SWEET BAD BOY

SWEET BAD BOY
MENYAKITKAN


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 6 pagi, terlihat gadis cantik sedang berlari tergesa gesa dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Riko satya... " ucap nya lemah.


"Bina... " ucap satya dan riko bersamaan.


Hancur itulah yang dapat riko dan satya lihat dari seorang Sabrina yang kini sedang berdiri dihadapan mereka dengan air mata yang terus mengalir dan bibir yang bergetar. Bina gadis cantik yang bawel dan ceria itu untuk pertama kali nya selama mereka saling mengenal khususnya dina sahabatnya itu baru melihat Bina menangis tersedu-sedu seperti itu.


"Gani gimana kondisinya " ucap bina dengan bibir yang bergetar.


Riko dan Satya hanya bisa menunduk mereka tak mampu menjawab pertanyaan bina, bingung juga mereka harus menjawab apa. di bilang baik-baik saja tidak mungkin kan? tapi di bilang buruk juga mereka tidak rela.


Bina yang melihat keterdiaman 2 sahabat gani itu memilih melangkah menuju kaca tebal yang tak jauh dari tempat nya berdiri.


Sakit sekali itu yang kini bina rasakan, harus melihat laki-laki yang biasanya menggoda dan tersenyum manis kepadanya kini terbujur kaku dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya, tidak hanya itu perban yang menempel pada tubuhnya pun menjadi bukti bahwa keadaan gani tidak baik-baik saja saat ini.


"Gani... "


"Gani cepet bangun..".


"Gani sudah janji sama bina kita bakal bareng-bareng terus, gani juga janji akan jadi orang yang sukses untuk aku".


"Aku mohon bangun" ucap bina dengan nada yang tersendat tangisan.


Mamah Rina yang ikut mengantar putrinya pun tak kuasa melihat sang Putri yang menangis pilu seperti itu, ini juga pertama kalinya saat bina sudah beranjak dewasa mamah Rina meliha sang Putri menangis tersedu-sedu seperti itu. terkahir kali mamah Rina melihat putrinya menangis tersedu-sedu saat bina berumur 8 tahun dan itu karena Kelinci kesayangannya mati dan setelah diberi pengertian oleh sang papah barulah bina berhenti menangis dan tidak pernah menangis seperti itu lagi, hanya sebuah tangisan yang wajar saat ia merasa sedih.


"Sayang.." ucap mamah rina memeluk bina.


"Jangan nangis terus dong, bina kan sudah pernah janji sama papah waktu itu.. bina ingatkan? " tanya sang mamah.


"Ngga mau mah, bina gamau kehilangan lagi.. rasanya lebih sakit melihat gani seperti itu dari pada waktu Beebee gak ada " ucap bina merujuk pada nama kelinci kesayangan nya.


"Itu wajar sayang dan mamah juga merasakan kesedihan bina, tapi inget nak sekarang gani lebih membutuhkan support dan doa dari kita semua" ucap sang mamah lembut dengan mengusap air mata sang Putri.


"Lihat sayang, teman teman kamu juga sama sayang nya sama gani mereka juga sedih melihat gani seperti itu. tapi apa bina juga tahu diantara kita semua mungkin ada yang lebih merasakan sakit dan takut kehilangan dari pada kita" ucap sang mamah lagi, bina mengikuti arah pandangan sang mamah. bina melihat seorang pria paruh baya yang kini sedang duduk menunduk.


"Papah nya gani bin" ucap riko melihat bina yang sedang menatap papah dari sahabatnya.


Bina melirik pada riko sebentar sebelum kembali beralih pada papah gani.


"Tenangin papah nya gani sayang" bujuk sang mamah pada bina dan bina mengangguk mengiyakan.


🍂🍂🍂🍂🍂


"Om... ".


William yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk dan rasa yang sesak yang memburu di dadanya mendongak saat mendengar seseorang menyapa nya.


Dilihatnya seorang gadis cantik dan imut yang menatapnya sendu dengan mata yang sembab dan hidung yang merah.


"Iya.. ".

__ADS_1


"Om papahnya gani"


"Iya saya william papah nya gani, kamu teman nya gani ?".


"Mmmm aku bina om, gani bilang aku pacarnya gani" ucap bina polos.


William tersenyum mendengar penuturan gadis cantik di depannya, rupanya sang putra sudah besar dan mulai memiliki rasa menyukai lawan jenisnya.


"Gani pintar cari pacar yah, cantik dan manis" puji william.


Bina tersipu mendengar pujian dari papah gani.


"Om.... bina bingung mau nenangin om gimana, soalnya kalo bina nyuruh om buat gak sedih bina juga gak bisa karena bina sendiri juga sedih" ucapnya sendu dengan kembali meneteskan air matanya.


