Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu

Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu
BAB 29


__ADS_3

Mendengar jawaban fany, tak berlama-lama ianpun meninggalkan fanly dan denia. Begitpun dela yang terlebih dulu meninggalkan mereka.


" serius mau naik angkot? " tanya denia sekali lagi untuk meyakinkan.


" iya " jawab fanly dengan senyum lirikan.


Tak butuh waktu lama, angkotpun berhenti tepat didepan halte sekolah setelah diberhentikan oleh denia.


" mau kemana neng " tanya supir angkot


" kejalan anggrek " jawab denia.


Denia memasuki angkot tanpa menoleh pada fanly yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya dan hendak menaiki angkot pula.


" mau kemana ? kita kan ga searah " tanya denia ketika melihat fanly sudah berada didepan kursi duduknya.


Sambil tersenyum fanly menjawab tanya denia dengan santai " aku mau anterin kamu dulu, mastiin kamu pulang dengan selamat ".


Mendengar jawaban fanly, denia hanya bisa tersenyum aneh tanpa bisa berkata-kata. Bukannya kehabisan kata, tapi karna denia tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Lucu sekaligus senang, perasaan yang denia rasakan saat ini.


" emang baru kali ini aku naik angkot " batin denia.


Didalam angkot yang sedang berjalan, denia sangat terlihat kikuk dan tak mengeluarkan suara sama sekali. pandangan matanya terus lurus kedepan tanpa menoleh pada fanly yang terus curi pandang dan sesekali melakukan gerakan untuk mengalihkan perhatian denia, namun terus gagal karna denia tak menoleh sedikitpun.


" leher kamu sakit ya nia? " tanya fanly mencoba menggoda denia.


" eengg enggak, biasa aja " jawab denia terbata-bata dan tegang. perasaannya kini makin tidak karuan setelah menjawab tanya fanly. apalagi dalam angkot hanya ada mereka berdua.


Fanly menahan tawanya mendengar jawaban denia yang serius dan gelagaknya yang makin canggung, padahal ia hanya bermaksud basa basi saja.


" kok tegang ?" ledek fanly sambil terus menahan tawa dan makin menikmati kecanggungan denia.

__ADS_1


Tingkat ketegangan denia bertambah setelah mendengar ledekan fanly, ia tak tahu harus menjawab apa. pipinya memerah dan lehernya makin berat menoleh pada fanly. Sebenarnya saat seperti ini adalah saat-saat yang ia tunggu. Hanya berdua saja bersama fanly, tapi entah mengapa saat sekarang tubuhnya menolak untuk diajak berkompromi, ia malah canggung dan tak bisa berkata-kata.


" bang, ga ngambil penumpang lagi ? " tanya denia sambil terus fokus kedepan. bermaksud untuk menepis sedikit ketegangan didirinya.


Belum sempat supir angkot menjawab, fanly bersuara menyela tanya denia.


" ga usah bang, nanti kursi penumpangnya biar aku yang bayarin " jawab fanly sambil tersenyum lucu melihat tingkah denia yang makin tegang dan terlihat kesal.


Denia menghirup napas dan mengeluarkannya dengan kasar. " apaan sih ?? " kata denia dengan wajah cemberut.


Sementara bang supir menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah 2 remaja dibelakang, kursi penumpang.


" Nia, aku mau ngomong " kata fanly yang kini terlihat serius.


" tuhan, dia mau ngomong apa? enggak, enggak. moga bukan itu " batin denia, berharap fanly tidak mengatakan cinta lagi, karna pasti ia akan menolaknya karna sudah menuruti permintaan orang tuanya untuk tidak berpacaran dan menerima perjodohan walaupun ia sama sekali belum tahu bagaimana rupa jodohnya itu, yang ia tahu, yang pastinya ia merupakan anak bos diperusahaan ayahnya bekerja.


" sekarang, kita menginjak umur 17 tahun, apa ... " belum sempat fanly meneruskan kata-katanya, supir bersuara untuk memberitahu denia kalau mereka sudah sampai.


