
Nirina dan Teresa turun dari Taxi, mereka melangkah masuk ke dalam gerbang berisi puluhan kamar kontrakan. Keduanya menghentikan langkah kaki di depan kamar nomor delapan.
"Ini kamar kita," Teresa membuka kunci pintu kamar kontrakan lebar lebar.
"Tempatnya bagus, harganya pasti mahal," Nirina memperhatikan tiap sudut ruangan berukuran 4 x 6 meter itu.
"Harga sesuai dengan fasilitas yang kita dapat. Ada free WiFi, kamar mandi di dalam. Listrik, air, free. Makanya aku betah kost disini,"
"Berapa sewanya sebulan?"
"Satu juta, kita bagi dua."
"Oke,"
Nirina meletakan kopernya, dia melompat ke atas kasur dan meregangkan tubuhnya yang kaku dan lelah. Wanita itu berniat untuk melanjutkan tidurnya hingga siang nanti, sebelum Teresa mengajaknya datang berkunjung ke tempat kerjanya yang baru.
***
Waktu menunjukan pukul 11.00 wib, Nirina dan Teresa pergi menuju sebuah butik pakaian branded milik seorang artis. Di tempat itu mereka akan bekerja, menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mencari uang.
Tiba di butik, Jovanka alias Jovan menyambut kedatangan dua gadis itu dengan penuh suka cita.
"Tere, akhirnya kamu kembali juga. Kepalaku pusing kalau kamu cuti terlalu lama," keluh pria lemah gemulai itu.
"Maaf Bos, aku ada banyak urusan di sana. Oh iya, ini temanku yang mau ikut kerja disini," Tere memperkenalkan Nirina pada Jovan.
"Hallo, siapa namamu?" Tanya Jovan.
"Namaku Nirina,"
__ADS_1
"Nama yang cantik, seperti orangnya," puji Jovan.
"Ah, terimakasih," Nirina tersipu malu.
"Tere, bawa Nirina masuk. Kamu ajari dia tentang apa saja yang perlu dia kerjakan di butik ini," perintah Jovan.
"Siap Bos!"
Jovan adalah pria yang ramah, meski tegas dan bawel dia tidak pelit pada pegawainya. Dia berani menggaji pegawai dengan harga mahal dan memberi bonus spektakuler jika mereka bisa mencapai target penjualan yang telah dia tetapkan.
Mungkin karena itu juga Tere dan rekan rekannya betah bekerja pada Jovan, Nirina sangat beruntung karena bisa bergabung dengan mereka. Posisi Nirina sebagai tulang punggung keluarga mengharuskan dia bisa menghasilkan uang dalam jumlah lumayan setiap bulanya. Tentunya untuk menghidupi Ibu dan adiknya, membiayai sekolah adiknya dan lain lain.
Jam menunjukan pukul 13.00 siang, waktu istirahat makan siang tiba. Tere mengajak Nirina untuk makan di sebuah warung yang letaknya bersebelahan dengan butik. Mereka memanfaatkan waktu istirahat mereka untuk makan, mengobrol dan membahas hal hal yang sedang trend di sosmed.
"Tere, apa Bos Jovan sudah menikah?"
"Tidak, hanya saja aku ragu dia memiliki ketertarikan pada lawan jenis,"
"Hus, jangan sembarangan bicara. Biar begitu dia pernah berpacaran dengan beberapa orang model tau,"
"Benarkah? Itu luar biasa,"
Ponsel Nirina tiba tiba bergetar, ada seseorang yang mencoba menghubunginya. Nirina merogoh ponsel di saku celananya dan mendapati nama Damian ada di layar benda pipih itu. Bukannya mengangkat, Nirina menolak panggilan masuk itu kemudian mematikan ponselnya.
Tere bisa menebak kalau itu adalah telfon dari Damian, terlihat dari ekspresi wajah Nirina yang awalnya ceria lalu berubah menjadi murung.
"Kenapa tidak diangkat? Siapa tau dia mau membicarakan hal yang penting," goda Tere.
"Paling juga mau meminta maaf, lalu mengeluarkan kata kata gombalnya. Menggelikan!" Celetuk Nirina.
__ADS_1
"Jangan terlalu merendahkannya, biar begitu dia pernah menjadi orang terpenting dalam hidupmu bukan?"
Nirina terdiam, dia mencoba untuk merenungi ucapan sahabatnya itu. Apa selama ini Nirina sudah bersikap terlalu kasar pada Damian? Tapi pria itu patut mendapatkannya, dia menyebalkan dan jahat.
Jujur saja, rasa kasihan dan suka masih ada di hati Nirina untuk Damian meskipun hanya sedikit. Tapi Nirina selalu berusaha untuk mengubur perasaan itu agar tidak timbul ke permukaan.
Rindu tapi benci, itu yang sedang Nirina rasakan saat ini. Dia rindu pada sosok pria yang pernah mengisi hatinya itu, tapi rasa benci di dalam dirinya tak kalah besarnya dengan rasa rindunya.
***
Waktu bergulir, jam pulang kerja tiba. Nirina dan Tiara menaiki angkutan umum menuju kontrakan mereka. Berdesakkan, kepanasan, itu yang mereka rasakan. Tapi hanya itulah cara agar mereka bisa menghemat anggaran pengeluaran transportasi mereka.
Seorang pengamen masuk dan duduk didepan pintu angkutan, dia menyanyikan lagu pop dari band ungu favorit Nirina. Lagu yang sering dia putar di mobil Damian saat mereka sedang bersama.
Nirina memijit keningnya, lagi lagi dia teringat pada pria itu. Pria yang sudah dengan tega merobek kepercayaannya begitu saja, ternyata sangat susah mengusir bayang pria itu darinya.
Air mata Nirina menetes, dia buru buru menyekanya sebelum ada yang melihatnya. Tapi ternyata Nirina tidak tau kalau Teresa sejak tadi selalu memperhatikannya.
"Apa sesusah itu mencoba untuk move on?" celetuk Teresa.
"Iya, susah sekali," sahut Nirina lirih.
"Aku jadi takut mau berpacaran, takut patah hati dan gagal move on,"
"Tidak perlu takut, memangnya kamu mau jadi jomblo ngenes seumur hidup?"
"Tidak mau, aku juga ingin seperti yang lain. Berpacaran lalu menikah. Yang sabar ya, mungkin kita memang belum bertemu jodoh," Teresa menepuk nepuk pundak Nirina pelan.
Bersambung...
__ADS_1