Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu

Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu
BAB 3


__ADS_3

Assalamu'alaikum " teriak fanly dari pintu luar rumah ian. Tak terdengar sama sekali suara ian membalas salam fanly, yang ada hanya suara ayah dan ibu ian yang sedang bertengkar meributkan hal yang sepele, mengantar ian ke sekolah.


" ibu aja yang antar " kata ayah ian.


" ayah saja, ibu buru buru nih ! kantor ayah kan searah sama sekolah ian " balas ibu ian kembali sambil meletakkan gelas di tangannya diatas meja. Sementara ian hanya terdiam sambil menatap ayah dan ibunya.


" Assaamu'alaikum, ian ?? " teriak fanly kembali berharap ada balasan dari dalam rumah.


" wa'alaikum salam " terdengar tiga suara membalas salam fanly. Tanpa banyak berkata ian keluar dan menghampiri fanly " aku bareng fanly saja " teriak ian ketika telah depan pintu.


10 menit dalam mobil tak terdengar sedikit pun suara yang keluar dari mulut mereka, yang ada hanyalah suara angin yang meniup diuar jendela mobil yang sengaja dibuka ian, mungkin untuk menenangkan pikirannya. Fanly hanya terdiam melihat ian yang sedari tadi terdiam sambil melihat view yang menhiasi perjalanan mereka, sesekali ian menghirup nafas dalam-dalam ketika melewati pepohonan.


" udaranya segar ya ?? " kata fanly memulai percakapan.

__ADS_1


" iya " jawab ian singkat menoleh pada fanly " tumben pakai jaket, sakit ??" sambung ian kembali.


" tidak cuma lagi pengen " sambung fanly kembali


dua puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai disekolah dan menunjukkan waktu tepat jam setengah 7,namun sudah terlihat banyak siswa seangkatan mereka dalam pagar sekolah begitupun dengan panitia Mos yang sudah terlihat berdiri dengan mata melirik ke kanan dan ke kiri menanti kedatangan peserta MOS.


Tak jauh dari tempat mereka turun terdengar suara wanita memanggil manggil nama fanly.


" woy, di panggil tuh " tegur ian yang membuat fanly terkejut " deluan ya " sambung ian dan pergi berlalu meninggalkan fanly bersama denia.


" ada apa denia " tanya fanly dengan sopan dan senyum yang menjadi ciri khasnya.


" aku mau minta tolong " jawab denia dengan wajah memelas dan mata berkaca-kaca " aku halangan dan sekarang aku tembus " sambungnya masih dengan wajah memelas.

__ADS_1


" jadi ? " tanya fanly dengan kata yang masih ingin disambung namun dipotong oleh denia.


" atributku ketinggalan di angkot, pas aku turun, angkotya langsung jalan " jelas denia.


" apa yang perlu saya bantu? " tanya fanly kembali, padahal ia sudah mengerti maksud denia ingin meminjam jaketnya untuk menutupi sirup merah yang menempel di rok biru tapi ia sengaja melama lamakan waktu biar bisa lama ngobrol sama denia. ia tahu betul pasti denia malu berterus terang.


"tuhan, terimakasih telah mengetuk hatiku memgenakan jaket" batin fanly dengan rasa senang.


Denia hanya cengar cengir memberikan kode dengan matanya dan dengan tangan kanan yang berada di bawah pinggangnya menunjuk untuk meminjam jaket fanly.


"ada apa dengan cewek ini, tadi hampir nangis sekarang cengar cengir,tapi tetap cantik" batin fanly lucu. " oh jaket ini ?? " tanya fanly sambil membuka jaketnya " nih " sambungnya lalu memberikan jaket kepada denia.


" makasih ya " ucap denia meraih jaket yang diberi fanly dan kemudian melingkarkannnya pada pinggang, lalu kemudian berlalu menaikki angkot yang sudah berhenti didepan mereka setelah di isyarakanya untuk berhenti.

__ADS_1


__ADS_2