Syaiba

Syaiba
Episode 39


__ADS_3

"Abiiiiiiiiiii.....mas.lenoooooo!!!!!" teriak Syaibah


“abbiiiiiiii…!!!!!!!..” teriaknya apa aku kaget tidak pernah mendengar suara teriakan syibah yang nyaring itu


biasanya dia kalem, ibu mertuaku, mami, Diana, ayu kaget juga dan yang paling parang itu para laki laki lari menuju ke arahku karena kaget atas teriakan syibah yang melengking.


“ada apa..” Tanya bapak mertuaku


“ada apa syaibah!!!” Tanya herman, mas satria, mas syam brsamaan


“itu lihat…!!!” sambil menunjuk mainan yang sudah terusun rapi diruang tamu begitu banyak kayak toko mainan pindah kerumah kami


Semua melihat, kaget, dan bergantian memandang aku yang tersenyum sambil mengaruk kepalaku dan memainkan ujung baju koko yang tadi kupakai.


“asikkkkkkkk…..!” makasih abbi” anaku berlari ke arahku dan memeluk kakiku sambil memandangku yang masih tersenyum


“kalian suka?” tanyaku


“suka..suka…suka” jawab anakku berbarengan


“Tidak…….tidak jangan ada yang sentuh barang itu!!” masih dengan marahnya syibah mendekatiku.


“abbi…tadi kan ummi sudah bilang jangan boros, kenapa kok sampai banyak begini? Bukanya tadi Cuma bawa sedikit belinya..jawab abbi sambil mendekatiku dan dengan wajah yang memerah??” akhirnya syibah bertanya kepadaku dengan suaranya yang semakin rendah dan mengelus dadanya, kulihat pandangan mata itu mata macan, tapi aku suka karena  ini yang pertama buatku melihat syibah marah.


“abbi jawab …kok bisa?” Tanya syibah lagi


“maafkan abbi… Ummi?? abbi khilaf……. Abbi khilaf” sambil memeluk kakinya dan diikuti kedua anak anakku yang ikut ikutan memeluk kaki umminya.


“bangun…..ayo bangun ..jangan membuat ummi semakin marah…bangun abbi bangun!!” dengan nada yang pelan tapi penuh penekanan menyuruku bangkit dan kurasakan pundakku dipukul dengan lembut olehnya…tapi aku masih juga bertahan anak anak juga ikut sambil memohon untuk memaafkan diriku sebagai ayahnya….he…he….he…bidadariku melindungiku.


“sudah syibah tenang dulu…ayo len terangkan kenapa kamu membeli mainan ini begitu banyak?’ Tanya ibu mertuaku sambil mengelenggelengkan kepalanya dan kulihat temanku, dan kakakku sedang duduk sambil melihat lihat minan yang berserakan diruang tamu


“janga ada yang merusak kotaknya, jangan ada yang menyentuhnya!!” syaiba berkata dengan penuh penekanan lagi sambil melihat herman, cahyo dan ayu yang sedang melihat lihat mainan

__ADS_1


“sudah..sudah….boly sabar coma gitu aja….” Mas satria bekata dan dipotong oleh istriku


“kalau gitu semua mainan ini sy kirim ke panti asuhan atau saya kembalikan ke tokonya” kata syiba masih dengan mode marahnya dan tidak bisa bergerak karena aku dan anakku masih memeluk kakinya


“Ummi…jangan gitu?” dijah mulai dengan deraian air mata


Dan kulihat dijah seolah memberikan kode kepada kembaranya aida untuk merayu umminya


“ummi…jangan marah sambil memajukan bibirnya aida merfasa dengan cara seperti ini umminya akan luluh.


“Ummi…Ummi gini aja aida akan pilih satu mainan dan sisanya kita sumbangakan ke panti gimana? “jawab aida dengan gaya orang dewasa


“tidak….ummi tidak suka seperi ini,? Ummi tidak suka menghamburkan uang, masih banyak anak diluar sana yang tidak bisa membeli maianan, beli makan mereka perlu kerja untuk bisa membeli apa yang mereka inginkan walaupun tidak sesuai harapan mereka, ummi sudah bilang jangan suka membuang uang dengan membeli barang yg tidak manfaat, yang nantinya tidak digunakan, ummi sayang kalian..” ucapan saiyba menyadarkan diriku akan sifat syaiba yang selalu merendah, kasih sayang dengan sesama yang membuat aku mencintai istriku ini.


