Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
39. Its a game


__ADS_3

Jika orang lain menilai, mungkin mereka akan berkata bahwa gadis itu adalah salah seorang siswa baru yang terlihat rajin. Ia datang ke sekolah bahkan ketika semua orang masih dalam kegiatan di rumah masing-masing, sekolah tampak sepi tanpa adanya satu orang pun di sana.


Setelah mampir ke UKS untuk sekedar membaluri bagian perut dengan minyak kayu putih, Elisa segera beranjak menuju kelas ketika ia yakin murid-murid lain sudah datang menginjakkan kaki di sekolah. Ia berjalan menunduk, melewati lalu lalang siswa/siswi, merasakan perutnya yang masih terasa seperti di aduk. Bahkan gadis itu belum sempat mengisi perutnya barang satu butir nasi. Entah, rasanya ia tak berselera dengan semua makanan enak yang tersaji di atas meja makan.


"Woy! Elisa!"


Ia menghempaskan napas, pandangannya terangkat, menoleh ke belakang. Menampakkan seorang laki-laki tengah tersenyum evil padanya.


"Apaan?" ujarnya ketus tatkala laki-laki itu menghampirinya.


"Udah siap?" tanyanya yang berhasil mengundang kerutan kening gadis di depan.


"Apaan dah, gue gak ngerti."


Laki-laki itu terkekeh, beberapa saat ia hanya memperhatikan wajah bingung sekaligus kesal Elisa. Dia suka, amat sangat suka dengan mimik wajah itu. Tapi kalau dipikir-pikir, gadis di depannya yang satu ini cukup menakutkan jika emosinya sudah berada di puncak ubun-ubun, bisa-bisa ia akan habis babak belur.


"Tebak...." Ia masih ingin bermain-main dengan gadis itu, setidaknya sampai ia melihat urat tegang Elisa terpampang jelas oleh penglihatannya.


"Anak dakjal! Apaan, sialan?! Buang-buang waktu gue aja lu!"


"Ayoloh, coba tebak."


Duk!


"Akh!"


"Siap apa?! Atau mau gue gebuk lo!" Elisa mengambil ancang-ancang mengepalkan tangan di udara.


Lihat, gadis itu memang memiliki kadar kesabaran yang amat sangat rendah. Bahkan ia tak peduli dengan ringisan laki-laki di depan yang menjadi korban tendangan kerasnya. Baik, dia menyerah, kali ini cukup, ia yakin lututnya kini sudah berubah memar akibat tendangan maut bak atlit sepakbola yang ia terima dari seorang perempuan.


Laki-laki pemilik bekas luka di sudut mata itu beralih menegakkan badan setelah mengelus area lutut yang berubah ngilu.


"Buat tes piano lah, bego."


Elisa memutar bola mata malas. "Ya nanti lah, tolol. Baru juga beberapa hari, belum dua minggu. Gak sabaran amat sih jadi orang."


Theo mengerucutkan bibir sembari mengangguk pelan, ia menyejajarkan tinggi badannya dengan Elisa, lalu tangan kekar beruratnya terulur menggapai puncak kepala Elisa, gadis itu seketika tersentak, namun tak dapat menahan gerakan naik turun tangan Theo di kepalanya. Laki-laki itu menyeringai ketika mengetahui gadis di depannya hanya diam membulatkan bola mata.


"Semangat belajarnya."


Laki-laki itu mengacak rambut Elisa, ia menegakkan badan lagi setelah tersenyum sekilas, Theo pergi begitu saja meninggalkan Elisa yang masih berdiri mematung mencerna semua yang baru saja terjadi. Namun, gadis itu segera menggelengkan kepala cepat, menghalau pikiran aneh, ia kembali mengacak rambutnya sendiri yang sempat Theo sentuh, seolah terkena debu tebal.


"Dih, amit-amit."


Elisa memasuki kelas, ia semakin mempercepat langkah menuju bangkunya yang sudah diisi seorang laki-laki.


"Atlanta!"


Laki-laki itu menoleh, menampakkan senyum manis seperti biasa. Sekarang Elisa sedikit lega, karena dua manusia itu—Lucas dan Mark—tidak mengganggu Atlanta lagi, mereka lebih asyik bermain ponsel di pojok kelas. Atlanta segera menyimpan buku yang sedari tadi ia baca hanya untuk mengalihkan pandangan pada Elisa.


"Kamu udah sembuh?"


"Sudah."


