Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
28. Kecelakaan


__ADS_3

Sang surya yang mengenakan jubah bercahaya itu kian naik menyusuri angkasa raya. Langit biru tanpa awan, dan hangat sinar mentari, memberi semangat makhluk bernama manusia untuk melakukan segala aktivitas di hari libur.


Jalanan padat kendaraan adalah hal lumrah yang terjadi ketika akhir pekan. Asap knalpot kian menyerbak menusuk rongga hidung, sebuah bau khas yang akan dijumpai saat berkecimpung di tengah-tengah kepadatan kota.


Sama halnya dengan Atlanta, kaki jenjangnya terus berjalan menyusuri trotoar gedung kota tua yang ramai dengan pedagang kaki lima, menjajakan barang dagangan seperti baju, pernak-pernik, jajanan khas kota Bandung.


Laki-laki itu sengaja berjalan kaki pergi ke tempat tujuan. Dengan alasan cuaca yang sangat cerah mendukungnya untuk lebih menikmati suasana sekeliling kota lebih lama, ditambah jarak antara komplek perumahan dan rumah singgah tidak begitu jauh.


Ia menaiki jembatan penyebrangan jalan, merasakan atmosfer yang berbeda dari sebelumnya. Menarik napas ketika semilir angin menyapu lembut surai hitam miliknya.


Di penghujung jembatan, senyum Atlanta mengembang, melihat sebuah rumah kecil yang berjarak beberapa meter di depan sana. Ia sedikit mempercepat langkahnya menuruni anak tangga, kemudian melambaikan tangan ketika melihat seorang anak kecil perempuan menoleh ke arahnya dengan senyum lebar menampilkan gigi susu yang sudah tanggal.


Anak itu lantas segera memeluk pinggang Atlanta antusias setelah laki-laki itu menghampirinya. Atlanta bertekuk lutut, mengusap rambut ikal anak berumur 6 tahunan.


Anak itu menggerakkan tangannya.


"Kakak ke mana aja? Mia kangen."


Atlanta tersenyum lebar sampai membuat garis bulan sabit di kedua matanya.


"Minggu kemarin Kakak harus kerja. Jadi Kakak gak sempat berkunjung ke sini. Kamu apa kabar?"


"Mia baik, Kak. Lihat, gigi Mia udah lepas."


Mia nyengir, memperlihatkan gigi ompongnya dengan bangga.


"Itu artinya, Mia udah mau beranjak dewasa. Mia nangis gak waktu giginya copot?"


Anak itu menggelengkan kepala cepat.


"Engga dong. Kan kata Kak Ata, Mia gak boleh cengeng. Mia anak yang kuat." Dia mengangkat setengah lengannya, mengepalkan tangan ke udara.


Sekali lagi laki-laki itu menarik lengkungan ke atas, mencubit gemas pipi gembil Mia yang mengembang saat tersenyum. Menatap anak perempuan yang tengah melebarkan kedua sudut bibirnya, membuat perasaan Atlanta ikut merasakan kebahagiaan.


Di sini, di tempat yang cukup mudah dijangkau orang-orang, rumah kecil yang dihimpit oleh dua bangunan besar, nampak seperti rumah-rumah pada umumnya, sebuah rumah bercat putih yang hampir mengelupas di beberapa titik. Di sini, tempat di mana anak-anak jalanan berteduh, dari terik matahari maupun hujan. Di sini, tempat sejuta cerita tertulis rapi dalam benak Atlanta. Merasakan betapa hangatnya kebersamaan anak-anak terlantar yang tak memiliki penopang hidup.


Banyak sekali pelajaran yang selama ini ia ambil dari kehidupan sulit anak-anak di sini. Mungkin ini adalah salah satu alasan untuk laki-laki itu agar tidak mudah menyerah ataupun menyalahkan takdir. Nyatanya, masih banyak orang-orang yang jauh dari kata sempurna, masih banyak orang-orang yang mungkin lebih membutuhkan daripada dirinya.

__ADS_1


Pandangannya teralihkan pada sosok anak laki-laki berumur 15 tahunan yang baru saja keluar dari dalam rumah, membawa kantong kresek besar yang dibuat seperti tas selempang berisi keripik pisang. Dengan sebuah tongkat kruk di sebelah kanan sebagai penopang tubuhnya, langkah kaki itu sedikit tertatih.


Atlanta berdiri, menghampirinya sebelum anak itu sadar akan kedatangan Atlanta. Ia membantu anak itu yang terlihat kesusahan dalam menggerakkan kakinya.


"Kak Ata?"


Atlanta hanya tersenyum menanggapi ucapan anak laki-laki yang sedikit terkejut ketika Atlanta memapahnya menuju teras depan.


"Kakak kapan ke sini?" tanyanya sembari membenarkan posisi kantong kresek bening yang bertengger di sebelah pundaknya.


"Baru saja. Kamu mau jualan?"


"Iya, Kak. Adin mau jualan dulu. Maaf ya, Kak, Adin gak bisa nemenin Kakak lama-lama di sini," ujarnya sedikit tersenyum kikuk.


Atlanta menggelengkan kepala. "Kalo gitu, Kakak boleh ikut jualan gak?"


Adin sedikit melebarkan bola matanya, dia segera menolak ketika Atlanta hendak mengambil dagangannya.


