Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu

Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu
BAB 33


__ADS_3

Malam hari, Ian sudah berada dirumah fanly untuk menghibur sahabatnya itu. Ia tahu betul bagaimana perasaan fanly saat ini. Galau! sudah pasti itu yang dirasakan fanly atas penolakkan denia.


" gue ga habis pikir ian, kenapa denia masih belum nerima gue sebagai pacarnya " kata fanly dengan terus menatap polpen yang dimainkan ditangannya tanpa menoleh pada ian.


" ya mungkin dia punya alasan tersendiri atau dia masih mau fokus sekolah mungkin " jawab ian meyakinkan fanly.


Fanly mengirup nafas sejenak " entahlah. tapi kalau memang dia punya alasan. kenapa ga jelasin aja? biar gue ga berharap lagi "


Ian tak tahu harus berkata apa lagi. sangat nampak diwajah fanly kekecewaan. tapi dari kata-katanya, sangat terasa juga kalau ia masih sangat berharap lebih dari denia.


" jadi, lu masih mau nunggu dia? "


" ga tahu " jawab fanly menggantung. " pulang aja sana gue mau tidur " usir fanly tanpa basa basi.


Ian tertawa singkat mendengar perkataan fanly yang mengusirnya.


" eee bukannya trimakasih udah dihibur malah ngusir, ga sopan. iya gue pulang dulu " pamit ian.


" Hu'umm .. makasih "


" lambat " sahut ian. "sama-sama" jawabnya lagi.


*** DIRUMAH DENIA ***


Pak Hadi Dinata, itulah nama bos dari ayah denia. beliau bersama istri berkunjung kerumah ayah denia. Selain untuk membicarakan pekerjaan, beliau juga bermaksud melihat calon menantunya, denia.


"Assalamu'alaikum "


" Wa'alaikum salam " Jawab si mbok sambil mempersilahkan masuk. " silahkan duduk, saya panggil nyonya sama tuan dulu " sambung si mbok.


Si mbok memberitahu mama denia setelah melihat beliau sedang nonton diruang keluarga jika ada tamu diluar.


" siapa mbok? " tarnya mama denia lembut merasa tidak tahu. karna memang, pak hadi tidak memberitahu mereka sebelumnya jika akan bertamu malam ini.


" pak hadi sama istri nyonya " jawab si mbok sopan. Pak hadi sudah sering berkunjung kerumah keluarga denia sehingga mbok tidak asing lagi dengan tamunya itu.


Segera mama denia beranjak dari duduknya setelah mendengar jawaban si mbok menuju keruang tamu melihat kedatangan tamu pentingnya itu.


" panggilin bapak mbok, bilang ada pak hadi yang datang " pinta mama denia pada si mbok sebelum keruang tamu.


" pak hadi, bu hadi. kok ga ngasih kabar dulu? jadinya kita ga nyiapin apa-apa " sambut mama denia hangat kepada calon besannya itu.


" ga apa-apa, kami mau ngasih sureprise jeng " jawab bu hadi dengan gaya gemulainya.


Tak lama kemudian, ayah denia datang menyambut tamu yang akan menjadi besannya itu.


Sesaat setelah bapak denia datang si mbokpun datang membawa teh untuk para tamu dan majikannya.


" ini tehnya tuan, nya, monggo diminum " kata mbok menawarkan teh buatannya.


Dengan begitu akrab kedua calon besan itu berbincang-bincang. Tak ada antara diantara mereka. tak ada jarak antara bos dan bawahannya. Semua terlihat begitu akrab. Sesekali mereka tertawa kala berbicara sesuatu yang lucu menurut mereka.

__ADS_1


Ayah denia sudah lama bekerja diperusahaan pak hadi. Hingga beliau menjadi tangan kanan bosnya itu karna dedikasinya terhadap perusahaan. Seain itu kejujuran ayah denia jugalah yang membuat pak hadi tidak ragu untuk menjodohkan anaknya dengan anak bawahannya itu. Ayahnya saja sebaik ini pasti anaknyapun begitu, pikir pak hadi.


" anaknya mana jeng? dia udah tahu belum kalau dia sudah dijodohkan? " tanya bu hadi dengan mata celingak celinguk penasaran dengan kenampakkan calon besannya.


" Udah kok, lagi dikamar " jawab mama denia.


" jadi dia setuju? " tanya bu hadi lagi


" iya, tinggal tunggu anak ibu "


" ga usah dipanggil ibu, panggil jeng aja. anak saya udah tahu juga kok " jawab bu hadi berbohong karna Sebenarnya ia dan suaminya belum memberi tahu anaknya karna menunggu waktu yang pas. " bisa dipanggilin ga? saya mau liat " sambung bu hadi.


" iyah, tunggu dulu ya jeng,saya panggilin dulu "


Mama denia beranjak dari ruang tamu dan berjalan menuju kamar denia untuk memberitahu denia bahwa ada ibu dan pak hadi yang datang.


Mendengar ajakan mamanya, denia menurut saja dan mengikuti dari belakang beliau menuju ruang tamu.


Sesampainya diruang tamu, denia menyalami bapak dan bu hadi dengan sopan.


" cantik, sopan lagi " batin bu hadi sambil menatap denia dengan senyuman.


" Sekolah dimana? " tanya pak hadi


" di SMA A pak hadi " jawab denia sopan.


" ga usah dipanggil pak, om aja. anak om juga sekolah disitu. Sekarang udah mau naik kelas 12"


" oh berarti seumuran ya om " kata denia singkat.


