Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
44. I don't need pity


__ADS_3

"Kalo kamu ngerasa sakit, cepet telpon Abang, ya? Jangan maksain. Jangan bikin Abang panik kaya kemarin. Nanti kalo kamu kenapa-napa Abang juga yang dijadiin samsak sama Papa."


Elisa kembali mengganggukkan kepala ketika Joni lagi-lagi memberinya wejangan. Gadis itu tengah asyik minum satu kotak susu coklat sembari menggulir layar ponselnya.


"Kamu denger gak Abang bilang apa? Jangan ngangguk-ngangguk aja." Laki-laki itu berulang kali menoleh ke arah samping, melihat adiknya yang nampak keasyikan sendiri.


"Denger, Bang. Elisa masih punya telinga, pendengaran Elisa juga masih normal, bawel amat deh."


Joni menghempaskan napas berat untuk pertama kalinya, tanpa mengalihkan fokus ke arah jalanan yang sedang ia lewati.


"El, kamu itu tanggung jawab Abang. Abang gak mau kamu kenapa-napa. Abang bawel juga karena Abang peduli sama kamu, Abang sayang sama kamu."


Elisa menolehkan pandangan, menatap Joni dengan sorot mata terharu. Gadis itu buru-buru memeluk lengan Joni yang tengah menyetir.


"Uh, Elisa makin sayang deh sama Abang. Elisa janji kok, Elisa gak bakal bikin Abang khawatir," ujarnya dengan nada lembut, praktis membuat laki-laki itu mendengus geli.


"Awas ya, sekali lagi kamu bikin Abang khawatir, Abang gak bakal turutin mau kamu lagi," katanya terdengar mengancam.


Elisa segera menegakkan badannya kembali, pupilnya melebar seketika. "Bang, beliin Elisa piano dong."


Joni mengerutkan kening, lalu ia menjawab, "Buat apaan? Kamu ini, aneh-aneh aja kalo minta sesuatu. Kemaren pengen kursus bahasa isyarat, sekarang pengen dibeliin piano."


"Ya emang kenapa, duit Abang 'kan banyak. Masa beli piano aja gak mampu," ujar gadis itu. Tak bermaksud meremehkan isi dompet maupun rekening milik sang Kakak, jika saja ia meminta dibelikan helikopter sekalipun, Joni pasti akan menyanggupinya, hanya saja kala itu Elisa sedang ingin menarik kegeraman Joni agar kemauannya cepat terkabul.


"Masalahnya bukan itu. Akhir-akhir ini kemauan kamu itu aneh, Elisa." Joni menjeda ucapannya, beralih menoleh ke arah Elisa yang masih mengulum bibir. "Jangan bilang gara-gara temen kamu itu, Atlanta?"


Praktis membuat Elisa membulatkan bola mata. Ia segera menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa yang diucapkan Joni adalah salah, meski kenyataannya adalah benar.


"Engga kok, enak aja." Ia beralih menatap lurus jalanan lenggang di depan, lalu melipat tangan. "Elisa tuh baru aja masuk ekskul musik, Bang. Terus Elisa lagi pengen belajar piano lebih dalem lagi, makanya Elisa pengen dibeliin piano."


"Terus karena laki-laki itu ada di ekskul musik juga 'kan?"


Elisa kalah telak, Joni selalu saja berhasil menebak apa yang ada dalam hatinya. Sepertinya, lain kali gadis itu harus belajar bagaimana caranya berbohong dengan benar.


"Ah udah deh, Bang. Jangan mengalihkan pembicaraan. Jadi gimana, Abang mau beliin Elisa piano gak? Kalo engga, Elisa gak mau ngomong sama Abang lagi."


"Iya, iya, nanti Abang beliin."


Gadis itu segera memberi finger heart, namun Joni hanya acuh tak acuh, laki-laki itu kembali fokus ke jalan yang hampir sampai di sekolah Elisa.


