
Keadaan kini telah kembali seperti biasa. Dimana sudah ada makan semeja ketika dikantin, sudah ada tegur sapa saat bertemu dan kebiasaan fanly lainnya seperti hari-hari sebelumnya.
Denia seakan berada dizona nyaman. Hari demi hari telah berlalu Denia tak kunjung memberitahu fanly. Malah sebaliknya, denia makin memberi perhatian dan harapan lebih pada fanly.
Sebagai sahabat dela sudah sering mengingatkan denia. Namun denia hanya terus berjanji tanpa bertindak karna alasan takut kehilangan. Padahal bukankah caranya itu akan membuat fanly lebih berharap dan tidak menutup kemungkinan fanly akan makin menjauh nantinya jika dia mengetahui bahwa denia tidak akan mungkin membalas rasanya.
*** *** ***
Setelah pulang sekolah, Ibu denia mengajak denia untuk berkunjung dikantor tempat ayahnya bekerja. Bukan tanpa alasan, Ayah ian berencana mempertemukan anaknya dan denia.
Setelah mengganti baju, denia dan ibunya bergegas menuju kantor memenuhi undangan pak hadi dinata menggunakan mobil dengan diantar supir pribadi.
Sengaja ayah ian mempertemukan mereka dikantor. Selain agar mereka saling kenal, juga untuk memperkenalkan ian pada karyawan kantor bahwa dialah yang nantinya akan menjadi penerus perusahaan.
Selama ini, ian sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya diperusahaan ayahnya. Untuk itu, ini kali pertama ia berkunjung diperusahaan ayahnya.
*** *** ***
Setelah 2 jam menunggu, denia dan ibunya tak kunjung datang. hal ini membuat ayah denia yang sudah bersama ian dan ayahnya merasa khawatir.
" putriya mana om? " tanya ian sopan.
" mungkin lagi dijalan, coba om telpon dulu " jawab ayah denia.
*** *** ***
Diperjalanan menuju ke kantor, denia dan ibunya terjebak macet, hingga tak bisa berbuat apa-apa.
Dering telepon ibu denia mengagetkannya yang merasa sedikit resah karna kemacetan jalan.
"ayah?" kata ibu denia setelah melihat panggilan dan menggeser tanda hijau pada layar androidnya.
" halo? "
" halo, ibu dimana ? ayah udah nunggu 2 jam sama pak hadi dan anaknya? " tutur ayah denia dengan suara khawatir.
" maaf. ibu lagi dijalan yah. terjebak macet. mungkin 15 menit lagi kami sampe " jawab ibu denia
" ya udah hati-hati dijalan " kata ayah denia lalu mematikan ponselnya.
" maaf pak, istri saya terjebak macet. mungkin sekitar 17 menitan lagi dijalan " kata ayah denia dengan rasa segan.
Pak hadi menganggukan kepalanya sembari menepuk-nepuk pundak calon besannya itu dengan ramah " iya, gak apa-apa pak ridwan "
Untuk mengusir kebosanan menunggu, pak hadi dan ayah denia membawa ian keliling kantor dan memperkenalkan ian pada karyawannya.
__ADS_1
" udah ganteng, ramah lagi " kata salah satu karyawan kantor saat melihat ian dari kejauhan.
17 Menit berlalu, denia dan ibunya tak kunjung datang. Ian akhirnya pamit pulang, karna kebetulan ia dan fanly sudah janjian untuk pergi bermain futsal.
" yah, om ,ian pulang dulu, ketemunya entar kapan-kapan aja " pamit ian pada ayah dan ayah denia.
" Tapi ga lama lagi anak om akan sampai " kata ayah denia mencoba menahan ian untuk pulang.
" ia ian, tunggu aja " sambung ayahnya.
" ga bisa yah. Aku udah ada janji sama fanly dan sekarang mungkin dia lagi nunggu disana " tolak ian dengan sopan.
Ayahnya tak menahan ian lagi berlama-lama, karna memang mereka telah menunggu selama 2 jam lebih.
" iyah, kapan-kapan aja " jawab ayah ian kemudian
Ian berlalu meninggalkan ayahnya dan pak ridwan setelah mendapat izin dari ayahnya.
