Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
49. Rencana pindah sekolah


__ADS_3

Di depan rumah besar bertingkat Atlanta masih berdiam diri di balik pagar menjulang tinggi itu. Ia masih menimbang akan keputusannya untuk mengiyakan permintaan Joni kemarin. Keluarga Elisa memang sangat baik padanya, sampai ia merasa tidak pantas menerima semua kebaikan itu jika dengan cuma-cuma.


Dengan sebelah tangan yang menggenggam stang sepeda, entah sudah berapa kali laki-laki itu meloloskan napas berat. Atlanta semakin meyakinkan diri dengan keputusannya kali ini. Kaki jenjangnya bergerak maju memasuki pekarangan rumah Elisa. Meski ia sendiri sedikit takut untuk bertemu gadis itu, mengingat sikapnya belakangan ini.


Atlanta menekan tombol bel yang ada di samping pintu tinggi berwarna hitam di depannya.


Jauh di dalam sana, seorang gadis yang sedang bermalas-malasan di pinggiran kolam renang sembari memainkan air tiba-tiba terkesiap dengan tepukan tangan di punggungnya dari sang Kakak—Joni.


"El, kamu gak denger bel? Itu di luar ada tamu, bukain gih."


Gadis itu mengedikkan bahu. "Males ah, mager. Sama Abang aja sana."


"Dari tadi Abang liat-liat kamu gak ada kegiatan sama sekali."


"Namanya juga orang mager, Bang."


Joni hanya menghempaskan napas pelan, menggelengkan kepala pelan setelah melihat adiknya yang akhir-akhir ini sepeti tak punya gairah semangat. Laki-laki itu beralih meninggalkan Elisa di area kolam renang untuk pergi membukakan pintu.


Cklek


"Eh? Atlanta?"


Atlanta tersenyum kaku tatkala mendapatkan sosok Joni yang membukakan pintu.


"Akhirnya, kamu mau juga jadi gurunya Elisa."


Laki-laki itu mengulum senyum, sebelum akhirnya tangan Joni menggapai pundaknya, membawa Atlanta untuk masuk ke dalam rumah.


"El?! Coba sini! Abang bawa siapa!" sahut Joni.


"Siapa?!" Terdengar sahutan dari arah kolam renang, tidak lain dan tidak bukan dia adalah Elisa.


"Makanya sini dulu!"


Tak berselang lama, bahkan sebelum sepuluh detik, Elisa sudah menampakkan diri di depan Joni dan tentunya Atlanta. Gadis itu terpaku beberapa saat sampai mulutnya terbuka sedikit.


"Atlanta?"


Atlanta memberi senyuman kaku pada Elisa.


"Kamu, kenapa bisa ke sini?" Tanya Elisa penuh tanda tanya. Pasalnya ia sendiri belum pernah mengajak Atlanta ke rumahnya, bahkan gadis itu tak pernah memberikan alamat rumah pada Atlanta. Kedatangan Atlanta yang begitu tiba-tiba sudah jelas membuat gadis yang berdiri tegang itu terkejut.


"Ah, Abang sengaja gak kasih tau kamu soal ini sejak awal."


Elisa menautkan alis mendengar ucapan Joni.


"Maksudnya?"


Laki-laki dewasa di sana tersenyum simpul. Lalu berkata. "Abang minta Atlanta buat jadi guru piano kamu."


"Hah!"


Cepat-cepat Elisa membekap mulutnya sendiri. Dengan bola mata yang masih melotot, gadis itu memukul lengan Joni.


"Abang jangan malu-maluin dong. Elisa masih bisa belajar sendiri." Bisiknya.


"Gapapa lah, orang Atlanta juga gak masalah kok. Lagian Abang kasian sama kamu, dari pulang sekolah sampe malem main piano gak ada ujung-ujungnya. Kamu cuma bisa main nada potong bebek angsa aja perasaan."


