Surat untuk Atlanta

Surat untuk Atlanta
58. Rencana?


__ADS_3

Drrtt ... drrtt


Drrtt ... drrtt


Suara getaran dari benda pipih yang bergesekan dengan meja kayu itu sontak berhasil menyambut indra pendengaran seorang gadis yang pagi itu masih bergulung dengan selimut. Merasa terganggu, Elisa beralih menutup seluruh wajahnya ke dalam selimut, menyumbat telinga dengan telapak tangan. Sesekali ia berdecak tatkala suara itu masih terus berdengung di ke dua telinganya yang sudah terasa memanas.


Drrtt ... drrtt


Drrtt ... drrtt


"Ck! Berisik!" Teriaknya di dalam sana.


Drrtt ... drrtt


Drrtt ... drrtt


Gadis itu mengerang, membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dengan cara di tendang. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memfokuskan penglihatan yang terasa mengabur.


"Sialan! Ganggu orang tidur aja."


Elisa menggapai ponselnya yang ada di atas nakas, melihat siapa manusia tak tahu diri yang berani membangunkan tidur nyenyaknya.


Ingin rasanya ia mengumpat pada orang yang melakukan panggilan telpon padanya di waktu subuh, namun hal itu terurungkan ketika melihat nomor telpon sang Papa tertera di layar ponsel.


"Apa, Pa?" Tanyanya disertai suara serak khas orang bangun tidur.


"Kamu mau sampai kapan begini terus? Liat, sekarang udah jam berapa. Masih saja bangun siang."


Elisa mengacak rambutnya kasar, ia memejamkan mata, berusaha menahan diri agar tak meluncurkan kalimat sumpah serapah pada Papanya karena ia sangat takut di kutuk setelahnya.


"Baru juga jam 5 subuh," ucapnya enteng seraya mengucek kedua bola mata sekaligus menguap karena rasa kantuk masih bergelayut di kelopak matanya.


"Baru, kamu bilang? Lihat Mama kamu, jam segini dia udah masak, emang gak bisa ya bantu Mama kamu sekali aja, Elisa?"


Gadis itu berdecak, dia memilih bungkam dan tak ingin menambah perdebatannya dengan sang Papa yang ia yakin tak akan ada ujungnya. Elisa menurunkan kaki dari ranjang, sampai telapak kakinya menyentuh ubin ia masih setia mendengarkan ocehan Pratama sesekali mengangguk-anggukan kepala.


"Jadi Papa nelpon Elisa pagi-pagi gini cuma mau ngomel doang?"


"Eh, jadi anak gak ada sopan santunnya sama orang tua."


Baik, kali ini Elisa merotasikan bola mata.


"Papa udah tau ceritanya dari Abang kamu tadi malam."


"Oh, bagus dong."


Terdengar helaan napas di seberang sana. Sudah bisa ditebak pria itu tengah mengambil oksigen sebanyak mungkin sebelum memulai ke inti percakapan.


"Kamu ini, sudah Papa didik jadi model, biar kamu punya masa depan cerah, sekarang kamu mau ikut kompetisi musik gak berguna itu? Apa yang kamu pikirin, Elisa?"


Apa katanya? Kompetisi musik gak berguna? Elisa menyunggingkan sebelah bibir mendengarnya. Kenapa Pratama mudah sekali mengatakan hal itu.


"Pa! Jangan bilang belajar musik itu gak ada gunanya. Sekarang banyak kok orang-orang sukses karena dia pandai di seni musik. Papa jangan liat garis kesuksesan itu dari tingkat profesi aja. Papa itu gak tau apa-apa, Papa gak tau gimana orang-orang di luaran sana yang jatuh bangun buat ngejar mimpi mereka, Papa gak tau gimana rasanya karena Papa gak pernah ngerasain hidup susah, dari dulu Papa orang terpandang karena Kakek punya perusahaan besar yang sekarang dipegang Papa."


"Itu alasan Papa gak mau lihat kamu hidup susah, Elisa. Papa susah payah buat kamu jadi model terkenal itu karena Papa mau lihat kamu hidup bahagia, hidup berkecukupan di masa depan nanti. Kamu harus berpikir panjang."


"Tapi Elisa gak pernah bahagia sama jalan hidup Elisa yang udah diatur sedemikian rupa sama Papa. Emang Papa pikir Elisa boneka? Elisa juga punya cita-cita sendiri."


"Ini demi kebaikan kamu. Papa tau sekarang kamu gak suka sama peraturan Papa, tapi suatu saat kamu akan berterima kasih sama Papa. Ingat itu."


Elisa mendengus mendengarnya, yang benar saja, selama 10 tahun ini ia jelas-jelas tak pernah sedikitpun merasa senang dengan semua peraturan sang Papa, yang ada dia depresi.


"Pa, Elisa udah cape sama Papa. Mulai sekarang Elisa cuma mau jadi diri sendiri, dan Elisa bakal buktiin kalo Elisa bisa."


