Takdir Cinta Nirina

Takdir Cinta Nirina
Merindukan Ibu dan Sintia


__ADS_3

Keluarga adalah hal yang pertama dirindukan oleh para perantau, terutama bagi mereka yang baru belajar merantau seperti Nirina.


Malam itu, Nirina mengaktifkan kembali ponselnya setelah dua hari dia matikan agar Damian tidak bisa menghubunginya. Nirina menelfon Ibu dan adiknya untuk mengobati rasa rindu yang teramat di dalam dada.


Tut... Tut... Tut...


Bunyi telfon tersambung, setelah menunggu lumayan lama akhirnya seseorang mengangkat telfon wanita itu.


"Hallo, Kakak. Apa kabar?" Sintia terdengar girang mendapat telfon dari saudari semata wayangnya.


"Baik, kamu dan Ibu apa kabar?"


"Kami baik Kak, tapi Ibu sudah tidur. Kakak ngobrolnya dengan aku saja tidak apa apa kan?"


"Tidak apa apa,"


"Bagaimana kerjaan Kakak di situ? Lancarkan?"


"Lancar dong, Bos Kakak seorang artis, baik banget lagi,"


"Jadi ingin cepet cepet lulus sekolah deh biar bisa ikut Kakak kerja,"


"Tidak boleh, lulus SMA kamu harus kuliah. Biar Kakak yang kerja cari uang buat kamu,"


Mendengar celotehan Kakaknya, Sintia menangis haru. Sepeninggal Ayah mereka, posisi Nirina beralih menjadi tulang punggung keluarga. Selama itu pula Sintia tidak pernah mendengar Nirina mengeluh.


Pergi pagi, pulang sore, kadang sampai tengah malam karena lembur. Nirina melakoninya dengan tulus tanpa pamrih, demi membiayai sekolah Sintia dan kebutuhan hidup sehari hari. Karena itu Sintia sangat menyayangi Kakaknya, begitu juga sebaliknya.


"Jaga Ibu baik baik ya, kalau sudah mendapat jatah cuti Kakak pasti akan pulang ke rumah,"

__ADS_1


"Kakak juga disitu harus jaga kesehatan, tidak boleh telat makan dan begadang,"


"Perhatian sekali adik Kakak, jadi tambah sayang deh,"


"Oh iya kak, beberapa waktu lalu Kak Damian datang ke mari. Dia mencari Kakak,"


"Tapi kamu tidak memberi tahu Kakak ada dimana bukan?"


"Tenang saja Kak, tidak ada satupun dari kami yang mau menemuinya,"


"Bagus, aku sudah lelah di ganggu oleh pria menyebalkan itu."


Obrolan keduanya berlangsung cukup lama, sekitar dua jam lamanya. Sampai sampai ponsel dan telinga mereka terasa panas.


Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, Nirina menyudahi telfonnya. Kemudian Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan debu yang menempel akibat bekerja seharian.


"Habis telfon siapa?" Tanya Teresa.


"Aku baru menelfon Adikku,"


"Kangen ya? Kalau dekat ribut terus, tapi kalau jauh kangen," ledek Teresa.


"Ya, namanya juga Kakak beradik. Kamu mana tau, karena kamu adalah anak tunggal,"


"Aku iri padamu. Bisa memiliki saudara adalah sebuah rezeki, kamu harus mensyukurinya," Teresa merangkul pundak Nirina dan menepuknya pelan.


***


Pagi hari, Nirina dan Teresa bersiap berangkat ke tempat kerja. Mereka mampir ke tukang nasi uduk yang biasa mangkal di samping tempat kost mereka. Dua wanita itu suka sekali sarapan nasi uduk, selain harganya murah, rasanya juga enak.

__ADS_1


Penjual nasi uduk itu adalah seorang pria tampan. Penampilannya sederhana, ramah dan murah senyum. Namanya Tito, baru berumur dua puluh tahun.


"Mas, nasi uduk dua ya," pesan Tiara. Gadis berambut ikal itu terus menerus menatap Tito sambil tersenyum.


"Siap neng," sahut Tito penuh semangat.


Entah sejak kapan Teresa memiliki ketertarikan pada Tito, setiap bertemu dengan pria itu jantung Teresa selalu berdebar kencang seperti ada pasukan gajah yang sedang senam di dalamnya.


Wanita mana yang tidak tertarik pada pria berwajah polos nan manis? Jangankan Teresa, Ibu Ibu komplek saja tertarik menjadikan Tito menantu mereka.


"Teresa, tutup mulutmu rapat rapat. Nanti gigi kamu kering," bisik Nirina.


"Apaan sih kamu, tidak bisa melihat teman sedang senang saja!" Teresa cemberut. Dia kesal karena godaan Nirina telah mengganggu kesenangannya.


"Kamu naksir sama mas mas itu ya?" Tebak Nirina asal. Teresa menjawab dengan anggukan kepala beberapa kali.


"Aduh sayang, ingat sekarang berapa umur kamu?"


"Ah, hanya beberapa tahun lebih tua darinya,"


Mendengar jawaban dari Teresa, Nirina menggeleng gelengkan kepalanya. Bagaimana tidak? Menjalin hubungan dengan pria yang lebih dewasa saja terasa rumit, apa lagi dengan pria lebih muda? Bisa bisa Teresa harus mengalah tiap kali bertengkar.


"Ini nasi uduknya neng," Tito mengulurkan plastik berisi dua bungkus nasi uduk pada Teresa. Tangan keduanya tak sengaja bersentuhan, hanya karena sentuhan kecil itu Teresa terhuyung dan hampir jatuh pingsan.


"Berhenti membuatku malu, ayo kita pergi dari sini sekarang juga!" Nirina menyeret paksa sahabatnya untuk masuk ke dalam angkutan umum yang sudah ngetem di sebrang jalan.


Untung saja, tidak ada orang yang melihat tingkah konyol Teresa. Kalau sampai ada yang melihat, Nirina akan meninggalkan Teresa sendirian dan berpura pura tidak mengenalnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2