
Ian menuruni anak tangga satu demi satu, sesekali ia berhenti sejenak untuk meyakinkan dirinya bahwa mamanya akan menuruti permintaannya.
Ketika telah sampai diruang bawah, ia segera melangkahkan kakinya diruang keluarga, ruangan dimana mamanya akan duduk sambil memegang ponsel dan remot tv.
Sekali tiga uang, ia tak hanya menemukan mamanya disana, ayah ian pun sedang duduk disana berdampingan dengan mama. Sungguh pemandangan yang tidak seperti biasanya.
Sambil mendekati mamanya, ian duduk tepat disamping mamanya. kini mamanya berada diantara anak dan suaminya.
Dengan rasa sedikit pesimis, Ian kembali mengutarakan maksud dan tujuannya agar mamanya bisa hadir besok disekolah, kali ini dia tidak membujuk ayahnya karna yakin, pasti ayahnya tidak akan datang karna alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal barang sehari.
" mah, tadi aku menang lomba pidato " kata ian memulai percakapan.
" serius ? selamat ya sayang, mau hadiah apa dari mama ? " tanya mama ian dengan penuh semangat dan lagi, kembali mengambil ponsel dan terlihat sedang mengetik sesuatu.
Ayahnya tak mengeluarkan sepatah katapun. Namun sangat nampak diraut wajahnya rasa senang karna mendengar pencapaian ian hari ini. Ia lalu menatap ian yang duduk disebelah mamanya. Sambil tersenyum ia mengacungkan 2 jempol untuk ian.
" ian tidak ingin hadiah mah tapi... "
" tunggu, tunggu dulu sayang, mama terima telepon dulu " ucap mama ian sambil membuka telapak tangannya mengisyaratkan ian untuk diam lalu kemudian mengangkat telepon.
Sekitar 3 menit ian menunggu mamanya mengutarakan maksud dan tujuannya. Selesai juga mama menelpon, dengan gemulai mama kembali mendekat dan bertanya.
" hadiah apa sayang ? "
__ADS_1
" ian ga mau hadiah ma, tapi ian mau mama besok hadir dipenyerahan piagam penghargaan buat ian dan fanly " jelas ian masih dengan rasa pesimis.
" maafkan mama sayang, tadi temen mama nelpon, arisannya dimajuin besok " jawab mama ian dengan santai. " papa gimana ? " tanya mama ian, berbalik melihat ayah ian.
" mama kan tahu, akhir-akhir ini ayah sibuk, mama aja " tolak ayah ian.
Ian menatap kedua orang tuanya dengan rasa kecewa, seakan ingin menangis lalu berteriak sekuat-kuatnya, namun masih berusaha sabar dan kembali bertanya pada mamanya.
" apa ga bisa ditunda ma ? sorekan bisa, mama tinggal suruh aja temen mama kerumah, kayak hari-hari kemarin " kata ian memberi saran.
" ga, bisa sayang kasian temen-temen mama kalau harus ditunda sore, mereka kan punya kegiatan juga " jelas mama ian dengan halus.
Namun ucapan mamanya sungguh membuat ian murka, dadanya sesak, air matanya seakan ingin jatuh, ia lantas berdiri dengan kasar.
" sayang ? " ucap mama ian heran, karna tidak biasanya ian seperti ini, ian sangat patuh dengan kedua orang tuanya, ia tak pernah sama sekali mendengar ian membentak mereka, bahkan disaat marah sekalipun, namun malam ini sangat berbeda, sangat terlihat anaknya begitu marah.
Ayahnya menatap kearah ian dengan rasa heran pula, sesekali ia membenarkan kaca matanya, meyakinkan diri apakah benar-benar ian, anak mereka?.
" kemarin waktu ian ajak mama buat melihat ian digedung, mama ga bisa, besok mama masih ga bisa juga, alasannya masih sama juga ma 'Arisan', kapan kalian punya waktu untuk anak kalian sendiri " kata ian kembali masih dengan nada tinggi dan terdengar tidak sopan, dan kali ini kalimatnya melebar menyinggung ayahnya, terlihat air matanya seakan ingin jatuh dari pelupuk matanya.
Seketika mamanya berdiri dan berusaha menenangkan. " ian, bukannya gitu sayang " kata mama menenangkan ian.
Sementara ayahnya masih terus diam dan duduk dengan mata terbelalak seakan menyimak ketegangan diantara anak dan istrinya.
__ADS_1
sambil berusaha melepas pelukan mamanya, ian kembali mengeluarkan kalimat.
" mama ga sayang sama ian, kalau begitu buat apa ian disini ? " sambung ian kembali dengan nada tinggi.
Ian berlari kekamar mengambil jaket dan kunci motor, satu persatu anak tangga kembali dituruninya dengan cepat.
Kedua orang tuanya seketika berdiri menyaksikan anaknya yang makin mendekat dengan pintu keluar.
Ayahnya yang sedari tadi diam, seketika mengeluarkan suara dengan nada tinggi.
" ian, mau kemana kamu ? "teriak ayah ian.
Ian tak mengeluarkan sepatah katapun, ia terus melangkah makin cepat dan makin dekat dengan pintu keluar rumah.
Kembali ayah ian berteriak memanggil nama ian, namun sama sekali tak digubris oleh ian. kini tak terlihat lagi punggung ian, yang terdengar hanyalah suara motor yang dinyalakan ian dan kemudian dikemudikan dengan gas tinggi.
" yah, kemana anak kita ?, kejar ayah " rengek mama ian dengan tangisan.
" ga usah ma, dia sedang marah, nanti juga balik lagi kalau marahnya sudah hilang " kata ian menenangkan istrinya.
" tapi kalau tidak, gimana yah ?" sambung mama ian.
" dia pasti pulang " kata ayah ian, kembali menenangkan istrinya. Padahal ia sendiripun merasa cemas. bagaimana kalau nanti ian tidak pulang? akan kemana ia?. ian dalam keadaan marah, apa ia akan stabil membawa motornya ? apa ia akan baik-baik saja ? karna pasti ian sedang ngebut-ngebutan sekarang. " moga saja ia tidak kenapa-napa " batin ayah ian menenangkan diri.
__ADS_1