
Waktu sudah hampir dini hari, Nirina belum juga bisa tertidur lelap. Dia memikirkan bagaimana keadaan Tiara dan anaknya di sana.
Kenapa Damian menyekap mereka? Apa dia ingin balas dendam karena Tiara telah membuat rusak hubungannya dengan Nirina? Bukan hanya Tiara saja yang bersalah dalam hal ini, Damian juga bersalah. Apa pria itu tidak menyadarinya?
Nirina berencana untuk menemui Damian besok, akan lebih baik jika dia menemuinya secara langsung ke rumah itu dan bicara baik baik padanya. Dia memang keras kepala, tapi jika sudah Nirina yang mengajaknya bicara pasti Damian akan mendengarkannya.
Sintia masuk kedalam kamar Kakaknya, dia berbaring di sisi Nirina dan memeluknya.
"Kenapa Kakak belum tidur? Orang lain sudah bangun dari mimpi indah mereka untuk melakukan aktifitas," ucap Sintia.
"Aku juga sudah bangun, aku tidur cepat semalam, jadi bangunnya juga cepat," Nirina berbohong.
"Kakak tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami bukan?"
"Tidak,"
"Aku dan Ibu sangat khawatir pada Kakak,"
"Terimakasih, kalian perhatian sekali."
Nirina mengusap usap rambut adiknya, mereka kembali memejamkan mata sebentar sambil menunggu mentari pagi meninggi.
Bangun tidur, Nirina langsung membersihkan diri, berganti pakaian dan pergi kerumah kedua Damian tanpa sarapan terlebih dahulu. Dia sudah tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan tentang dirinya yang menyekap Tiara dan anaknya.
Tiba di rumah Damian, Nirina memencet bel.
Ting... Tong...
Bel rumah berdering, seseorang keluar dari dalam rumah untuk membuka pintu.
"Hallo," sapa Nirina ramah pada Dewi.
"Maaf, anda siapa?" Dewi sedikit bingung karena ini adalah kali pertama dia bertemu dengan Nirina.
__ADS_1
"Aku Nirina, teman damian. Tolong sampaikan pada Damian aku menunggu untuk bertemu,"
"Baiklah, silahkan duduk dulu. Saya akan panggil Tuan Damian.
Dewi pergi ke kamar Damian, dia menggedor pintu dan membangunkan majikannya yang masih tidur. Setelah beberapa kali di ketuk, akhirnya pintu kamar itu terbuka.
"Ada apa membangunkan aku?" Tanya Damian galak.
"Ada tamu di depan menunggu Tuan,"
"Tamu? Siapa?"
"Seorang wanita bernama Nirina,"
Damian mendelik, dia kaget karena Nirina tau tentang rumah rahasianya. Tapi, bagaimana bisa wanita itu bisa tau? Apa diam diam wanita itu telah mengamati pergerakannya dari belakang? Damian bertanya tanya dalam hati.
"Minta dia menunggu, aku akan keluar dalam lima belas menit,"
Di teras rumah, Nirina menunggu dengan hati gelisah. Dia juga takut Damian marah karena dia ikut campur dengan urusan pribadinya dengan Tiara. Sementara status Nirina saat ini hanyalah seorang mantan kekasih.
"Oek... Oek..." Samar samar Nirina mendengar suara tangisan anak bayi. Disusul dengan suara Tiara mengomel yang kerasnya melebihi suara petir di siang bolong.
"Kamu ini benar benar menyebalkan, sama seperti pria br*ngsek itu!" Maki Tiara kepada bayinya.
Deg...!
"Kenapa Tiara bisa kasar pada anak kecil?" Celoteh Nirina lirih.
Tak lama, Damian keluar dengan setelan celana pendek dan kaus oblong. Dia terlihat lebih segar dari beberapa hari lalu, sepertinya dia sudah sembuh dari sakit.
Damian memeluk Nirina, mencium kening wanita itu sambil berkata " Aku merindukanmu,".
Nirina terdiam membisu, dia bingung harus memulai obrolan dari mana. Sementara Damian masih saja memeluk tubuh rampingnya dengan erat dan tidak mau melepasnya.
__ADS_1
"Apa Tiara di dalam?" Tanya Nirina secara langsung.
"Bagaimana kamu tau dia ada disini?"
"Dia mengirim pesan padaku, meminta untuk di selamatkan,"
Damian melepaskan dekapannya, dia menundukkan wajah dan sedikit mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu menyekapnya?"
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran saja,"
"Pelajaran atas apa?"
"Dia sudah menyebabkan hubungan kita rusak,"
"Hey, semua yang terjadi bukan hanya karena dia. Tapi juga karena kamu," Nirina menunjuk dada Damian dengan jari telunjuknya.
Saat sedang ribut, tiba tiba mereka berdua mendengar suara seseorang teriak histeris.
"Aaaaaaaa....."
Damian dan Nirina seketika terdiam, pikiran mereka mengarah pada hal yang sama. Sesuatu yang buruk pasti baru saja terjadi.Damian lari ke dalam rumah, Nirina mengikuti dari belakang.
Damian menerobos masuk ke dalam kamar Tiara, alangkah terkejutnya dia saat mendapati Dewi pingsan di lantai. Terlebih saat dia melihat Tiara terbujur kaku dengan mulut yang berbuih.
Nirina mematung, dia ingin menangis dan berteriak tapi tubuhnya terlalu kaku untuk melakukan itu semua.
"Tiara...!" Damian menepuk nepuk pipi Tiara pelan, berharap ada pergerakan dari wanita itu. Tapi hasilnya nihil, Tiara sudah tidak bernyawa lagi.
Damian menangis histeris, dia memegangi kepala dari wanita itu. Tak sengaja, Damian menemukan satu botol obat tidur yang biasa dia konsumsi tergeletak di sisi Tiara. Botol itu kosong, di duga Tiara telah meminum seratus pil tidur yang masih ada di dalamnya.
Bersambung...
__ADS_1