" udah sampe, duluan ya. makasih udah nganterin " kata denia lalu turun dari mobil dan berlalu meninggalkan fanly yang masih ingin mengeluarkan kata-kata.


Fanly heran dengan tingkah denia, yang tadinya tegang, setelah sampai malah menjadi seseorang yang amat akrab tanpa beban. Hal ini mengingatkan fanly pada tingkah denia saat meminjam jaketnya.


" aneh, tapi tetap cantik " gumam fanly setelah melihat kepergian denia.


" kemana ? " tanya supir angkot pada fanly.


Abang supir menginjak gasnya dan melanjutkan perjalanan menuju kekediaman fanly setelah mendengar alamat yang diucapkan fanly.


*** *** ***


Pada malam hari fanly menghampiri ian dirumahnya, tidak seperti biasanya dimana ian yang selalu menghampirinya dirumah, kali ini fanly yang kerumah ian. Karna semenjak kejadian dimalam itu, ian hampir tidak pernah lagi berkunjung kerumahnya.

__ADS_1


" Menurut lu, denia suka ga? sama gue ? " tanya fanly pada sahabatnya itu.


" kalau dari caranya, sepertinya dia juga suka sama lu, emang kenapa ? " jelas ian lanjut bertanya.


Fanly menceritakan kisah diangkot bersama denia saat pulang sekolah siang tadi. padahal fanly bercerita dengan gaya yang biasa-biasa saja tapi ian terlihat gokil sendiri hingga tak hentinya tertawa mendengar cerita sahabatnya itu. Hal itu membuat fanly bingung. " kenapa lu ? perasaan ga ada yang lucu " tanya fanly yang heran dengan tingkah sahabatnya itu.


" gue bayangin abang supirnya,kira-kira apa ya yang dipikirannya liat kisah anak SMA didalam angkotnya " jelas ian.


" ga nyambung, dasar aneh " tindih fanly. Karna masih penasaran, Fanly mencoba kembali ketopik dan meminta pendapat ian lagi.


" apa menurut lu, dia mencoba menghindar dari sesuatu yang ingin gue katakan ?? " tanya fanly kembali.


" Mmm mungkin dia menunggu waktu yang tepat dan tempat yang romantis ly " kata ian memberi pendapat sambil menahan tawanya " lagian lu sih udah ga sabar, katanya nunggu kenaikan kelas nanti " tandas ian.


Fanly tertawa singkat dan menggaruk pelipisnya " abis gimana, waktunya tadi tepat banget " jawab fanly.


" waktunya tepat tapi tempatnya yang ga tepat, masa nembak cewek di angkot, ga malu sama abang supirnya ? " kata ian meledek


*** *** ***


Saat malam tiba, denia tak bisa memejamkan matanya. pikirannya terus melayang mengingat fanly. Ia tak tahu harus berbuat apa. Disatu sisi,ia tak ingin terus memberi harapan, tapi disisi lain ia juga butuh perhatian fanly walau ia tahu itu cara yang salah.


" aduh gimana nih ? apa aku jujur aja sama fanly, kalau aku udah dijodohkan ? tapi akukan juga suka sama dia ? tuhan, help me " tanya denia pada dirinya sendiri dikesunyian kamar hingga ia tertidur.


*** *** ***


Hari-hari berlalu seperti hari libur pada umumnya. baik fanly, ian hingga denia menjalani waktu libur seperti libur sebelumnya. Dimana fanly dan ian mengisi kekosongan dengan main futsal dan game dirumah. Denia masih dengan kegiatan membantu ibunya mengemas pesanan online para konsumen.


Setiap harinya fanly tak pernah luput mengirim pesan dan mengucapkan ucapan selamat tidur pada denia apabila sudah jam 10. Jika biasanya ia lakukan hanya diwaktu malam hari saja, dihari libur ini, ia selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan di pagi, siang bahkan hingga sore hari dan berlanjut hingga malam hari.


Deniapun selalu membalasnya walau harus ngeles setiap ditanya oleh ibunya.

__ADS_1


__ADS_2