Sekali lagi Elisa memukul lengan Joni. Ingin sekali ia merobek mulut Joni yang tidak bisa menutupi aib adiknya sendiri. Lihat, dan sekarang Atlanta sudah melebarkan senyumnya tatkala mendengar ucapan Joni, praktis membuat pipi gadis itu berubah memerah.


"Y—ya berarti bagus dong. Elisa belajar udah ada kemajuan." Belanya yang diberi anggukan pelan dari Joni.


"Iya bagus sih bagus, tapi kalo kamu muter-muter di situ kapan mau majunya. Katanya mau bikin Mama sama Abang-abang kamu bangga."


Elisa mengulum bibir, gadis itu memilih memainkan jari-jarinya yang saling bertautan.

__ADS_1


"Atlanta udah setuju kok, masa iya kamu gak mau di ajarin Atlanta? Mending sama temen kamu, atau nanti Abang cari guru yang lain?"


"Iya, ya udah Elisa mau sama Atlanta aja."


Joni menepuk bahu Elisa dan Atlanta bersamaan. "Ya udah sana."


"Ke mana?"


"Ya latihan atuh Elisa."


"Sekarang?"


"Tahun depan."


"Oh, ya udah."


Joni menghempaskan napas berat. "Elisa ... Ya sekarang atuh Astaghfirullah, kamu gak kasian dari tadi Atlanta berdiri terus di sini?"


"Iya Bang, iyaaa."


Elisa lebih dulu berbalik badan. Setelah Joni memberi isyarat agar mengikuti adiknya, barulah laki-laki itu mengekori Elisa dari belakang, mengikuti gadis itu menuju ruangan dekat kolam renang di mana Elisa sering berlatih piano di sana.


"Hmmm ... kamu, mau minum apa?" ucap Elisa kikuk tatkala mereka sampai di ruang latihan.


"Gapapa. Gak usah."


"Tapi kamu 'kan tamu di sini."


Atlanta sedikit tersenyum, laki-laki itu tampak berpikir beberapa saat.


"Air putih dingin aja. Boleh?"


Elisa mengangguk setuju. "Iya, kamu duduk dulu aja di sana," ujarnya seraya menunjuk sofa putih di samping piano.


Senyumnya mengembang ketika melihat banyak coretan di atas keyboard piano. Nampaknya Elisa sungguh-sungguh dalam belajar piano. Jemari Atlanta mulai bergerak di atas keyboard, laki-laki itu sedikit memainkan nada yang terdengar sangat indah, sampai ia tak menyadari bahwa seorang gadis sudah berdiri menjulang di belakangnya. Tak ingin mengganggu permainan Atlanta, Elisa hanya diam terpaku mendengar bagaimana nada indah itu menggelitik isi hatinya, ia sangat suka.


"Bagus."


Atlanta menoleh cepat, menampakkan Elisa yang tersenyum tipis setelah menyimpan gelas berisi air bening di atas meja bundar.Laki-laki itu membalasnya dengan tepukan ruang kosong kursi di sampingnya, mengisyaratkan Elisa untuk duduk di sana.


Dengan langkah lambat, Elisa menghampiri Atlanta, dan duduk di samping laki-laki itu dengan gestur gugup.


"Apa ini kamu yang tulis semua?"


Elisa mengikuti arah tunjuk Atlanta yang tertuju pada deretan kunci not di atas keyboard. Lantas ia sedikit terkekeh, menggaruk batang hidungnya yang tak terasa gatal sama sekali.


"I—iya, itu saran dari Bang Yunaka biar aku cepet hapal," jawabnya.


Atlanta hanya mengangguk paham.


"Aku mau lihat kamu bermain."


Gadis itu segera membulatkan bola mata, lalu berkata, "Tapi aku belum—"


"Tidak apa-apa. Aku akan mendengarkan lagu potong bebek kamu."


Entah sebuah olokan dalam bentuk apresiasi, Elisa sangat merutuki kejujuran ucapan Joni beberapa saat yang lalu. Ia benar-benar cukup malu akan hal itu. Lagu potong bebek angsa? Astaga yang benar saja, bahkan anak SD sekalipun mungkin jauh mahir dari pada dirinya.