"Oh ya, Bang. Soal beasiswa kemaren, gimana?"


"Tenang, semuanya beres. Abang udah hubungi pihak sekolah."


.......


.......


.......


Baru saja gadis itu menapakkan kaki di sekolah, pemandangan tak biasa sudah tersaji di depan matanya. Puluhan siswa sudah berjajar rapi mengelilingi pintu utama gedung sekolah. Tak hanya itu, banyak di antara mereka yang membawa banner, dan sebuah spanduk besar terbentang di antara dua pilar berhasil membuat gadis itu bertanya-tanya.


Dan membuatnya semakin terkejut adalah, sebuah foto laki-laki yang ia kenal terpampang jelas di spanduk, maupun banner, dengan bertuliskan Semangat dan sukses Jay Valendra untuk mengikuti olimpiade tingkat nasional.


Ah, bahkan Jay tidak pernah bilang bahwa ia akan mengikuti lomba olimpiade.


"ELISA!"


Gadis itu sontak menoleh ke sumber suara, tepat di belakangnya. Seorang laki-laki tengah melambaikan tangan padanya, ditambah senyuman sekaligus bonus dimple manis tercetak di wajah tampannya.

__ADS_1


"Jay, kok kamu gak bilang kalo mau ikut lomba olimpiade?" ucapnya setelah Jay nampak berdiri menjulang di depan gadis itu.


Laki-laki itu hanya terkekeh, lagi-lagi ia memamerkan lesung pipit yang mampu membuat kaum hawa terpesona.


"Jangan senyum-senyum doang. Aku nanya loh Jay."


"Iya, iya, maaf. Aku sengaja gak kasih tau kamu, biar jadi kejutan."


Elisa hanya mendengus, bahkan ketika laki-laki itu mengusak rambutnya ia hanya terdiam menatap tajam Jay. Bisa-bisanya laki-laki itu tak memberitahunya hal sepenting ini.


Oh, dan jangan lupakan status mereka yang sudah menyebar sebagai sepasang kekasih. Gendang telinga gadis itu cukup peka dengan siulan murid-murid lain yang menyaksikan kedekatan keduanya.


Detik selanjutnya, iris mata Elisa tertuju pada sudut bibir Jay yang kebiruan. Astaga, kenapa ia baru menyadarinya sekarang.


"Jay? Kamu abis berantem?"


Jari telunjuk laki-laki itu segera menyentuh luka yang disebut Elisa. Ah, ia bahkan baru menyadari kejadian kemarin, di mana Atlanta meninjunya.


"Oh, ini. Engga, ini tuh—"


"Atlanta?" Ucapan Jay seketika terurungkan tatkala gadis di depannya mengucapkan sebuah nama yang mampu membuatnya geram. Ia sama-sama menoleh ke mana Elisa mengalihkan pandangan.


Tak disangka, dengan wajah paniknya, Elisa segera menghampiri Atlanta. Gadis itu menangkup pipi Atlanta setelah kedua bola matanya melihat luka memar di tulang pipi dan sudut bibir Atlanta.


"Atlanta?! Kamu kenapa? Kenapa babak belur gini? Kamu abis berantem? Siapa yang pukulin kamu, huh?"


Rentetan pertanyaan yang terlontar dari mulut Elisa berhasil membuat Jay berdecih, ia menyunggingkan bibir kesal. Bagaimana rasa khawatir dan perhatian Elisa padanya dan Atlanta sungguh sangat jauh berbeda. Terlihat jelas bukan? Bahkan ia sendiri tak pernah melihat Elisa begitu perhatian padanya, contohnya saat melihat luka memar di wajahnya beberapa saat lalu.


Atlanta menghempaskan tangan Elisa yang tak sengaja memberi rasa sakit ketika bersentuhan dengan lukanya. Ia menatap datar Elisa.