"Elisa, kamu—"


"Pa, Elisa udah males debat. Sekarang Papa udah tau 'kan alasan Elisa mau ikut kompetisi itu? Jadi Elisa mohon, izinin Elisa buat ikut. Elisa janji kalo Elisa kalah, Elisa bakal turutin semua keinginan Papa, termasuk buat pindah sekolah ke London."


Hening. Tak ada jawaban apapun dari Pratama. Entah apa yang sedang pria itu tengah pikirkan.


"Please, Pa. Elisa janji."


"Baik. Papa kasih izin. Tapi kamu inget, kalo kamu gagal, jangan harap Papa bakal kasih kamu kesempatan buat sentuh seni musik lagi. Paham kamu."

__ADS_1


Tut


Panggilan telpon di tutup sebelah pihak oleh Pratama, namun hal itu tak urung membuat Elisa melebarkan senyum. Ia tak sabar untuk memberi tahu Atlanta mengenai kabar gembira ini.


.......


.......


.......


Sudah 5 menit lamanya gadis itu masih setia menunggu seseorang di depan gedung utama sekolah, menyenderkan punggungnya di pilar sesekali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


Pandangannya tak berhenti bergerak menelanjangi halaman depan sekolah berharap orang yang sejak tadi ia tunggu menampakkan batang hidungnya.


Tak berselang lama, iris matanya terbuka lebar bersamaan dengan lengkungan senyum terpatri di bibirnya tatkala sesosok laki-laki tengah berjalan ke arahnya, ia melambaikan tangan.


"Atlanta!"


Laki-laki itu menoleh ke sumber suara, di mana Elisa sudah berdiri menjulang tak jauh dari jangkauannya. Ia melangkahkan kaki lebar, membalas lambaikan Elisa tak kalah senang.


"Ta, kamu tau? Aku punya kabar gembira!" Sahutnya seraya mengguncangkan lengan Atlanta antusias. Sebahagia itu.


Atlanta semakin melebarkan kedua sudut bibirnya melihat Elisa yang terlihat sangat bahagia. Laki-laki itu sontak segera menggerakkan tangannya.


"Apa?"


"Papa, kasih aku izin buat ikut kompetisi itu! Aku seneng banget, Ta!"


Benar saja, Atlanta tak jauh merasa senang seperti Elisa. Ia semakin yakin, dan melakukan yang terbaik agar keinginan gadis itu cepat terlaksana.


"Aku sangat senang mendengarnya. Kalau begitu kita harus bekerja keras."


Elisa mengangguk mantap. Ia mengacungkan kepalan tangan di udara.


Detik selanjutnya keduanya kembali melangkahkan kaki memasuki gedung sekolah. Sesekali Elisa bercerita tentang angan-angannya ketika berada di atas panggung bersama Atlanta. Laki-laki itu hanya menjadi pendengar yang baik untuk Elisa, namun pikiran Atlanta benar-benar menerawang akan cita-cita keduanya di depan mata.


"Oh ya, kamu udah siapin lagu buat nanti 'kan?"


"Sudah. Nanti aku beri tahu di kelas."


"Elisa!"


Mereka kompak menoleh ke arah depan, di mana Jay sudah berdiri menjulang menghampiri Elisa.


"Hai, Jay." Sapa gadis itu ramah. Namun Jay hanya menatapnya datar.


"Aku mau ngomong sebentar sama kamu," ucapnya.


"Ya udah ngomong aja, Jay."


Sejenak, Jay melirik ke arah Atlanta dengan pandangan tak suka, bola matanya berotasi tiba-tiba.


"Gak sama dia juga, El. Cuma berdua, aku, sama kamu."


Gadis itu menoleh pada laki-laki di sampingnya yang masih terdiam. Apakah Jay memang tidak suka pada Atlanta? Elisa menghempaskan napas pelan, lalu berkata. "Atlanta, kamu ke kelas aja duluan. Nanti aku nyusul."


Atlanta hanya mampu mengangguk, ia menundukkan kepala ketika melewati keduanya menuju kelas, pun Elisa yang memperhatikan Atlanta dari arah kejauhan memastikan laki-laki itu sampai di kelas.


"Jadi, kamu mau ngomong apa, Jay?" ujarnya seraya menatap mata Jay sangat serius. Elisa yakin dari pandangan laki-laki itu yang nampak ingin mengungkapkan sesuatu.


Jay meraih kedua tangan Elisa, mengusap punggung tangan gadis itu dengan penuh perasaan.


"El, kamu tau 'kan kita udah temenan lama banget?"


Elisa mengangguk pelan. "Iya, Jay. Emang kenapa?"


"Tapi aku gak mau hubungan kita tetep kaya gini-gini aja, El?"


Gadis itu mengerutkan kening mendengarnya. "Maksud kamu? Kamu gak mau jadi temen aku lagi?"


Jay menggelengkan kepalanya, menyangkal ucapan Elisa. Laki-laki itu menggigit bibir bawah, sejujurnya dia masih sangat ragu untuk mengungkapkan semua isi hatinya, ia takut Elisa akan menjauh, atau yang lain sebagainya.


"Bukan gitu. Maksud aku, kamu tau sendiri, semua orang di sekolah udah tau kalo kamu pacar aku. Dan aku mau...."

