
Dengan langkah cepat, Theo menggendong Elisa yang sudah tak sadarkan diri. Hal itu tentu saja membuat banyak pasang mata memandang penuh tanda tanya dengan laki-laki yang tengah kepanikan membawa seorang gadis. Ia terus menelusuri setiap koridor sampai lorong sekolah untuk sampai di parkiran.
Namun langkahnya terhenti ketika seorang laki-laki berdiri dengan raut wajah tak kalah panik dengan Theo.
"Apaan sih! Awas! Lo gak liat Elisa pingsan?!"
Laki-laki itu menggerakkan tangannya cepat yang mungkin ia tahu Theo tidak akan paham dengan bahasa isyarat.
"Elisa kenapa?"
"Lo bilang apa sih bisu! Gue gak ngerti! Awas awas!"
"Aku ikut."
Theo merotasikan bola mata, menatap Atlanta dengan pandangan jengah.
"Apaan! Lo mau ikut?" Atlanta menganggukkan kepalanya. "Ya udah ayok! Bantu gue!"
Keduanya kembali melangkahkan kaki lebar menuju parkiran di mana mobil Theo terparkir, untung saja hari ini ia membawa mobil ketika motornya sedang dalam masa perbaikan.
"Buka!"
Atlanta segera membuka pintu mobil bagian belakang kemudi. Dengan penuh kehati-hatian, laki-laki berwajah tegas itu mengalihkan Elisa ke sana, pun Atlanta yang beralih memangku kepala Elisa di pahanya.
Theo mulai melajukan mobilnya ke luar sekolah dengan kecepatan sedang, membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat dari sekolah. Di belakang sana, Atlanta masih memandangi wajah pucat Elisa. Ia mengusap peluh yang menetes di kening gadis itu dengan tangannya yang sedikit bergetar, lalu menggenggam tangan dingin Elisa dengan penuh harap bahwa gadis itu akan baik-baik saja.
Apa yang terjadi dengan Elisa? Hatinya ikut merasa sakit dengan keadaan Elisa yang seperti ini. Ia tak peduli jika ia harus membolos sekolah hari ini, yang terpenting sekarang adalah Elisa.
Sesampainya di depan rumah sakit, Theo kembali mengambil alih Elisa untuk dibawanya. Ia berlari sekuat tenaga memasuki lobi rumah sakit.
"Suster! Tolong!"
Beberapa orang perawat yang melihat siswa tengah membawa gadis tak sadarkan diri segera mengambil brankar yang tersedia di sana. Lorong yang awalnya hening kini dihiasi derap langkah orang-orang dan suara bising yang berasal dari roda brankar yang di dorong.
Di atas sana Elisa masih tak sadarkan diri, tim medis terus memompa kantung oksigen yang terpasang menutupi mulut sampai hidung gadis itu, mereka membawanya ke ruang UGD.
"Kalian tunggu di sini. Biar kami yang menangani," ucap seorang suster saat sudah berada di pintu kaca buram UGD, menahan dua orang laki-laki yang ingin ikut ke dalam.
Keduanya hanya bisa nurut dengan ucapan sang suster. Theo lantas mengusap wajahnya kasar karena frustasi, jantungnya benar-benar berdebar sangat cepat kala itu. Tak berbeda jauh dengan Theo, Atlanta sama-sama panik bukan kepalang ketika gadis itu harus masuk ke UGD.
Atlanta terus mengatur napasnya yang tak beraturan, menggigiti kukunya gusar. Ia beralih mendaratkan bokongnya di kursi besi panjang di depan ruang UGD, menatap pintu di depan dengan sangat cemas.
"Ini semua gara-gara Nadin," ujar Theo bermonolog. Praktis membuat Atlanta menoleh, dan menampilkan Theo tengah menyadarkan punggungnya di samping pintu UGD sembari menutup mata, menengadahkan kepala ke atas.
Laki-laki itu menautkan kedua alis mendengar ucapan Theo.
"Gue gak bisa biarin ini."
Theo merogoh ponselnya di saku celana, mengetikkan sesuatu di sana. Terlihat laki-laki itu mengatupkan rahang, jelas ia tengah menahan amarah yang ada dalam dadanya. Di sisi lain, Atlanta masih menebak apa yang sudah Nadin perbuat pada Elisa. Meski ia tidak tahu apa-apa, yang pasti Theo tengah merencanakan sesuatu untuk Nadin, dan Atlanta tahu Theo tidak akan pernah main-main ataupun pandang bulu dengan tindakannya.