"Jangan, Kak. Biar Adin aja yang jualan. Kakak di sini aja, di dalam ada anak-anak juga kok."


Adin menghela napas, lalu mengangguk. Lagipula, sekeras apapun dia melarang Atlanta, laki-laki yang sudah dia anggap seperti Kakak sendiri itupun akan tetap bersikeras untuk ikut membantunya.


Atlanta tersenyum lebar, mengambil alih kantong kresek yang masih setia bergantung di pundak Adin. Kemudian beralih mengusak rambut Mia, anak perempuan itu melambaikan tangan setelah melihat Atlanta dan Adin pergi dari hadapannya.


Di trotoar jalan mereka berada. Dengan perasaan penuh semangat, keduanya tidak pernah lelah menawarkan keripik pisang beraneka rasa, berharap banyak pejalan kaki maupun pengendara yang mau membeli.


Ketika lampu merah menyala, Adin kembali bergabung ke tengah-tengah deretan kendaraan yang mengantri menunggu giliran laju jalan. Anak itu begitu bersemangat, meski kakinya benar-benar harus diajak bekerja sama menjelajahi setiap celah pembatas antara kendaraan satu dan lainnya.


Sejenak, Atlanta memperhatikan kegiatan Adin dari trotoar tempat dia berdiri saat itu. Adin tidak pernah berubah sejak dulu, walaupun sebelah kaki yang lumpuh, anak itu tidak pernah mengeluh dan tetap berusaha untuk mencari uang demi kehidupannya.


Hidup di tengah-tengah kota tanpa bimbingan dan kasih sayang orang tua bukan hal yang mudah, apalagi untuk anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Mereka dengan senantiasa melakukan pekerjaan apa saja demi menyambung hidup, setidaknya sekedar untuk mengisi perut.


Matahari kian naik tepat di atas ubun-ubun, panasnya semakin terik dan menyengat kulit. Keduanya memutuskan untuk istirahat sejenak, membasahi kerongkongan dengan es jeruk harga tiga ribu yang sengaja dibeli Atlanta. Mereka duduk di kursi besi, sembari memandangi jalanan yang ramai lancar kendaraan dari arah barat maupun timur.


"Hhh...." Terdengar suara ******* kecil dari mulut Adin ketika air dingin itu mengalir melewati kerongkongannya yang hampir kering.


Anak itu menoleh ke arah dagangannya yang tersisa sedikit, dia bernapas lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya, Kak. Dagangannya udah mau abis. Semoga anak-anak yang lain juga laris manis," ujarnya.


Atlanta menoleh manatap Adin yang sedang melebarkan sudut bibir.


"Iya, semoga saja semuanya habis."


Adin meresponnya dengan anggukan mantap. Mereka kembali terdiam, pandangannya tertuju ke depan seperti semula.


"Kak?" Adin menjeda sejenak ucapannya. "Gimana sih, rasanya punya keluarga?"


Atlanta kembali menatap Adin yang masih memandangi jalanan. Seharusnya anak itu tidak perlu menanyakan perihal keluarga padanya, tentu Atlanta tidak tahu bagaimana rasanya memiliki keluarga. Meski dia tinggal satu atap, tak pernah sekalipun dia merasakan kehangatan keluarga seperti orang lain.


"Adin pengen deh, punya keluarga kaya Kak Ata."


Atlanta kembali menundukkan kepala, menatap jari-jarinya yang saling bertautan, dia tersenyum miris. Alangkah indahnya jika ucapan Adin adalah sebuah kenyataan.


"Sejak dulu, Adin gak pernah tau gimana wajah orang tua Adin. Adin dibuang, apa orang tua Adin gak mau punya anak kaya Adin ya, Kak?"


Entah, hati Atlanta tiba-tiba terasa sesak, bola matanya memanas.


Aku juga sama seperti kamu, Din. Aku anak yang tidak diinginkan oleh keluargaku sendiri. Batinnya


"Udah yu, Kak, jualan lagi, abis itu kita pulang." Adin berdiri dari duduknya, dengan dibantu tongkat kruk, dia mulai berjalan.


Manik matanya melebar ketika melihat sekumpulan orang-orang di sebrang jalan, dia melebarkan senyum. Atlanta mangangkat kepala setelah melihat Adin yang hendak menyebrangi jalan raya.


Atlanta membulatkan penglihatan setelah sebuah mobil dengan kecepatan kencang melaju ke arah anak itu. Dia berlari untuk menarik Adin yang sama sekali tidak menyadari kehadiran mobil itu.


Bruk!


Langkahnya terhenti seketika, badannya bergetar hebat. Dia terlambat, Adin terlanjur terpental, berguling di atas aspal bersama beberapa dagangan yang sudah berserakan. Atlanta segera menghampiri Adin yang sedang merintih, memangku kepala anak itu di pahanya.


Terdengar suara bantingan pintu mobil, pengemudi mobil itu menghampiri keduanya dengan raut wajah yang kelewat panik.


"Astaga! Maaf, s—saya gak sengaja. Kita bawa ke rumah sakit, ya? Biar saya bantu," ucap laki-laki dewasa yang hendak membantu membopong tubuh Adin.


"Atlanta?"

__ADS_1


__ADS_2