Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu

Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu
BAB 35


__ADS_3

Hari libur yang dilalui denia kini terasa berbeda tak seperti hari-hari disaat bersekolah. Biasanya fanly akan mengirimkan pesan padanya diwaktu malam hari walau hanya sekedar bertanya lagi ngapain, udah makan? dan pertanyaan basa basi lainnya. Tapi itu sudah membuat denia semangat menjalani hari-harinya. Kini semua terasa hampa. Walau ia sudah terbiasa tanpa pesan dari fanly dibeberapa hari ini tapi semua masih saja berbeda, masih ada yang kurang menurutnya. Denia tak bisa menyalahkan siapapun. yang salah disaat ini hanyalah keadaan. Keadaan dimana hanya bisa memendam tanpa berani untuk bercerita dan mengatakan segalanya.


Pelan, denia membuka jendela kamarnya. Sesaat ia menutup matanya dan menghirup dinginnya udara malam. bersamaan dengan menghembuskan nafas, denia kembali membuka mata dan menatap rembulan yang seakan mengetahui isi hatinya.


" biasanya jika malam begini, aku ditemani dengan pesan yang membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur, tapi sekarang .... maafkan aku fanly " kata denia sambil terus menatap rembulan malam.


Kembali denia menutup jendela kamarnya setelah merasakan udara makin dingin meniup ditubuhnya. Sambil berjalan mundur, denia mencoba meraih tempat tidurnya yang berhadapan tepat didepan jendela tanpa berbalik badan.


Berhasil! denia merasakan tumitnya sudah berpapasan dengan tempat tidurnya. Pelan ia duduk dengan seribu pikiran dan tanya dibenaknya.


"apa keputusanku akan memberitahu fanly adalah keputusan yang tepat? apakah ... arrgghh " gumam khalisa dengan kesal.


Tiba-tiba ingatannya terarah pada perkataan dela beberapa hari yang lalu. Sepertinya perkataan dela mulai terasa benar dibenaknya. " ya, aku harus jujur. kasian jika fanly terus berharap, berharap dengan harapan yang tidak pernah akan kuwujudkan " ucap denia meyakinkan dirinya sambil menarik napas untuk kembali meyakinkan " ya " sambungnya lagi sambil mengepal tangan kanannya dengan penuh semangat.


" sepertinya aku harus menelpon dela, aku pengen beritahu dia kalau aku sudah mengambil keputusan " ucap denia dengan penuh semangat merasa jika keputusannya itu akan membuat dela senang.


*** *** ***


" eit, tumben! ada perlu apa ya? " tanya dela saat melihat nama dipanggilan androidnya yang ternyata adalah sahabatnya, denia.


Selama beberapa hari libur ini, denia tak pernah menghubunginya. Iapun sama, tak menghubungi denia juga.


" halo? "


" halo dela " jawab denia penuh semangat seperti seorang siswa yang senang karna mendapat nilai bagus.


Mendengar suara denia, membuat dela bertanya-tanya ada apa dengan sahabatnya itu?


" tumben, ada apa? " tanya dela penasaran


" dela, aku udah ngambil keputusan, sepertinya aku akan jujur sama fanly. " jawab denia


" ha? serius? bagus dong kalau gitu, jadi fanly ga akan berharap lagi " tutur dela membenarkan ucapan denia dengan suara yang terdengar senang dengan keputusan denia


" iya del, kasian fanly. nantinya dia bakal berharap terus. aku ga tega " jelas denia lagi


" hu'um .. kasian dia "


" udah dulu ya, gue cuma mau bilang itu " tutur denia lalu mematikan telponnya tanpa menunggu kata iya dari dela.


" denia? " tanya dela namun keburu ditutup denia


" apaan sih orang masih mau bicara juga " gumam dela sambil menatap layar ponselnya yang sudah tak ada panggilan.