Elisa menarik dua sudut bibirnya tanda senang. Beberapa saat, Atlanta hanya memandang pupil hitam Elisa, sebelum akhirnya laki-laki itu menggerakkan tangannya lagi.


"Aku ingin bercerita."


Gadis itu menatap antusias Atlanta, lalu berkata, "Cerita apa?"

__ADS_1


"Kemarin aku dapat roti bakar di dalam tas."


Membaca gerakan tangan Atlanta, praktis membuat gadis itu melebarkan bola matanya. Mungkin maksudnya roti bakar yang sengaja ia buat kemarin? Elisa semakin menatap lamat Atlanta.


"Terus? Gimana rasanya?" tanyanya semangat. Entah, tiba-tiba hatinya berdebar, menunggu laki-laki itu untuk segera mempresentasikan rasa roti bakar buatannya, yang dia yakin rasanya bukan kaleng-kaleng.


"Aku gak tau."


Tarikan dua sudut alis gadis itu tercetak. Apa maksudnya? Ia semakin menatap bingung laki-laki itu ketika mendengar helaan napas.


"Kok gak tau?"


"Karena aku buang, jadi aku gak tau rasa roti bakarnya."


Sontak, Elisa mengepalkan sebelah tangan yang bertengger di meja, menggebraknya pelan namun berhasil membuat Atlanta melonjak kaget, memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup sangat cepat.


"Astaga, Atlanta! Kenapa dibuang segala sih?!"


Sempat kebingungan dengan sikap Elisa yang terlihat tak terima ketika mengetahui roti bakar itu ia buang, tapi Atlanta tetap menjawab apa adanya, dan masih dengan tatapan polosnya.


"Aku takut ada racunnya."


Elisa semakin mengatupkan rahang, tak percaya dengan apa yang baru saja ia tangkap. Dan apa katanya? Racun? Astaga, mana mungkin ia memberi racun pada laki-laki itu. Yang benar saja.


"Tapi aku yang kasih kamu roti bakarnya, Atlanta." Gertaknya.


Baik, kali ini laki-laki itu yang membulatkan kedua bola matanya. Ia berharap apa yang di dengarnya barusan adalah sebuah kesalahan. Jadi, Elisa yang memberi roti bakar padanya secara diam-diam. Ini bencana, apalagi kala itu Elisa langsung menatap tajam ke arahnya, sampai dia sendiri takut jika saja bola mata itu akan keluar dari asalnya.


"Kenapa kamu gak bilang?"


Elisa berdecak, merotasikan pandangannya sembari melipat tangan.


Atlanta mengulum bibir, pikirannya berjelajah mengingat kejadian kemarin. Memang benar, dia sendiri yang melarang gadis itu untuk sekedar mendekatinya. Tapi bukan salahnya juga 'kan kalau ia membuang roti bakar itu karena tak tahu asal muasal makanan tersebut? Dia hanya waspada.


"Maaf ... aku gak tau."


Elisa hanya terdiam, rasa kecewa tiba-tiba saja menyerang hatinya. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan Atlanta.


"Maafkan aku."


"Kamu gak tau 'kan kalo aku bikin itu susah payah? Iya, aku tau cuma roti bakar, kamu bisa beli di mana aja, di pinggir jalan juga banyak yang jualan." Elisa menjeda ucapannya, ia menghempaskan napas berat. "Tapi bukan itu masalahnya, Atlanta. Aku bikin itu pake ketulusan hati aku. Aku rela bangun pagi-pagi cuma buat bikin itu. Terus? Kamu buang gitu aja?"


"Maafkan aku. Aku akan menggantinya. Aku hanya takut kalau orang lain ingin menjahiliku. Aku gak bermaksud tidak menghargai usaha kamu. Maafkan aku, ya?"


Atlanta memandang penuh harap gadis itu, ia seperti merasa memiliki kesalahan yang besar.


"Oke, aku maafin kamu. Tapi ... ada syaratnya."


Laki-laki itu melebarkan senyum, menganggukan kepala cepat, dia yakin, dia akan melakukan apapun asalkan Elisa memaafkannya. Terlepas dari perasaan senang Atlanta, jauh dalam benak Elisa, gadis itu sedang merencanakan sesuatu.


"Akan aku lakukan."


"Bener?"


Sekali lagi laki-laki itu mengangguk, meyakinkan Elisa bahwa dia akan melakukan semua keinginannya.


"Aku mau...."


"ELISA! ELISA!"