Tepat jam 21.30 pak hadi dinata bersama istri pamit pulang.


" belajar yang rajin ya " kata pak hadi setelah tangannya dicium oleh denia sambil mengusap kepala denia dengan hangat.


" iya om "


Bapak dan mama denia mengantar pak hadi dan istrinya hingga diteras rumah, sementara denia sudah terlebih dulu masuk dikamar.


*** *** ***


Didalam mobil, tak henti-hentinya bu hadi memuji kecantikan dan kesopanan sifat denia. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera memberi tahu anaknya tentang perjodohan ini walau ada sedikit kekhawatiran apakah anaknya nanti akan menerima atau malah sebaliknya, menolak perjodohan ini.


" denia cantik ya yah? sopan lagi. mamah udah ga sabar pengen cepat beritahu ian tentang perjodohan ini " kata bu hadi bersemangat


" iya dong, siapa dulu yang milih. Ayah " sambung pak hadi membanggakan diri.


" iyah. ayah memang pintar milih menantu " ucap bu hadi sambil merangkul tangan suaminya yang sedang menyetir mobil. " tapi yah, apa nanti ian setuju? " tanyanya sambil melepas rangkulannya.


" kita berdoa saja mah, moga nanti ian setuju " jawab ayah ian dengan penuh harapan.


" aamiin. moga aja yah ".

__ADS_1


*** *** ***


Ian masih berada didepan tv saat kedua orang tuanya datang. ia begitu serius melihat tayangan ditv. Pelan-pelan mamanya mendekati ian duduk disofa, samping ian. Ayahnyapun ikut duduk disamping ian, hingga ian berada diantara mama dan ayahnya.


Ian merasa ada yang aneh dengan tingkah kedua orang tuanya namun ia memilih cuek dan terus serius mengarahkan pandangannya pada tv.


" ga mau nanya mama sama ayah gitu darimana? " kata mamah ian basa basi


" enggak " jawab ian singkat, masih fokus pada pandangannya.


Mamah ian alias ibu hadi dinata mencolek suaminya dari belakang, memberi isyarat agar suaminya itu segera memberi tahu ian tentang perjodohan ini.


Ian yang merasakan colekan mamahnya pada ayahnya hanya menahan tawa, merasa lucu plus bingung dengan tingkah kedua orang tuanya malam ini.


" ayah, bilang aja " bisik mama ian, yang sebenarnya ianpun mendengarnya.


" Mamah aja " balas ayah ian pelan.


Terdengar ayah dan mamah ian saling melempar kata. ian hanya terdiam mendengarkan perdebatan itu ayah saja, mamah saja tanpa bersuara walau sebenarnya iapun penasaran apa yang sebenarnya ingin dikatakan mamah dan ayahnya itu.


Karna tak ada ujung dari perdebebatan dengan suara kecil itu, akhirnya ianpun mengeluarkan suaranya.


" ada apa sih? "


Sesaat terdengar hening setelah ian bersuara. ayah dan mamahnya terdiam dengan wajah melongo tanpa ada perdebatan lagi.


Mamah ian kembali memberi isyarat pada suaminya itu.


" ngomong aja yah " kata mamah ian dengan wajah cengengesan ala ibu-ibu.


Akhirnya dengan mantab ayah ian memberitahu ian tentang perjodohan ini. Dengan lembut dan hati-hati ayahnya menjelaskan pada anaknya tentang niatan mereka.


" ian sudah punya paca " tanya ayah basa basi membuka percakapan dengan anaknya


" belum, kenapa emang " jawab ian santai dan balik bertanya sambil menggonta ganti chanel tv dengan remote yang berada ditangannya.


Ayah ian tertawa singkat, merasa legah seakan merasa ada peluang untuk melanjutkan hajatnya untuk memberitahukan pada anaknya tentang perjodohan itu.


Dengan hati-hati dan harap-harap cemas, ayah ian mengeluarkan kata demi kata dengan terbata-bata " enggak, ayah mau nanya kalau misalnya ian dijodohkan? gi gi gimana? "


Dengan wajah melongo dan mata terbelalak, ian memutar pandangannya dan menatap wajah sang ayah " apa? ian ga salah denger? " tanyanya, kali ini dengan mulut yang menganga.


Sambil tersenyum cengengesan dan tangan yang dikepal kedepan sambil digoyang-goyang, mamah ian menjawab santai dan singkat " tidak ".


Sementara ayah ian yang mendapat tatapan dari anaknya juga tersenyum cengengesan sambil mengernyitkan dahi dan mengeluarkan sedikit suara " a " sambil menunjuk istrinya, mengisyaratkan jika perkataan itu benar.


Ian menarik nafas sejenak dan mengeluarkannya kasar sembari berfikir dengan bijak.


" ya, kalau itu keputusannya,ian ngikutin aja. lagian pilihan mama sama ayah pasti yang terbaik " jawab ian yang membuat kedua orang tuanya legah dan senang.


" lagian kalian sudah banyak memberiku yang terbaik, mungkin saatnya aku membalas kebaikan kalian, mamah ayah " batin ian sambil menatap kedua orang tuanya yang berdiri dan berpelukkan sambil tertawa kegirangain merasa sangat bahagia dengan jawabannya.

__ADS_1


" trimakasih ya nak, anak mamah memang yang terbaik " sanjung mamah ian.


" iya karna aku ga nolak, coba kalau tadi aku nolak " gumam ian.


__ADS_2