Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
36. Savior


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, Elisa melirik secara bergantian jam dinding yang terpasang di belakang kelas, dan arlojinya sendiri yang melingkar di pergelangan tangan, seolah takut jika saja kedua benda itu akan berbeda menunjukkan waktu yang dirasa semakin beranjak siang.


Entah, apakah karena ia datang terlalu pagi, atau malah karena laki-laki yang ditunggu kedatangannya belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal lima menit lagi jam pelajaran akan segera dimulai, hampir semua murid memilih memasuki ruang kelas dari pada nongkrong di koridor yang perlahan mulai sepi.


Tidak seperti biasanya, Atlanta akan datang jauh sebelum jam pelajaran akan dimulai. Rasa khawatir kini menggerayangi isi hati maupun pikiran Elisa. Apalagi laki-laki itu tak membalas ataupun membaca pesan singkat yang ia kirim beberapa saat lalu.


"Dia ke mana sih. Bikin khawatir aja," ucapnya bermonolog, ia kembali menggigiti kuku jarinya.


"Elisa, mending lo duduk deh. Bentar lagi Bu Riri masuk, lo mau ditendang dari kelas, huh?" Itu Juan, laki-laki yang berstatus ketua kelas itu sudah melipat tangan di bangkunya.


"Bentar dulu, temen gue belom dateng," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan yang celingukan ke setiap sisi koridor.


"Elah, ngapain ditungguin sih, lo kira dia anak TK. Nanti juga dateng sendiri."


Gadis itu berbalik badan. "Terserah gue dong. Kok jadi lo yang ribet."


"Ya karena gue ketua kelas di sini. Lo harus nurut apa kata gue."


Elisa berkacak pinggang, menatap datar Juan, lalu berkata, "Gue gak suka diatur."


Laki-laki itu hanya mendengus, membiarkan Elisa melakukan semua yang ingin dia lakukan. Dia lelah beradu mulut dengan perempuan barbar seperti Elisa, pasti tidak akan ada ujungnya.


Kring...


"Elisa, kamu kenapa masih di sini?" Dia mengalihkan pandangan, menoleh ke sumber suara. Guru Bahasa Indonesia sudah berdiri di depan pintu, sembari membawa buku paket tebal dalam dekapannya.


"Mmm ... Anu, Bu—"


Tepat detik itu juga Atlanta menampakkan dirinya, obsidian gadis itu seketika berbinar dengan kedatangan Atlanta yang sudah lama dia tunggu-tunggu kehadirannya.


"Atlanta, kamu sakit?" Riri—guru itu sejenak memperhatikan raut wajah Atlanta yang nampak tak seperti biasanya.


Laki-laki itu menggelengkan kepala sebagai jawaban, dan tersenyum tipis seolah-olah dia baik-baik saja. Ia hanya menghempaskan napas kasar dengan tanggapan anak itu.


"Ya sudah, masuk."


Belum sempat Elisa menyapa laki-laki itu, seperti ucapan klise yang biasanya ia katakan, atau menanyakan satu hal yang mengganggu pikirannya saat melihat luka memar di sudut bibirnya, Atlanta lebih dulu memasuki ruang kelas, ia seperti tak mempedulikan Elisa yang hampir mengatakan sesuatu padanya dengan mulut yang sudah menganga.


Tak berpikir panjang, gadis itu segera mengekori Atlanta ke bangkunya, ia begitu antusias mendudukkan dirinya di kursi, menatap Atlanta dengan penuh harap. Elisa segera menangkup pipi Atlanta, melihat lebih jelas wajah yang berhasil membuatnya dipenuhi tanda tanya.


"Kamu kenapa? Muka kamu pucat. Ini juga, kenapa bisa babak belur? Kamu habis berantem?" tanyanya tanpa rem.


Atlanta segera menghempaskan tangan Elisa yang menempel di pipinya, laki-laki itu memilih menatap datar, sebuah tatapan yang sangat asing bagi Elisa. Belum lagi delikan saat keduanya berkontak mata, semakin menguatkan asumsi gadis itu bahwa ada sesuatu dengan Atlanta.


"Elisa. Kalo kamu mau bicara terus, lebih baik kamu ke luar saja," kata guru di depan, praktis membuat Elisa memilih mengulum bibir, ia bungkam, menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu untuk nanti.


Tanpa gadis itu sadari, Atlanta selalu meliriknya dengan ekor mata, ia merasa sangat tak enak hati mengacuhkan Elisa. Namun, bayangan raut wajah marah Jay selalu berputar dalam otaknya. Benar, memang benar, gadis itu milik Jay. Seharusnya dia sadar itu dari dulu, tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, bahwa dia juga tak ingin kehilangan Elisa.


Selama pembelajaran dimulai pun laki-laki itu tetap bersikap bodo amat dengan kegiatan Elisa yang selalu mengiriminya sebuah surat. Entah sudah berapa banyak lembar kertas yang sengaja ia simpan di bawah mejanya, tanpa satu pun dia berniat untuk membalasnya, dan dia sangat yakin, buku milik gadis itu sudah menipis akibat terlalu banyak dirobek.


"Pembelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini. Kita bertemu lagi minggu depan. Selamat siang."


"Siang, Bu...."


Satu per satu murid keluar kelas ketika bel istirahat berbunyi, tidak lain dan tidak bukan tujuan mereka adalah untuk pergi ke kantin. Begitu juga dengan Atlanta, tapi laki-laki itu tak berniat untuk pergi ke sana, ada tempat lain yang saat itu menjadi tujuannya.


Ia beranjak dari duduk.

__ADS_1


Grep...


Elisa mencekal lengannya, otomatis langkah lebar laki-laki itu terhenti bersamaan dengan tarikan di lengannya yang sangat mendadak.


"Kamu mau ke mana? Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi."


"Aku lagi pengen sendiri. Jangan ikuti aku."


Detik itu, Atlanta menghempaskan tangan Elisa untuk yang ke dua kalinya. Ia memilih melangkahkan kaki lebar, keluar dari kelas tanpa mempedulikan panggilan Elisa yang terus memanggil namanya.


"ATA! Atlanta!"


Maaf, Elisa.


Elisa hanya mampu menatap punggung lebar Atlanta yang kian menjauh, lalu hilang ditelan pintu, rasanya tiba-tiba kakinya mendadak kaku, tak mampu bergerak untuk mengejar laki-laki itu. Yang dia lakukan adalah, berbalik badan, membuka retsleting tasnya, mengeluarkan lunch box berisi roti bakar.


Ia menarik napas, menatap roti itu dengan tatapan nanar.


"Padahal aku bela-belain bangun pagi cuma buat bikin ini," cicitnya.


Elisa beralih menyimpan benda berbentuk kubus itu ke dalam tas ransel milik Atlanta. Dengan harapan, laki-laki itu akan memakannya nanti. Lalu ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang kelas yang sudah tak terlihat orang-orang selain dirinya. Kakinya bergerak untuk pergi ke kantin, semoga saja nanti di sana dia bertemu dengan Jay.


"Kasian banget si bisu, haha ... mana kagak ada yang nolongin."


"Ngapain ditolong, anjir. Gak perlu, buang-buang waktu aja, haha...."


Samar-samar, Elisa mendengar suara yang amat sangat familiar di telinganya. Dua orang laki-laki tengah duduk di tangga yang tak jauh dari jangkauan matanya saat itu. Mereka sangat asyik meneguk satu botol soda sembari tertawa yang entah apa topik keduanya. Elisa mendekati mereka, dia merasa ada yang janggal dari dua manusia itu.


"Lagian nih, udah tau itu kandang macan, ya diterkam aja si bisu di sana."


"Maksud lo apa?" Mereka segera membalikkan badan, melihat Elisa yang sudah berdiri menjulang.


Keduanya berdiri dari duduk, menatap remeh Elisa seperti seorang superhero kesiangan.


"Siapa lagi? Temen lo tuh, si bisu, dibully habis-habisan di gudang belakang sekolah," jawab Lucas enteng. Ia kembali meneguk minuman bersoda yang digenggamnya.


Srrkk..


Gadis itu merangsek kerah seragam laki-laki tinggi di depannya tiba-tiba. "SIAPA YANG BULLY ATLANTA, HUH?!" Sahutnya sembari mengguncangkan cengkeraman di kerah seragam Lucas.


"Le-pas, an-jir!" ucap laki-laki itu yang hampir kehabisan pasokan oksigen di paru-parunya.


Mark mencoba melepaskan tangan Elisa yang semakin mengerat di leher sahabatnya itu. "Lepas dulu, woy! Kasian temen gue gak bisa napas. Lo mau dia mati?!"


Mendengar itu, Elisa berdecih, ia melepaskan cengkeraman tangannya. Menatap satu per satu laki-laki di depan dengan tatapan sinis.


"Ck ... lo berdua ANJING!" Ia menunjuk Lucas dan Mark bergantian. "Kenapa kalian gak pernah peduli sama Atlanta! Dia juga manusia! DI MANA HATI LO WAKTU LIAT DIA DIBULLY, HUH!" Teriaknya dengan napas yang memburu. Terlihat jelas dada gadis itu bergerak naik turun seiring luapan emosi yang membuncah.


"KENAPA KALIAN GAK BANTU DIA, ANJING!"


Elisa mengatupkan rahang, pun kedua tangan yang mengepal kuat di samping badan. Kedua laki-laki itu hanya terdiam, mereka hanya menatap manik mata Elisa yang berubah tajam dan memerah.


Tak ingin membuang banyak waktu, kaki jenjangnya bergerak meninggalkan orang di sana  yang mungkin masih mencerna ucapannya tadi. Elisa berlari menuju gudang belakang sekolah yang disebutkan Lucas. Perasaannya semakin memburu memikirkan kemungkinan hal yang terjadi pada Atlanta.


