Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Permintaan Maaf


__ADS_3

Hujan turun begitu deras, tapi Damian tetap nekat untuk menemui Nirina di rumahnya setelah nomor ponsel Nirina tidak aktif. Dia membawa sebuah buket bunga mawar berwarna merah, serta sebuah permintaan maaf yang telah dia rangkai sejak beberapa hari lalu.


Damian tau kalau Nirina adalah wanita keras kepala, tidak mudah untuk menaklukannya kembali setelah apa yang Damian perbuat padanya. Tapi Damian akan tetap berusaha sekuat tenaga, meskipun dia mendapat penolakan berkali kali.


Tiba di kediaman Nirina, Damian mengetuk pintu. Ningsih membuka pintu bercat coklat itu lebar lebar untuk Damian. Wanita paruh baya itu murka saat melihat wajah Damian, dia menampar wajah Damian berkali kali dan memukulinya dengan sebuah sapu lidi.


Damian hanya diam seperti patung, dia membiarkan Ningsih meluapkan amarahnya. Dia baru saja melakukan sebuah kesalahan, sebuah dosa, wajar kalau dia terkena hukuman.


Damian menggigit bibir bawahnya, dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Meski seorang perempuan, ternyata tenaga ningsih lumayan besar.


"Mau apa kamu datang ke sini hah?" Mata Ningsih melotot, wajahnya memerah menahan marah.


"Aku kesini untuk meminta maaf pada Nirina dan Ibu,"


"Tidak ada maaf bagimu, cepat pergi dari sini!"


"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendapatkan maaf dari kalian,"


"Kalau begitu, membusuk lah kamu di teras rumah. Tidak ada seorangpun dari kami yang mau menemui kamu, apa lagi memaafkan kamu!"


Jebreeetttt...


Suara pintu di tutup dengan keras, Damian sempat melompat kecil karena kaget. Dia terduduk di lantai, menangis dan terisak.


Hingga pagi hari, Damian terus duduk di teras rumah Ningsih seperti seorang pengemis. Bajunya yang semalam basah terkena air hujan sampai kering karena hangatnya terik matahari.


Beberapa orang yang kebetulan lewat menatap Damian dengan tatapan ngeri, seolah Damian adalah seorang pengemis yang mengalami gangguan kejiwaan.


Benar kata Ningsih semalam, tidak ada satupun orang di dalam rumah itu yang mau menemuinya, termasuk Nirina. Damian memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan pulang ke rumah Ibunya.


Sintia mengintip dari balik gorden jendela, dia ingin memastikan apakah Damian telah benar benar pergi dari rumah mereka.


"Apa dia sudah pergi?" Tanya Nirina.


"Sudah," sahut Sintia.

__ADS_1


"Kasihan sekali dia, wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Dia pasti kedinginan," sambung Ningsih.


"Aku tidak peduli padanya, bahkan sekalipun dia mati!" Celoteh Nirina penuh emosi.


Satu jam berlalu, Damian tiba di kediaman Sinta. Wanita itu tengah memijit kepalanya yang pusing karena memikirkan hubungan Damian dan Nirina yang berakhir begitu saja.


Damian berlutut di kaki Ibunya, dia bersimpuh meminta maaf dan mengakui semua kesalahan yang telah dia lakukan. Lagi, Damian menangis. Tapi Sinta terlihat cuek dan tak peduli pada keadaan putra semata wayangnya itu.


"Bu, semuanya telah berakhir. Aku benar benar kehilangan Nirina sekarang,"


"Kamu menyesalinya?"


"Iya,"


"Pria bodoh! Lain kali berpikirlah dahulu sebelum melakukan sesuatu. Aku tidak pernah mendidik mu menjadi pria Cassanova, penjahat kelamin dan sebagainya, tapi kamu? Ah, sudahlah. Ibu benar benar malu pada Ibu Nirina," Sinta memalingkan wajahnya ke arah lain.


Tiba tiba kepala Damian pusing, pandangan matanya kabur dan perutnya terasa sedikit mual. Tak lama, dia jatuh pingsan. Sinta panik, dia langsung menelfon Dokter pribadi keluarga mereka untuk memeriksa keadaan Damian.


Tubuh Damian demam, badannya menggigil tak karuan. Sinta mengompres tubuh Damian dengan air hangat sambil menunggu Dokter datang.


Pintu kamar Damian terbuka, seorang ART datang mengantar Joni, Dokter favorit keluarga Sinta.


"Dok, tolong periksa keadaan anakku,"


"Baik Bu, Ibu tenang dulu ya,"


Sinta menjauh, dia mengamati gerak gerik Dokter saat memeriksa Damian. Sinta khawatir Damian terjangkit penyakit parah, dia tidak ingin kehilangan putra kesayangannya itu.


"Bagaimana keadaanya Dok? Dia sakit apa?"


"Dia akan baik baik saja setelah minum obat dan istirahat, sepertinya dia terkena sakit typus,"


Dokter meresepkan beberapa jenis obat dan vitamin untuk Damian, obat obatan itu harus segera diminumkan segera setelah damian sadarkan diri.


Satu jam berlalu, Damian membuka mata, dia mendapati dirinya tengah terbaring lemah diatas ranjang dengan tangan di pasang selang infus.

__ADS_1


"Nak, akhirnya kamu bangun juga," Sinta menyeka air matanya.


"Aku kenapa Bu?" Tanya Damian.


"Kamu terkena sakit typus. Makan dulu ya, setelah itu minum obat,"


"Aku tidak mau makan Bu,"


"Kamu perlu tenaga dan tubuh yang sehat untuk mengejar cintamu kembali bukan? Atau, kamu sudah menyerah dengan penolakan Nirina dan keluarganya?"


"Tidak Bu, aku tidak akan semudah itu menyerah,"


"Kalau begitu, ayo makan dan minum obatnya."


Di tempat lain, Tiara sedang muntah muntah di dalam kamar mandi. Dia merasa tubuhnya lemas dan kepalanya sangat pusing. Sudah beberapa hari ini dia tidak enak badan, anehnya dia tidak kunjung sembuh walaupun sudah minum obat.


Tiara berjalan merambat menuju ranjangnya, matanya melirik kearah kalender yang tergantung manis di dinding. Hari itu menunjukan tanggal 25 bulan Agustus 2023.


"Astaga! Sepertinya aku terlambat datang bulan, bagaimana ini?"


Tiara kebingungan, dia takut kalau dirinya tengah hamil. Apa kata keluarganya kalau tau dirinya hamil tanpa seorang suami? Bisa bisa dia di keluarkan dari kartu keluarga.


"Aku harus menemui Damian dan membicarakan soal masalah ini, dia harus bertanggung jawab atas anak ini. Tapi sebelumnya, aku harus pergi ke apotik dulu untuk membeli testpack."


Tiara menuju apotik terdekat, dia membeli alat tes kehamilan dan buru buru pulang ke rumah setelah mendapatkannya. Kebetulan, Ayah Tiara sedang tidak ada di rumah, dia bisa menggunakan alat itu dengan perasaan tenang tanpa takut ketahuan.


Tiara menampung sedikit urinenya, kemudian dia mencelupkan testpack selama beberapa detik ke wadah itu.


Taraaaaaaa....


Hasilnya adalah positif, Tiara benar benar hamil anak Damian. Ada sisi baik di balik kehamilan itu, Tiara bisa memanfaatkan anak itu untuk memaksa Damian menikahinya. Memerasnya dan menguasai seluruh aset kekayaanya.


"Akhirnya, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Nyonya,"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2