__ADS_1


"Mau apa Jay?"


"Aku mau kamu jadi pacar aku, pacar beneran. Bukan pura-pura," ucapnya berterus terang. Lantas Elisa merubah ekspresi wajahnya, di mana sebuah keterkejutan tergambar di sana.


"J—jay, kamu jangan bercanda."


"Aku gak bercanda, Elisa. Aku serius, dari dulu aku udah sayang sama kamu. Bukan sebatas sayang sebagai temen."


Gadis itu sontak tercekat, ia masih diam, bahkan seluruh tubuhnya mendadak sangat kaku. Entahlah, pandangannya seolah terkunci di obsidian Jay yang memancarkan ungkapan sepenuh hati laki-laki itu. Apa yang harus Elisa lakukan setelah mengetahui Jay sebenarnya menyimpan rasa padanya.


Jelas ia tak ingin kehilangan Jay sebagai sahabat dekatnya. Tapi ia juga tak bisa membohongi perasaannya, bahwa dia hanya menganggap Jay tak lebih sebagai status teman.


"Jay ... Tapi aku gak bisa."


"Kenapa Elisa? Apa aku kurang baik buat kamu? Apa kamu gak punya rasa sedikitpun sama aku? Apa kamu gak pernah sayang sama aku?"


Elisa segera menggelengkan kepala. "Bukan gitu, Jay. Aku sayang sama kamu, sangat. Tapi hanya sebatas sahabat. Aku nyaman sama kamu karena kamu temen aku dari kecil. Aku gak bisa, Jay, aku gak bisa jadi pacar kamu."


"Tapi kenapa? Ada cowok lain yang kamu suka?"


Ada, Jay. Ada satu orang yang aku sayang sekarang.


Elisa hanya diam. Membiarkan Jay semakin menggenggam erat kedua tangannya.


"El, jawab aku."


"A—aku ... maaf Jay, aku harus ke kelas sekarang." Gadis itu menghempaskan genggaman tangan Jay. Ia beralih pergi dari hadapan laki-laki itu yang terlihat masih ingin mengucapkan sesuatu lagi.


Tak ada yang bisa dilakukan Jay, ia hanya berbalik badan, menatap punggung Elisa yang semakin menjauh dari pandangannya. Helaan napas terdengar dari mulutnya, pun kedua tangan yang berubah mengepal di samping badan.


Tepukan sebuah tangan di bahunya tak ia hiraukan sama sekali. Ia masih berusaha belajar menetralkan isi hatinya yang berkecamuk.


"Gimana rasanya? Enak?"


"Diem lo!" Sentaknya. Jay menghempaskan tangan sahabatnya—Theo—yang merangkulnya. Ia memilih menyenderkan punggung di pagar pembatas seraya melipat tangan.


"Gue yakin alasan Elisa nolak lo karena sebenarnya dia suka sama si bisu."


"Gak usah sok tau lo, sialan."


Theo terkekeh beberapa saat. Laki-laki itu kini berdiri di depan Jay dengan senyuman miring andalannya.


"Gue bukan sok tau. Tapi lo harus lebih pinter baca gelagat Elisa waktu sama si bisu."


Laki-laki pemilik lesung pipit itu mendengus. Sungguh, saat ini dia sangat malas berbicara. Namun ucapan Theo berhasil membuat isi kepalanya berputar menebak ada kemungkinan besar bahwa Elisa menyimpan rasa pada saudara tirinya itu.


"Lo tau kalo mereka bakal ikut kompetisi musik minggu depan?"


Jay membulatkan bola mata terkejut. "Goblok! Lo setuju si bisu ikut kompetisi?!"


Theo hanya mengedikkan bahu.


"Ya mau gimana lagi. Dia cukup bagus, dan gue gak mau ekskul gue kena ceramah karena gak kirim perwakilan."


Jay menatap Theo tak percaya. "Lo biarin si bisu ikut kompetisi bareng Elisa? Stres lo! Lo bilang mau nyingkirin si bisu, tapi sampe sekarang mana? Yang ada Elisa makin nempel sama si bisu!"


"Makanya lo sabar dulu, alasan gue setuju si bisu ikutan kompetisi itu karena gue punya sedikit hadiah buat dia," ujarnya seraya menampilkan senyuman evil.


Jay merotasikan bola mata, apa lagi yang akan dilakukan Theo kali ini. Ada perasaan ragu dalam hatinya, pasalnya Theo tak pernah membuktikan sesuatu padanya.


Theo meraih pundak Jay, mendekatkan mulutnya di sebelah telinga Jay.


"..."


Selanjutnya Jay kembali menarik sebelah bibir ketika mendengar bisikan dari Theo, dan mengangguk pelan.


"Gimana ide gue?" kata Theo menepuk bahu sahabatnya dua kali.


"Gue pegang kata-kata lo. Gimanapun caranya, lo harus berhasil jauhin Elisa sama si bisu."


Theo mengangguk mantap, mengacungkan jempol di depan Jay.


Mampus lo bisu. Lo liat aja, siapa yang bakal menang.

__ADS_1


__ADS_2