
Besar harapan fanly, denia bisa menerimanya dipernyataan yang kedua ini dan Tek. Fanly kembali kecewa.
Sesuai dengan prediksi ian, denia kembali menolak fanly.
" Fanly maafin aku, aku ga bisa " ucap denia sambil menahan air mata yang ingin jatuh membasahi pipinya.
Suasana cafe seketika menjadi tenang mendengar penolakkan denia dan menyayangkannya. Semua orang tahu jika denia memiliki perasaan yang sama jika melihat gerak gerik dan perhatian denia pada fanly.
" tapi kenapa nia? " tanya fanly lembut, penasaran dengan alasan denia menolaknya.
" aku belum ingin pacaran, kita masih bisa temenan kan? " jawab denia dan kembali bertanya dengan suara lirih.
" iyah, aku hargai jika itu keputusan kamu " jawab fanly dengan rasa kecewa dan senyum yang dipaksakan.
Denia kembali ke kursi duduknya bersama dela. Denia kembali menghembuskan nafas dengan kasar dan berbalik pada dela.
" Dela, kita pulang yuk " ajak denia.
Dela tak bisa menolak ajakan denia setelah melihat kesedihan diwajah denia dan pastinya penasaran dengan alasan denia. mengapa ?. Dan berharap kali ini denia memberitahunya.
Setelah kepergian denia dan dela, semua terlihat tak bersemangat, lebih-lebih fanly. Walau ia tersenyum namun tak bisa membohongi ekspresi kecewa diwajahnya.
" sabar kak, kak denia pasti punya alasan kenapa dia menolak kakak. cewek mah gitu " kata khalisa mencoba memberanikan diri memberi semangat pada kakak kelasnya itu
" benar kata khalisa. udah jam 5, kita balik yuk " kata ian membenarkan ucapan khalisa.
Fanly tak menjawab apa-apa, ia hanya tersenyum dan berdiri mengisyaratkan untuk pulang.
*** RUMAH DENIA ***
Setelah sampai dirumah, denia buru-buru masuk dikamar tanpa menghiraukan dela yang juga mengikutinya masuk kerumah.
" sore tante " sapa dela pada mama denia dan ikut masuk kekamar denia.
__ADS_1
" iya " balas mama denia sambil tersenyum " tumben " batin mama denia. " biasanya denia beri salam " gumam mama denia setelah melihat tingkah denia yang berbeda.
Denia duduk disamping tempat tidurnya. ia menarik napas dan menutup matanya. sangat terlihat kesedihan diwajahnya. Pelan-pelan denia membuka matanya dan mengangkat wajahnya, menatap dela yang berdiri dihadapannya.
" ada apa nia? kenapa ... ... ? " belum sempat dela menyambung kata-katanya denia langsung memeluknya dan menangis.
" aku ga tau dela, apa yang harus aku lakukan ? " kata denia dengan terisak-isak.
Sambil membalas pelukkan denia, dela mencoba menenangkannya dan mendudukkan denia kembali disamping tempat tidur.
" ada apa nia ? " tanya dela yang bingung dan sedih melihat sahabatnya itu.
" aku cinta fanly del, tapi aku harus apa ? " jawab denia dengan jawaban yang menggantung.
" maksud kamu ? gue ga ngerti nia.." tanya dela mencoba mengulik pertanyaan dibenaknya yang selama ini ia pendam "Kenapa kamu menolaknya ?"
" tenang dulu, tarik nafas keluarkan pelan " imbuh dela mencoba mensugesti nia.
Setelah merasa tenang, denia mulai bercerita pada dela tentang uneg-unegnya slama ini. tentang sesuatu yang ia rahasiakan selama ini, berharap dela dapat mengerti dan memberi solusi terbaik untuknya.
" iya gue janji " jawab dela lembut lalu menyambut janji kekingking denia." ada apa sih nia ? " tanya dela makin penasaran.
