Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Kita Putus!


__ADS_3

Beberapa hari pasca acara pesta itu, Nirina bak hilang di telan bumi. Dia sulit sekali di hubungi oleh Damian, ditemui dirumah pun selalu tidak ada.


Damian benar benar menyesal karena sudah membuat wanita itu patah hati dan kecewa. Ternyata diabaikan oleh orang yang kita cintai itu sakit, apa lagi di khianati?


Pulang kantor, Damian mengisi bensin di sebuah pom. Secara tak sengaja dia melihat Nirina sedang berdiri di pinggir jalan, wanita itu seperti sedang menunggu seseorang. Langsung saja Damian menepikan mobilnya dan berlari keluar menghampiri Nirina.


"Nirina!" panggil Damian.


Nirina menoleh, dia ingin lari dari pria itu tapi percuma saja, Damian pasti akan bisa menangkapnya. Lebih baik, Nirina menyelesaikan segalanya hari ini agar Damian tidak terus mencarinya.


"Sayang, kemana saja kamu? Kenapa beberapa hari ini kamu sulit di temui dan di hubungi?" Damian meraih telapak tangan Nirina dan meremasnya pelan.


"Jangan panggil aku sayang lagi! Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apa apa lagi!" Ucap Nirina.


"Apa maksudmu?" Damian berpura pura bodoh.


"Kita putus!"


"Tidak, aku tidak mau putus darimu," Damian merengek seperti anak bayi. Tapi rengekan Damian terdengar seperti suara monster di telinga Nirina.


Beberapa orang yang melintas mulai memperhatikan mereka berdua. Bertengkar di pinggir jalan bukanlah hal yang baik, selain menjadi bahan tontonan, mereka juga akan menjadi bahan olok olok.


Nirina mengajak Damian masuk ke sebuah warung makan, bukan untuk makan siang bersama, tapi untuk melanjutkan pertengkaran tadi.


"Berikan ponselmu padaku," ucap Nirina.


"Untuk apa?"


"Cepat berikan saja!"


Damian memberikan ponselnya pada Nirina, wanita itu langsung mengobrak abrik galeri dan menemukan sebuah Vidio tak senonoh. Pemain dalam Vidio itu tak lain adalah Tiara dan Damian, benar benar menjijikan. Untuk apa hal memalukan seperti itu diabadikan?

__ADS_1


"Lihat ini," Nirina memperlihatkan Vidio syur itu pada Damian.


"Itu...Itu..." Damian gagap. Dia membenci dirinya sendiri karena lupa menghapus Vidio mesum itu dari ponselnya.


"Dengarkan aku Damian. Aku masih perawan, aku tidak mau menikah dengan pria bekas wanita lain!"


"Sayang, maafkan aku,"


"Mungkin waktu bisa membuat lukaku sembuh sampai aku bisa memaafkan kamu. Tapi untuk kembali bersama, aku tidak akan pernah mau,"


Nirina beranjak dari tempat itu membawa serta hatinya yang terluka. Damian menunduk pasrah, hatinya remuk karena wanita yang dia sayangi meminta putus darinya. Semua karena bujuk rayu Tiara, andai saja dia tidak merayu Damian, mungkin perselingkuhan mereka berdua tidak akan pernah terjadi.


***


Malam hari,di dalam kamarnya yang tak luas nan sederhana. Nirina merenungi keputusannya untuk putus dari Damian. Hubungan mereka telah terjalin cukup lama, akan sangat disayangkan jika harus kandas begitu saja. Tapi penghianatan yang telah pria itu perbuat tidak bisa dimaafkan begitu saja.


Seberkas kenangan manis tiba tiba muncul di benak Nirina, membuat jiwa dan raganya terasa semakin sakit. Nirina menangis tersedu sedu sambil memeluk bantal guling kesayangannya.


Klak,,,


Ningsih duduk di tepi ranjang, dia mengelus rambut putrinya dan mendapati wanita cantik itu sedang menangis. Hati Ningsih diserang rasa khawatir dan cemas seketika.


"Nirina, kamu kenapa?" Tanya Ningsih.


"Aku tidak kenapa kenapa Bu," sahut Nirina tanpa memalingkan tubuhnya.


"Jangan bohong! Katakan saja apa yang terjadi," desak Ningsih.


Nirina bangkit dan duduk di atas kasur, dia memeluk tubuh sang Ibu dan menjadikannya sandaran. Aroma tubuh sang Ibu mampu memberikan setitik ketenangan dalam jiwa Nirina yang sedang gundah gulana.


"Damian berselingkuh Bu," Tutur Nirina.

__ADS_1


"Apa? Damian berselingkuh?" Ningsih terkaget kaget. Dia ragu pria sebaik Damian bisa berselingkuh.


"Iya Bu,"


"Dengan siapa dia berselingkuh?" Ningsih penasaran.


"Dengan Tiara sahabatku,"


"Apa itu bukan hanya dugaan mu saja Nirina?" Ningsih masih saja ragu.


"Tidak Bu, semua ada bukti nyatanya. Sintia pernah memergoki Damian berselingkuh, dan aku menemukan Vidio syur mereka berdua di dalam ponsel Damian," tutur Nirina panjang lebar.


Butiran air mata jatuh membasahi pipi Ningsih, hatinya terasa sakit, sama seperti hati Nirina. Dia merasa di khianati dan di bohongi sebagai calon mertua.


Damian telah menduakan putrinya, bahkan hubungannya dengan kekasih gelapnya sudah sangat jauh. Pria seperti itu tidak bisa dimaafkan, karena suatu saat nanti dia pasti akan melakukan hal yang sama.


Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan di dalam hidup, tapi yang Damian lakukan bukanlah kesalahan biasa, tapi juga sebuah dosa besar.


"Nirina, segera akhiri hubunganmu dengan Damian!" perintah Ningsih berapi-api.


"Sudah Bu, aku sudah memtuskan hubungan kami pagi tadi,"


"Hentikan air matamu itu sayang, pria seperti Damian tidak pantas ditangisi," Ningsih meraih dagu putrinya, menyeka air matanya dan mencium pipinya lembut.


"Terimakasih atas dukungan dan sarannya Bu, Nirina sayang sekali sama Ibu,"


"Ibu juga sayang sama kamu nak, doa Ibu akan selalu ada untukmu. Kamu wanita yang baik, Ibu yakin kamu akan mendapat jodoh yang baik pula. Jangan putus asa ya!" Ningsih mencoba memberikan suntikan semangat untuk Nirina.


Nirina menarik nafas panjang, dia meletakan tangan kanannya di atas dadanya sambil melantunkan sebuah kalimat bijak untuk dirinya sendiri.


"Wahai diri, terimakasih sudah sekuat ini. Mari kita lupakan masa lalu bersama-sama dan membuka lembaran baru," ucap Nirina lirih.

__ADS_1


"Nah, begitu dong. Itu baru namanya anak Ibu," Ningsih menarik hidung putrinya pelan.


Bersambung...


__ADS_2