luar," ucap Theo tatkala membuka kunci pintu ruangan itu.


"Sok sibuk banget jadi orang." Sindir Elisa dengan entengnya. Ia melangkahkan kaki ke dalam mendahului Theo yang baru saja membuka lebar pintu kaca di depan.


Theo ber-smirk. "Ck, gini-gini gue juga punya kerjaan. Makanya jangan liat orang dari cover doang."


Elisa hanya mengangguk sembari mengerucutkan bibir seperti mengiyakan secara paksa ucapan Theo.


Atlanta mengambil alih kursi empuk panjang yang ada di dekat piano berwarna putih gading, mencoba menekan tuts piano beberapa kali. Gadis itu, mulai berkeliling menyusuri setiap alat musik yang berjajar, mulai dari gitar, piano, drum, suling, memainkannya asal sampai menghasilkan suara yang beragam nan berantakan.


"Norak banget sih lo. Kaya baru liat aja," ujar Theo saat ia mulai memainkan gitar di pojok ruangan tanpa mengalihkan pandangan.


Elisa mencebik, ia berjalan hendak bergabung dengan Atlanta yang sudah melambaikan tangan dan menepuk ruang kosong kursi di sampingnya, mengisyaratkan agar gadis itu duduk di sana.


"Terserah gue lah, kenapa jadi lo yang sewot."


Theo tidak menanggapi ucapan Elisa lagi, ia kembali memainkan gitarnya dengan penuh perasaan, pun Elisa yang mencoba untuk memfokuskan diri melihat Atlanta yang sedang menekan tuts putih dan hitam piano.


"Jadi aku harus gimana dulu nih?"


"Latihan dasar dulu."


Atlanta kembali menekan tuts, sampai terdengar nada do-re-mi-fa-so-la-si-do berulang kali.


"Ah, itu mah aku juga udah bisa, Atlanta."


"Yaudah, coba dulu."


Elisa menghela napas, jemarinya bergerak di atas benda yang cukup asing baginya. Terdengar nada yang sama dengan apa yang Atlanta lakukan.


"Tuh 'kan! Udah aku bilang kalo aku bisa!" sahutnya bersorak kemenangan.


Selanjutnya, laki-laki itu mengajarkan Elisa mengenali tuts atau keyboard piano. Pelan-pelan ia pun mengajarkan Elisa not-not yang disusun menurut abjad dari A ke G. Meski berulang kali ia harus ekstra sabar dengan Elisa yang sering merengek akibat kebingungan dengan not C yang secara resmi merupakan awal dari siklus, setiap siklus terdiri dari delapan nada - C, D, E, F, G, A, B dan C lagi.


"Atlanta, aku cape, kepala aku pusing...." Keluh gadis itu memberengut.


Atlanta terkekeh, mengusap surai hitam Elisa, menelusupkan helaian rambut ke belakang telinga.


"Woy! Elah, dikira dunia milik berdua apa?!"


Keduanya menoleh, menampakkan Theo tengah menatap tajam mereka. Namun, Elisa hanya memberi senyum jenaka.


"Apa lo? Cemburu? Dasar jomblo." Elisa menjulurkan lidah, menambah rasa kesal Theo.


"Gak ya! Gak cemburu sama sekali," ucapnya ketus. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, laki-laki itu merasa geram dengan kedekatan Atlanta dan Elisa. "Sepuluh menit lagi." Imbuhnya.


Theo beranjak dari duduk, menyampirkan kembali tas ranselnya di pundak. Pun Elisa yang ikut menyusul beranjak dan menegakkan badannya.


"Iya, lagian gue juga udah selesai kok. Akh—"


Bruk!


Elisa terjatuh, tiba-tiba ia meringis hebat memegangi punggung bagian bawahnya yang mendadak sakit. Alhasil, Atlanta maupun Theo yang kala itu di sana sangat terkejut bukan kepalang dengan apa yang baru saja terjadi.


"ELISA!"


Theo segera berlari menghampiri Elisa. Laki-laki itu bertumpu lutut di depannya.


"Kamu kenapa? Sakit? Mana yang sakit."

__ADS_1


Atlanta panik, ia mencoba merangkul gadis itu. Sebelah tangan Elisa segera mencengkeram lengan Atlanta guna menahan rasa sakit yang cukup menyakitkan itu.