"Bentar deh. Kenapa kalian berdua pada babak belur?" Ia menatap satu per satu laki-laki di depan, melipat tangan seperti menginterogasi. Bagaimana Elisa tidak curiga, kedua laki-laki itu memiliki luka diwaktu yang bersamaan.


Atlanta maupun Jay memilih diam, mereka tak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari Elisa yang ditujukan untuk keduanya.


"E—engga lah. Siapa bilang."


"Terus kenapa kalian kaya gini." Elisa semakin menyudutkan keduanya. Isi kepala Jay berputar memikirkan alasan logis untuk gadis itu. Tidak mungkin ia menjawab hal yang sebenarnya 'kan?


"Kemaren aku abis latihan boxing. Lawan aku gak sengaja pukul aku, El," ucap Jay penuh keyakinan, berharap Elisa tak begitu curiga padanya.


Terdengar helaan napas dari Elisa, setidaknya Jay sedikit lega dengan alibinya kala itu. Kali ini, Elisa menatap Atlanta seolah meminta penjelasan laki-laki itu. Namun Atlanta enggan, sekilas ia menoleh pada Jay yang sedang menarik sebelah alisnya.


"Jawab aku, Atlanta. Kenapa kamu babak belur?"


"Palingan dia berantem tuh. Dia 'kan gak punya orang tua, makanya gaulnya sama berandalan. Terus luka itu bekas baku hantam sama musuhnya" kata Jay sembari melipat tangan, memandang remeh Atlanta.


"Atlanta, bener apa yang dibilang Jay?"


Atlanta masih terdiam, dan semakin menambah kerutan di kening Elisa. Kenapa laki-laki itu? Bahkan tatapan dingin dari Atlanta tak pernah gadis itu lihat sebelumnya.


"Jawab aku, Atlanta."


Bukan tak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ia benar-benar tak mau melawan Jay. Atlanta memilih menggerakkan kaki jenjangnya meninggalkan Elisa yang masih menunggu penjelasannya.


"Atlanta! Atlanta, kamu mau ke mana?"


Seperti ada tarikan magnet, Elisa berlari menyusul Atlanta yang sudah menjauh dari jangkauannya. Alhasil, ia sama sekali tak mendengar panggilan Jay yang terus meneriaki namanya.


"Sialan."

__ADS_1


Tak henti-hentinya Elisa mengejar Atlanta, dan langkah lebar laki-laki itu mampu membuat gadis di belakangnya tergopoh-gopoh.


"Atlanta! Tunggu!"


Ia berhasil mencekal lengan Atlanta, bertepatan dengan keduanya yang sudah berada di depan kelas. Laki-laki itu mau tak mau berbalik badan.


"Kamu kenapa sih? Kamu marah?"


Atlanta hanya menatap obsidian Elisa tanpa berniat memberi jawaban atas pertanyaannya. Tidak bermaksud membuat gadis itu kebingungan dengan sikapnya yang acuh tak acuh, hanya saja suasana hatinya memang sedang tak bersahabat.


Ternyata, ucapan Jay kemarin masih membekas dalam hatinya. Sampai ia sendiri kesulitan untuk tidur di malam hari. Yang ada dalam pikirannya sampai detik itu hanya Bunda, Bunda, dan Bunda.


"Kamu kenapa, hmm?"


Tanpa diduga, Atlanta memilih mengabaikan Elisa, laki-laki itu melenggang masuk ke dalam kelas tanpa peduli dengan raut wajah terkejut Elisa ketika tanpa sengaja ia menyenggol lengan gadis itu.


.......


.......


.......


Semakin lama, ia semakin bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan Atlanta. Disepanjang pembelajaran, tatkala gadis itu sengaja mencuri waktu hanya untuk bertanya tentang laki-laki itu, Atlanta lagi-lagi hanya menatapnya saja.