Peluh hampir menetes di dahi gadis itu, ia segera menyekanya dengan punggung tangan, bersamaan dengan kakinya yang terhenti di lorong gelap, sampai iris matanya menangkap sebuah ruangan yang nyaris tak terurus terlihat di depan matanya.


Gudang itu terbilang cukup jauh dari lalu lalang orang-orang, sangat sepi, sampai suara riuh di gedung sekolah tak terdengar sampai di depan gudang itu. Sejenak, ia berfikir, apakah di sini benar-benar ada orang, memangnya siapa yang mau datang ke tempat creepy seperti itu.

__ADS_1


Perlahan, Elisa melangkahkan kaki, lebih mendekat ke arah ruangan yang tertutup itu. Rasa takut lebih mendominasi batinnya, tapi dia juga tak ingin terjadi sesuatu pada Atlanta. Tangannya bergetar memegang gagang pintu yang hampir rapuh, membukanya perlahan dengan perasaan tak karuan.


Cklek


"Udah gue bilang gak usah ikut campur urusan gue kalo lo gak mau kena imbasnya."


"Heh, bisu. Awas aja, kalo sampe masalah ini nyampe di telinga guru. Abis lo."


Kedua matanya seketika memanas, ia semakin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di sana, gadis itu melihat, laki-laki yang tengah terduduk di lantai dengan keadaan yang sudah basah kuyup, seragam putih itu sudah berubah warna akibat coretan cat pilox berwarna-warni. Yang semakin membuatnya geram adalah, manusia tak berperasaan yang tega membully Atlanta adalah seorang perempuan, dan salah satunya adalah Nadin, mantan pacar Jay.


"WOY!"


Orang-orang di sana menoleh, tak terkecuali. Ia melangkahkan kaki lebar, rahangnya semakin mengatup, ia menatap tajam perempuan yang tengah menyunggingkan senyum sembari melipat tangan, seolah meremehkan kehadiran Elisa di tengah-tengah mereka.


Bruk!


Elisa segera mendorong Nadin ke sudut tembok, menyudutkan gadis itu sampai kedua temannya yang lain terkejut, begitupun dengan Atlanta. Meski dia mendengar ringisan dari Nadin, Elisa tak peduli, ia memilih menjambak rambut Nadin kasar.


"ANJING! CEWEK SIALAN! KENAPA LO BULLY ATLANTA!"


Ia semakin menarik rambut gadis itu tanpa ampun.


"BERENGSEK! HADAPIN GUE, ANJING!"


"AAAA! LEPASIN GUE! SAKIT!"


Elisa terus menerus menjambak rambut Nadin sampai helaian rambut itu tercabut paksa. Nadin mencoba menggapai rambut panjang Elisa yang terikat, namun hasilnya nihil, Elisa sangat bertenaga menjambaknya, sampai ia kewalahan dengan guncangan hebat di kepalanya.


"MATI LO! SIALAN!"


"AAAAA! LEPAS!"


Kedua teman Nadin—Linda dan Ria—saling tukar pandang sebelum akhirnya mereka memilih membantu Nadin, keduanya mencengkeram lengan Elisa yang sangat kuat.


"Lepasin Nadin! Dasar cewek barbar!"


Buk!


Elisa menendang perut Ria sampai gadis itu jatuh tersungkur, meringis memegangi perutnya yang amat sangat nyeri. Dengan satu tangan, ia memelintir tangan Linda yang masih mencoba melepaskan sebelah tangannya.


"AW!"


Ia mendorongnya sampai terjatuh bersama Ria. Keduanya meringis, bagaimana bisa Elisa begitu sangat kuat melawan mereka. Gadis itu kembali menjambak Nadin dengan tatapan tajam masih tergambar jelas dimatanya.


"LAWAN GUE, ANJING!"


"CK ... DASAR LEMAH!"


Atlanta sudah tak tahan dengan pemandangan di depannya, ia mengepalkan tangan sebelum beringsut menenangkan Elisa.


"Lepas! LEPASIN GUE, ATLANTA!" Teriaknya setelah tersadar Atlanta memegangi kedua tangannya.


"LEPAS! GUE GAK RELA LO DIGINIIN!" Atlanta menatap Elisa dengan tatapan memohon. Saat itu juga, kedua obsidian itu saling pandang. Perlahan kedua tangan Elisa melemah, Ia melepaskan cengkeraman tangannya di rambut Nadin yang sudah tak berbentuk.


Gadis itu beralih menatap Nadin lagi, jari telunjuknya mengacung, lalu ia berkata, "Kalo lo berani macem-macem sama Atlanta, lo berurusan sama gue!" Sentaknya.


 

__ADS_1


"Dan kalo kalian berani macem-macem sama Elisa. Lo semua berurusan sama gue."


__ADS_2