
Ningsih dan Sintia telah kembali ke kota sebelah. Hari hari Nirina kembali dirundung sepi, terutama karena Damian tak lagi ada kabar beritanya. Dia tak lagi menghubunginya via telfon, dia juga tidak menemuinya ke kosan.
Harusnya Nirina merasa senang, damai dan tenang. Karena tidak ada pria yang mengejar ngejar cintanya seperti orang gila lagi, tapi yang terjadi adalah Nirina merasa kosong dan kesepian.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Menghubunginya terlebih dahulu? Ah, tidak. Rasa gengsi yang ada didalam diri Nirina terlampau lebih besar dari rasa galaunya.
Pagi itu, Nirina duduk di teras kontrakan sambil minum secangkir kopi. Hanya kopi bisa memahaminya saat ini, mengubah hidupnya yang pahit menjadi sedikit manis.
"Masih pagi, pamali melamun!" ucap Teresa.
"Aku sudah terbiasa melamun, seperti ada yang kurang kalau sehari saja tidak melamun," Nirina meringis.
Teresa duduk di sisi Nirina, ikut menyeruput secangkir kopi susu buatan sahabatnya itu.
"Ada yang mau aku katakan padamu,"
"Soal apa?"
"Waktu itu, Damian mencari kamu ke butik. Aku mengusirnya, aku memintanya untuk tidak mengganggumu karena kamu sudah memiliki pria lain,"
"Lalu reaksinya bagaimana?" Nirina sangat penasaran.
"Dia marah, lalu pergi begitu saja tanpa berkata kata,"
Nirina terdiam mendengar penuturan dari Teresa. Rasa senang dan sedih bercampur menjadi satu didalam hatinya, senang karena Damian masih menyukainya, sedih karena pria itu mungkin telah menyerah untuk mengejar cintanya.
Harusnya, kalau masih suka katakan saja suka. Tidak perlu gengsi atau bla... Bla... Bla... Karena yang akan rugi nanti adalah dirinya sendiri, bukanlah orang lain.
Kalau sudah begini, apa pantas jika Nirina mengejar Damian balik? Benar benar memalukan bukan?
"Kamu masih menyukainya setelah apa yang dia perbuat padamu?" Tanya Teresa.
__ADS_1
"Iya, aku menyukainya. Walaupun aku membencinya, aku merasa kasihan mau meninggalkan dirinya," sahut Nirina jujur. Jawaban itu berasal dari dasar hatinya yang sangat dalam.
"Itu namanya cinta sejati. Hanya cinta sejati yang mau menerima kekurangan pasangan, memaafkan kesalahan pasangan,"
"Tau dari mana kamu soal cinta sejati? Bukankah kamu tidak pernah berpacaran?" Nirina mengangkat sebelah alisnya.
"Aku tau dari novel romansa yang biasa aku baca,"
"Wuidih, keren. Padahal saat sekolah dulu, kamu tidak pernah menangkap satupun pelajaran yang di jelaskan oleh guru," ledek Nirina.
"Jangan bahas masa lalu, aku yang dulu sudah tidak seperti aku yang sekarang,"
"Iya deh, aku hanya bercanda tadi."
***
Siang harinya, Nirina bermain ponsel sambil rebahan diatas kasur. Sesuatu yang senang Nirina lakukan untuk mengisi waktu libur kerja.
Nirina memeriksa status WhatsApp teman teman yang ada di kontaknya, dia melihat Damian meng update status baru. Karena penasaran, Nirina akhirnya mengintipnya.
Satu satunya penghalang hubungan Nirina dan Damian telah lahir, apa Damian akan menepati janjinya untuk mengusir Tiara? Atau malah menikahinya? Nirina benar benar penasaran setengah mati, tapi dia takut untuk menanyakan hal itu sendiri pada Damian.
Tak lama, sebuah pesan masuk kedalam WhatsApp Nirina. Diluar dugaan, pesan itu adalah pesan dari Damian.
@ Damian : Tolong aku, tolong bebaskan aku dari sini ( Tiara ).
Nirina mendelik, dia kaget membaca pesan itu. Apa yang terjadi pada Tiara selama ini? Jangan jangan, Damian telah menyekapnya?
@ Nirina : Dimana kamu sekarang?
@ Damian : Dirumah kedua Damian, aku disekap bersama putriku di sana.
__ADS_1
@ Nirina : Aku akan datang menolongku, tapi aku perlu waktu, bersabarlah.
Tiara tak lagi membalas pesan dari Nirina, sepertinya Damian sudah berada di sisinya.
Ada sedikit rasa ragu di dalam hati Nirina, benarkah Damian telah menyekap Tiara? Kalau benar, jahat sekali dia. Nirina benar benar tidak menyangka kalau Damian sejahat itu. Nirina harus segera melakukan sesuatu.
***
Di rumah kedua Damian.
"Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?" Bentak Damian.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menyentuhnya saja. Serius!" Tiara nampak begitu gugup.
"Kamu pikir aku tidak tau kamu sedang berbohong?" Damian menjambak rambut Tiara hingga wajahnya terangkat keatas.
Tiara meringis kesakitan, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskan diri dari jerat Damian. Air mata Tiara menetes, dia sungguh sudah tidak tahan lagi dengan sikap kasar Damian.
"Aku ingatkan padamu, jangan berani berani menyentuh barang ku lagi,"
"Iya, aku mengerti."
Damian mendorong Tiara, Tiara langsung keluar dari ruangan pribadi Damian. Tiara diam diam masuk ke dalam ruangan itu saat Damian pergi ke kamar mandi, dia mengira Damian sedang mandi dan akan lama di kamar mandi, tapi ternyata dugaannya salah.
Tiba tiba saja Damian sudah berdiri di belakang Tiara, melihat wanita itu sedang mengotak atik ponselnya. Damian murka, dia menebak Tiara sedang mencoba menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.
Damian mengecek ponselnya, tidak ada pesan yang mencurigakan di sana.
"Sial! Tiara pasti sudah menghapusnya. Siapa yang sedang dia coba hubungi? Ayahnya atau...." Damian mencoba menebak. Pikirannya mengarah kepada Nirina.
Damian menjambak rambutnya lalu meninju tembok. Kalau sampai Tiara menghubungi Nirina maka dunianya akan benar benar hancur. Dia mencoba menutupi keburukan yang lain dari mantan kekasihnya itu, tapi malah keburukan lainnya terangkat ke permukaan.
__ADS_1
"Semoga saja bukan Nirina yang dia hubungi," ucap Damian lirih.
Bersambung...