
Gani membawa Bina ke salah satu Mall yang ada di kota nya.
"Gani sekarang kita mau ngapain? " tanya bina saat memasuki loby Mall.
Gani menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, pasalnya ia juga bingung akan membawa bina kemana ,karena ini pertama kalinya gani berkencan.
"Hemm gimana kalo kita nonton, kamu suka nonton ga? ".
"Suka, gani suka nonton juga? ".
"Aku lebih suka nontonin kamu bin".
"Ya ampun gani ko makin kesini makin gombal yah" ucap bina menggelengkan kepalanya dan Gani hanya terkekeh.
Setelah mereka selesai menonton, bina masih saja berceloteh dan hanya di tanggapi kekehan oleh gani.
"Gani kenapa sih pilih film itu" ucap bina cemberut.
"Ya kan biasanya cewek suka film yang romantis".
"Aku kesel banget pokonya, kesel kesel kesel".
Gani masih terkekeh mendengar gerutuan bina, pasalnya dari dalam bioskop bina sudah tidak habis habisnya menggurutu ditambah lagi dengan akhir yang membuat bina menangis bombay.
"Aku tuh sedih hiks.. kenapa coba cowok nya jahat banget hiks.. kenapa sih cowok selalu seperti itu hiks.. pas lagi sayang sayang nya malah ditinggalin hiks.. " ucap bina tersedu-sedu.
Gani mengusap-usap punggung bina yang ada di rangkulan nya.. gani jadi bingung sendiri niatnya ngajakin bina nonton film romantis supaya bisa modus modus dikit.. ehh malah dapet film yang awalnya romantis akhirnya Sad Ending.. jadilah dia gagal modus.
"Pokonya lain kali kalo mau ngajakin aku nonton film romantis harusnya yang Happy Ending ,aku ga suka yang sedih ujungnya, aku gampang baper gani" ucap bina menghentikan tangisnya.
"Iya sorry".
"Kenapa sih gani cowoknya malah kegoda sama mantan nya, kenapa coba cewek nya juga ngalah, terus kenapa mantan nya ga cari cowok lain, kenapa coba akhirnya harus sesedih ini " cerocos bina kembali terisak.
"Ya mungkin ceritanya harus kaya begitu bin" jawab gani yang sudah mulai frustasi.
"Kenapa sih bikin film sedih kaya gitu, aku ga suka deh, bikin aku nangis nangis".
"Yaudah kamu jangan nangis lagi nanti hilang cantiknya" ucap gani mengelus lembut pucuk kepala bina.
"Ya ampun bina masih Baper gani, ini nih kenapa bina gamau gampang jatuh Cinta soalnya bina orang nya baperan, jatuh Cinta nya sehari ngurusin patah hatinya lama" ucap bina lagi.
"Jadi waktu putus sama marvin kamu juga susah move on dong? " tanya gani menyelidik.
__ADS_1
Bina langsung berhenti dari isakannya dan beralih menatap gani "Kalo masalah move on itu harus gani, sayang dong cantiknya aku kalo mesti terpaku sama satu hati yang sudah gak kita miliki lagi".
"Beneran? " tanya gani serius.
"Iya ben... " ucap bina terpotong "wahhh tadi bina berasa bijak banget kata katanya cocok buat di jadiin quotes" ucap bina kembali dengan kekehan nya.
Sementara gani mendengus mendengar ocehan bina yang bukannya menjawab pertanyaan nya.. namun kembali tersenyum saat tiba tiba mendengar celotehan polos bina.
"Sekarang lapar belum bin? ".
"Gani mau ngajakin bina makan? ".
"Nggak, mau ngajakin kamu cuci piring"
"Ohhh.. kenapa ngajakin cuci piring harus jauh jauh di mall, kenapa ga di rumah gani aja".
Gani memijat keningnya.
"Iya bina sayang, kita makan yah kamu mau kan? "
"Duhh kalo di bilang sayang mulu sama gani bisa bisa bina beneran baper" ucap bina terkekeh.
Gani tersenyum miring "makanya biasain mulai dari sekarang".
.
.
.
Saat ini gani dan bina sedang duduk di sebuah restoran di mall tersebut sambil menunggu pesenannya.
"Anata".
Bina langsung duduk tegak dan menoleh ke samping saat namanya di sebut, lebih tepatnya nama panggilan spesial dari seseorang.. gani pun ikut menengok arah pandangan bina.
"Kak marvin" lirih bina yang masih bisa di dengar gani.
Marvin? marvin mantannya bina *batin gani.
"Wah ga nyangka yah kita bisa ketemu disini".
Bina tersenyum "iya kak, kakak sendirian? ".
__ADS_1
"Iya nih, habis dari toko buku".
"Kamu sama siapa anata? ".
Anata? siapa? bina gitu yang di panggil anata *batin gani lagi**.
"Aku sama.... ".
"Pacar " ucap gani singkat memotong ucapan bina.
Bina yang mendengar itu melongo, sementara marvin tersenyum kecut.
"Oh kalo gitu kenalin gue Marvin, mantan nya Anata".
"Anata? " tanya gani.
"Iya, ini mantan gue Sabrina Anathaya Reyzak"
"Kenapa loe manggil dia Anata" tanya gani dengan menatap tajam marvin.
"Itu panggilan kesayangan gue" ucap marvin sambil tersenyum sinis.
"Huh tapi lebih baik mulai sekarang loe harus biasain manggil cewek gue ga usah pake embel embel tersayang" ucap gani kesal.
"Anata bukan cewek loe, karena setau gue setelah kita putus dia ga deket sama siapa siapa ,ya meskipun banyak cowok yang modusin" ucap marvin dengan senyum mengejek.
"Sekarang bukan tapi akan" tegas gani.
Sementara bina yang menyaksikan perdebatan kedua lelaki tampan ini, hanya diam melirik saling bergantian kepada gani dan marvin.. tak tahan akan perdebatan yang belum juga berakhir bina pun angkat bicara.
"Ini kapan makannya sih? dari tadi ngobrol mulu, bina kan udah laper, apalagi habis nangis nonton film tadi" ucap bina dengan Nada manjanya dia sudah tidak sabar ingin makan setelah sudah dari 10 menit pramusaji mengantarkan makanannya, namun kedua laki-laki ini malah sibuk berdebat.
Gani Dan Marvin Yang masih saling menatap tajam pun mengalihkan perhatiannya pada bina.
"Ya ampun sayang, aku jadi lupa maaf ya gara gara ada pengganggu" kata gani tersenyum manis, namun begitu melirik pada marvin langsung memberikan tatapan sinis.
"Sini biar kakak suapin aja Ana, biasanya kalo kita lagi makan berdua kamu sering kakak suapin" ucap marvin memanasi gani.
Gani yang mendengar itu pun langsung mendelik tajam pada marvin "disini gue yang kencan, bukan loe ".
Dan perdebatan pun di mulai kembali, hingga bina yang memang sudah sangat lapar pun memilih makan terlebih dahulu dari pada menunggu kedua lelaki yang masih sibuk berdebat.
"Makan dulu deh yang kenyang, nanti kalo udah cape mereka juga berhenti sendiri" gumam bina dalam hati melirik pada gani dan marvin yang masih berdebat sengit.
__ADS_1
Next....