*** *** ***


Tak terasa 2 minggu telah berlalu, hari liburpun telah usai. Fanly dan siswa-siswi lainnya kembali sekolah seperti biasanya.

__ADS_1


Dihari pertama sekolah, semua terasa berbeda dimata denia. Fanly telah berubah, dia tidak lagi seperti yang dulu. biasanya dia akan menegur denia dengan semangat saat hari pertama sekolah. tapi kali tidak. dia cuek, seperti orang yang tidak mengenalnya sebelumnya.


Hal ini membuat denia sangat sedih sebenarnya, tapi dia berusaha biasa-biasa saja. " dengan begini kan aku gak perlu susah-susah jelasin sama dia. toh dia juga udah menjauh " pikirnya.


Dibeberapa hari ini pula, dela mencoba menghibur denia. Dela sangat tahu betul bagaimana perasaan denia sekarang. Denia pasti sangat merasa sedih dengan perubahan sikap fanly.


Sangat berbeda, itulah kesan fanly selama beberapa hari ini. tak ada lagi tutur sapa, tak ada lagi semeja saat dikantin, tak ada lagi senyuman imut ketika berpapasan bahkan dikelaspun fanly seakan menganggap denia tidak ada.


Sebenarnya, fanlypun tidak ingin seperti ini tapi dia harus lakukan itu. karna ini cara untuk mengetahui apakah denia akan peka lalu menegurnya? jika iya, fanly akan melanjutkan misinya untuk mengutarakan cintanya sekali lagi, namun jika tidak, ya dia akan mundur dan mencoba move on dari denia.


*** *** ***


Bunyi bel sekolah mengisyaratkan bahwa waktu istirahat telah tiba. Denia dan dela memanfaatkan waktu untuk mengisi perut mereka.


Tak lama setelah mereka sampai dikantin, fanly dan ianpun sudah berada dibelakang mereka dan hendak mencari meja untuk duduk.


Tepat disebelah meja mereka, fanly dan ian duduk dan tengah menunggu pesanan.


" Dela, hari ini makan apa ? " tanya fanly basa basi tanpa menghiraukan denia.


" ya apa yang bisa dimakan, manusia pun kalau bisa dimakan gue embat " ketus dela dengan wajah santai.


Denia terlihat canggung, dia tak tahu harus bergerak seperti apa. Ingin sekali hatinya menegur fanly tapi iapun malu untuk melakukannya.


*** *** ***


Saat diparkiran sekolah, denia ingin menghampiri fanly untuk sekedar basa basi tapi langkahnya terhenti. Dela menarik tangannya hingga ditaman sekolah samping parkiran, berusaha menahannya agar tidak melakukan itu.


" Denia, ingat ! " kata dela menyeringai dan mata melotot. " suatu saat nanti lu akan terbiasa, bukankah ini bagus. jadi lu ga perlu jelasin apa-apa lagi " sambung dela berusaha meyakinkan sahabatnya itu.


" tapi aku harus gimana del? aku udah ga tahan lagi. kalaupun ga bisa jadi pacar kan bisa berteman " tutur denia lirih. " aku rindu fanly yang dulu, aku rindu del " imbuh denia sambil mengusap air mata dipipinya.


Tiba-tiba denia dan dela dikejutkan dengan suara yang tak asing ditelinga mereka.


" aku juga rindu nia " kata fanly yang sedari tadi sudah berada diantara dela dan denia.


" fa fanly " kata denia terbata-bata yang terkejut dengan keberadaan fanly dan dengan mata yang masih mengeluarkan air mata.


Spontan ia berdiri dan memeluk fanly " maafin aku fanly " ucap denia sambil terus memeluk fanly.


Tubuh fanly seketika kaku mendapat serangan spontanitas denia. " alhamdulillah, berarti gue masih ada kesempatan " batin fanly gembira.


Melihat tindakan sahabatnya, dela tak bisa berbuat apa-apa, karna iapun tidak ingin melihat denia sedih.


