Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu

Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu
BAB 22


__ADS_3

Sepulang dari arisan, mama ian melanjutkan perjalanan ke kentor polisi. Karna belum 2 kali 24 jam, polisi belum bisa memproses laporan mama ian dan ian belum bisa dinyatakan hilang. Sehingga beliau bersabar hingga esok tiba dan berharap ian akan pulang.


Saat tiba dirumah, mama ian merasa rumah begitu hampa. Karna biasanya dijam 2.30 ian sudah berada dirumah. Walaupun ia jarang pulang cepat tapi sesekali ia sudah mendapati ian dirumah ketika pulang kerumah dijam tersebut untuk mengganti baju dan harus pergi lagi untuk kumpul bersama teman-teman sosialitanya.


Dikantor, ayah ian tak bisa berkonsentrasi full karna memikirkan anak semata wayangnya yang belum juga ada kabar sejak kepergiannya semalam. Sesekali ia menelpon si mbok dirumah untuk menanyakan apakah ian sudah dirumah?. Namun jawabannya nihil, ian belum juga pulang.


*** *** ***


Mama ian duduk disofa ruang keluarga dengan perasaan yang masih sedih karna tak kunjung mendapat kabar dari ian. Kembali beliau mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor ian, namun kali ini bukan hanya tidak diangkat tapi ponselnya tidak aktif.


" Nomor yang anda tuju,sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan " begitulah suara yang terdengar berulang-ulang ketika mama ian menghubungi ian berkali-kali.


" dalam keadaan seperti ini, aku butuh partner untuk meluapkan isi hatiku " pikir mama ian.


Entah apa yang merasuki mama ian hingga ia berfikir untuk kerumah mama renata. " kerumah jeng renata saja " pikirnya kembali.


Ian telah berada dikamar bersama fanly 20 menit yang lalu sejak ia dan fanly pulang sekolah dijemput oleh supir keluarga fanly.


Setelah menekan bel, mama ian mengetuk pintu sembari memberi salam dengan gaya gemulainya. Sebuah bungkusan tisu terdapat ditangan kirinya.


" assalamu'alaikum jeng " salam mama ian ketika sampai depan pintu rumah mama renata.


" wa'alaikum salam " jawab mama renata saat membuka pintu. " eh jeng, tumben. silahkan masuk " sambung mama renata dan kemudian mempersilahkan masuk masih dengan keadaan bingung. kenapa beliau kesini ? baru kali ini beliau datang kerumah.


Mama ian masuk kedalam rumah sambil celingak celinguk melihat sekitaran rumah mama renata. ia tak tahu, apa yang ingin dicarinya, yang pastinya ia hanya ingin melihat-lihat saja.


Mama ian kemudian duduk diruang tamu dengan wajah sedih.


" ada apa jeng ? " tanya mama renata membuka percakapan.


" saya tidak tahu jeng, harus dengan siapa saya berbicara. saya sangat sedih jeng ". jawab mama ian dengan gaya yang tak jauh beda dengan syahrini sambil terus menahan air matanya yang sedari tadi ingin jatuh.


" ian belum pulang jeng ? " tanya mama renata dengan wajah yang seakan cemas.


Akhirnya air mata mama ian,tak bisa dibendung-bendung lagi. air mata yang sedari tadi meronta-ronta ingin dikeluarkan akhirnya keluar juga. Dengan tangis yang tersedu-sedu, mama ian mengeluarkan kata demi kata hingga menjadi kalimat yang terdengar menyedihkan.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. diam-diam, mama renata menelpon nomor fanly yang kebetulan bersama ian dikamarnya.

__ADS_1


Mama renata meletakkan ponsel diatas meja, mendekatkannnya pada mama ian, setelah menghubungi nomor fanly. ia berharap ian mendengar jeritan hati mamanya.


Dengan wajah serius, mama renata kembali mendengar curhatan mama ian.


Tanpa rasa curiga mama ian terus berucap dengan isak tangis.


*** *** **


Mendengar dering ponsel, ian menggapai ponsel fanly yang berada diatas meja belajar, dihadapannya. Kebetulan ian sedang duduk didepan meja belajar sambil membaca komik hasil koleksi fanly. Sementara fanly sedang serius bermain ps.


" ly, ponsel kamu bunyi " teriak ian


" siapa ? " tanya fanly, tanpa menoleh sambil terus serius memainkan game psnya


" mama kamu " jawab ian.


" angkat aja " ucap fanly. " ngapain ya ? " gumam fanly. Namum ia cuek dan memilih melanjutkan gamenya


" meski dalam rumah, masih telpon-telponan ? " batin ian sambil menggeser tanda hijau pada ponsel sahabatnya itu lalu mendekatkannya pada daun telinga.


" ia tante ? " sapa ian. Menunggu jawaban mama renata, ian kembali membaca-baca komik dengan satu lengannya memegang ponsel ditelingannya.Tak ada jawaban mama renata.


