
Pagi hari, Fanly dan ian telah bergegas untuk kesekolah. Fanly mengetuk pintu kamar dimana ian tidur semalam. kamar tamu.
" ian, udah bangun ? " tanya fanly dari balik pintu.
Mama renata yang melewati kamar tamu, heran plus bingung. " Ian ?, perasaan semalam ian ga tidur sini deh " batin mama renata. Pelan, mama renata mendekati fanly yang sedang mengetuk pintu.
" hey, emang ada ian didalam ? emang dia tidur sini semalam ? " tanya mama renata membuat fanly terkejut.
" ia mah " jawab fanly santai.
" kok " sambung mama renata, belum sempat ia menyambung kata-katanya, fanly sudah terlihat menutup bibirnya dengan satu jari, jari telunjuk.
" entar diruang makan " jawab fanly kembali.
Mendengar ketukan pintu dikesekian kalinya, ian keluar dengan seragam yang telah rapih.
" yuk " ajak ian dengan senyum walau terlihat diwajahnya, ian kurang bersemangat.
" ayuk, kita sarapan dulu " kata fanly merangkul bahu ian.
Dimeja makan, mama renata telah menunggu untuk sarapan bersama. Masih tanda tanya dibenak mama renata, kenapa ian bisa tidur disini ? biasanya diajak ga pernah mau, karna alasan A dan B. kok bisa ?.
Beberapa menit menunggu fanly dan ian, akhirnya mereka datang dan duduk dimeja makan. Mama renata membiarkan mereka makan tanpa bertanya terlebih dahulu, karna takut mengganggu selera makan mereka.
Fanly menanggalkan sendoknya dan tak lama kemudian diikuti oleh ian. Menandakan bahwa mereka telah selesai sarapan.
" gak mau nambah ? " tanya mama renata pada ian dengan hangat.
" udah kenyang tante " jawab ian sungkan.
" jangan sungkan-sungkan dong, ian kan udah tante anggap seperti anak sendiri " kata mama renata sambil tersenyum.
__ADS_1
Mulailah mama renata bertanya tentang kebingungan yang ada dibenaknya. kenapa ian tidur disini semalam?. ada apa ? tidak seperti biasanya.
Ian yang mendengar pertanyaan mama renata, menghela nafas sesaat. Dengan wajah sedih ala cowok pada umumnya, Ian menceritakan secara jelas dan terperinci tentang kejadian semalam. Dalam penjelasan itu juga, ian mengutarakan niatnya untuk bersembunyi sementara dirumah mereka. " gitu tante " kata ian mengakhiri kisah dan niatnya.
Dengan wajah serius Mama renata mendengar cerita ian dengan sekasama, ia bisa merasakan kekecewaan yang dirasakan ian. Namun ia juga merasa sedikit lucu mendengar kalimat ian yang ingin bersembunyi dirumah mereka. " sembunyi kok dekat rumah ?, lucu " pikir mama renata sambil tertawa singkat.
Ian yang mendengar tawa singkat mama renata menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal sama sekali. " ada yang lucu ya ? " batin ian.
" jadi gitu ya? " kata mama renata .
" ia tante, jadi untuk sementara, ian bisa tinggal disini dulu ya tante " pinta ian meminta.
Dengan wajah tersenyum halus, mama renata mengiyakan permintaan ian.
Untuk keamanan, mama renata berinisiatif untuk mengantar fanly dan ian kesekolah menggunakan mobil. Untuk mereka pergi kesekolah menggunakan motor sangat tidak mungkin, karna arah pergi kesekolah melewati rumah ian.
" oke, karna ian sembunyi, jadi. hari ini mama yang antar pake mobil " jelas mama renata, karna kebetulan hari ini juga ada penyerahan piagam penghargaan untuk fanly dan ian.
Ian keluar buru-buru dan memasuki mobil dengan cepat seakan ada sesuatu yang mengejarnya, diikuti dengan fanly yang keluar dengan santainya, lalu masuk dalam mobil dan duduk disebelah mama renata. sementara ian duduk dibelakang dengan kaca mobil yang tertutup.
