
Seperti biasa setiap hari jum’at sore selalu ada Latihan Taekwondo gabungan dari tiap sekolah, hari ini Dina datang sendiri untuk Latihan biasanya Bina akan setia menemani dirinya tapi berhubung karena sang sahabat sudah memiliki kekasih saat ini, Dina jadi tidak ingin merepotkan sahabatnya itu hanya untuk menemani dirinya yang kadang dina senbdiri kasian melihat bina kebosan.
“Hai...”.
Dina melirik pada seseorang yang menyapanya dengan kening mengernyit.
“Masih kenal gue gak?”.
“Gak, gue gak kenal loe.. sorry” ucap dina yang segere melengos pergi.
Tak membiarkan Dina pergi Andre langsung menarik tangan Dina.
“Ehh loe apa apaan sih,” ucap Dina melepaskan tangannya.
“Sorry.. gue gak maksud buat kurang ajar kok.. gue cuman mau ngomong saja sama loe”.
“Ngomong apaan sih, gue aja nggak kenal sama loe” ketus Dina.
“Loe beneran gak inget gue?”.
Dina menatap malas laki laki didepannya. “Emangnya loe orang sepenting apa harus gue inget segala”.
Andre berdehem sebentar “Inget gak kita pernah ada Pertandingan Taekwondo waktu SMP dan waktu itu loe ngalahin cowok yang paling keren dari Sekolah lawan loe”.
Dina mencoba mengingat ingat sesuatu.
“Gue Andre... cowok yang waktu itu kalah sama cewek yang ketus nya minta ampun, diajak kenalan aja gak mau" sindir andre.
Dina menganggukkan kepalanya “Oh jadi loe dari SMP Kencana”.
“Sorry.... gue udah gak inget .. terus sekarang loe mau balas dendam gara gara waktu itu kalah dari gue?”.
Andre mengangguk "Iyalah.. gue pengen banget ngalahin cewek judes kaya loe”.
“Dan gue pastikan kalo sekarang gue yang bakalan menang, dan loe sebagai jaminannya” sambung andre.
Dina menatap tajam pada andre “Apa maksud loe ?”.
“Iya.. kalo gue bisa ngalahin loe, loe harus mau jadi pacar gue” ucap andre dengan menyunggingkan bibirnya.
“Ogah banget gue” ketus dina.
“Kenapa ? jangan bilang kalo sekarang ini loe udah gak jago lagi” ledek andre.
“Gue gak sebodoh itu jaminin diri gue sendiri”.
Andre tertawa mendengar ucapan Dina “Terserah loe mau ngomong apa, yang pasti kalo gue menang loe jadi pacar gue.. terus kalo loe yang menang loe bebas deh mau minta apa saja sama gue”.
Dina berpikir sebentar iya bukannya tidak berani melawan andre, tapi ia malas harus menjadikan dirinya sendiri sebagai jaminan apalagi harus menjadi pacar dari laki laki rese yang tiba tiba menggganggu dirinya.
“Bagaimana? Berani gak ?” tantang andre lagi.
“Ok.. gue setuju” putus dina yang membuat andre tersenyum senang.
Mereka berdua pun bersiap siap mengambil posisi dengan disaksikan oleh teman teman yang lainnya sebagai penonton.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Bye sayang.. besok pagi gue jemput ya” ucap laki laki tampan dengan senyum liciknya.
Dina berdecih sinis mendengar ucapan laki laki yang baru saja mengalahkannya itu dan apa dia harus rela menjadi pacar dari laki laki yang sama sekali tidak ia suka.
“Kenapa gue bisa kalah sih, apes banget harus jadi pacarnya cowok aneh itu” Gerutu Dina.
Dirumah gani sedang sibuk membantu sang papah mengerjakan berkas kantornya, itupun sebenernya gani malas sekali melakukannya kalo bukan karena di paksa oleh sang papah.
“Bagaimana gan? kamu sudah bilang sama Bina kalo mau lanjut kuliah di Jerman”.
Gani hanya diam tak menjawab sang papah.
“Cepat atau lambat kamu harus segera bilang sama bina karena sekolah kalian juga tinggal beberapa bulan lagi”.
“Gani belum siap pah”.
“Gani gak tahu harus bilang apa sama bina nantinya”.
“Ya kamu cukup bilang yang sebenarnya, papah yakin bina juga pasti akan mendukung kamu”.