Dan selama itu pula, Elisa hanya mampu melakukan segala hal sendirian. Di mana ia harus pergi ke kantin sendiri, meski berakhir dengan adu mulut bersama Theo, si manusia yang akhir-akhir ini selalu ia temui di mana-mana. Mungkin dia pikir, Atlanta sedang ingin sendiri, atau mungkin saja laki-laki itu tengah ada masalah, tentu ia tak ingin menambah beban pikiran Atlanta dengan banyak pertanyaan darinya.


"Atlanta, tunggu dulu dong. Kamu 'kan udah janji mau ajarin aku belajar piano lagi hari ini. Kenapa kamu buru-buru pulang? Kalo kamu lagi ada masalah bilang sama aku. Jangan cuekin aku terus, Atlanta."


Masih dengan aksi kejar-kejaran, Elisa tetap berusaha meminta penjelasan kenapa Atlanta bersikap aneh seharian ini. Bahkan ketika bel pulang berbunyi, laki-laki itu terlihat sangat tergesa merapikan semua alat tulisnya dan pergi begitu saja.


"Atlanta. Kalo aku punya salah, aku minta maaf. Tapi kamu jangan kaya gini."


Keduanya sudah ada di parkiran belakang sekolah, ia menghentikan langkah, dengan Atlanta yang sudah berdiri di depan sepedanya yang terparkir.


Elisa mengatur napasnya yang tersenggal akibat mengejar Atlanta. Laki-laki itu menolehkan pandangan, menatap tajam gadis yang memandangnya bingung. Astaga, bahkan rahang laki-laki itu mengatup. Jelas ia sedang menahan amarah yang ada di dalam dadanya.


"K—kamu, marah sama aku?" Cicitnya. Tiba-tiba saja nyali gadis itu menciut seketika setelah melihat sorot mata tajam Atlanta.


"Apa aku serendah itu di mata kamu, Elisa?"


Segera, kerutan di kening Elisa tercetak begitu saja setelah memahami gerakan tangan Atlanta.


"Maksud kamu?"


"Tadi siang, waktu aku ke ruang TU untuk bayar tunggakkan SPP, Bu Rina bilang kalo semua biaya sudah dilunasi Pak Joni sampai aku lulus sekolah."


Elisa bungkam. Dan memang benar, benar dialah yang meminta Joni untuk membayar lunas biaya sekolah Atlanta sampai laki-laki itu lulus. Tapi bukan berarti gadis itu memandang rendah Atlanta, tidak sama sekali.


"Aku tau, Elisa. Aku memang sering nunggak bayar SPP. Tapi bukan berarti aku gak mampu untuk bayar. Kamu pikir kenapa aku kerja paruh waktu? Itu semua untuk biaya hidup aku sendiri. Dengan kamu kaya gini, kamu gak menghargai setiap kerja keras aku, Elisa."


"Atlanta, tapi aku gak bermaksud buat rendahin kamu. Aku cuma mau bantu kamu aja. Aku juga gak mau kamu dipanggil terus-terusan sama Bu Rina. Kita 'kan temen, udah seharusnya aku bantu kamu."


"Tapi aku masih mampu, Elisa. Aku gak mau orang lain kasihan dengan keadaan aku. Aku tau, bagi kamu semua biaya sekolah bukan apa-apa, tapi di sini aku harus kerja dulu. Aku gak mau belas kasihan orang lain selagi aku masih bisa."


Elisa hanya memandang kedua bola mata Atlanta yang memancarkan perasaan kecewa. Apa dia salah untuk sekedar membantu Atlanta?


Laki-laki itu beralih menaiki sepedanya, sontak Elisa kalang kabut ketika ia tahu Atlanta akan segera meninggalkan, ia mencekal lengan Atlanta.


"Atlanta ... Atlanta, tunggu dulu, dengerin penjelasan aku. Aku—"

__ADS_1


Atlanta menghempaskan genggaman tangan Elisa yang mencoba menahannya.


"Aku akan membayar semuanya kembali."


__ADS_2