Denia menceritakan semua keluh kesahnya slama ini. sesuatu yang hanya bisa ia pendam sendiri tanpa memberi tahu siapapu bahkan kedua orang tuanya sekalipun.
Ia berterus terang bahwa sebenarnya iapun memiliki perasaan yang sama seperti fanly, tapi ia tidak bisa menerimanya sebagai pacar karna suatu hal. ia ingin sekali memiliki status bersama fanly tapi itu tidak mungkin karna ..
" aku udah dijodohin dela " kata denia berterus terang.
Dela membelalakkan matanya dan Spontan bersuara apa? merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan dari mulut denia.
Masih dengan rasa tidak percaya, dela kembali bertanya untuk meyakinkan bahwa bukan pendengarannya yang bermasalah.
" serius nia ? kamu udah dijodohin ? "
__ADS_1
Denia menganggukkan kepalanya
" jadi lu menerimanya ? " tanya dela lagi
denia kembali menganggukkan kepalanya
" trus kalau lu udah dijodohin? kenapa ga terus terang aja sama fanly? biar dia ga berharap " tanya dela terus mengintrogasi denia bagai seorang polisi yang mengintrogasi tahanannya.
Denia hanya terdiam, tak menjawab apapun. air matanya terus berjatuhan.
" dengan cara lu seperti ini akan membuat fanly terus berharap, lu ga kasian liat dia? " ucap dela merasa gregetan dengan sahabatnya itu.
" aku ga ingin akhirnya fanly menjauh kalau dengar perjodohan ini " jawab denia yang akhirnya mengeluarkan suara.
" tapi caramu ini egois denia, jangan plin plan dong. ini akan membuat fanly bertambah sakit nantinya dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan buat dia benci sama kamu " jelas dela mencoba membuka pikiran denia.
Denia kembali menangis tanpa suara, hanya air mata yang terus terlihat menetes dipelupuk matanya. Seharusnya hari ini adalah hari yang bahagia untuknya tapi....
" jadi, maunya lu gimana nia ? " tanya dela mencoba lebih tenang setelah melihat air mata diwajah denia.
" aku ga tahu dela, aku cinta fanly tapi aku ga bisa menolak perjodohan ini " jawab denia lirih masih dengan fikiran egoisnya.
Dela mendekati denia dan mencoba memberi saran lagi. Meskipun Ia tahu, bukan dia yang berada dikondisi seperti ini. dan meskipun ia tidak tahu bagaimana jalan pikiran denia tapi sebagai sahabat tak ada salahnya jika ia mencoba memberi masukan pada sahabatnya itu. Dan berharap bisa memberi sedikit solusi yang benar, yang bisa sedikit membuka pikiran denia.
coba kalau kami yang ada diposisinya fanly, apa yang akan kamu rasakan ? denia, tidak semua dalam hidup harus kita miliki dengan ke egoisan kita. kamu pilih sebaiknya sekarang kamu jujur atau nanti ? tapi dengan konsekuensi mungkin saja nanti dia akan membencimu karna harapa-harapan palsumu. aku yakin nia, fanly ga akan menjauhimu. kan kalian masih sahabatan. Dela menjabarkan panjang lebar dengan hati-hati.
Sementara denia masih diam tanpa bahasa. entah apa yang dipikirkannya. apakah saran yang dijabarkan dela panjang lebar masuk dilogikanya? atau? entahlah. Hanya ia dan tuhan yang tahu.
Kemudian, dengan mantab denia kembali menatap dela dan akhirnya berucap dengan kata yang masih menggantung.
" aku akan pikirkan del, aku butuh waktu. trimakasih atas nasehatnya ".
" aku harap kamu bisa ngambil keputusan yang tepat " kata dela berharap denia bisa mempertimbangkan sarannya itu. " aku pulang dulu " pamit dela, meninggalkan denia yang masih terlihat sedih.
__ADS_1
Denia hanya mengangguk setelah mendengar dela pamit.