Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu

Tak Mudah Mengembalikan Rasaku Yang Dulu
BAB 34


__ADS_3

Hari libur dilewati fanly dengan perasaan yang masih kecewa. ia tidak punya cara lain untuk mengusir kegalauannya itu. Ia hanya tak habis pikir mengapa denia melakukan itu padanya. Memberi harapan lalu kemudian mematahkannya.


apa aku harus menunggunya lagi? atau? pikirnya selalu. pikiran yang berbau pertanyaan yang tidak bisa ia temukan jawabannya hingga beberapa hari ini.


Ian kembali kerumah sahabatnya setelah beberapa hari tak berkunjung kerumah fanly. Selain ingin melihat keadaan sahabatnya yang masih galau, iapun ingin menceritakan perihal perjodohannya yang diutarakan ayah dan mamahnya beberapa malam yang lalu.


" assalamu'alaikum " Salam ian dan langsung masuk kerumah tanpa rasa segan. karna memang rumah fanly sudah menjadi rumah kedua baginya. Ia terus berjalan hingga berhenti diruang makan ketika melihat fanly dan mama renata sedang duduk didepan meja makan sambil menyantap hidangan.


" tante, gue teriak-teriak ga ada yang nyaut " kata ian lalu ikut duduk bersama fanly dan mama renata.


" yuk makan " ajak mama renata.


" udah kenyang tante " jawab ian sopan


" abis makan kita keluar yuk " ajak ian pada fanly.


" iya, ajak keluar tu sahabat kamu. dari hari awal libur hingga sekarang. kerjanya muruuuung aja, ga jelas mikirin apa. bikin mama pusing aja " omel mama renata.


" galau tante " sambung ian sambil menahan tawa. Fanly memicingkan matanya merasa jengkel mendengar kalimat ian lalu kembali memasukkan makanan dimulutnya dengan sekali hap.


" galau juga ga sampe segitunya, tante juga pernah muda tapi ga se alay anak tante ini " imbuh mama renata.


Ian terus menahan tawanya mendengar perkataan mama renata yang greget dengan tingkah fanly beberapa hari ini, ditambah lagi ekspresi wajah fanly yang makin membuatnya lucu.


*** *** ***


Selesai makan fanly bergegas kekamar mengganti baju untuk memenuhi ajakan ian.


" mau kemana kita " tanya fanly saat sudah sampai diteras rumah menghampiri ian yang sudah menunggunya.


" ikut aja " jawab ian misterius "eh, pake motor gue aja " sambung ian tiba-tiba saat melihat fanly masuk kegarasi dan hendak mengeluarkan motornya.


Fanly mengikut saja apa yang dikatakan ian. Ia lalu duduk dibelakang ian dan menepuk bahu ian, memberi isyarat bahwa ia sudah siap untuk pergi ketempat tujuan yang ian ajak.


Diatas motor, fanly sangat menikmati perjalannya bersama ian. Sesekali ia menutup matanya, menyampingkan kegalauan yang ia rasakan saat ini dan menghirup kesejukan udara yang asri yang mereka lewati.


" mau kemana kita? " tanya fanly penasaran. Walau ia sudah sering mengendarakan motornya dibanyak tempat tapi baru kali ini dia melewati pemandangan yang indah seperti ini.


" mau kesuatu tempat " jawab ian masih dengan jawaban yang misterius. Sebenarnya ianpun tak tahu tempat apa yang hendak mereka kunjungi saat ini. Yang ian tahu, tempat itu ialah tempat yang pernah ia singgahi dikejadian malam itu. kejadian dimana ia ingin lari dari rumah namun ujung-ujungnya malah bersembunyi dirumah sahabatnya, fanly.


Ian terus melajukan motornya tanpa arah. Harap-harap cemas ia rasakan kali ini karna tak kunjung mengingat jalan ia lewati diwaktu malam itu. " aduh dimana ya? " batinnya khawatir.


Selama 2 jam perjalanan akhirnya ian menyerah juga. ia tak kunjung mengingat jalan yang ia lewati untuk sampai ditempat yang ia tuju. dan pada akhirnya ia dan fanly berhenti didanau pinggir jalan. Tempatnya terlihat sangat indah dan udaranyapun alami.


Walau bukan tempat yang gue maksud tapi lumayanlah. tempatnya bagus dan bisa dikatakan cocoklah untuk menenangkan pikiran fanly yang lagi galau. Pikir ian.


Fanly terlebih dulu turun dari motor, sementara Ian memarkirkan motornya dibawah pohon rindang dipinggir danau. Terlihat fanly begitu sumbringah melihat keindahan tempat yang mereka singgahi. matanya berputar kiri kanan melihat indahnya danau itu. " romantis " kesan pertama fanly saat melihat danau itu.


" oh jadi lu mau ngajak gue kesini? " tanya fanly dengan rona wajah bahagia.


" hehehe iyah " jawab ian sambil menggaruk pelipisnya. terpaksa ia berbohong karna malu.


" kalau fanly tahu yang sebenarnya pasti gue diketawain " batinnya lucu.

