
Sementara diatas motor yang berjalan dengan kecepatan tinggi, air mata ian terus jatuh, pikirannya sekarang sangat tidak karuan. kekecewaannya masih sangat terasa dibenaknya. ia terus berjalan melajukan motornya tanpa tahu kemana arah tujuannya. Jika ia kerumah neneknya, sangat tidak mungkin karna beliau berada jauh. diluar kota. " barang seharipun, mereka ga bisa? " batin ian kecewa.
20 menit mengendarai motornya, ian masih bingung, kemana ia harus pergi ?. Ian sangat tidak ingin pulang kerumah, rasa kekecewaannya belum hilang.
Ketika melewati pantai, ian memutar motornya kemudian berhenti sejenak. pelan-pelan ia menarik napas lalu menghembuskannya secara kasar. fikirannya masih tidak karuan. ia masih mengingat-ingat kejadian dirumah. " bahkan untuk seharipun ga bisa ?, sebenarnya juga ga cukup sehari " kata ian dikesendirian.
Ian terus memandangi ombak dan terus menarik napas pelan lalu kemudian menghembuskannya pelan juga untuk menenangkan fikirannya.
Sekarang fikirannya perlahan-lahan mulai tenang, ia berfikir sejenak 'kemana ia akan tidur malam ini?'. akhirnya setelah lama berfikir, ian seakan menemukan lampu dikepalanya, ia tahu kemana ia harus tidur malam ini dan untuk beberapa malam selanjutnya.
Kembali ia menyalakan motornya dan melaju ketempat tujuan, rumah fanly.
Tepat jam 11.30 ian sampai dikompleks rumahnya, berhenti sejenak lalu kemudian mematikan motornya. Dengan gaya mengendap-endap ala pencuri ian memapah motornya, karna untuk sampai dirumah fanly, ia harus melewati rumahnya terlebih dahulu.
Terdengar didalam rumahnya mama ian masih menangis dan berdebat dengan ayahnya.
" yah, kemana anak kita? kenapa sampai sekarang belum pulang-juga? " tanya mama dengan isak tangis
" mama jangan nangis terus dong, ayah jadi bingung nih " kata ayah ian dengan rasa cemas.
__ADS_1
" gimana mama ga mau nangis, udah setengah 12 lewat ian belum pulang juga, coba ayah telfon fanly, kali aja dia tahu dimana ian ".
Kemudian ayah ian menelpon fanly, namun terdengar nihil, fanlypun tak mengetahui dimana ian berada.
Melihat garasi rumah fanly yang masih terbuka, ian buru-buru memasukkan motornya kedalam garasi. saat hendak menelpon fanly, terlihat dilayar ponselnya ada 30 panggilan terlewatkan dari mama dan ayahnya. ian tak menghiraukannya, ia lanjut menghubungi fanly.
Mendengar ponsel yang berdering, fanly mengambil ponselnya. ia melihat nama sahabat ian dilayar ponselnya, secepatnya ia menggeser tanda hijau.
" ian, lu dimana? tadi bokap lu nelpon " tanya fanly
" buka pintunya, gue ada dibagasi sekarang " kata ian ditelpon.
" hey, lu dari mana aja? bokap lu cemas sana, katanya lu ga pulang-pulang dari tadi " sapa fanly ketika telah sampai dibagasi.
" entar gue ceritain dikamar " jawab ian.
Ian terlebih dahulu masuk dirumah dan meninggalkan fanly yang hendak memasukkan motornya kedalam bagasi.
Didalam kamar, ian duduk dikursi belajar sambil membuka-buka komik yang mungkin habis dibaca fanly tadi. Tak berselang lama, fanlypun masuk dikamar dan duduk ditepi matras tidurnya.
__ADS_1
" ada apa sih? " tanya fanly penasaran
Dengan jelas, ian menceritakan kejadian beberapa menit yang lalu. ia menceritakan rasa kecewanya terhadap kedua orang tuanya yang tidak bisa hadir besok dipenyerahan piagam penghargaan untuk mereka. padahal itu hanya membutuhkan waktu paling lama sejam.
Fanly yang mendengar cerita ian tersenyum dan berusaha menyemangati ian.
" lalu?, apa kamu ga akan pulang kerumah? " tanya fanly.
" sepertinya gue ingin disini dulu " jawab ian.
" besok, lu ga sekolah ? " tanya fanly lagi.
" lu punya baju ga? gue ga mau ngambil baju dirumah, nanti ketahuan " jawab ian
fanly geleng-geleng kepala sambil beranjak mengambil seragamnya yang lain dan memberikannya pada ian.
" jadi lu mau bersembunyi disini? " tanya fanly meyakinkan.
" iya, jangan beritahu bokap nyokap gue ya, gue mau lihat sejauh mana mereka nyemasin gue " jawab ian dengan wajah serius.
__ADS_1
kembali fanly tersenyum dan mengaminkan permintaan ian.