Ketika akan melewati rumah ian, tiba-tiba saja pintu rumah ian terbuka, terlihat mama ian keluar dengan mata sedikit sembab (mungkin karna menangis semalaman) tapi tidak mengurangi kecantikan ala ibu-ibu. dengan pakaian yang sudah rapih, mama ian berjalan seperti hendak memberhentikan mobil fanly. dan benar saja, mama ian memberhentikan mobil mereka dengan sedikit membesarkan suaranya.
Mama renata seketika memberhentikan mobilnya, dengan dada yang dag dig dug mama renata menoleh melihat mama ian yang makin mendekati mobilnya. apa mungkin ia tahu kalau anaknya ada dirumah? pikir mama renata sedikit cemas.
Melihat mamanya yang makin mendekati mobil mereka dari balik jendela hitam, seketika ian turun dari tempat duduknya dan bersembunyi dibalik kursi mama renata dan fanly.
" ada apa jeng? " sapa mama renata dengan wajah senyum namun sedikit terlihat canggung. Keringat dingin mama renata mulai keluar membasahi dahinya.
" saya mau bilang jeng, semalam ian ga pulang-pulang, kami sangat cemas. saya minta ya jeng, kalau dia nanti ada disekolah, mohon beritahu kami " kata mama ian dengan gemulai dan air mata hampir jatuh namun ditahan karna mungkin takut kalau make-upnya nanti luntur.
" kenapa ga mama sendiri aja yang kesekolah ? " batin ian. Lagi-lagi ian merasa kecewa dengan tindakan mamanya yang tidak mau memastikan sendiri walau keadaanya sudah begini.
__ADS_1
" ha? kok bisa jeng, biasanya kan ian ga pernah keluar rumah kalau ga ada keperluan? " tanya mama renata pura-pura tidak tahu.
" panjang jeng ceritanya "
" jadi jeng mau kemana? " tanya mama renata ingin tahu.
Belum sempat menjawab pertanyaan mama renata tiba-tiba terdengar suara "hasyim" dari balik kursi fanly dan mamanya.
sedari tadi ian ingin bersin, namun ia berusaha menahannya karna takut kedengaran oleh mamanya. Namun ian tidak bisa menahannya lagi, hidungnya seakan tak bisa diajak berkompromi lagi, akhirnya keluar juga. bersinnya mengagetkan kedua ibu-ibu tersebut dan juga fanly.
Ian bersin karna menghirup debu dari mobil fanly. karna kebetulan, tadi mobil fanly belum sempat dibersihkan oleh supirnya.
" suara apa itu jeng? kayak suara ian " tanya mama ian sambil celingak celinguk mencari suara dari balik kursi mama renata.
Mama Renata menjadi gugup dan berusaha mengalihkan perhatian mama ian.
" ga ada apa-apa jeng " jawab mama renata dengan pasti.
" suara fanly tante 'hasyim' " kata fanly pura-pura bersin untuk mengalihkan perhatian mama ian.
" oh, bersin didepan kok kedengarannya dibelakang ya? " gumam mama ian dengan wajah bingung, namun ia berusaha mempercayainya.
" udah ga ada apa-apakan jeng? kami pergi dulu, takut terlambat " tanya mama renata dengan senyum yang dibuat-buat.
Mama renata langsung melajukan mobilnya tanpa menghiraukan mama ian yang masih berdiri dan mungkin masih ingin bercengkrama.
Ian beranjak dari persembunyiannya dan kembali duduk dengan rasa lega. ia merasa lucu sendiri dengan kejadian tadi. Segitu niatnya mama renata dan fanly melindunginya, hingga harus berbohong.
Mama renata sangat menyadari bahwa berbohong itu sangatlah tidak baik. Namun ia melakukan itu karna ia tahu tindakan ian bukanlah tindakan yang salah. Mungkin dengan cara ini kedua orang tua ian akan sadar bahwa mereka memiliki anak yang sangat
membutuhkan perhatian dan kehadiran mereka.
__ADS_1