Laki-laki itu beranjak, berniat memberi nasihat walaupun ia yakin Theo akan menyangkal masukan darinya.
Kriiett
Tepat setelah Atlanta berdiri di depan Theo, pintu kaca ruang UGD itu terbuka, menampakkan seorang pria dewasa bersetelan jas putih keluar dari sana.
__ADS_1
"Gimana keadaannya, Dok?!"
Pria itu menghempaskan napas pelan, tersenyum tipis ke arah Atlanta dan Theo.
"Alhamdulillah, pasien sejauh ini baik-baik saja. Tapi saya sarankan untuk hari ini dia harus di rawat di sini agar kami bisa memantau perkembangan pasien."
Keduanya kini bisa bernapas lega, setidaknya tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Tapi, saya perlu bicara mengenai kondisi pasien pada anggota keluarganya."
"S—saya walinya, Dok. Kebetulan Elisa kerabat dekat saya. Dokter bicara saja sama saya."
"Baik, kalau begitu kamu ikut ke ruangan saya. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang inap."
Dokter di sana berjalan lebih dulu, baru saja Theo hendak menyusul, suara panggilan telpon terdengar. Ia mengangkat telpon masuk.
"Hallo."
"...."
"Oke, gue ke sekolah sekarang."
Setelah mengatakan itu, Theo memilih menoleh ke arah Atlanta yang masih terdiam, ia menepuk pundak Atlanta.
"Gue ada urusan. Gue minta tolong sama lo, selagi gue pergi, jagain Elisa. Dan lo gantiin gue ke ruang Dokter itu, apapun yang Dokter bilang, lo kasih tau gue nanti."
Atlanta hanya mengangguk pelan, pun Theo yang mulai berbalik badan seraya berjalan cepat menjauhi lorong UGD. Laki-laki itu menghela napas, menyusul sang Dokter yang sudah sedikit menjauh dari jangkauan matanya menuju ruang kerja.
"Loh, bukannya laki-laki tadi yang mau bicara sama saya?"
"Maaf, tapi teman saya ada keperluan mendadak. Apa boleh saya menggantikan dia?"
Beberapa saat Dokter itu nampak berpikir, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan Atlanta.
"Baik, tidak masalah. Silahkan duduk."
Atlanta beralih untuk duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sang Dokter. Menunggu pria itu mengatakan sesuatu yang sejak tadi berhasil membuatnya dilanda rasa penasaran dan gelisah.
"Begini, sebenarnya pasien pernah datang ke rumah sakit ini untuk memeriksakan kondisinya. Kebetulan saya yang menangani pasien." Ia menjeda ucapannya, menarik napas. "Saya rasa penyakit yang diderita pasien semakin memburuk sejak terakhir kali dia memeriksakan diri."
Penyakit? Apa Elisa punya penyakit?
Atlanta kembali mengetikkan kalimat pertanyaan di ponselnya.
"Maksud Dokter?"
"Kamu tidak tahu kalau pasien sedang sakit?" Pria itu membulatkan bola mata ketika mengetahui bahwa Atlanta tidak tahu menahu mengenai penyakit yang diderita Elisa.
Laki-laki itu menggelengkan kepala pelan, praktis Dokter di sana beralih menghempaskan napas berat.
"Astaga ... Jadi begini, pasien sebenarnya sedang mengidap penyakit gagal ginjal stadium 4. Saya sudah katakan untuk tidak mengkonsumsi obat-obatan lain selain obat yang saya berikan, tapi ternyata pasien memang sering mengkonsumsi obat yang tergolong keras, bahkan sampai saat ini."
Atlanta tercekat, air wajahnya berubah, ia berharap ucapan sang Dokter adalah sebuah kesalahan. Elisa tidak mungkin sakit, selama ini gadis itu selalu terlihat baik-baik saja.
"Saya sudah minta pasien untuk memberitahu orang tuanya agar segera mencari jalan terbaik untuk kesembuhan pasien. Tapi nampaknya dia tidak mengatakan itu pada siapapun. Apalagi di tambah stress yang berlebihan, akan membuat kondisi pasien semakin melemah seperti saat ini."
__ADS_1
Bukan main, Atlanta benar-benar terkejut dengan ucapan Dokter di depannya. Isi dadanya kembali berpacu sangat cepat. Apakah selama ini Elisa menutupi itu semua dari semua orang? Bahkan orang tuanya sendiri?
"Apa Elisa bisa disembuhkan?"
Dokter di sana kembali meloloskan napas pelan, menatap manik mata Atlanta yang sudah berkaca-kaca.