"Sakit, Ta. Sakit banget ...."


Melihat mimik wajah Elisa yang menahan sakit, berhasil membuat Theo dirundung rasa khawatir yang berlebih, ia sangat takut.


"EH! Lo kenapa diem aja, sialan!" sentak laki-laki itu pada Atlanta sembari mendorong bahunya.


"K—kita ke rumah sakit, ya?" Imbuhnya tak kalah panik.


Elisa menggelengkan kepala. "Engga, g—gue gak mau." Tolaknya.


"Tapi lo harus diperiksa, Elisa. Kalo lo kenapa-napa gimana?!"


Kembali dengan gelengan kepala lemah, ia berkata, "Gue gapapa. Akhir-akhir ini emang gue ngerasa kecapean aja. Istirahat bentar doang nanti juga sembuh."


"El—"


"Theo, gue minta tolong telponin Abang gue. Suruh dia jemput gue sekarang."


.......


.......


.......


Langit yang mulai berubah warna menjadi jingga itu, mengajak laki-laki yang tengah melajukan motor dengan kecepatan sedang di tengah lalu lalang kendaraan ramai lancar untuk segera pulang ke rumah dengan cepat. Ia akan mempersiapkan segala kebutuhannya selama mengikuti lomba olimpiade selama dua hari di luar kota.


Tepat di depan gerbang tinggi menjulang, rumah besar dengan pekarangan luas, Jay melihat mobil milik Ayahnya—Rudi—sudah terparkir di sana. Ah, bahkan Rudi pulang lebih cepat kali ini. Biasanya pria itu akan menunjukkan batang hidungnya tepat setelah matahari tergelincir di ufuk barat.


"KAMU EMANG GAK PERNAH BERUBAH, MAS! BISA-BISANYA KAMU MASIH SIMPAN FOTO DIA!"


Suara yang nyaris lantang itu berhasil membuat langkah Jay terhenti tatkala menginjakkan kaki di teras rumah. Niatnya untuk membuka knop pintu harus pupus seketika.


"Jangan salahkan aku, Hana! Kamu sendiri yang gak pernah kasih aku kebahagiaan!"


"Huh! Memangnya aku kurang apa, Mas?!"


"Kamu tidak seperti Hani! Dan asal kamu tau, sampai detik ini pun, aku masih mencintai Hani, dan mungkin untuk selamanya aku akan terus mencintai dia!"


"Oh, jadi itu sebabnya kalian selingkuh di belakang aku, sampe perempuan murahan itu hamil, iya?!"


"Jangan pernah sebut dia perempuan murahan!"


"Dia memang pantas disebut perempuan murahan! Dia, ******! Dia gak jauh berbeda sama anak haramnya! Kotor! Gak tau malu! AIB KELUARGA!"


"CUKUP HANA! Harusnya kamu intropeksi diri!"


Gendang telinga laki-laki itu sangat panas, pun hatinya yang ikut tercabik mendengar pertengkaran hebat di antara kedua orang tuanya. Untuk pertama kalinya, ia menyaksikan sendiri bagaimana Ayah dan Ibunya yang selalu ia lihat tentram, saling meluapkan emosi satu sama lain.


"Kamu pikir kenapa dulu aku mau adopsi Jay, huh?! Itu karena kamu gak bisa kasih aku keturunan! Bahkan sampai sekarang Jay sudah dewasa, kamu gak pernah kasih apa yang aku mau, Hana!"


Jay mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengatup, dada laki-laki itu naik turun bersamaan dengan napas yang menggebu. Ia berniat masuk melewati pintu garasi, dan disaat yang bersamaan, dengan iris matanya sendiri ia melihat Atlanta yang sedang menuntun sepeda memasuki pekarangan.


Ia semakin emosi tatkala melihat raut wajah polos Atlanta. Jay melangkahkan kaki lebar, menghampiri Atlanta dengan tatapan sangat tajam.


Bugh!


Jay menerjang tubuh Atlanta, memberikan tinjuan keras di pipi laki-laki itu. Sebuah kantong kresek berwarna hitam yang tadinya menggantung di stang sepeda, ikut terhempas dengan sepedanya, bersama buah jeruk yang ada di dalamnya berceceran di mana-mana.


