SWEET BAD BOY

SWEET BAD BOY
PAPAH GANI


__ADS_3

"Gani... "


"Hmmmm"


"Gani gak ngerasa sedih kita ke taman ini lagi? " tanya bina.


Saat ini mereka sedang berada di taman masa kecil gani dan sang mamah, bina pun pernah di ajak gani ke taman ini. dan sekarang mereka kembali lagi.


"Ngga lah, justru aku seneng. bisa balik ke taman ini dengan cewek yang sama pula".


Bina mengernyit bingung, gani yang melihatnya terkekeh gemas melihat kernyitan di kening bina.


"Beberapa bulan yang lalu sebelum kamu jadi pacarku, aku pernah ngajak kamu kesini kan bin dan bilang kalo kamu satu satunya orang selain mamah ku yang main ke taman ini nemenin aku. dan sekarang kita balik lagi kesini dengan status kamu udah jadi pacarku" jelas gani tersenyum


Bina ikut tersenyum mendengar ucapan gani "Bina seneng deh ngeliat gani senyum kaya sekarang di taman ini, kan waktu itu bina cuman ngeliat gani sendu banget waktu pertama ngajak ke taman ini" ucap bina sambil mengelus pipi gani.


Gani tersenyum dan mengecup tangan bina yang mengelus pipinya dengan sayang.


"Doain aku ya bin, biar bisa cepet halalin kamu" ucapnya serius.


Bina terkekeh mendengarnya "Emang bina makanan apa pake segala di halalin".


"Aku serius bin" ucap gani masih dengan senyuman.


"Tapi kan emang bina bukan makanan atau minuman gani".


Gani yang mendengarnya gemas mengusap lembut kepala bina.


"Maksud aku tuh aku pengen segera nikahin kamu bin".


Bina mencubit tangan gani.


"Awww ko di cubit sih yang".


"Ga boleh, kita itu masih sekolah gak boleh nikah nikahan".


"Nanti bin kalo udah lulus, tapi kalo kamu punya pikiran sekolah sambil nikah yah ayok aja".

__ADS_1


"Ihhh gani gak lucu yah, bina gamu. Aku tuh mau kuliah terus mau jadi Chef terkenal".


Gani menyelidik menatap bina "Gaya nya mau jadi Chef, emang kamu bisa masak".


"Gani jangan meremehkan aku yah, biar cantik cantik gini bina itu jago masak".


Gani terkekeh mendengar bina menyebut dirinya cantik, walaupun memang benar dia cantik, imut dan manis kalo menggemaskan sudah pasti. hanya geli saja ketika bina memuji dirinya sendiri cantik.


"Percaya Diri sekali yah kamu ngaku cantik".


"Kan emang bener gani, gani juga suka sama bina karena bina cantik kan? " tanya bina sambil mengedip ngedipkan matanya lucu.


Gani mencubit hidung bina gemas "Enak aja yah, aku suka kamu karena kamu itu spesial".


Bina mencibir "Emang bina martabak apa spesial".


"Dari tadi ko nyambung nya ke makanan mulu sih".


"Ah gani aja yang gak peka, ini kan jam pulang sekolah bina laper. masa diajak jalan gak dikasih makan" cemberut nya.


Bina menatap gani sebal "Laper tahu dari tadi gani gak ngajak makan atau jajan".


Gani menarik tangan bina untuk berdiri "Yaudah yuk kita cari makan dulu sebelum pulang, maaf yah aku gak peka" ucap gani lembut sambil mengelus sayang rambut bina.


Bina mengangguk dan tersenyum.


🍂🍂🍂🍂


"Aku langsung pulang yah yang".


"Kenapa gak mampir dulu".


"Lain kali aja, papah ku baru pulang dari Luar. disuruh pulang buru-buru ".


Bina mengangguk "Yaudah gani hati-hati ya dijalannya, salam juga sama papah gani".


Gani menanggapinya dengan tersenyum. sebenarnya malas juga ia harus bertemu dengan sang papah.

__ADS_1


🍂🍂🍂🍂


"Baru pulang gan".


Gani yang akan melangkah ke anak tangga berhenti, ketika sang papah yang sudah 2 minggu ini tidak bertemu dengannya menyapa dirinya.


"Hmmmm"


"Gani yang sopan, papah itu bicara sama kamu".


"Ckkkk" gani berdecak.


"Apalagi sih pah, gak perlu gani jawab juga harusnya papah sudah tahu kalo gani baru pulang".


"Gani apa papah salah hanya ingin menyapa anak papah sendiri yang tidak bertemu dengan papah selama 2 minggu ini".


Gani hanya diam saja tanpa minat menjawab pertanyaan sang papah.


"Gani maaf kan papah tidak bisa bersama kamu ketika kamu liburan sekolah kemarin, papah ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan papah.... "


"Iya pekerjaan papah memang lebih penting dibanding aku, papah lebih rela ninggalin aku dari pada pekerjaan papah" potong gani.


"Apa papah tahu, aku sengaja menyisihkan waktu liburanku untuk bersama papah" gani masih menggebu dengan amarah nya yang selama ini sudah ia tahan.


"Tapi apa, papah malah lebih memilih pekerjaan papah dibanding aku. apa papah tahu aku iri pah, aku iri, gani iri dengan teman-teman gani yang bisa liburan dengan orangtua mereka" sambung gani dengan suaranya yang semakin melemah tanda bahwa ia sudah tidak sanggup menanggung rasa yang ia pendam selama ini.


"Gani iri pah dengan mereka yang bisa tertawa dengan orangtuanya tidak seperti gani, ini sudah mau 8 tahun semenjak mamah gak ada dan papah yang sibuk sendiri dengan urusan papah tanpa memperdulikan dan memperhatikan gani pah" lanjut gani dengan sendunya.


"Gani denger papah, papah sayang sama kamu nak. papah juga perduli sama kamu. kamu salah kalo kamu berfikir papah mengabaikan kamu. papah bekerja untuk siapa jika bukan untuk kamu, kamu tahu kenapa papah tidak pernah memarahi kamu meskipun papah mendapat banyak laporan dari sekolah kamu tentang kelakuan kamu itu" tanya sang apaph.


"Karena papah sadar nak, papah yang menyebabkan semua ini. papah yang membuat kamu merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian. tapi papah mohon nak jangan hukum papah dengan cara kamu yang seolah tidak mau bertemu bahkan berbicara dengan papah" papah gani sungguh-sungguh dengan ucapannya ia juga sama seperti gani merasakan bahwa jarak diantara mereka berdua begitu jauh tidak seperti ayah dan anak.


"Gani cape pah, mau istirahat " ucap gani tanpa melihat dan mau mendengar ucapan papahnya lagi, ia langsung berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Papah gani yang melihat anaknya itu hanya bisa menghembuskan nafasnya saja, ia juga merasakan sesak di dadanya sama seperti gani.


Next.....

__ADS_1


__ADS_2