“sudah abbi, dijah, aida lepaskan ummi mau duduk?” titah sang ratu


Yang akhirnya kami melepaskan tangan kami yang memeluk kaki ratu kami dan mengikutinya sampai duduk di sofa dekat mainan yang menumpuk itu


“tapi..paman, syai……?” …


“sudah sayang…untuk kali ini biar paman yang lakukan, leno kasih tau berapa kamu beli ini semua biar paman


ganti…….jangan ada bantahan lagi !..bagaimana sayang” paman jimmy mendekati syaibah dan megelus rambut syibah sambil mencium kepala syaibah yang tertunduk dan akhirnya dia menyetujuinya walaupun kulihat dia tidak begitu senang.


“Ummi…..boleh ya???” pinta dijah dan aida.


“boleh…..tapi tidak semuanya ya.?? Pilih lalu bawa kekamar jangan semuanya bagaimana?”


“siaaaap!!! Bos!..”seru si kembar sambil mencium kedua pipi ratuku dan kami pun bahagia sambil kutepuk telapak tangan syaibah dia melihatku sambil tersenyum.


Malam semakin larut, tamu semua sudah pada pulang dan akhirnya si kembar sudah tidur diperaduan mereka yang juga harus adu argument karena mereka mau tidur denganku katanya mereka kangen dan ingin dipeluk diriku sebagai ayahnya dan akhirnya kami berempat tidur dikamar kami yang memang ukuran kasurnya tidak besar dan akhirnya kami tidur di lantai yang sudah diberi ambal yang tebal sambil melihat anakku yang memeluk diriku


(Dijah disebelah kanan dan aida disebelah kiri bersama istriku, sebenarnya malam ini aku sudah menyusun rencana tapi bagaimana lagi demi anak anak rencana tidak jadi dilaksanak.

__ADS_1


“biarlah masih ada hari esok….semoga si kembar tidak menggangu aku untuk mendekati ibundanya”pikirku sambil tersenyum melihat ketiga gadisku yang sangat ku sayangi dan kulihat istriku tersenyum sambil


memeluk aida.


“….mas….mas…..mas…bangun….mas….abbi bangun?” suara syibah memanggilku


“hem..ada apa sayang?” aku terbangun sambil mengucek mataku dengan mengup karena aku tadi malam tidak bisa tidur karena takut ini semua mimpi sampai akhirnya lelah mataku dan akupun tertidut di pukul 2 malam


“mas ayo bangun mau sholat subuh nah ……?”syaibah membangunkanku sambil mencium aida untuk membangunkan anakku yang masih pulas sambil memelukku tidak berubah posisinya


“kok aida dicium?..mas juga dong?” pintaku


“idih…mas, kok kayak anak kecil, saya kalau membangunkan si kembar seperti itu, ayo bangun sy mau membangunkan dijah..?”syibah memindahkan tanganku dan dia membangunkan dijah masi sama dengan aida sambil mencium pipi anaku dan sepertinya si kembar responya kuat mereka bangun dan melihatku sambil tersenyum


“abbi…”suara dijah yang masik serak khas suara bangun tidur dan memelukku dibanrengi aida memeluk diriku dengan erat.


“ayo bangun kita sholat subuh sudah ditunggu yang lain tuh?” syibah memerintah kami bertiga untuk bangkit, kulihat si kembar berjalan ke  kamar mereka sedangkan aku masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan akhirnya kami sholat berjamaah di mushola kecil dekat rumah kami.


“ayo semu…sarapan sudah siap…”panggil Diana dan kami pun menikmatit nasi uduk


“bagaimana?...leno? nasik uduknya, enak?”Tanya Diana


“enak …kapan kamu bisa masak, perasaan dulu kamu belum bisa masak?” ucapku sambil memakan nasi uduk


yang ku ingat dulu diana selalul makan masakan syibah dan kata syibah diana tida bisa masak cuma bisa masak sayur bayam dan masak air


“bagus deh….tapi kamu salah orang yang masak syibah kok aku Cuma masak telur gulung…” jawab Diana sambil melirik syibah yang sedang menuang air ke gelasku


“makasih ummi atas masaknya?” ucapku  “sama..sama, sudah ayo makan…” jawab syibah


Akhirnya kami makan dengan lahap, si kembar, ayah ibu mertuaku, kakak iparku bersama istrinya.


------------------------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2