Atlanta yang saat itu melihat Jay sudah menindih tubuhnya hanya mampu menatap penuh tanda tanya, seolah berkata, memangnya dia salah apa? Sampai-sampai Jay murka padanya.

__ADS_1


Bugh!


"ANAK HARAM GAK PANTES HIDUP!"


Bugh!


"GARA-GARA LO AYAH SAMA IBU BERANTEM! LO ANAK HARAM, SETAN!"


Kesekian kalinya otak laki-laki itu bertanya-tanya, apa maksud dari ucapan Jay, demi Tuhan dia tidak tahu apa-apa.


"MATI LO CACAT!"


Bugh!


Bugh!


"KENAPA DULU LO GAK IKUT MATI AJA SAMA BUNDA ****** LO ITU, ANJING!"


Bugh!


Bunda?


Jay terus menerus memberi bogeman di pipi Atlanta. Dia amat tidak peduli dengan wajah babak belur Atlanta kala itu. Ia beralih mencengkeram kerah seragam Atlanta cukup kuat, mengguncangkannya seperti orang yang kesetanan.


"ASAL LO TAU, AYAH SAMA IBU BERANTEM GARA-GARA PEREMPUAN ****** ITU! BUNDA LO, ATLANTA!"


"AKH!"


Bugh!


Atlanta sama sekali tak mengindahkan rasa perih sekaligus nyeri di area wajahnya yang semakin membiru. Semua rasa sakit itu kini berpindah sarang di lubuk hatinya yang paling dalam. Atlanta menatap Jay nanar, kedua tangannya berubah mengepal kuat.


Tidak, Bundanya bukan ******, Bundanya adalah perempuan baik. Katakan semuanya pada Jay, bahwa dia salah menilai Bundanya. Bunda tidak seperti apa yang Jay ucapkan.


"Lo, sama Bunda lo itu, sama-sama manusia kotor! ANAK HARAM!"


Bugh!


Nampaknya kesabaran yang memuncak milik Atlanta harus habis saat itu juga. Kedua telapak tangan yang tadinya terkepal, melayang tanpa diperintah meninju rahang Jay sampai laki-laki itu terguling.


Dengan napas yang berderu cepat, Atlanta mengambil alih menindih tubuh Jay yang terkapar karena tinjuannya. Ia melakukan hal yang sama seperti apa yang Jay lakukan padanya, laki-laki itu mencengkeram kerah jaket Jay, menatap laki-laki di bawah penuh amarah, bahkan kedua matanya sudah berubah merah.


Jay menyunggingkan sebelah bibir. "Pukul gue, anjing!" Sahutnya sembari menepuk keras pipinya sendiri berulang kali.


"Kenapa lo diem, huh?!"


"PUKUL GUE! PUKUL!"


"Bunda lo perempuan murahan! Dia ******! Perusak rumah tangga orang!"


Bugh!


Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Atlanta benar-benar memukul orang, yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudara tirinya sendiri. Ia tidak suka jika ada orang yang menilai Bundanya dengan sangat buruk. Bundanya tidak seperti itu.


Jay kembali menyunggingkan bibir, seolah menikmati cairan kental merah yang masuk ke dalam mulutnya.


"GUE BENCI LO, ATLANTA! GUE JUGA BENCI PEREMPUAN ****** YANG LO SEBUT BUNDA ITU! GUE BENCI!"


Bugh!


Atlanta tersentak sendiri tatkala mendengar Jay meringis. Bola matanya membulat sempurna ketika melihat darah keluar dari sudut bibir Jay yang sempat ia tinju sangat keras, seolah menyadarkannya akan tindakan yang tak pernah ia sadari.

__ADS_1


Laki-laki itu beranjak dengan cepat, ia menatap telapak tangannya yang bergetar. Apa yang baru saja ia lakukan? Bahkan ia merasa seperti monster. Tungkainya bergerak, meninggalkan Jay di pekarangan rumah dengan keadaan terkapar lemas. Ia berjalan cepat memasuki garasi dengan tangan yang terkepal, pun napas yang masih menggebu.


Bunda bukan perempuan murahan. Bunda bukan ******, Bunda bukan ******!


__ADS_2