"Tapi, kamu jangan ketawa ya." Peringatnya lebih dulu.


Atlanta kembali mengangguk, menunggu pertunjukan kecil dari Elisa. Ketika jemari lentik gadis itu berada di atas keyboard, bola mata laki-laki di sana semakin berbinar, sampai dentingan nada lagu anak-anak yang sudah tidak asing lagi di telinga terdengar, ia melebarkan senyum.


Laki-laki itu bertepuk tangan setelah Elisa menyelesaikan tes pertama darinya kurang dari satu menit.


"Permainan kamu sudah bagus."

__ADS_1


"Ah jangan berlebihan, kalo jelek bilang jelek aja. Masa cuma lagu potong bebek angsa aja bagus sih," ucapnya yang disertai mimik wajah memberengut.


"Aku serius. Kamu sudah pandai memainkan jari-jari kamu. Gapapa sekedar lagu anak-anak juga, itu 'kan langkah awal kamu buat maju sedikit demi sedikit."


Elisa kembali terdiam, yang ia lakukan hanyalah memperhatikan lebih dalam wajah kalem Atlanta kala itu. Ingin sebenarnya ia memulai percakapan dan mengakhiri kesalahpahaman di antara mereka.


"Ada yang ingin aku sampaikan."


"O—oh, apa?"


"Maaf, karena akhir-akhir ini aku selalu acuh tak acuh."


Tak ada jawaban apapun dari Elisa. Atau mungkin gadis itu sedang berpikir untuk mengungkapkan hal yang sama pada Atlanta.


"Aku gak marah. Maaf, karena buat kamu bingung dengan sikapku."


Seulas senyum tercetak di bibir tipis Elisa, gadis itu segera meraih tangan Atlanta.


"Aku maafin kamu. Tapi harusnya aku yang minta maaf, aku tau kok tindakan aku terlalu berlebihan buat kamu."


Laki-laki itu menggelengkan kepala.


"Engga, kamu gak salah."


Gadis itu menghempaskan napas lega. "Jadi sekarang kita udah baikan nih ceritanya?"


Atlanta menjawabnya dengan senyuman, lalu tangannya bergerak lagi.


"Iya. Sekarang kamu harus banyak latihan, kamu harus memamerkan hasil kerja keras kamu sama Theo nanti."


Elisa mengangguk tegas, ia semakin bersemangat untuk hari itu. Ia akan buktikan pada laki-laki bernama lengkap Theo Wijaya bahwa dirinya mampu.


Drrttt ... drrttt


Suara getar ponsel di saku celana training yang dipakai Elisa mengalihkan fokus keduanya. Elisa dengan cepat mengangkat telpon yang masuk.


"Hallo Pah?"


"Elisa, kamu ada di rumah, Nak?"


"Ada, kenapa?"


Ya, dia adalah Pratama. Entah ada angin apa pria itu menelpon anaknya.


"Papa mau sedikit ngobrol sama kamu."


Elisa menoleh ke arah Atlanta, dan laki-laki itu mengisyaratkan Elisa untuk memberi waktu si penelepon yang tak lain adalah Pratama. Elisa beranjak, gadis itu beralih duduk di sofa.


"Papa mau ngomong apa?"


"Jadi gini, kemarin Papa dapet kabar dari sekolah Modelling di London."


"Iya, terus?"


Ia memijat pelipisnya pelan, masih mendengarkan ucapan Papanya dengan seksama.


"Papa berniat pindahkan kamu sekolah ke London."


"Apa?!"


Bukan hanya Elisa yang terkejut, Atlanta sama terkejutnya seperti gadis itu, bedanya Atlanta terkejut akibat sahutan Elisa yang menggema di ruangan tertutup di sana.


"Engga, Pah. Elisa gak mau. Elisa mau sekolah di sini aja."


"El, tapi ini demi masa depan kamu. Papa yakin kamu akan semakin bersinar kalau sekolah di sana. Papa gak mau tau, keputusan Papa sudah bulat."

__ADS_1


__ADS_2