__ADS_1


Ian duduk dikursi pinggir danau, di ikuti dengan fanly yang ikut duduk disampingnya. Sambil duduk, fanly dan ian mengarahkan satu pandangan mereka ke arah danau sambil melempar-lempar batu kerikil kecil yang telah mereka siapkan digenggaman mereka sebelum duduk dikursi.


" gimana, galaunya udah ilang belum? " tanya ian basa basi dan masih melempar batu kerikil kecil kearah danau.


" lumayanlah " jawab fanly sambil tersenyum. " makasih ya bro, lu selalu ada buat gue " sambungnya lagi sambil menepuk-nepuk bahu ian.


" ya itu gunanya sahabat, bukan hanya ada diwaktu senang, diwaktu sulitpun ia akan selalu ada kayak gue " jelas ian panjang ian panjang lebar dan mengakhirinya dengan membanggakan diri dengan gaya yang gokil khasnya.


Sambil menggeleng-geleng kepalanya, fanly tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu. Kali ini fanly sungguh bisa melupakan sejenak kegalauannya bahkan mungkin tidak merasakannya lagi setelah dihibur dengan pemandangan yang indah nan asri itu.


" Sebenarnya gue juga mau ngabarin sesuatu " kata ian, kali ini dengan wajah serius.


" apa? kabar baik atau buruk? " tanya fanly dengan wajah yang sudah sedikit terlihat ceria


" kabar baik, gue udah dijodohin sama nyokap bokap gue " jawab ian santai sembari melayangkan senyum bangganya. Walau sebenarnya ia sedih karna sudah bisa dikatakan harapannya untuk memiliki khalisa, si cewek halte sudah pupus karna perjodohan ini. Namun ia memilih tersenyum karna tidak ingin memperlihatkan kesedihannya. lagian dia juga sudah berprinsip jodoh ga akan kemana. kalaupun ga jodoh sama khalisa ya sama orang lain.


Fanly terkejut mendengar pernyataan ian soal perjodohan, ia merasa tidak percaya, dijaman sekarang masih ada kata perjodohan.


Dengan mata yang terbelalak fanly mengeluarkan suara " ha? jadi lu terima ? "


" hu'um .. lagian orang tua gue gak mungkin milih yang salah buat gue " jawab ian masih dengan santainya.


" Hebat " kata fanly sambil menepuk tangan " anak berbakti emang. gak salah mamah lo ngecetak lu kedunia " sambung fanly dengan guyonan lalu tertawa.


" cetak, emang gue apaan " kata ian


"oh iya apa lu akan tetep nunggu denia? " Sambung ian yang seketika menhentikan fanly dari tawanya.


" kayaknya iya, tapi untuk beberapa hari gue bakal nyuekin dia. kalau dia bereaksi berarti gue masih ada harapan " tutur fanly.


" ya berarti udah ga ada harapan " jawab fanly tanpa beban. Fanly betul-betul merasa sangat tenang dialam terbuka seperti ini. biasanya ia hanya berada dirumah dan disekolah walau sesekali ia berada dilapangan futsal namun tempat itu tak sebanding dengan tempat yang ia dan ian kunjungi hari ini.


Fanly kembali bertanya pada ian, apa ia sudah melihat calonnya itu?. Ian menggelengkan kepalanya dan berkata " yang pastinya dia cantiklah, mamah dan ayah ga mungkin milih yang salah ".


Karna tidak ingin pulang kemalaman, Ian dan fanly beranjak dari duduk mereka dan bergegas untuk pulang setelah melihat waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore.


Ian menyalakan motornya, diikuti dengan fanly yang kemudian naik dibelakang. Namun bukannya jalan dijalan yang mereka tempuh tadi, ian malah melajukan motornya diarah yang berbeda. bukan tanpa alasan, ia masih penasaran dengan tempat yang ingin tuju tadi.


Fanly tak curiga sama sekali karna iapun lupa dengan jalur yang mereka tempuh tadi. Namun tiba-tiba ...


" arrgghh, motornya mati " umpat ian karna kebetulan tadi ian tak berfikir untuk mengisi bensin, karna pikirnya mereka tidak akan berputar-putar hingga 2 lamanya.


" aduh gimana nih? mana ga ada penjual bensin lagi " tanya fanly sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.


" ya doronglah, emang mau diapain? " jawab ian santai.


" dorong sih dorong tapi kan jauh ian! " keluh fanly


" dorong aja, siapa tahu nanti dijalan ada yang berbaik hati " kata ian sambil memainkan alisnya.


Dengan terpaksa fanly membantu ian mendorong motor besarnya itu. Walau perjalanan mereka sudah jauh tapi mereka sama sekali tidak merasa capek karna sepanjang jalan dihibur dengan pemandangan yang indah.


Dari kejauhan terlihat satu motor yang makin mendekat kearah mereka. ian dan fanly memberhentikan langkahnya dan menanti motor tersebut yang kian mendekat diarah mereka berharap motor tersebut berhenti ketika melewati mereka.