"Pasti bisa. Asalkan ada persetujuan dari keluarga pasien, saya akan segera menindaklanjuti pengobatan untuk pasien."
Cukup memakan banyak waktu untuk sekedar mengobrol dengan sang Dokter, Atlanta benar-benar banyak bertanya mengenai apapun yang terlintas dalam benaknya akan penyakit yang diderita Elisa selama ini. Sungguh, dia tidak tahu harus berbuat apa. Atlanta tidak ingin kehilangan Elisa.
Laki-laki itu keluar dari ruangan Dokter tadi dengan langkah gontai, seolah semua energinya terkuras habis setelah mendengar pernyataan pahit. Ia pergi menuju ruang inap Elisa yang tidak jauh dari ruang kerja sang Dokter. Memasuki ruangan bersekat yang nampak sangat sepi, hanya ada segelintir orang yang dirawat inap di sana.
Atlanta membuka tirai berwarna hijau, dan menampakkan Elisa yang sudah terduduk di atas bangsal, tengah memperhatikan tangannya yang sedang di infus.
Elisa segera mendongak tatkala mendengar seseorang membuka tirai, lantas gadis itu tersenyum lebar.
"Atlanta? Kok kamu ada di sini?"
Ia berdiri di samping Elisa, tangannya mengusap rambut gadis itu lembut.
Masih dengan senyuman terpatri di bibir tipisnya ia berkata, "Hmmm ... makasih ya, kamu udah tolong aku."
Atlanta hanya mengangguk, seraya menampilkan senyumnya pada Elisa. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Dokter tadi. Gadis itu tengah sakit.
"Kenapa kamu gak bilang."
"Bilang apa? Aku gapapa kok, kamu gak usah khawatir gitu deh," ujarnya terkekeh kecil.
Atlanta menghempaskan napas. Lihat, bagaimana gadis itu selalu berusaha untuk terlihat baik, bahkan senyuman itu selalu berhasil menutupi semua rasa sakit yang dia rasakan. Apakah gadis itu tidak pernah berpikir, bahwa ia sangat-sangat mengkhawatirkannya? Kenapa selama ini ia mudah tertipu dengan senyum lebar Elisa, dan sifat galak gadis itu.
"Kenapa kamu gak bilang kalo kamu sakit?"
"Atlanta ... aku baik-baik aja, aku gak sakit kok. Aku cuma kecapean aja, kamu—"
"Aku sudah tau semuanya, Elisa. Dokter itu bilang kalo kamu sakit ginjal."
Memahami apa yang diungkapkan Atlanta, Elisa bungkam, ia tak mampu berkutik, mulutnya seperti terkunci rapat. Hanya tatapan nanar dan setetes air mata keluar dari pelupuk yang menjawab semuanya.
"Kenapa kamu gak bilang?"
Elisa masih terdiam, kini bahu ringkih gadis itu mulai bergetar, pun air bening semakin membanjiri pipinya.
"Kenapa? Kenapa kamu gak bilang?"
Atlanta meraih bahu Elisa yang semakin naik turun, pandangannya tak pernah terlepas melihat wajah sendu Elisa yang berusaha menahan tangisan pilu keluar dari mulutnya.
"Elisa, jangan pernah merasa sendiri. Aku di sini buat kamu. Apapun masalah kamu, bahuku akan senang hati menjadi tempat untuk menumpahkan kesakitan yang kamu rasa."
Elisa menatap lamat obsidian bening milik Atlanta. Derai air mata semakin membludak. Sekeras apapun ia berusaha untuk menahan tangisan, nampaknya gadis itu sudah tidak sanggup lagi memikul beban yang selama ini ia bawa sendirian.
Elisa segera memeluk laki-laki itu dengan tangis pilu. Atlanta bisa ikut merasakan kesakitan bagaimana Elisa menumpahkan semua cobaan hidup di bahunya. Ia membalas pelukan gadis itu bersama tetesan air mata yang mulai berderai.
"Aku takut ... aku takut Mama, Bang Joni, Bang Yunaka sedih kalo m—mereka tau keadaan aku yang sebenarnya."
"Aku gak mau liat Mama nangis, Ta ... aku gak mau."
__ADS_1
Atlanta mengusap puncak kepala Elisa, masih membiarkan gadis itu meluapkan isi hatinya. Namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Atlanta sama-sama takut, ia sungguh sangat takut. Ia takut kehilangan Elisa, sudah cukup baginya kehilangan sosok Bunda, ia tidak ingin lagi kehilangan orang yang paling ia sayangi untuk kedua kalinya.