__ADS_1


Keduanya kompak mengubah arah pandang. Seorang laki-laki, yang entah siapa, berlari ke arah bangku mereka dengan napas yang tersenggal. Elisa menatap bingung laki-laki itu yang masih mengatur napas.


"I—itu...."


"Lo siapa sih? Tiba-tiba dateng neriakin gue."


"Gak penting gue siapa. Sekarang lo ke luar, Jay..." Lagi-lagi ucapannya terjeda akibat napasnya yang masih belum stabil.


"Ngomong yang jelas. Jay kenapa?"


"Si Jay ... berantem sama Theo di depan lab kimia!"


Tak butuh waktu lama, Elisa membulatkan bola matanya. Dengan sekali gerakan, gadis itu segera beranjak dari duduk, ia segera berlari menuju koridor lab kimia yang tak jauh dari kelasnya. Atlanta yang sama-sama mendengar adiknya tengah bertengkar, mengekori Elisa yang dia yakin akan menjadi penengah di antara kedua laki-laki itu.


Tapi kenapa? Kenapa Jay dan Theo bertengkar, bukankah mereka berdua berteman? Banyak sekali pertanyaan yang terlintas dalam pikiran Elisa sebelum dia sendiri melihat dengan jelas kejadian itu.


"Bilang! Bilang sama gue. Lo punya rencana apa, sialan!"


Suara lantang tiba-tiba menghantam gendang telinga Elisa yang baru saja sampai di tempat tujuan yang sudah dikerumuni banyak murid. Dengan dua orang laki-laki berada di tengah, berhadapan dan saling menatap tajam satu sama lain.


Gadis itu memasuki kerumunan murid-murid demi melihat lebih jelas apa yang ada di depan pandangan matanya.


"Gue gak rencanain apa-apa." Theo menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah dengan ibu jari, menandakan bahwa laki-laki itu baru saja mendapat serangan dari Jay, sembari menampilkan senyum licik andalannya. "Atau bahkan, belum."


"Gue peringatin lo! Jangan pernah sentuh Elisa!"


Theo menyeringai tatkala mendengar satu nama dalam kalimat yang diucapkan Jay. Sebuah seringaian yang sedikit menakutkan bagi orang-orang pada umumnya, namun tak berlaku bagi Jay, ia sangat muak dengan seringaian Theo kala itu.


"Jay, bahkan gue gak kepikiran buat ngerencanain hal buruk apa yang bakal gue lakuin buat Elisa lo itu." Theo menoleh ke arah Elisa ketika menyadari kehadiran gadis itu dari bisik-bisik siswi.


"Oh! Hai, cantik." Ia mengangkat sebelah tangan, melambaikannya penanda sapaan.


Jay mengikuti arah pandang Theo. Memperlihatkan seorang gadis tengah berdiri mematung. Ia segera mendorong baru Theo cukup keras.


"Gak usah bawa-bawa Elisa, sesuai kesepakatan kita kemaren. Ngerti lo! Gue tau sifat picik lo." Geramnya, Jay mengatupkan rahang, menunjuk Theo dengan jari telunjuknya.


Theo kembali menyeringai. "Kalo lo tau seberapa picik gue. Kenapa lo mau kerjasama bareng gue?"


"Kerjasama apa?" Elisa menyahut. Semakin mendekatkan diri ke tengah-tengah.


"Kerjasama buat dapetin lo." Timpal Theo dengan entengnya, menaik turunkan kedua alis jenaka.


"Najis lo anak dakjal!"


Elisa merotasikan bola mata, mengalihkan pandangan menatap Jay, tak peduli dengan Theo yang mendengus.


"Jay, jelasin apa maksudnya. Kerjasama apa?"


Laki-laki itu hanya diam, menimbang sebuah kalimat jawaban untuk meredakan kerutan kening Elisa yang semakin kentara.


"Aku gak mau kamu masuk ekskul musik."


Bukan terdengar seperti jawaban memang.


"Kenapa? Terserah aku dong."


"Udah lah Jay, jangan larang Elisa masuk ekskul gue. Gue janji gak bakal apa-apain dia," ucap Theo, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, kakinya bergerak mendekati Elisa.


"Masuk ekskul gue. Kalo lo gak mau si bisu itu kenapa-napa." Bisiknya tepat di telinga Elisa, seketika bulu kuduknya berdiri tegak dengan suara deep yang disertai sunggingan bibir dari Theo.

__ADS_1


__ADS_2