__ADS_1


Dan benar saja, sesuai dengan harapan mereka. motor matic berwarna merah yang terlihat dikendarai cewek itu berhenti tepat didepan mereka tanpa diberhentikan.


Setelah membuka helmnya, pemilik motor matic itu menyapa fanly dan ian " ka ian, ka fanly? ngapain disini? " tanya cewek itu yang tak lain adalah khalisa.


Ian terlihat kikuk namun berusaha biasa-biasa saja didepan fanly dan khalisa. ' i i ini, motornya kehabisan bensin " jawab ian terbata-bata. " aduh kok gue bisa gagap gini sih? " batin ian.


" oh, pom bensinnya masih jauh lo kak. gimana kalau aku cariin bensinnya. ka fanly, ka ian tunggu disini " kata khalisa menawarkan diri untuk membantu.


" gak usah, kasian ini udah hampir jam lima nanti kamu lama pulangnya " tolak ian yang tiba-tiba jadi gentleman.


Belum sempat khalisa mengeluarkan kata-kata, fanly langsung mengeluarkan suara.


" ga usah, gak usah. mau berapa jam lagi kita dorong mo0tornya? ini kalau kita sampe dirumah mungkin besok " kata fanly sambil tertawa singkat.


" gini aja, lu sama khalisa tunggu disini biar gue yang cari bensin " usul fanly.


Khalisa mengiyakan dan memberikan kunci motor pada fanly, sementara ian mengikut saja dengan usulan sahabatnya itu. usulan yang sangat mustahil untuk ia tolak karna memang itulah sebenarnya yang ia inginkan, berdua bersama khalisa.


Tak ada kecanggungan sama sekali pada ian setelah kepergian fanly, ia mencoba akrab dengan adik kelasnya itu. Diawali dengan basa basi, ian mencoba bertanya " darimana? "


Khalisa menjawabnya dengan ramah " dari rumah nenek "


Setelah mendengar respon baik dari khalisa, ian mencoba bercerita lebih luas lagi dan khalisapun meresponnya dengan antusias mendengarkan cerita ian.


Tak henti-hentinya khalisa tertawa mendengar kisah ian dan fanly dihari ini yang diceritakan ian dengan gaya gokilnya. ian menceritakan tentang mereka yang salah memilih tempat namun berbuah manis karna fanly menyukainya. Sebenarnya kisah itu tak begitu lucu tapi karna ian yang bercerita secara berlebihan sehingga terdengar sangat gokil dan menggelitik siapapun yang mendengarnya.


" moga aja wanita yang akan dijodohin sama gue itu lu khalisa " batin ian sambil terus menatap khalisa yang tertawa, yang selalu terlihat cantik dimatanya.


Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam berkelana mencari bensin, akhirnya fanly pulang dengan membawa 2 botol bensin yang dibawanya didepan, pijakan kakinya. Dilihatnya ian dan khalisa terlihat begitu akrab. Tak henti-hentinya suara tawa khalisa terdengar ditelinganya saat sampai ditengah ian dan khalisa. Ia menatap khalisa dengan tatapan takjub " cantik juga, ga kalahlah sama denia 11 12" batin fanly dan terus menatap khalisa sambil mengisi bensin pada tank bensin motor sahabatnya itu. " ah apa sih yang gue pikirin? ingat perjuangan lu belum mencapai finish, masih ada satu langkah lagi" batin fanly lagi mecoba membuyarkan pikirannya dan menghardik dirinya sendiri.


Setelah mengisi bensin, fanly mencoba menyalakan motornya.


" udah nyala " kata fanly dengan senyum sumbringah " ian pulang yuk? " ajak fanly pada ian yang terlihat tak mau beranjak dari percakapannya bersama khalisa.


" gangguin aja, ga tahu apa orang lagi bahagia " batin ian sedikit kesal.


" iya, iya " jawab ian dengan wajah datar dan melangkah mendekati fanly yang sudah lebih duduk diatas motornya.


Khalisa kembali menyalakan motornya dan berlalu pergi meninggalkan dua kakak kelasnya itu setelah mendangar ucapan trimakasih dari mereka berdua dan dijawabnya sama-sama dengan senyuman.


Fanly dan ianpun kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka.


Mengingat kekraban ian dan khalisa tadi, membuat fanly penasaran. untuk bertanya " beneran lu ga suka sama khalisa? ".


" enggalah, gue kan suka cewek yang dihalte daaaan ga mungkinlah jodoh guekan udah pasti " jawab ian kembali berbohong.


" beneran? tadi lu nampak bahagia banget. serius ga suka? " tanya fanly kembali meyakinkan.


" enggalah, apaan sih? "


" rugi banget, padahal khalisa anaknya cantik " sambung fanly yang membuat ian seakan kehabisan kata dan ingin jujur saja.


" udah, udah, jangan gangguin gue yang fokus berkendara " elak ian mencoba menghentikan percakapan mereka.

__ADS_1


Mendengar jawaban ian, membuat fanly tertawa singkat dan tidak berkata apa-apa lagi.


__ADS_2