Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Nirina baru saja selesai mengajak Ibu dan adiknya makan siang bersama di sebuah restoran cepat saji. Setelah itu, dia mengajak dua orang terkasihnya untuk jalan jalan menyusuri taman yang cukup terkenal di kota X.


Hari itu Nirina mengambil cuti, dia ingin menikmati kebersamaanya bersama Ibu dan adiknya. Melepas rindu setelah sekian lama tak jumpa.


Lelah berjalan, Nirina mengajak keluarganya duduk di kursi pinggir danau dan membelikan mereka ice cream. Membahagiakan orang terkasih tidak melulu harus menghadiahi hal yang mahal, cukup melakukan hal sederhana secara bersama sama sambil bertukar cerita.


"Bagaimana sekolahmu? Lancar kan?" Nirina melirik kearah adiknya yang sedang asyik makan ice cream.


"Lancar dong, aku selalu dapat nilai terbaik di kelas,"


"Bagus, kalau begitu kan Kakak jadi semangat cari uangnya,"


Nirina membelai rambut adiknya, dia menatap dengan penuh kasih sayang. Rasanya baru kemarin Sintia masuk TK, sekarang sudah mau lulus SMA saja.


"Na, apa boleh Ibu bertanya padamu?" Ningsih menatap wajah putri pertamanya lekat lekat.


"Bertanya apa?" Nirina penasaran.


"Apa kamu sudah bisa move on dari Damian?" Celetuk Ningsih terus terang.


Raut wajah Nirina yang tadinya cerah berubah menjadi mendung, terlihat jelas ada kesedihan yang mendalam di sana.


"Jujur saja, aku belum bisa move on darinya. Sekeras apapun aku mencoba, hasilnya tetap saja nihil. Mungkin karena sukaku padanya jauh lebih besar dari rasa benciku," Nirina menundukkan wajahnya. Dia merasa malu pada Ibu dan adiknya.


"Tidak apa, pelan pelan saja. Waktu dengan sendirinya akan menyembuhkan lukamu," ningsih menggenggam tangan Nirina erat.


***


Di butik tempat Nirina bekerja. Damian datang dengan langkah penuh semangat, matanya memandang ke setiap sudut untuk mencari sosok Nirina.

__ADS_1


Tere yang kenal dengan Damian langsung menghampiri pria itu, dia memasang tampang judes dan galak.


"Ada perlu apa kamu datang ke sini?" Tanya Tere sambil melipat tangannya ke perut.


"Kamu mengenalku? Pasti kamu kawan baik Nirina ya?"


"Jangan basa basi, langsung katakan saja alasanmu datang ke sini," desak Teresa.


"Aku mencari Nirina, aku ingin meminta maaf dan membawanya pulang ke rumah,"


"Dia sudah senang dengan kekasih barunya, jadi jangan ganggu dia lagi," Teresa berbohong.


Kebohongan seorang Teresa telah berhasil membuat jantung seorang playboy seperti Damian koyak. Hatinya sakit saat mendengar Nirina telah memiliki kekasih baru. Secepat itu kah Nirina melupakan dirinya? Apa dia tidak ada artinya lagi di mata wanita itu?


"Siapa kekasih baru Nirina?" Tanya Damian.


"Cari tau saja sendiri, kamu kan punya banyak bawahan,"


"Aaaaa..." Damian berteriak sambil menjambak rambutnya. Dia kesal karena wanita yang dicintainya telah dimiliki oleh pria lain.


"Aku akan merebut kamu dari pria itu, bagaimanapun caranya," ucap Damian pada diri sendiri.


Supir Taxi yang sedang di tumpangi oleh Damian merasa takut karena tingkah Damian yang menyeramkan seperti orang tidak waras. Sesekali pria itu melirik kearah spion, seolah olah ingin melompat keluar dari pintu Taxi yang masih tertutup rapat.


***


Di tengah perjalanan mencari Hotel untuk menginap, tanpa sengaja Damian melihat Nirina tengah duduk di kursi taman dengan keluarganya. Mereka sedang membuka kado, seketika Damian ingat wanita itu tengah berulang tahun.


Damian menghentikan Taxi, dia menghampiri Nirina dan keluarganya dengan langkah sedikit ragu.

__ADS_1


"Nirina," panggil Damian. Nirina menoleh ke arah suara itu, dia terkejut saat tau siapa orang yang datang menghampirinya.


"Damian? Sedang apa kamu di sini?" Nirina syok.


"Aku mencari mu," Damian memeluk tubuh Nirina erat. Ningsih dan Sintia hanya bisa saling menatap.


"Lepaskan aku!" Nirina marah.


Damian melepaskan pelukannya dan Nirina berjalan menjauh.


"Sayang, maafkan aku. Kembalilah padaku," rengek Damian.


"Aku tidak bisa kembali pada seorang penghianat dan penjahat kel*min seperti kamu,"


"Sayang, aku berjanji akan berubah untukmu,"


"Bagaimana dengan Tiara dan anakmu di perutnya? Kamu akan meninggalkan mereka saja untukku? Jahat sekali!"


"Aku akan bertanggung jawab pada anak itu, tapi tidak dengan Tiara,"


"Sudah ku duga, kamu hanya menjadikan dia boneka main saja,"


"Maafkan aku,"


"Tidak mau. Sekali aku bilang tidak mau, berarti ya tidak mau,"


Ningsih mendekat, dia mencoba menengahi pertengkaran keduanya.


"Damian, jangan suka memaksakan kehendak pada orang lain. Tidak semua orang bisa kamu kendalikan di dunia ini, Nirina adalah contohnya," ucap Ningsih.

__ADS_1


Damian terdiam, dia mencoba merenungi sikapnya pada Nirina. Apa dia terlalu memaksakan diri selama ini?


Bersambung...


__ADS_2