Saat dijalan menuju pintu keluar, ian tak sengaja bertemu denia dan ibunya.
" ian? ngapain disini? " tegur denia saat berpapasan.
" lagi jalan-jalan. " kata ian dengan santai lalu meninggalkan denia karna buru-buru menemui fanly yang mungkin sudah menunggunya sedari tadi.
Denia terus menatap punggung ian yang melangkah semakin jauh. " ngapain ya? " batin denia penasaran.
" iyah bu " jawab denia dan melangkah mendekati ibunya.
*** *** ***
" maaf, kami membuat bapak lama menunggu " tutur ibu denia, ketika telah sampai diruangan pak hadi dinata yang terlihat duduk bersama suaminya
" ga apa-apa " jawab pak hadi sambil tersenyum. " denia, tadi udah ketemua sama anak om? barusan dia pulang " imbuh pak hadi.
" anak om? ian? " tanya denia setelah mencium punggung tangan pak hadi.
" ia, kamu kenal? " tanya pak hadi balik.
Denia tercengang sesaat, tak percaya apa yang ia dengar barusan.
" ian?, apa itu artinya aku akan dijodohkan sama ian? sahabat fanly " batin denia dengan seribu tanya dibenaknya.
" kamu kenal? " kata pak hadi kembali mengulang kata-katanya.
" i - i iya" jawab denia terbata-bata yang terkejut setelah mendengar suara pak hadi yang kembali bertanya.
__ADS_1
*** DILAIN TEMPAT ***
Ian mendapati fanly tengah duduk diluar stadion sambil memainkan ponsel androidnya dengan wajah sedikit kesal.
" fanly " sapa ian dengan suara yang mengagetkan fanly.
" kok lama banget, gue udah nunggu satu jam " tanya fanly dengan wajah kesal.
" iyah maaf, tadi gue baru bertemu sama calon istri gue dikantor bokap " jawab ian sambil tersenyum dan menangkap kedua alisnya dengan bangga.
Seketika fanly berdiri mendengar jawaban sahabatnya itu.
" serius? yaaa lu ga ngajak gue tadi. cantik yan ? " tanya fanly dengan wajah penasaran.
" ya cantiklah " jawab ian berbohong bermaksud membuat fanly iri. " masuk yuk " ajak ian.
Setelah sekitar 45 menit mereka bermain, fanly dan ian akhirnya pulang.
" ly, lu ga usah ngarep denia " kata ian tiba-tiba saat mereka berjalan menuju tempat parkir. Entah apa yang merasukinya hingga ia berkata seperti itu.
" kenapa? lu kok tiba-tiba bicara gitu. biasanya lu ngedukung " tanya fanly yang merasa heran dengan perkataan sahabatnya itu.
" ga tahu. Firasat gue bilang, kayaknya dia ga mungkin balas cinta lu " jelas ian.
" ah itu cuma firasat lu aja " kata fanly tidak yakin.
" hu'um mungkin " jawab ian sambil menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal.
*** *** ***
Malam hari, setelah makan malam, ayah ian bertanya pada ian. apa ia sudah bertemu dengan calonnya itu?
Ian menggelengkan kepalanya " belum yah " jawabnya santai.
" Loh,kata " kata ayah ian yang belum sempat menyambung kata-katanya tapi keburu dipotong oleh ian.
" emang setelah lulus, aku bakal langsung nikah? " tanya ian memotong kalimat ayahnya.
" ya enggak, setelah lulus. ayah bakal nguliahin kalian diluar negeri setelah itu baru kalian nikah " jawab ayah ian.
" ya kalau gitu ketemunya nanti kalau udah selesai kuliah aja biar sureprise " tutur ian yang sama sekali tidak penasaran dengan calonnya itu yang ternyata adalah denia.
" tapi kan lebih bagus kalau kalian bertemu sekarang? biar kamu bisa kenal dia. orangnya cantik kok " sambung mamanya.
" entar kalau udah lulus kuliah aja. ian yakin kok pilihan mama sama ayah ga mungkin salah " jawab ian lagi memuji pilihan orang tuanya.
__ADS_1
Ayah dan mama ian tak berkata apa-apa lagi setelah mendengar perkataan ian. Mereka menurut saja dengan perkataan anak semata wayangnya itu.