Pelan, fanly melepas pelukkan denia. Menghapus air matanya dengan kedua ibu jarinya.


" jangan nangis nia. maaf jika perlakuanku selama ini membuatmu sedih. iyah, kita masih bisa berteman kan? " tutur fanly dengan senyum lalu mengangkat janji kelingking.

__ADS_1


Tanpa mengangkat wajahnya, Denia membalas janji kelingking fanly seraya berucap " Seharusnya aku yang minta maaf, kamu berubah karna aku, aku " yang kemudian dipotong oleh fanly.


Fanly mengangkat dagu denia hingga searah dengan wajahnya.


" ga usah minta maaf, sekarang kita teman kan? " tanya fanly sambil terus menatap wajah denia dengan senyuman.


Melihat senyuman fanly membuat denia bahagia, semangatnya yang semula hilang, kini seakan kembali lagi.


" iyah " ucap denia sambil membalas senyum fanly.


Melihat adegan romantis antara fanly dan denia, membuat dela terenyuh namun dengan seketika ia membuyarkan pikirannya dan mencoba mengingatkan denia untuk memberitahu fanly tentang perjodohan itu. walau di momen yang tidak tepat, tapi dela tidak ingin menundanya lagi. Walau ia tahu nantinya fanly akan sakit mendengarnya tapi ia tidak ingin sahabatnya itu mempermainkan perasaan fanly karna ia tahu betul denia tidak akan membalas perasaan fanly walau ia memiliki perasaan yang sama.


" Fanly, denia mau bicara " ucap dela yang seketika mericuh adegan fanly dan denia.


Denia tahu betul maksud dari ucapan dela namun ia berusaha mengalihkan maksud dela karna takut dengan sesuatu hal yang akan terjadi nantinya jika fanly tahu tentang perjodohan dirinya dengan pria yang sama sekali belum ia kenal.


" hmm? " tanya fanly dengan isyarat alis yang digerakan keatas.


" gak, gue cuma mau bilang. gue sedih dengan perubahan sikap kamu beberapa hari ini " jawab denia yang terpaksa berbohong dan mengingkari kata-katanya. " gini aja dia udah cuek, gimana nanti kalau dia tahu? " batin denia.


Mendengar perkataan denia, dela merasa geram dengan sikap plin plan sahabatnya itu.


" apa sih nia? Fanly "


Belum sempat dela melanjutkan kata-katanya, denia langsung menghampiri dela dan menutup mulut dela dengan tangannya.


" kami pulang duluan ya? " pamit denia cengar cengir lalu menarik tangan dela masuk kemobilnya dan meninggalkan fanly.


Melihat ekspresi denia, Fanly merasa lucu. Untuk ketiga kalinya ia melihat ekspresi aneh denia yang sebelumnya sedih tiba-tiba cengar cengir tanpa ada kesedihan sebelumnya.


" iyah " jawab fanly dengan senyum manisnya.


" apaan sih nia? " kata dela dengan ekspresi marah ketika telah berada dalam mobilnya.


" maaf, maaf. untuk sekarang aku ga bisa jujur. kamu liat kan? gimana sikap fanly beberapa hari ini? aku ga mau dia berubah lagi karna dengar kabar ini " tutur denia sambil menyatukan kedua telapak tangannya seakan memohon.


" kalau ga sekarang kapan? kamu mau fanly berharap lagi? engga kan? " jelas dela masih dengan ekspersi marah.


" aku bakal beritahu tapi ga sekarang "


" kapan nia? "


" suatu saat nanti "


" terserah lu lah " jawab dela pasrah lalu melajukan mobilnya.


Dela amat tidak suka dengan sikap denia seperti ini sebenarnya. tapi diapun tak bisa memaksa denia. Walaupun keputusan denia ini salah menurutnya tapi ia hanya bisa mendukung dan mengarahkan denia.

__ADS_1


__ADS_2