Terdengar suara mama ian berkata-kata dengan diiringi isak tangis yang tidak dibuat-buat.


" mama ? " gumam ian terkejut mendengar suara di balik ponsel yang ternyata bukan suara mama renata melainkan mamanya. dengan rasa penasaran, ia melepaskan komik bacaannya dan serius mendengar percakapan dibalik ponsel.


" saya sudah tidak tahu jeng harus mencari anak saya dimana. saya sudah berusaha menelpon tapi ponselnya tidak aktif. saya janji jeng, kalau nanti ian pulang, saya akan berubah lebih mementingkan dia dari teman- teman arisan " curhat mama ian masih dengan isak tangis.


Mama renata berdiri dari duduknya dan berpindah duduk disamping mama ian, mencoba menenangkan beliau yang masih mengeluarkan air mata. " jadi merasa bersalah deh karna udah bo'ongin jeng ian " batin mama renata sambil terus menghibur mama ian.


" sabar jeng, ian pasti pulang. mungkin dia masih menenangkan pikirannya " hibur mama renata.


*** *** ***


Ian mematikan ponselnya, lalu keluar dari kamar menuju keruang tamu, dimana mamanya dan mama renata berada. Pelan tapi pasti, ian menuruni satu demi satu anak tangga. Antara perasaan senang mendengar janji mamanya dan was-was, kalau-kalau nanti mamanya marah, melihatnya ternyata hanya bersembunyi dirumah fanly. Rumah yang hanya melewati 3 rumah dari rumah mereka.


Kini, ian sudah berada dibelakang kursi mamanya. ia ingin mendengar kembali janji mamanya yang akan lebih mementingkannya ketimbang teman-teman arisannya itu.

__ADS_1


" loh ? " ucap mama renata yang terkejut melihat ian, yang sudah berada dibelakang mereka.


" kenapa jeng ? tisunya nanti saya buang diluar ya jeng " kata mama ian sambil mengusap air mata dan sesekali mengeluarkan cairan yang ada dihidungnya dengan tisu lalu memasukkannya kembali pada kemasannya.


" ga papa jeng " jawab mama renata, sedikit jijik. " jeng janji ? kalau nanti ian pulang, jeng akan berubah ? " tanya mama renata memastikan.


" iyah jeng, saya janji kalau nanti ian pulang, saya akan berubah lebih mementingkan dia dari teman- teman arisan saya " kata mama ian kembali mengulang kata-katanya.


Saking senangnya, tanpa sengaja Ian yang mendengar kata-kata mamanya spontan mengeluarkan suara yang membuat kedua mama-mama yang berada didepannya terkaget.


" iyah ma ? " tanya ian tanpa sadar.


mama ian (terkaget) " tu kan jeng, saking rindunya dengan ian, saya sampai merasa ada suara ian diantara kita " kata mama ian terisak-isak.


Tidak mungkin dimomen seperti ini, mama renata tertawa. ia lantas menahan tawanya mendengar kalimat mama ian.


" tidak mah, ian ada dibelakang mama sekarang " kata ian kembali.


Mama ian yang kembali mendengar suara ian berdiri dari duduknya dan menoleh dibelakang kursi mereka.


" ian ?"


Dengan langkah pasti, ian mendekati mamanya dan memeluk beliau.


" mama minta maaf sayang, mama janji " kata mama ian yang kata-katanya dipotong oleh ian.


" ga usah diulang mah, ian sudah mendengarnya dua kali " kata ian memotong kalimat mamanya sambil terus memeluk beliau.


Mama renata yang menyaksikan momen haru itu, seakan ingin menangis pula karna baper.


Terheran sesaat, mama ian melepaskan pelukannya. ia lalu bertanya, mengapa ian ada disini ?. apa dari semalam ian sudah berada disini ?. tanya itu yang berada dibenaknya sekarang.


Ian tertawa singkat. ia lalu menjelaskan panjang lebar pada mamanya. Dari ia keluar dari rumah, kemana saja ia semalam hingga darimana ia mendapat ide untuk bersembunyi dirumah sahabatnya itu. " mama ga marah kan ? " tanya ian menutup penjelasannya.


Sebaliknya, bukannya marah, Mama ian yang mendengarkan penjelasan anaknya, tak bisa menahan suaranya untuk tertawa. Ia tertawa tak percaya kalau anaknya punya ide yang seakan diluar nalar. 😅


Mama Renatapun ikut tertawa melihat reaksi mama ian. " maaf ya jeng, tadi saya sudah berbohong sama jeng " pinta mama renata

__ADS_1


" ga apa-apa jeng, justru saya yang minta maaf. karna anak saya, jeng jadi berbohong " jawab mama ian terbata-bata sambil menahan tawanya.


Setelah berpamitan dengan mama renata, Ian dan mamanya pulang kerumah.


__ADS_2