Tapi bina buru-buru menghapus air matanya, ia harus ingat tujuan nya untuk menghibur papah gani supaya tidak sedih.


"Terimakasih yah, bina sudah mau menjadi pacar nya gani dan nemenin hari-hari gani" ucap william tulus menatap bina.


"Iya om, bina juga seneng jadi pacarnya gani meskipun waktu itu gani ngajak bina pacaran dengan maksa" ucap bina terkekeh di ujungnya, tapi kemudian bina kembali sedih melirik ruangan kaca yang ada di depannya itu.


"Gani baik om, selalu bikin bina ketawa meskipun kadang suka nyebelin karena sering godain bina"


"Dan gani juga beruntung punya 2 sahabat seperti riko dan satya yang selalu ada buat gani" ucap bina lagi melihat riko dan satya yang masih Setia berdiri menatap ruangan sang kekasih.


"Oh iya om sudah sarapan? " tanya bina mengingat hari yang sudah mulai siang dan bisa dipastikan papah gani belum sarapan ataupun istirahat.


William menggelengkan kepalanya "Om belum lapar nak".


"Tapi om.... ".


"Gapapa om, gani biar bina yang jagain nanti kalo ada kabar apapun dari dokter tentang gani bina langsung laporan deh sama om, bina janji" ucap bina serius.


Melihat dan mendengar ucapan gadis cantik di depannya william mengukir senyum bahagia, tidak menyangka bahwa gani mendapatkan gadis cantik seperti bina jadi pacarnya.


"Riko satya sini" panggil bina.


"Kenapa bin? " tanya satya.


"Kalian berdua tolong ajakin om william sarapan yah sekalian kalian berdua juga sarapan. terus kalian juga istirahat ya".


"Tapi bin gue sama satya gak bisa istirahat kalo gani.... "


"Yang ada nanti gani marah kalo kalian sampe sakit karena nungguin gani tanpa pikirin diri kalian sendiri, urusan gani biar aku aja lagian aku juga udah tidur yang nyenyak semaleman dan sarapan juga. jadi sekarang kita gantian yah jagain gani".


Satya dan Riko diam nampak menimbang-nimbang, ia juga sebenarnya cukup lelah dan lapar. apalagi melihat papah bina yang sepertinya juga kelelahan.


"Nanti kalo kalian sudah selesai istirahat bisa balik lagi kesini deh" ucap bina lagi.


"Yaudah deh kalo gitu bin, gue sama riko balik dulu sekalian nganterin om william".


"Iya bin, kalo gitu kita pamit dulu yah.. mari om" ajak riko pada papah gani.

__ADS_1


"Bina om titip gani ya nak" ucap william mengusap kepala bina.


"Iya om bina pasti jagain gani" ucap bina dengan tersenyum tulus.


"Ibu.. mamah nya bina? " tanya william pada mamah rina yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.


Mamah Rina tersenyum "Iya pak saya mamah nya bina".


"Mohon maaf ya bu, kalo saya merepotkan anak ibu untuk menjaga anak saya" ucap papah gani lagi.


"Oh tidak apa-apa pak, saya juga sudah menganggap gani sebagai anak saya sendiri jadi saya tidak merasa keberatan sama sekali" ucap mamah bina tulus.


Papah gani tersenyum kemudian berpamitan pada mamah bina dan dina yang juga berada disebelah mamah bina. ya dina pun ikut menemani bina ke rumah sakit.


"Mamah sama dina pulang aja yah, bina gak apa-apa kok sendiri disini".


"Sayang.... mamah temenin bina disini yah".


"Iya bin, gue juga temenin loe disini yah".


"Beneran mah din, aku gapapa kok sendirian disini. sungguh" ucap bina.


Mamah bina menghela nafasnya pelan "yaudah kalo gitu mamah sama dina pulang dulu yah, kamu jangan nangis terus harus banyak berdoa untuk gani ya nak".


Bina mengangguk "Iya bina janji gak akan nangis lagi dan akan banyak berdoa untuk gani juga" ucap bina meyakinkan.


🍂🍂🍂🍂🍂


Kini tinggalah bina sendiri menunggu gani terbangun dari tidurnya, bina menatap gani dari balik kaca tebal di hadapannya.


"Bangun gani..".


"Jangan tinggalin aku.... " ucap bina lirih.


Next....


Jangan lupa like, comment dan vote nya yah.. follow follow Author juga Readers 😍😍


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


**Aku sudah terbiasa bersama kamu..


Lalu harus bagaimana nanti..


Jika kamu meninggalkan ku..


Sementara..


Separuh jiwaku telah ku percayakan padamu..


_Sabrina Anataya Reyzak_

__ADS_1


__ADS_2