“Tapi gani gak bisa kalau harus jauh jauh dari bina pah.
William terkekeh mendengar perkataan sang putra "Kenapa? kamu takut nantinya bina kepincut sama cowok lain kalo kamu jauh dari dia?”.
“Memangnya kamu sudah yakin kalau gak bakalan kepincut sama cewek disana juga?”.
Gani menatap sang papah “Gani bukan laki laki seperti itu pah, kalau gani sudah sayang sama bina artinya gak ada lagi tempat untuk wanita lain” tegas gani.
William tersenyum “Kalo kamu yakin seperti itu coba buktikan”.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Bin.. kamu mau kuliah dimana sayang?”.
“Gak mau mah” ucap bina santai.
“Mau jadi apa kamu gak kuliah bin?’.
“Ihhh mamah bina itu masih SMA .. Masa bina juga harus kuliah ? kan cape”.
“Ya ampun maksud mamah itu setelah kamu lulus SMA”.
"Oh bilang dong’.
Rina mendengus mendengar ucapan sang putri.
“Bina pengen kuliah bareng sama Gani dan Dina”.
“Kalau misalkan gani sekolah di Luar bagaimana?”.
“Luar apa mah?”.
“Luar kota atau Luar Negeri begitu”.
Bina langsung duduk tegap mendengar pertanyaan sang mamah “Emangnya gani ada bilang mau kuliah di sana mah ?”.
__ADS_1
“Ini itu misalkan. Bagaimana sih”.
“Mmmm nanti bina jauh dong sama gani”.
Sang mamah hanya menggendikan bahunya, sementara bina malah benar benar memikirkan ucapan sang mamah.
“Sudah sih gak usah di pikirin, mamah cuman spontan saja ngomong begitu bin”.
“Sudah ah bina juga mau ke kamar aja mau tidur” bina segera berjalan menaiki tangga rumahnya menuju kamar dirinya.
Didalam kamar bina langsung tidur setelah selesai berbalasa pesan dengan sang kekasih, tidak sedikitpun bina memikirkan apa yang mamah nya ucapkan barusan kepadanya tentang pengandaian gani sekolah di Luar Negeri.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Selamat pagi pacarnya Ganindra” sapa gani pada gadis cantik yang baru turun dari mobil berwarna putih itu.
“Pagi juga gani” ucap bina dengan senyum cerianya. Sementara Dina yang baru keluar dari mobil mendengus karena tidak disapa oleh gani.
“Yuk bin ke kelas” ajak Dina yang langsung menarik tangan Bina.
“Heiiii...” teriak gani saat melihat bina dibawa pergi oleh sahabatnya.
“Dina.. itu gani ketinggalan” ucap bina sambil melirik gani yang memanggilnya.
“Biarin aja... nanti dia juga nyusul, gue belum sarapan karena tadi harus jemput loe jadi sekarang loe harus temenin gue sarapan”.
Dina menarik Bina menuju kantin.
“Loe mau makan gak?”.
“Aku udah makan roti din”.
Dina mengangguk “Ok gue pesen makanan dulu bentar”.
Bina yang menunggu dina memesan makanan menghubungi sang kekasih melalui chat, ia memberitahukan keberadaan dirinya. Namun ternyata gani tidak bisa menyusul karena tadi sewaktu ia akan menyusul bina, malah mendapatkan telepon dari Riko bahwa mobilnya mogok dan gani harus menyusul Riko.
“Mana si gani ? gak nyusul kesini” ucap Dina sambil meletakkan makanannya.
“Enggak.. mobil Riko mogok jadi gani nyusulin Riko deh”.
“Din...”.
“Hemmm”.
“Kamu mau lanjutin kuliah dimana?”.
Dina menggeleng.
“Kamu gak mau lanjutin din?”.
“Bukan.. maksudnya gue gatau, udah ada sih rencana cuman gue masih milih milih yang terbaik”.
“Nanti satu kampus sama aku yah din”.
Dina mengetuk ngetuk meja tanda berpikir “Lihat nanti aja”.
Bina langsung lemas mendengar ucapan Dina “Yahhh masa bina nanti gak satu kampus sih sama dina”.
__ADS_1
Dina tertawa melihat sang sahabat yang terlihat lesu. “Gimana nanti aja Bina, gausah sedih sekarang juga kali”.